Dewi seorang istri yang di tinggal merantau suaminya Abi ke Kalimantan dan harus tinggal di kampung merawat mertua dengan uang kiriman seadanya dari sang suami, Dewi pun harus bekerja untuk mencukupi kebutuhan hidup dengan sang mertua.
Hingga suatu ketika Dewi mendapati sebuah rahasia besar dari teman Abi, ternyata Abi diam-diam menikah lagi, hati Dewi hancur dan dia pun nekat ke Kalimantan untuk memastikan sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bundae safiq, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketemu pak Dhe
Abi tiba di hotel tempat Dewi menginap, dia pun segera bertanya pada resepsionis hotel apakah Dewi masih di sana atau sudah cek out.
''Permisi mbak, apakah penghuni kamar 212 masih di sana?'' tanya Abi dengan sopan, resepsionis kemudian mengeceknya sebentar.
''Mohon maaf mas, orangnya sudah cek out beberapa jam yang lalu'' jawab sang resepsionis tersebut.
''Oh baik mbak terima kasih informasinya'' ucap Abi yang kemudian langsing pergi dari hotel tersebut, Abi pun kembali melajukan kendaraannya menuju bandara, dia ingin memastikan apakah Dewi benar-benar sudah pulang ke Jawa atau tidak.
Setelah beberapa lama kemudian Abi pun sampai di bandara, dia pun langsung pergi ke bagian informasi untuk bertanya.
''Permisi, numpang tanya apakah ada penumpang yang bernama Dewi Anggraini dengan tujuan Surabaya siang ini?'' ucap Abi dengan sopan, kemudian bagian informasi pun segera mengeceknya dalam beberapa saat.
''Maaf kami tidak menemukan nama Dewi Anggraini dalam daftar penumpang tujuan Surabaya'' jawabnya.
''Oh begitu ya, terima kasih informasinya'' ucap Abi dengan rasa kecewa di hatinya.
''Dewi kamu ke mana, kenapa kamu membohongiku, kamu ternyata enggak pulang ke Jawa, lalu kamu pergi ke mana, kamu di sini enggak ada saudara juga teman, dan hanya punya aku, kalau kamu kenapa-napa bagaimana!'' ucap Abi lirih sembari mengacak-acak rambutnya, Abi di buat pusing sendiri sama Dewi.
Abi pun kembali pulang dengan tangan kosong dan rasa kecewa terhadap Dewi yang tak mau nurut padanya.
Hari telah berlalu, siang berganti malam dan malam pun berganti pagi.
Dewi sudah bangun dari tidurnya, setelah menunaikan ibadah sholat subuh Dewi pun merebus mie instan yang di belinya di warung depan untuk mengganjal perutnya.
''Seadanya dulu walau sekedar mie instan yang penting masih bisa makan'' gumam Dewi sembari memasak mei instan di dapur belakang tempat kos nya.
''Masak apa mbak?'' tanya seseorang dari arah belakang, Dewi pun menoleh ke arah sumber suara tersebut.
''Ah cuma masak mie, mbak nya juga mau masak, maaf kompornya saya pakai sebentar'' jawab Dewi dengan sopan.
''Oh enggak papa pakai aja dulu, itu kompor milik ibu kok siapa saja bisa pakai kok, saya cuma mau ngrebus air mau bikin kopi, kalau pagi suka ngopi dan enggak terbiasa sarapan'' jawab Eni salah satu penghuni kos tersebut, Eni juga berasal dari Jawa dia merantau untuk kerja di Kalimantan ikut saudaranya.
Setelah selesai memasak Dewi pun mencuci panci bekas dia masak dan kemudian membawa mie buatannya masuk ke dalam kamar kos kemudian menyantapnya.
Menjelang siang Dewi pun pergi ke suatu tempat di mana dia membuat janji dengan pak Dhe nya Karsiman.
"Ah sudah siang, aku harus berangkat sekarang, takutnya pak Dhe nunggu lama" ucap Dewi lirih, kemudian Dewi pun langsung bersiap-siap untuk pergi, Dewi tak lupa mengunci pintu kamar sebelum pergi.
"mbak Dewi mau pergi?" sapa Eni tetangga kos Dewi.
"Ah iya, mau ketemu saudara jauh" jawab Dewi sembari mengangguk sopan kemudian Dewi pun segera pergi sebelum Eni bertanya lebih banyak.
"Kok aku curiga sama nih cewek" gumam Eni lirih.
Dewi tak mau ambil pusing soal Eni yang terlihat kepo padanya, dia pun segera pergi ke tukang ojek yang berada tak jauh dari tempat kos nya tersebut.
"Pak antar saya ke alamat ini ya pak!" pinta Dewi sembari menunjukkan alamat yang ada di Hp nya kiriman dari pak Dhe.
"siap, silahkan naik dan pakai helm nya!" jawab tukang ojek pada Dewi. Kemudian tukang Ojek pun segera mengantar Dewi ke tempat tujuan.
Setelah satu jam perjalanan Dewi pun sampai di tempat yang di tuju.
"Pak, jangan balik dulu ..tunggu saya sebentar nanti antar saya pulang lagi!" pinta Dewi daripada dia harus cari ojek lain buat pulang.
"Oke enggak masalah, silahkan saya tunggu di sini, santai saja, selesaikan urusan nona dengan tenang" jawab pak tukang ojek dengan senyum ramah pada Dewi.
"Ah syukurlah, terima kasih ya pak, saya enggak lama kok" ucap Dewi dengan perasaan lega, Dewi segera masuk ke sebuah restoran yang ada di pusat kota, dia pun mengirim pesan pada pak Dhe kalau dirinya sudah sampai di tempat yang di janjikan sebelumnya.
Dewi menunggu di depan kasir atas permintaan pak Dhe. Tal berapa lama kemudian pak Dhe pun muncul dari arah belakang.
"Nak Dewi" sapa pak Dhe.
"Ah saya, pak Dhe ya, senang bertemu pak Dhe maaf mengganggu waktunya" jawab Dewi dengan sopan.
"Ah tidak mengganggu kok ayok ikut pak Dhe ke belakang!" ajak pak Dhe pada Dewi, dan Dewi pun dengan patuh mengikuti kemana pak Dhe mengajaknya.
Ternyata pak Dhe mengajak Dewi ke bagian belakang resto, di sana ada tempat duduk di pinggir kolam ikan, hawanya sangat sejuk karena ada pohon rindang di pinggir halaman.
"Silahkan duduk nak Dewi, maaf tempatnya seperti ini, ini adalah usaha pak Dhe selama hidup di Kalimantan bersama istri" ucap Pak Dhe pada Dewi.
"Wah sungguh luar biasa, pak Dhe sesukses ini di Kalimantan" puji Dewi pada pak Dhe.
"Hahahaha...semua atas dukungan istri pak Dhe, kami merantau dari tak punya apa-apa hingga bisa seperti sekarang ini, semua itu tak mudah" jelas pak Dhe pada Dewi.
"Saya mengerti pak Dhe" jawab Dewi.
"Oh iya, bilang sama pak Dhe apa yang bisa Pak Dhe bantu" tanya Pak Dhe sembari menyeruput kopi yang di hidangkan pelayan padanya.
"Apa pak Dhe beneran lihat suami saya Abi bersama wanita lain?" tanya Dewi memastikan, pak Dhe pun mengangguk.
"hemmmm iya, aku juga sudah menyelidikinya atas permintaan Karsiman, kebetulan pak Dhe ada kerja sama dengan perusahaan tersebut" jawab pak Dhe dengan yakin.
"Lalu, apa yang pak Dhe tahu?" tanya Dewi tidak sabar.
"Namanya Wulan, putri pak Safrudin pengusaha properti terkenal di kota ini, Suami kamu adalah menantunya yang menikah dengan Wulan selama 2 tahun ini" jawab pak Dhe dengan jujur.
Dewi langsung syok, hancur sudah harapannya, juga angan-angannya. Rasa sesak di dada pun ia rasakan, jantungnya berdetak kencang kepalanya seakan mau pecah karena menahan emosi.
"Kemarin kami ketemu di bandara, dia kasih saya nginap di hotel dan dia minta saya buat balik lagi ke jawa, dia meyakinkan saya kalau dia tidak menghianati saya pak Dhe,tapi saya enggak percaya, lalu saya pergi diam-diam dari hotel dan mencari tempat kos, saya kecewa sama dia pak Dhe, tega sekali dia sama saya...hikz...hikzz, padahal saya sudah merawat ibunya bahkan bekerja serabutan untuk menutupi biaya hidup, saya enggak menyangka dia sekejam itu...hikz...hikz..hikz!!" keluh Dewi sembari menangis terisak-isak.
"Sudah...sudah, jangan kamu tangisi lelaki macam itu, begini saja, mulai besok kamu kerja di sini, bantu-bantu di sini, nanti kalau ada kesempatan pak Dhe bantu kamu buat bongkar kebusukan suami kamu itu biar sekalian pak Safrudin tahu siapa sebenarnya menantunya itu!" ucap pak Dhe dengan yakin fan tegas.
Dewi pun terbelalak, dia tidak tau harus berkata apa dengan semua kebaikan Pak Dhe padanya, padahal mereka baru ketemu dan itu juga karena Karsiman adalah tetangga Dewi.
"Sungguh saya nggak tau harus membalas dengan apa kebaikan pak Dhe ini sama saya, terima kasih banyak pak Dhe sudah mau menampung saya dan menolong saya, pak Dhe baik sekali!" Ucap Dewi sembari bersimpuh di kaki pak Dhe.
"Eh eh eh jangan seperti ini, pak Dhe hanya menolong sebisanya saja sesama manusia, yang penting kamu bosa hidup dengan baik dan bahagia itu sudah lebih dari cukup buat pak Dhe, kita ini sama-sama orang rantauan, sudah semestinya saling membantu!" ucap pak Dhe sembari membantu Dewi berdiri.
Setelah semua jelas, Dewi pun berpamitan, dia tak mau tukang ojek menunggunya lebih lama lagi.Besok baru Dewi pindah ke resto milik pak Dhe dan menjalankan misinya.
cinta boleh wi gobloogg jangan