Tiara Mo akan menghadiri kompetisi tinju tahunan, namun dalam perjalanan ia mengalami kecelakaan dengan truk tangki minyak , saat sadar ia sudah menempati tubuh permaisuri 200kg.
" APA APA INI ! APA PEMILIK TUBUH ASLI TIDAK BISA MENAHAN RASA LAPAR !" Pekik tiara mo kesal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANWi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 29 : Pilihan Takdir (Tetap Tinggal atau Kembali)
Musim semi telah tiba di Daxuan. Bunga persik bermekaran di seluruh istana, menciptakan pemandangan merah muda yang kontras dengan baju latihan Lin Yue yang berwarna hitam legam.
Pagi itu seharusnya menjadi pagi yang biasa. Lin Yue dan Han Shuo sedang melakukan latihan rutin mereka di halaman belakang. Suara benturan kulit pelindung tangan dan napas yang teratur mengisi udara pagi.
"Pertahananmu terbuka di rusuk kiri," goda Lin Yue sambil melancarkan hook main-main.
Han Shuo tertawa, menangkis dengan mudah. "Itu karena aku ingin kau mendekat."
Lin Yue tersenyum. Ia bersiap melakukan gerakan memutar, namun tiba-tiba, dunia di sekelilingnya berputar dengan cara yang salah. Sebuah rasa sakit yang tajam, jauh lebih sakit daripada pukulan apapun yang pernah ia terima di ring, meledak di dadanya. Jantungnya—yang selama ini bekerja keras memompa darah untuk transformasi tubuh yang ekstrem—tiba-tiba berhenti berdetak sesaat.
Pandangannya menjadi putih. Suara tawa Han Shuo terdengar menjauh, berubah menjadi gema yang panjang dan menakutkan.
"Lin Yue?"
Tubuh Lin Yue ambruk ke tanah seperti boneka tali yang diputus benangnya.
"Lin Yue! LIN YUE!"
Hal terakhir yang ia rasakan di dunia itu adalah tangan Han Shuo yang gemetar hebat menyentuh pipinya, dan teriakan panik yang memanggil tabib. Lalu, semuanya menjadi gelap gulita.
Saat Lin Yue membuka mata, rasa sakit itu hilang. Begitu juga dengan aroma bunga persik dan keringat Han Shuo.
Ia berdiri di sebuah ruang hampa yang serba putih. Tidak ada lantai, tidak ada langit-langit. Hanya kabut putih yang tak berujung.
"Selamat datang kembali, Tiara Mo."
Suara itu tenang, namun bergema dari segala arah. Lin Yue berbalik. Di hadapannya berdiri sosok pria tua dengan jubah abu-abu sederhana. Wajahnya ramah, namun matanya menyimpan kedalaman alam semesta.
"Siapa kau?" Lin Yue memasang kuda-kuda secara refleks. "Di mana Han Shuo?"istiwa
"Han Shuo ada di sana," pria itu menunjuk ke sebuah cermin besar yang tiba-tiba muncul di udara.
Di dalam cermin itu, Lin Yue melihat tubuhnya sendiri terbaring kaku di ranjang Permaisuri. Tabib-tabib terbaik istana sedang menusukkan jarum akupunktur dengan panik. Han Shuo... Kaisar yang agung itu... sedang berlutut di samping ranjang, menggenggam tangan Lin Yue yang dingin sambil menangis tanpa suara. Wajahnya hancur, seolah jiwanya ikut mati bersama tubuh itu.
"Dia pikir kau sudah mati," ucap pria tua itu—Sang Dewa Akhirat. "Dan secara teknis, di dunia itu, nyawamu sedang di ujung tanduk. Jantung tubuh itu tidak kuat menahan perubahan drastis dan sisa racun masa lalu."
Lin Yue merasa dadanya sesak melihat air mata Han Shuo. "Kembalikan aku. Aku harus bangun. Dia butuh aku."
"Tunggu dulu," Dewa itu menjentikkan jarinya. Muncul cermin kedua di sisi kiri.
Pemandangan di cermin kedua membuat napas Lin Yue tercekat. Itu adalah ruang ICU di sebuah rumah sakit modern di abad 21. Bunyi mesin penopang hidup bip... bip... bip... terdengar konstan. Di sana, tubuh asli Tiara Mo terbaring koma, penuh dengan selang.
Di samping ranjang, Huang Su (sopir setianya)---yang masih menggunakan penyangga leher nya dan pelatih tinjunya bernama Ru Yu duduk dengan wajah lelah.
"Tiara... bangunlah, Nak. Aku tidak bisa menemukan orang berbakat seperti kau." bisik pelatihnya sambil menyeka air mata.
"Kau ingat kecelakaan itu?" tanya Dewa. "Kau koma, Tiara. Jiwamu terlempar ke Daxuan karena sebuah anomali takdir. Tugasmu di sana adalah menyerahkan singgasana kepada pemilik aslinya, Han Shuo. Dan lihat..." Dewa menunjuk cermin kanan. "Han Shuo sudah menjadi Kaisar. Misi selesai."
Hening.
"Misi... selesai?" ulang Lin Yue pelan.
"Benar. Keseimbangan alam semesta harus dipulihkan," jelas Dewa dengan nada datar. "Kau punya pilihan sekarang, Tiara Mo. Jarang ada jiwa yang diberi keistimewaan ini."
Dewa itu melangkah mundur, membiarkan Lin Yue berdiri di antara dua cermin.
"Pintu Kiri. Kau kembali ke tubuh aslimu di abad 21. Kau akan bangun dari koma. Kau akan lumpuh sementara, tapi aku akan menyembuhkan mu sebagai berkat karena kau terus berbuat kebajikan membantu menemukan kaisar asli, kemudian di abad 21 kau akan kembali bertinju, menjadi juara dunia, dan hidup normal bersama orang-orang yang menyayangimu di masa depan. Tapi, ingatanmu tentang Daxuan, tentang Han Shuo... perlahan akan memudar seperti mimpi."
"Pintu Kanan. Kau kembali ke tubuh Permaisuri Lin Yue. Tapi ingat, tubuh itu rusak. Kau mungkin tidak berumur panjang di sana. Dan yang terpenting... kau akan selamanya meninggalkan identitas Tiara Mo. Kau tidak akan pernah pulang."
Lin Yue menatap cermin kiri. Karirnya. Mimpinya sejak kecil. Pelatih yang sudah seperti ayahnya. Dunia modern dengan segala kemudahannya.
Lalu ia menatap cermin kanan. Han Shuo. Pria yang rela mati untuknya. Pria yang mencintainya dan membantu nya bahkan saat diri nya gemuk. Bangsa Tang yang baru saja ia bangkitkan.
"Jika aku pergi..." suara Lin Yue bergetar, menunjuk cermin kanan. "Apa yang terjadi pada Han Shuo?"
"Dia akan menjadi Kaisar yang hebat, namun hatinya akan mati," jawab Dewa jujur. "Dia akan hidup dalam kesepian abadi sampai akhir hayatnya, mengenang wanita yang mengubah hidupnya."
Air mata menetes di pipi Lin Yue. Ia petarung yang selalu bisa mengambil keputusan cepat di atas ring. Kiri atau kanan. Hindar atau pukul.
Tapi ini... ini adalah ronde terberat dalam keberadaannya.
"Waktumu habis, Tiara Mo. Jantung di kedua dunia sedang melemah," desak Dewa. "Buat keputusanmu. Sekarang."
Mesin EKG di cermin kiri berbunyi semakin cepat.
Tabib di cermin kanan berteriak, "Detak nadinya menghilang!"
Lin Yue menarik napas panjang, menutup matanya sejenak, lalu mengepalkan tangannya. Ia membuka mata dengan tatapan tajam yang penuh tekad.
Ia melangkahkan kakinya menuju salah satu cermin.
"Maafkan aku," bisiknya lirih pada salah satu bayangan yang akan ia tinggalkan.
Satu langkah.
Dua langkah.
Cahaya menyilaukan menelan tubuhnya.
***
Pilih yang mana ya?
Happy Reading ❤️
mohon dukungan untuk
● Like
● Komen
● Subscibe
● Ikuti Penulis
Terimakasih semua nya 🙇♀️🙇♂️
Sebentar lagi tamat hehe. ❤️
🧐