NovelToon NovelToon
Hikayat Dewa Kujang: Era 9 Surya

Hikayat Dewa Kujang: Era 9 Surya

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Penyelamat
Popularitas:138
Nilai: 5
Nama Author: Ragam 07

Di dunia Arcapada, tempat sihir kuno Nusantara berpadu dengan teknologi mesin uap, Raden Bara Wirasena hidup sebagai pangeran terbuang yang dikutuk menjadi wadah Api Garuda.

Dikhianati oleh Catur Wangsa yang korup, Bara bangkit dari debu sebagai Dewa Kujang.

Bersama putri bangsawan yang terusir dan preman berhati emas, ia memimpin Pasukan Surya untuk meruntuhkan tirani Kaisar Brawijaya VIII.

Namun, perebutan takhta hanyalah awal. Jejak ayahnya yang hilang menuntun Bara menyeberangi samudra mematikan menuju Benua Hitam, di mana ancaman kiamat yang sesungguhnya sedang menanti.

Ini adalah hikayat tentang revolusi, pengorbanan, dan pembakaran takdir demi era baru.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ragam 07, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4: Hutan Maya dan Topeng-Topeng yang Retak

Pagi itu, kabut di Lembah Kabut tidak seperti biasanya. Ia tidak putih bersih, melainkan sedikit kelabu, seolah-olah alam sendiri sedang menahan napas, enggan menyaksikan kekerasan yang akan segera terjadi.

Alun-alun Pancadarma, sebuah lapangan luas yang dilapisi batu andesit hitam di pusat perguruan, sudah dipenuhi oleh ratusan murid.

Mereka berdiri berkelompok, membentuk pulau-pulau kecil berdasarkan kasta dan afiliasi klan. Murid-murid dari keluarga kaya mengenakan zirah kulit baru yang mengkilap dan senjata yang ditempa oleh pandai besi kota. Sementara murid-murid dari keluarga biasa hanya mengenakan pakaian latihan standar yang sudah lusuh, dengan senjata seadanya.

Ketimpangan sosial itu begitu nyata, menyakitkan mata bagi siapa saja yang punya hati nurani. Tapi di Benua Arcapada, hati nurani adalah barang mewah yang jarang laku dijual.

Bara berdiri di barisan paling belakang, jauh dari hiruk-pikuk. Ia menyandarkan punggungnya pada pilar gerbang batu, matanya terpejam setengah.

"Bau ketakutan," komentar Hyang Garuda, suaranya berdengung malas di benak Bara. "Dengar detak jantung mereka, Mitra. Cepat dan tidak beraturan. Seperti kelinci yang sadar sedang diawasi ular."

"Mereka hanya anak-anak yang ingin merubah nasib, Garuda," balas Bara dalam hati. "Jangan samakan mereka dengan mangsamu."

"Nasib..." Garuda mendengus. "Nasib itu omong kosong. Yang ada hanya yang Kuat memakan yang Lemah. Lihatlah anak api itu."

Bara membuka matanya sedikit. Di barisan depan, Arya Agnimara sedang berdiri dikelilingi oleh belasan pengikutnya. Ia tampak mencolok dengan jubah merah menyala dan pedang besar di punggungnya. Suaranya lantang, tertawa lebar, seolah ujian ini hanyalah pesta minum teh baginya.

Di sisi lain, terpisah dari kerumunan, berdiri Rara Anjani. Gadis dari Wangsa Tirtamaya itu berdiri sendirian. Tidak ada yang berani mendekatinya dalam radius tiga meter karena hawa dingin yang ia pancarkan secara tidak sadar. Dia tenang, anggun, dan mematikan.

Tiba-tiba, Bara merasakan tarikan lembut di lengan bajunya.

Ia menoleh. Putri Kirana berdiri di sana, wajahnya pucat. Tangannya gemetar saat menyodorkan sebuah bungkusan kecil terbuat dari daun pisang.

"Mas Bara..." bisik Kirana, suaranya nyaris tenggelam oleh sorak-sorai murid lain. "Ini... aku buatkan nasi timbel dan sedikit dendeng untuk bekal nanti. Hutan Maya itu luas, Mas pasti butuh tenaga."

Bara menatap bungkusan itu, lalu menatap mata Kirana yang berkaca-kaca. Gadis ini takut. Bukan takut untuk dirinya sendiri, tapi takut kehilangan satu-satunya teman yang ia miliki sejak kecil.

Bara tersenyum. Kali ini bukan senyum tipis yang biasa ia berikan pada musuh, melainkan senyum lembut yang jarang terlihat. Ia menerima bungkusan itu.

"Terima kasih, Kirana. Kau tidak perlu repot-repot," ucap Bara pelan. "Simpan tenagamu. Jangan jauh-jauh dari kelompokmu nanti."

"Mas Bara juga..." Kirana meremas ujung kebayanya. "Tolong jangan cari masalah dengan Tuan Muda Arya. Aku dengar... dia membawa Mustika Peledak."

"Aku tidak akan mencari masalah," jawab Bara menenangkan. "Tapi jika masalah yang mencariku... yah, kita lihat saja nanti."

Di atas panggung utama, Ki Ageng Seta mengangkat tongkat kayunya. Seketika, suara gong besar berdentum, menggetarkan dada setiap orang yang hadir. Hening menyelimuti alun-alun.

Ki Ageng Seta adalah pendekar tua tingkat Surya Kencana (Level 7). Wibawanya menekan seluruh lapangan.

"Anak-anakku!" suaranya menggelegar tanpa perlu berteriak, diperkuat oleh tenaga dalam. "Di belakangku adalah Gerbang Hutan Maya. Di dalamnya, hukum manusia tidak berlaku. Yang berlaku adalah Hukum Rimba."

Ia menunjuk ke arah gerbang raksasa yang tertutup kabut ungu berputar.

"Tugas kalian sederhana. Di dalam hutan, tersebar seratus Token Giok. Lima puluh disembunyikan di sarang hewan buas, lima puluh lagi dipegang oleh Siluman Penjaga. Kalian punya waktu tiga hari. Siapa yang keluar membawa minimal satu token, lulus. Siapa yang keluar dengan tangan kosong, gagal."

Ki Ageng Seta diam sejenak, matanya menyapu wajah-wajah muridnya.

"Satu hal lagi. Kalian boleh merebut token dari murid lain. Pertarungan diperbolehkan. Membunuh... dilarang, tapi kecelakaan sering terjadi di dalam hutan."

Kalimat terakhir itu diucapkan dengan nada dingin yang membuat bulu kuduk meremang. Itu adalah izin halus. Izin untuk melakukan kekerasan asalkan tidak ketahuan atau bisa beralasan "kecelakaan".

Arya Agnimara menyeringai lebar mendengar aturan itu. Matanya langsung mencari sosok Bara di barisan belakang, lalu ia membuat gerakan menggorok leher dengan ibu jarinya.

Saat gerbang dibuka, ratusan murid berhamburan masuk seperti air bah. Mereka berlarian, berteriak, memacu adrenalin.

Anjani tidak berlari. Ia berjalan santai, langkahnya ringan seolah sedang menari. Setiap kali kakinya menyentuh tanah, rumput di sekitarnya membeku sesaat lalu mencair lagi.

Ia tidak tertarik pada token. Baginya, mendapatkan token itu semudah membalik telapak tangan. Ia tertarik pada satu hal: Anomali.

Matanya yang tajam mengawasi kerumunan yang berlari mendahuluinya. Ia mencari punggung tegap dengan pakaian lusuh itu.

"Dimana dia?" gumam Anjani.

Aneh. Bara menghilang. Padahal tadi dia ada di barisan belakang. Anjani mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru, menggunakan kemampuan sensor elemen airnya untuk mendeteksi kelembapan tubuh manusia.

Nihil.

Seolah-olah Bara Wirasena telah menguap menjadi udara begitu melangkah masuk ke dalam hutan.

"Menghilangkan hawa keberadaan..." mata Anjani menyipit tertarik.

"Bahkan Wangsa Bayu Aji butuh persiapan untuk melakukan itu. Kau semakin membuatku penasaran, Pelayan."

Anjani melangkah masuk ke dalam kabut ungu, senyum tipis menghiasi bibir merahnya. Perburuan dimulai.

Hutan Maya bukan hutan biasa. Pohon-pohon di sini tingginya mencapai lima puluh meter, dengan akar-akar gantung yang menjuntai seperti ular raksasa. Cahaya matahari sulit menembus kanopi daun yang rapat, membuat suasana di dalam selalu temaram seperti senja abadi.

Udara di sini berbau jamur, tanah basah, dan... darah.

Srak!

Seorang murid dari keluarga biasa terlempar menabrak pohon besar. Ia mengerang kesakitan, tulang rusuknya retak. Di depannya, seekor Babi Hutan Cula Besi¹ sedang menggaruk-garuk tanah, bersiap menyeruduk lagi. Ukurannya sebesar kerbau, dengan taring yang terbuat dari logam hitam alami.

"Tolong!" teriak murid itu putus asa. Teman-temannya sudah lari meninggalkannya.

Babi hutan itu mendengus, lalu berlari kencang. Tanah bergetar. Kematian sudah di depan mata.

Namun, tepat sebelum taring besi itu menembus perut si murid, sebuah bayangan melintas.

Tidak ada ledakan energi. Tidak ada teriakan jurus. Hanya suara desingan angin yang sangat halus.

Sret.

Babi hutan itu tiba-tiba berhenti. Ia masih berdiri kaku selama dua detik, sebelum kepalanya perlahan tergeser dari lehernya dan jatuh ke tanah dengan bunyi gedebuk basah. Darah menyembur. Tubuh raksasa itu ambruk.

Murid yang terluka itu ternganga. Ia mendongak.

Di atas bangkai babi hutan itu, berdiri Bara. Ia memegang salah satu Kujang berkaratnya. Tidak ada setetes pun darah di bilah senjata itu, pun di bajunya.

"Kau..." murid itu tergagap. "Bara? Si pembawa sial?"

Bara tidak menjawab. Ia berjongkok, mengiris perut babi hutan itu dengan presisi seorang ahli bedah, lalu mengambil sebuah Token Giok yang tertanam di lambung binatang itu.

Ia melemparkan token itu ke pangkuan si murid yang terluka.

"Ambil. Kau tidak akan kuat melanjutkan ujian. Gunakan token ini untuk memicu mantra teleportasi keluar. Mundurlah sekarang sebelum kau mati konyol," ucap Bara datar.

"T-tapi... token ini harganya mahal..."

"Nyawamu lebih mahal bagi ibumu," potong Bara. Tanpa menunggu jawaban, ia melesat pergi, menghilang ke balik semak-semak belukar dengan kecepatan yang tidak masuk akal.

Dari atas dahan pohon Meranti², Sekar menyaksikan semuanya. Jantungnya berdegup kencang. Bukan karena takut, tapi karena kegembiraan yang aneh.

"Dia memotong leher Babi Hutan Cula Besi..." bisik Sekar tak percaya.

"Kulit babi itu setebal zirah baja. Pedang biasa akan patah. Tapi dia memotongnya seperti memotong tahu... menggunakan besi karat?"

Sekar adalah seorang pembunuh. Ia tahu anatomi. Ia melihat tadi Bara tidak memotong sembarangan. Bara memotong tepat di celah antar tulang leher, titik terlemah yang hanya selebar benang.

Presisi yang mengerikan. Dan yang lebih gila lagi: Bara tidak menggunakan Prana.

"Siapa kau sebenarnya, Bara?" Sekar menggigit bibir bawahnya.

Tiba-tiba, Sekar merasakan hawa dingin di tengkuknya. Bukan hawa pembunuh, tapi hawa... angin.

Ia menoleh cepat. Kosong.

Saat ia menoleh kembali ke bawah, Bara sudah tidak ada. Jejak kakinya pun tidak terlihat di tanah lumpur.

Sekar tersentak. Dia kehilangan jejak targetnya. Untuk pertama kali dalam hidupnya sebagai Bayangan, dia yang justru merasa sedang dibuntuti.

Jauh di kedalaman hutan, Bara duduk di dahan pohon tinggi sambil memakan bekal dendeng pemberian Kirana.

"Kau terlalu baik, Mitra," gerutu Garuda. "Token itu bisa kau simpan. Kenapa dikasih ke anak cengeng itu?"

"Aku tidak butuh token level rendah," jawab Bara santai sambil mengunyah. "Lagipula, anak itu tetanggaku di desa. Ibunya sering memberiku ubi rebus saat aku kelaparan dulu. Anggap saja bayar hutang."

"Hmph. Manusia dan ikatan emosional mereka yang merepotkan. Kapan kita akan berburu yang 'besar'?"

Bara menelan makanannya, lalu menatap ke arah utara hutan. Di sana, aura gelap dan pekat terasa sangat kuat. Wilayah Zona Merah. Tempat di mana siluman tingkat tinggi bersarang.

"Sebentar lagi," jawab Bara. "Tapi sebelum itu, ada tikus-tikus yang harus kubersihkan."

Telinga Bara bergerak sedikit. Ia mendengar suara teriakan di kejauhan. Teriakan perempuan.

Kirana.

Mata Bara yang tadinya santai berubah menjadi dingin seketika. Dendeng di tangannya ia masukkan kembali ke bungkusan.

"Garuda," panggil Bara.

"Ya?"

"Pinjamkan aku matamu. Aku ingin melihat lokasi tikus-tikus itu."

Sesaat, iris mata Bara berubah menjadi emas vertikal. Penglihatannya menembus pepohonan, menembus jarak satu kilometer. Ia melihat sebuah lapangan terbuka kecil. Di sana, Kirana dan dua teman perempuannya sedang dikepung oleh lima orang laki-laki berjubah merah.

Anak buah Arya.

Mereka tidak menyerang untuk membunuh. Mereka mempermainkan. Salah satu dari mereka menjambak rambut Kirana, sementara yang lain tertawa sambil membakar ujung kain batiknya dengan api kecil.

Darah Bara berdesir. Bukan karena panas, tapi karena dingin yang menusuk.

"Hancurkan mereka," bisik Garuda penuh hasutan nikmat. "Bakar mereka sampai tulang mereka menjadi abu."

"Tidak," jawab Bara, berdiri tegak di dahan pohon. Angin mulai berputar di sekeliling tubuhnya, dedaunan kering terangkat. "Membakar terlalu cepat. Aku akan mematahkan mereka... satu per satu."

Whush!

Bara melesat. Kali ini dia tidak menahan kecepatan fisiknya. Pohon tempat ia berpijak tadi bergetar hebat hingga daun-daunnya rontok, akibat hentakan kaki yang terlalu kuat.

Arya tertawa melihat Kirana yang menangis ketakutan. Ia duduk di atas batu besar, memutar-mutar pedangnya.

"Mana pahlawanmu itu, hah?" ejek Arya. "Si Bara itu? Katanya kalian teman dekat? Kenapa dia meninggalkanmu sendirian di sini?"

"Mas Bara... hiks... Mas Bara pasti sedang sibuk..." isak Kirana, mencoba melepaskan diri dari cengkeraman anak buah Arya.

"Sibuk bersembunyi di lubang semut mungkin!" Arya turun dari batu, mendekati Kirana. Wajahnya bengis. "Dengar, Babu. Aku tidak tertarik padamu. Aku hanya ingin memancing si sampah itu keluar. Dan cara terbaik memancing tikus adalah dengan menyiksa betinanya."

Arya mengangkat tangannya. Bola api seukuran kepalan tangan terbentuk di telapaknya.

"Berteriaklah yang keras. Panggil namanya."

Arya mendekatkan bola api itu ke wajah Kirana. Panasnya membuat kulit wajah Kirana memerah.

"MAS BARA!!!" Kirana menjerit histeris.

Tiba-tiba.

Suasana hutan berubah. Suara jangkrik berhenti. Angin berhenti berhembus.

Semua anak buah Arya terdiam, merasakan tekanan udara yang mendadak berat. Seolah-olah gravitasi meningkat dua kali lipat.

Dari balik bayangan pohon besar di ujung lapangan, sesosok manusia berjalan keluar. Langkahnya pelan, tap... tap... tap...

Itu Bara.

Tapi ada yang berbeda. Dia tidak menunduk. Dia tidak membawa ember air atau sapu lidi.

Kedua tangannya tergantung rileks di samping tubuh, tapi jari-jarinya sedikit melengkung seperti cakar. Wajahnya tertutup bayangan rambut poninya yang panjang, tapi matanya... matanya bersinar redup dalam kegelapan kanopi hutan.

"Lepaskan dia," suara Bara pelan, tapi terdengar jelas di telinga semua orang, seolah ia berbisik tepat di samping telinga mereka.

Arya menyeringai. "Akhirnya keluar juga. Aku pikir kau su—"

Belum sempat Arya menyelesaikan kalimatnya, Bara menghilang.

Tidak ada yang melihatnya bergerak. Tahu-tahu, Bara sudah berada di depan anak buah Arya yang menjambak rambut Kirana.

Krak!

Suara tulang patah terdengar nyaring.

Anak buah itu menjerit, melepaskan Kirana, dan memegang pergelangan tangannya yang kini bengkok ke arah yang tidak wajar. Bara telah mematahkan pergelangan tangan itu dengan satu gerakan kilat.

"Kubilang... lepaskan," ulang Bara.

Ia kemudian menendang dada anak buah itu. Orang itu terlempar sepuluh meter ke belakang, menabrak pohon dengan keras hingga pingsan.

Empat anak buah lainnya mundur ketakutan. Kecepatan macam apa itu? Mereka semua tingkat Wira Sukma, tapi mereka bahkan tidak melihat Bara bergerak!

Arya terkejut, tapi egonya yang besar menutupi rasa takutnya. Ia meraung marah. "Jangan mundur, bodoh! Dia cuma satu orang! Serang bersamaan!"

Keempat anak buah itu mencabut senjata mereka—pedang dan golok yang dialiri api. Mereka menyerbu Bara dari empat arah.

Bara tidak menghunus Kujang-nya.

"Untuk sampah seperti ini, tangan kosong sudah cukup," batinnya.

Saat pedang pertama menebas, Bara menunduk sedikit, lalu meninju ulu hati penyerangnya. Buk! Orang itu tumbang seketika, busa keluar dari mulutnya.

Dua orang menyerang dari belakang. Bara berputar, kakinya menyapu tanah (Leg Sweep), membuat mereka jatuh. Sebelum mereka bangkit, Bara menginjak dada mereka—bukan injakan mematikan, tapi cukup untuk membuat tulang rusuk retak dan mereka tidak bisa bangun lagi.

Penyerang terakhir, melihat teman-temannya habisi dalam hitungan detik, menjatuhkan pedangnya dan lari ketakutan.

Kini tinggal Arya dan Bara.

Kirana masih terduduk di tanah, menatap Bara dengan mata terbelalak. Dia belum pernah melihat sisi Bara yang ini. Dingin. Efisien. Brutal.

Arya gemetar. Bukan karena dingin, tapi karena amarah. "Kau... kau menyembunyikan kekuatanmu selama ini?! Kau mempermainkanku?!"

Bara menatap Arya. Tatapannya kosong, tanpa emosi. "Aku tidak pernah menyembunyikan apa-apa. Kau saja yang terlalu buta oleh kesombonganmu sendiri."

"KURANG AJAR!" Arya merogoh sakunya, mengeluarkan Pil Mustika Asura. Ia menelan pil merah itu tanpa ragu.

BOOM!

Ledakan aura api merah darah menyembur dari tubuh Arya. Otot-ototnya membesar. Pembuluh darah di wajahnya menonjol hitam. Matanya menjadi merah sepenuhnya. Tingkat kekuatannya melonjak drastis dari Wira Sukma Awal menjadi Wira Sukma Puncak—hampir menyentuh Agni Yuda.

Tanah di sekitar Arya hangus terbakar.

"Mati kau, Bara!" Arya menerjang. Kecepatannya meningkat tiga kali lipat. Pedangnya dilapisi api hitam yang ganas.

Bara tidak menghindar. Kali ini, ia perlahan menarik Kujang Si Sulung dari pinggangnya.

Bilah Kujang itu masih terlihat berkarat. Tapi saat tangan Bara menggenggamnya, karat itu seolah berdenyut.

Arya menebas vertikal, berniat membelah Bara menjadi dua.

Bara mengangkat Kujang-nya menangkis.

TRANG!

Benturan keras terjadi. Gelombang kejut menyapu dedaunan di sekitar mereka. Kaki Bara amblas ke dalam tanah beberapa sentimeter, tapi dia tidak mundur satu langkah pun.

Kujang berkarat itu menahan pedang pusaka Wangsa Agnimara yang diperkuat obat terlarang tanpa tergores sedikitpun.

"Obat itu akan memakan umurmu lima tahun, Arya," ucap Bara tenang di tengah adu tenaga itu. Wajah mereka berdekatan. "Apakah harga dirimu semahal itu?"

"DIAM! AKU AKAN MEMBUNUHMU!" teriak Arya, menyalurkan lebih banyak api.

Di kejauhan, di atas dahan pohon tinggi, Rara Anjani dan Nimas Sekar—di pohon yang berbeda—menahan napas menyaksikan pertarungan itu.

Mereka melihat sesuatu yang Arya tidak lihat.

Di punggung Bara, bayangan uap panas membentuk siluet samar... bukan naga, bukan harimau. Melainkan sepasang sayap lebar yang membentang.

Dan di tangan Bara, lapisan karat pada Kujang itu mulai retak, memancarkan seberkas cahaya emas yang menyilaukan.

"Permainan selesai," bisik Bara.

Glosarium & Catatan Kaki Bab 4

Babi Hutan Cula Besi: Hewan buas (Beast) tingkat rendah-menengah yang memiliki kulit sangat keras dan taring logam. Biasanya membutuhkan 3-4 pendekar tingkat Wira Sukma untuk mengalahkannya.

Pohon Meranti: Pohon khas

hutan hujan tropis Nusantara yang bisa tumbuh sangat tinggi dan besar, sering menjadi tempat persembunyian strategis.

Mustika Peledak: Artefak sekali pakai yang berisi energi prana yang dimampatkan. Bisa meledak seperti granat.

Token Giok: Mata uang poin dalam ujian ini. Terbuat dari batu giok yang diberi mantra pelacak.

1
Panda
jejak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!