Astra tak pernah mau meneruskan pekerjaan Ibunya. Di bandingkan menjadi dukun, dia ingin hidup normal sebagai gadis pada umumnya.
Demi bisa terlepas dari hal-hal gaib di desa, Astra nekat melanjutkan study nya di kota. Dengan beasiswa yang susah payah dia raih, dia memasuki sekolah terkenal di kota "High School" dari namanya saja sudah keren bukan?
Astra bermimpi untuk belajar seperti siswa pada umumnya, memiliki teman dan bekerja setelah lulus. Namun kenyataan menampar nya, High School tidak sebaik yang di pikir kan.
Kemanapun dia pergi, kabut gelap selalu terlihat di tubuh setiap orang...
Permainan gaib, nyawa dan kekuasaan menjadi mainan bagi mereka. Sisi baiknya, tidak ada satupun orang yang mengetahui hal gaib lebih baik darinya di sekolah ini...
#25Desember2025
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RAS( BY.AR), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Samuel-"Benar."
Membuat ketiga temannya termasuk Arka membeku, "Gue natap dia dengan niat, tapi dia biasa aja."Arka tertawa kecil, memecah keheningan. "Mungkin dia emang gak peka sama hal gituan,"
Samuel hanya mengangkat bahu, pandangannya masih tertuju pada punggung Astra yang kini sedang berbicara dengan Riel.
"Dia gak takut," gumam Samuel, lebih kepada dirinya sendiri. "Itu menarik."
Cowok bermata biru yang bernama Dion menyahut, "Menarik?" bibirnya tersenyum miring. "Cuma cewek baru yang sok jual mahal, gue deketin juga langsung nempel."
Arka hanya tersenyum misterius, menyeruput kopinya lagi. Dalam hati, dia tahu, Astra berbeda.
"Sebenarnya gue lebih penasaran sama identitas nya." Ucap santai Arka.
"Bener juga, namanya singkat banget! Cuma Astra doang. Gak ada nama keluarga nya," sahut Dion setuju dengan ucapan Arka.
"Nama lengkap nya Astraluna," laki-laki yang sedari tadi diam tidak berbicara itu tidak menyahut, sebut saja Gabriel.
"Tau darimana Lo Gab?" -Dion.
"Ada di data Osis"- Gabriela.
"Eh, gue liat kembaran lo langsung deket sama cewek baru itu. Gimana kalo lo tanyain aja asal-usulnya?"
Gabriela tidak menanggapi ucapan Dion, namun mulutnya bergumam acuh. "Gak ada kerjaan"
Bel berbunyi dan semua orang kembali ke kelasnya masing-masing.
Jam setelah istirahat adalah pelajaran Sejarah, Astra cukup senang dengan pelajaran ini karena tidak perlu banyak berpikir. Apalagi dengan guru yang humble seperti Pak Jek.
Di depan kelas, pak Jek guru Sejarah yang terkenal humble dan santai—mulai membuka diskusi.
"Baik, anak-anak. Hari ini kita akan membahas tentang Mitos dan Legenda dalam Pembentukan Identitas Nasional," kata Pak Jek sambil tersenyum.
"Namun, sebelum kita masuk ke ranah yang lebih serius, saya ingin bertanya. Siapa di sini yang percaya pada hantu, atau... fenomena supranatural?"
Satu kelas riuh. Beberapa siswa tertawa, beberapa bergidik."Pak, kalau di sekolah kita, banyak banget cerita hantu, Pak! Toilet, gudang, sampai pohon beringin di belakang!" teriak seorang siswa.
Pak Jek tertawa kecil. "Cerita hantu. Fenomena yang menarik. Tapi mari kita bahas dari sudut pandang sejarah. Dalam banyak kebudayaan, fenomena yang tidak dapat dijelaskan seringkali dihubungkan dengan entitas tak kasat mata. Nah, saya ingin tahu, bagaimana kalian melihat korelasi antara legenda masa lalu dengan cerita-cerita hantu yang populer di sekitar kita?"
Riel mengangkat tangan. "Pak,"
"Ya Gabriela silahkan,"
"Menurut saya, cerita hantu adalah bentuk modern dari Mitos Moral. Secara historis, legenda digunakan untuk mengajarkan nilai-nilai atau menakut-nakuti agar orang patuh. Cerita hantu di sekolah, misalnya, seringkali muncul di tempat-tempat yang seharusnya dihindari seperti gudang dan toilet sepi. Ini adalah cara tak sadar untuk mengendalikan perilaku siswa agar tidak melanggar batas. Hantu hanyalah alat untuk menegakkan disiplin."
Jawaban Riel yang lugas dan logis mendapat anggukan dari Pak Jek.
"Pandangan yang cerdas, Gabriela. Siapa lagi?"
Arka mengangkat tangan dengan santai. "Saya setuju dengan Riel Pak, tapi saya melihatnya dari sisi Kebutuhan Manusia akan Misteri."
"Oh, seperti apa itu?"
"Dalam sejarah, saat ilmu pengetahuan belum maju, manusia selalu mengisi kekosongan pengetahuan dengan mitos. Di era modern ini, meskipun kita punya sains, kita tetap butuh sesuatu yang tidak bisa dijelaskan sepenuhnya. Cerita hantu dan legenda urban adalah cara kita mempertahankan imajinasi dan rasa takjub di tengah dunia yang serba logis. Itu adalah kebutuhan psikologis, bukan sekadar alat kontrol."
Astra, yang sedari tadi hanya mendengarkan, kini merasa terpancing.
"Pak," kata Astra, mengangkat tangan. "Saya punya pandangan yang berbeda."
Semua mata tertuju pada Astra.
Arka tersenyum tipis, tertarik.
"Silakan, Astra," ujar Pak Jek.
"Jika kita melihat dari sudut pandang sejarah, cerita hantu selalu berakar pada Tragedi yang Terlupakan. Di masa lalu, tempat-tempat yang memiliki sejarah kelam—perang, pembunuhan, atau penderitaan—sering dianggap berhantu. Saya tidak percaya pada hantu sebagai sosok, tapi saya percaya pada memori kolektif yang tertinggal di suatu tempat. Cerita hantu adalah cara masyarakat mengingat dan menghormati penderitaan masa lalu yang tidak tercatat dalam buku sejarah resmi. Itu adalah pengingat bahwa ada hal-hal yang tidak bisa dihapus hanya dengan waktu."
Kelas hening sejenak. Pandangan Astra yang tenang namun tajam membuat argumennya terasa meyakinkan.
Tiba-tiba, dari sudut belakang kelas, Samuel mengangkat tangan. Suaranya rendah dan dingin, namun menarik perhatian semua orang.
"Saya setuju dengan Astra, tapi saya akan membawanya lebih jauh," kata Samuel.
Membuat seisi kelas jadi lebih serius. King telah angkat suara, maka rakyat harus mendengarkan. Begitulah jika di jelaskan dengan penjelasan yang berlebih.
"Dalam sejarah, ada konsep 'tabu'—hal-hal yang tidak boleh dibicarakan atau disentuh. Cerita hantu adalah cara untuk menjaga tabu itu. Jika suatu tempat dianggap berhantu, maka tempat itu akan dihindari. Ini bukan hanya tentang mengingat tragedi, tapi tentang melindungi rahasia. Mungkin ada hal-hal yang sangat penting—entah itu kekayaan, dokumen, atau kebenaran—yang disembunyikan di balik mitos hantu. Hantu adalah penjaga rahasia yang paling efektif, karena tidak ada yang berani mendekatinya."
Samuel berhenti sejenak, pandangannya bertemu dengan Astra."Jika hantu adalah penjaga rahasia," lanjut Samuel, "maka orang yang tidak takut pada hantu, adalah orang yang berbahaya karena dia berpotensi mengungkap rahasia yang seharusnya tetap terkubur."
Pak Jek tersenyum lebar, matanya berbinar. "Luar biasa! Diskusi yang sangat filosofis. Kita punya empat pandangan yang berbeda namun logis, Mitos Moral dari pandangan Gabriela, Kebutuhan akan Misteri dari pandangan Arka, Memori Kolektif Tragedi dari pandangan Astra, dan Penjaga Rahasia/Tabu dari pandangan Samuel. Ayo kita bahas, pandangan siapa yang lebih relevan..."
Astra dan Samuel saling bertukar pandang. Ada ketegangan yang tak terucapkan di antara mereka. Astra merasa Samuel tidak hanya berdiskusi, tetapi sedang mengirimkan peringatan padanya.
Namun kembali ke setelan awalnya, Astra lebih mendengarkan penjelasan Pak Jek daripada harus fokus pada laki-laki yang menurutnya akan menimbulkan masalah untuk nya.
Pukul 2 siang, sekolah pun berakhir.
Semuanya merapikan buku-buku dan beranjak pulang, begitupun dengan Astra.
"Astra, kamu mau pulang? Bareng yuk!"
"Nggak"
"Yah, atau kamu kasih tau tinggal dimana. Nanti aku mampir, boleh?"
Astra tidak menjawab, setelah selesai merapikan bukunya ke dalam tas dan mengendong nya. "Gue tinggal di sekitaran Sekolah" ucapnya lalu beranjak pergi.
***
Komentar dan Like yang banyak yaa 😞
Setelah baca tinggalkan Like dan Komentar!
Boncab dong Thor
semangat menjalani harimu
ayo up lagi malam ini.
aku suka banget ceritanya.
bagus
dan semakin bikin aku penasaran akan kelanjutannya.
ayooooooooo up lagiiiiiiiiiiiiiiii
kenapa kok gak ada semangatnya.
semoga author dapet ide-ide bagus buat lanjutin Babnya, biar gak terlalu pendek-pendek amat ceritanya kalo tamat😊🤭🤭🤣🤣🤣🤣
semoga semangat mubgak kendor ya thor. jangan putuskan hubungan ini... eh, novel ini di tengah jalan thorkuuuu....
semoga lolos ya thooor
🎶Sampai kapan kau gantung
Cerita cintaku memberi harapan🎶