NovelToon NovelToon
LUKA DIBALIK CINCIN - Ketika Cinta Terbelenggu Hutang

LUKA DIBALIK CINCIN - Ketika Cinta Terbelenggu Hutang

Status: tamat
Genre:Ibu Mertua Kejam / Pelakor jahat / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Penyesalan Suami / Selingkuh / CEO / Tamat
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Mentari_Senja

Lestari Putri hidup dalam keluarga yang hancur oleh hutang dan alkohol. Di usia muda, ia dipaksa menikah demi melunasi hutang ayahnya—sebuah pernikahan yang lebih mirip penjara daripada rumah.

Suaminya, Dyon, bukan pelindung, melainkan sumber luka yang terus bertambah, sementara Lestari belajar bertahan dalam diam.
Ketika kekerasan mulai menyentuh seorang anak kecil yang tak bersalah, Lestari mengambil keputusan paling berani dalam hidupnya: melarikan diri. Tanpa uang, tanpa arah, hanya membawa sisa keberanian dan harapan yang nyaris padam.

Di tengah kerasnya kota, Lestari bertemu seseorang yang melihatnya bukan sebagai beban atau milik, melainkan manusia. Namun masa lalu tidak mudah dilepaskan.

Pernikahan, hutang, dan trauma terus membayangi, memaksa Lestari memilih—tetap terikat pada luka, atau berjuang meraih kebebasan dan cinta yang sesungguhnya.

Akankah Lestari menemukan kebahagiaan setelah badai? Atau masa lalu kelam akan terus menghantui hidupnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Antoni Sakit

Minggu ketiga kerja.

Lestari udah mulai terbiasa sama rutinitas baru. Bangun pagi, berangkat ke rumah Nattakusuma, kerja seharian, pulang malem.

Tapi minggu ini beda.

Kerjaan numpuk banget—Nyonya Vanesa mau ngadain acara kumpul keluarga besar di rumah, akhir minggu ini. Jadi semua harus diberesin total. Lantai harus kinclong, jendela harus bersih, taman harus rapi, dapur harus steril.

Lestari sama Mbak Endah kerja lembur. Dari jam tujuh pagi sampe jam sepuluh malem. Nggak sempet pulang.

"Lestari, kamu tidur aja di sini. Ada kamar pembantu di belakang. Daripada pulang malem-malem bahaya," kata Mbak Endah.

Lestari ngangguk. "Baik, Mbak... tapi Antoni..."

"Kan ada Bu Siti jaga Antoni. Dia pasti aman."

Lestari ngeluarin napas. Iya sih. Antoni sama Bu Siti. Harusnya aman.

Tapi tetep aja... hati nya nggak tenang.

Dia telpon Bu Siti tiap malem—nanya Antoni udah makan belum, udah tidur belum, sehat nggak.

Bu Siti selalu jawab sama. "Tenang, Nak. Antoni sehat. Dia main sama anak-anak tetangga tadi sore. Sekarang udah tidur."

Lestari ngangguk lewat telpon. "Makasih ya, Tante... maaf merepotkan..."

"Nggak papa. Tante seneng kok jaga Antoni. Dia anak baik."

---

Rabu malam. Hari ketiga Lestari nggak pulang.

Jam sebelas malem. Lestari baru selesai ngepel lantai ruang tamu yang luas banget. Punggung nya sakit semua. Kaki nya pegel. Mata nya udah berat.

Dia ke kamar pembantu—kamar kecil di belakang rumah, deket dapur. Ada kasur lipat tipis, bantal satu, selimut lusuh.

Lestari rebahan—langsung pulas.

Tapi jam dua pagi—

BZZZT BZZZT BZZZT.

Ponsel getar keras di samping bantal.

Lestari terbangun—mata nya masih sepet. Ambil ponsel. Layar nya nyala terang, bikin mata perih.

Telpon masuk. Dari Bu Siti.

Jam dua pagi.

Jantung Lestari langsung deg-degan parah.

Diangkat cepet. "H-halo? Tante?"

"LESTARI!" Suara Bu Siti panik banget. "ANTONI DEMAM TINGGI! DIA KEJANG-KEJANG! AKU NGGAK TAU HARUS GIMANA!"

Lestari langsung bangun—duduk cepet, kepala nya pusing karena bangun terlalu cepat. "APA?! ANTONI KEJANG?!"

"IYA! BADANNYA PANAS BANGET! AKU UDAH KASIH OBAT PENURUN PANAS TAPI NGGAK TURUN-TURUN! TERUS TADI DIA KEJANG! MATANYA NAIK KE ATAS! TUBUHNYA KAKU! LESTARI, INI BAHAYA!"

Lestari langsung lari—keluar kamar, lari ke pintu belakang, buka pintu, lari keluar rumah.

Masih pake daster tidur. Nggak pake kerudung. Kaki nya telanjang—nggak sempet pake sandal.

Lari di jalanan Jakarta jam dua pagi—sepi, gelap, cuma ada lampu jalan yang redup.

Lari sekuat tenaga—napas nya ngos-ngosan, dada nya sakit, kaki nya lecet kena aspal kasar.

Tapi dia nggak peduli.

Antoni. Anak nya. Anak satu-satunya.

Kejang.

---

Sampe di kontrakan—pintu udah kebuka. Bu Siti berdiri di depan pintu, gendong Antoni yang lemes.

"LESTARI!"

Lestari langsung ambil Antoni dari gendongan Bu Siti. Antoni... ya Allah Antoni...

Badannya panas kayak bara api. Mata nya setengah terbuka, tatapan nya kosong. Bibir nya kering pecah-pecah. Napas nya cepet tapi lemah.

"ANTONI! ANAK IBU! BANGUN! KUMOHON BANGUN!" Lestari mengguncang-guncang Antoni pelan.

Antoni nggak respon. Cuma mengerang lemah. "Ihhh... buuu..."

Bu Siti nangis. "Aku udah kasih obat, aku udah kompres pake air hangat, tapi panasnya nggak turun! Malah makin tinggi! Tadi dia kejang, Nak! Tubuhnya kaku, matanya naik! Aku takut dia kenapa-kenapa!"

Lestari peluk Antoni erat. Tangan nya gemetar parah. "Aku... aku harus bawa dia ke rumah sakit... sekarang..."

"Tapi Nak, uang kamu—"

"AKU NGGAK PEDULI! AKU HARUS BAWA DIA SEKARANG!"

Lestari keluar kontrakan—gendong Antoni, lari ke jalan raya.

Melambaikan taksi. Nggak ada yang berhenti—siapa yang mau berhenti buat perempuan lusuh gendong anak tengah malem gini.

Melambaikan lagi. Lagi. Lagi.

Akhirnya ada taksi tua yang berhenti.

"KE RUMAH SAKIT TERDEKAT! CEPET! ANAK SAYA KEJANG!" teriak Lestari begitu masuk.

Supir nya—bapak-bapak tua—langsung ngebut. Mobil melaju kenceng.

Lestari peluk Antoni di bangku belakang. "Bertahan, Nak... kumohon bertahan... Ibu nggak akan biarkan kamu kenapa-kenapa... kumohon Ya Allah... kumohon..."

Air mata nya ngalir nggak berhenti. Basahi pipi, basahi baju, basahi rambut Antoni.

---

Rumah Sakit Umum Tanah Abang.

Rumah sakit kecil—gedung dua lantai, cat nya udah kusam, halaman nya sempit.

Taksi berhenti di depan UGD. Lestari turun—langsung lari masuk sambil gendong Antoni.

"TOLONG! TOLONG ANAK SAYA! DIA KEJANG! DIA DEMAM TINGGI!" teriak Lestari di ruang tunggu UGD.

Perawat langsung datang—perempuan muda pake seragam putih. "Bayi nya umur berapa, Bu?"

"Tujuh tahun! Dia demam dari tadi malem, udah dikasih obat tapi nggak turun, terus dia kejang—"

"Ikut saya. Cepat."

Lestari dibawa ke ruang pemeriksaan. Antoni dibaringkan di tempat tidur pemeriksaan—tempat tidur tinggi dengan roda.

Dokter jaga datang—dokter laki-laki, umur empat puluhan, muka nya serius.

Periksa Antoni—cek suhu, cek nadi, cek mata, cek napas.

"Suhu nya empat puluh koma dua derajat. Ini step—kejang demam. Anak nya harus dirawat. Harus dikasih cairan infus, antibiotik, penurun panas lewat IV biar cepet turun."

"Berapa lama, Dok?"

"Minimal tiga hari. Tergantung respon tubuh nya."

"Biaya nya... biaya nya berapa, Dok?"

Dokter ngeliat perawat. Perawat ngecek komputer. "Untuk rawat inap tiga hari, obat-obatan, infus, pemeriksaan lab... sekitar lima juta rupiah, Bu."

Lima juta.

Lestari ngerasa dunia nya roboh.

Lima juta.

Dia cuma punya... dia buka tas kain lusuh yang dibawa—dalem nya ada dompet. Buka dompet.

Seratus lima puluh ribu.

Itu doang.

Gaji nya baru turun tanggal lima. Masih seminggu lagi.

"Dok... aku... aku cuma punya seratus lima puluh ribu... bisa... bisa dicicil nggak, Dok? Aku janji aku bakal bayar! Aku kerja! Aku punya gaji! Kumohon Dok, tolong anak aku... kumohon..."

Lestari jatuh berlutut—tangan nya nangkup di depan dada, nangis keras.

Dokter ngeluarin napas. "Ibu, saya ngerti situasi Ibu. Tapi rumah sakit ini nggak bisa kasih perawatan gratis. Harus ada uang muka minimal dua juta dulu baru bisa mulai rawat inap—"

"DOK KUMOHON! ANAK AKU KEJANG! DIA BISA MATI KALAU NGGAK DITOLONG! AKU MOHON DOK! AKU RELA APAPUN ASAL ANAK AKU SELAMAT!" Lestari teriak—suara nya pecah, serak, putus asa total.

Dokter diem. Perawat diem. Mereka kasian—tapi mereka nggak bisa lakuin apa-apa. Aturan rumah sakit jelas.

Lestari nangis sambil sujud di lantai UGD—lantai keramik dingin yang bau desinfektan. "Ya Allah... Ya Allah tolong aku... kumohon... jangan ambil anak ku... dia satu-satunya yang aku punya... kumohon..."

"Saya yang bayar."

Suara berat dari belakang.

Suara yang... familiar.

Lestari berhenti nangis. Ngangkat kepala pelan—noleh ke belakang.

Adriano berdiri di pintu UGD. Masih pake kemeja putih—kayak baru pulang kantor. Muka nya serius. Mata nya... mata nya fokus ke Lestari.

"Pa... Pak Adriano...?" Lestari berdiri—kaki nya lemes, hampir jatuh lagi tapi nahan tembok.

"Pak Budi memberitahu saya." Adriano jalan masuk—langkah nya pelan tapi firm. "Sekarang fokus pada anak mu. Soal biaya, anggap ini pinjaman."

Adriano keluarin dompet dari saku celana—dompet kulit hitam tebal. Keluarin kartu—kartu kredit warna gold.

Kasih ke perawat. "Bayar semua biaya perawatan anak ini. Apapun yang dibutuhkan. Pakai kartu ini."

Perawat nerima kartu—tangan nya gemetar dikit. "Ba-baik, Pak. Terima kasih..."

Perawat langsung ke kasir—ngurus administrasi.

Dokter ngangguk ke Adriano. "Terima kasih, Pak. Kami langsung proses rawat inap nya." Terus ke perawat lain. "Siapkan ruang perawatan. Pasang infus. Kasih antibiotik dan penurun panas IV. Cepat."

Antoni dibawa ke ruang rawat inap—dibawa pake brangkar dorong.

Lestari ngikutin—tapi langkah nya limbung. Kakinya masih gemetar parah.

Adriano pegang lengan Lestari—bantuin berdiri. "Tenang. Dia akan baik-baik saja."

Lestari noleh—ngeliat Adriano yang berdiri di samping nya.

Terus—nangis lagi.

Nangis sambil peluk Adriano.

Peluk erat—walaupun mereka baru kenal beberapa minggu, walaupun Adriano majikan nya, walaupun ini nggak sopan.

Tapi Lestari nggak peduli.

Dia cuma... dia cuma butuh sesuatu buat dipegang. Sesuatu buat nahan dia dari roboh total.

"Kenapa... kenapa Bapak baik banget sama aku... aku... aku nggak tau harus balas gimana... aku... terima kasih... terima kasih banyak..."

Adriano diem. Nggak ngelak. Nggak dorong Lestari menjauh.

Cuma... berdiri di situ.

Tangan nya pelan-pelan naik—mengelus punggung Lestari. Pelan. Lembut.

"Kamu nggak perlu balas. Ini... ini yang seharusnya dilakukan."

Lestari nangis makin keras.

Nangis karena lega.

Nangis karena syukur.

Nangis karena... karena ada seseorang yang peduli.

Seseorang yang datang pas dia paling butuh.

Seseorang yang... yang mungkin mulai jadi lebih dari sekadar majikan.

---

Ruang rawat inap kelas tiga. Kamar dengan empat tempat tidur—tapi cuma Antoni yang dirawat, jadi kamar nya sepi.

Antoni dibaringkan di tempat tidur putih bersih. Infus dipasang di tangan kanan nya—jarum kecil masuk ke pembuluh darah, selang plastik nyambung ke kantong cairan bening yang digantung di tiang infus.

Antoni masih nggak sadar penuh—mata nya kadang kebuka, kadang nutup. Napas nya mulai teratur.

Lestari duduk di samping tempat tidur—kursi plastik keras. Tangan nya pegang tangan Antoni yang dingin.

"Nak... Ibu di sini... Ibu nggak kemana-mana... kamu nggak sendirian..."

Adriano berdiri di belakang—tangan nya di saku celana, ngeliat Antoni dari jauh.

"Dia mirip kamu," kata Adriano pelan.

Lestari noleh. "Iya... orang-orang bilang gitu... tapi mata nya mirip... mirip bapak nya..."

Hening.

Lestari nggak sebut nama Dyon. Nggak mau.

Adriano ngerti. Dia nggak nanya lebih jauh.

Beberapa menit hening.

Terus Adriano ngomong lagi. "Kamu... kamu kabur dari suami mu kan?"

Lestari kaget. Noleh cepet.

Adriano masih natap Antoni—nggak natap Lestari. "Aku tau. Dari cara kamu... cara kamu takut tiap kali ada suara keras. Cara kamu selalu nunduk. Cara kamu... gemetar tiap kali ada yang marah."

Lestari diem. Nggak bisa bohong lagi.

"Iya," bisik nya pelan. "Aku... aku kabur. Tiga bulan lalu. Bawa Antoni. Dia... dia jahat. Dia sering mukul aku. Mukul Antoni. Aku... aku nggak kuat lagi. Jadi aku kabur."

Adriano ngangguk pelan. "Kamu berani."

Lestari menggeleng. "Aku nggak berani. Aku... aku cuma desperate. Aku takut Antoni tumbuh kayak aku. Takut dia... dia jadi korban terus."

"Tetep aja berani. Nggak semua orang bisa ninggalin situasi yang menyiksa. Kamu bisa. Itu... itu kuat."

Lestari ngeliat Adriano. Mata nya berkaca-kaca lagi.

"Terima kasih... terima kasih udah bilang gitu... selama ini aku... aku ngerasa lemah. Ngerasa gagal jadi istri. Gagal jadi ibu. Tapi... tapi Bapak bilang aku kuat..."

"Karena kamu emang kuat. Kamu masih hidup. Kamu masih berjuang. Itu bukti."

Lestari nangis lagi—tapi nangis nya beda. Nangis yang... hangat.

Adriano jalan deket—duduk di kursi sebelah Lestari.

Mereka duduk bersebelahan—diem, nggak ngomong apa-apa.

Cuma... ada di situ. Bareng.

Dan entah kenapa—

Lestari ngerasa... ngerasa aman.

Lebih aman dari yang pernah dia rasain seumur hidup nya.

---

Pagi harinya—Antoni bangun.

Mata nya kebuka pelan. Liat langit-langit putih. Bingung.

"I...bu...?"

Lestari langsung bangun dari kursi—dia ketiduran sambil nunduk di pinggir tempat tidur Antoni.

"ANTONI! Nak! Kamu udah bangun! Syukur... syukur ya Allah..." Lestari langsung peluk Antoni—hati-hati biar infus nya nggak keganggu.

"Ibu... aku di mana...?"

"Di rumah sakit, Nak. Kamu sakit. Kamu demam tinggi. Tapi sekarang udah mendingan. Ibu ada di sini. Ibu jaga kamu."

Antoni senyum lemah. "Ibu... aku laper..."

Lestari ketawa—ketawa lega. "Iya, Nak. Nanti Ibu beliin bubur ya. Kamu tunggu sebentar."

Antoni ngangguk. Terus mata nya ngeliat ke samping—liat Adriano yang duduk di kursi sebelah, lagi tidur—kepala nya menyandar ke tembok, mata nya merem.

"Ibu... itu siapa?"

Lestari ngeliat Adriano. Senyum tipis.

"Itu... itu Om Andriano. Om yang baik. Om yang nolongin kita."

"Om nya ganteng ya, Bu."

Lestari ketawa pelan. "Iya. Ganteng. Dan baik."

Antoni senyum lagi—terus tidur lagi, masih lemah.

Lestari ngeliat Adriano yang masih tidur.

Pria ini... pria ini udah ngelakuin banyak banget buat dia.

Nolongin waktu melahirkan dulu.

Ngasih kerjaan sekarang.

Bayarin biaya rumah sakit Antoni.

Nemenin dia semalam suntuk di rumah sakit.

Kenapa?

Kenapa dia ngelakuin semua ini?

Lestari nggak ngerti.

Tapi yang dia ngerti—

Dia mulai... mulai ngerasa sesuatu.

Sesuatu yang hangat tiap liat Adriano.

Sesuatu yang bikin jantung nya berdebar tiap Adriano deket.

Sesuatu yang... yang mungkin—

Cinta?

Lestari langsung menggeleng.

"Nggak. Nggak mungkin. Dia majikan. Aku pembantu. Dia kaya. Aku miskin. Dia punya masa lalu. Aku punya luka. Nggak mungkin."

Tapi... hati nya bilang lain.

Hati nya bilang—

Mungkin.

Mungkin ini takdir.

Mungkin ini jalan yang disiapkan Tuhan.

Mungkin... mungkin Adriano adalah jawaban dari doa-doa nya selama ini.

Lestari nggak tau.

Yang dia tau cuma—

Dia... dia mulai jatuh.

Jatuh ke pria yang ada di samping nya sekarang.

Pria yang tidur dengan muka damai.

Pria yang... yang mungkin jadi cahaya di ujung kegelapan nya.

---

1
checangel_
Akhirnya, setelah sekian gerhana 🤧, kan enak lihatnya 🤝
checangel_: Iya, saking actionnya, dramanya samar tergoreskan 🤧
total 2 replies
checangel_
Ada kalanya bercanda itu harus dalam setiap keseriusan, Adriano 🤧, walaupun ujung²nya memang serius dan serius banget/Facepalm/
checangel_
Logatnya jadi Sunda an 🤧
checangel_: /Facepalm/
total 2 replies
checangel_
Jangan bilang begitu, 'asal jalanin saja dulu' No .... lebih baik 'pikirkan saja dulu dan istikharahlah dulu' agar kata 'Menyesal' tak menggema 😇
checangel_
Yang bener, hanya peduli sama Lestari?, coba pikirkan berulang kali lagi/Facepalm/
checangel_: Yang pasti sulit ditanyakan 🤣
total 2 replies
checangel_
Berasa lagi nonton teater genre action romance🤣, kenapa saat kejadian tegang seperti itu, ada aja kalimat yang nyempil 'nggak bisa hidup tanpamu'/Facepalm/
checangel_: /Shhh//Silent/
total 2 replies
checangel_
Iya Adriano, Lestarinya 'always waiting for you'😇
checangel_
Lah, beneran di stalking 🤭/Facepalm/
checangel_
Saat firasat seorang wanita melampaui batas kepercayaan orang lain 🤭/Facepalm/
checangel_
Wah, Dante ternyata .... topeng yang bersembunyi 🤧
checangel_: Iya, mana kalau di inget lucu lagi 🤭
total 8 replies
checangel_
Ingat! Cinta itu berbagai macam rupa, selaraskan dulu yuk perasaan dan logikamu Lestari agar seimbang, jalur langit 😇
checangel_
Cieee ngajak jalan², Lestari jangan jatuh hati ya, takutnya kamu nggak bisa move on dari Adriano 🤭
Leoruna: dan jangan terlalu percaya dengan perlakuan yg baik di awal 🤭
total 1 replies
checangel_
Bisa-bisanya Antoni dengerin Omnya curhat, masalah percintaan lagi 🤣
checangel_
Tak ada lagi kata terucap, teruntuk Lestari wanita kuat dan tentunya Author hebat di balik setiap lembarannya 👍🙏
Leoruna: mkasih udh slalu stay di ceritaku, Kak☺
total 1 replies
checangel_
Dan tentunya penuh kejutan 🤭
checangel_
/Good/
Dri Andri
yon urang gelud lah... ajg parah lord dyon... anak balita aja di tampar... anak setan... bapaknya apa ? aaaaaakakakkakaakakak
checangel_
Karena Dyon adalah suamimu, firasatmu sebagai istri selalu tepat dan akurat Lestarai 😇
Leoruna: ikatan batin seorang istri😌
total 1 replies
checangel_
Wah, Antoni hebat bisa juggling bola/Applaud/, Aunty bangga padamu /Smile/
Leoruna: mkasih Aunty🤭
total 1 replies
checangel_
Kok berasa komedi ya, saat Ibu Wulandari muncul, komedinya ngeri² gimana gitu/Facepalm/🤭, Astaghfirullah maafkan Reader ini ya Ibu Wulandari 🤧
checangel_: Entahlah/Silent/
total 4 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!