NovelToon NovelToon
Kapan Kebahagiaan Itu Datang ?

Kapan Kebahagiaan Itu Datang ?

Status: sedang berlangsung
Genre:Poligami / Cerai / Penyesalan Suami
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Almira

Sejak dilahirkan, hidup tak pernah memberinya ruang untuk merasa bahagia. Luka, kehilangan, dan kesendirian menjadi teman tumbuhnya. Saat orang lain menemukan kebahagiaan dengan mudah, ia hanya bisa bertanya dalam diam: kapan kebahagiaan itu datang?
Sebuah kisah tentang hati yang lelah menunggu, namun belum sanggup berhenti berharap.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Almira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kecelakaan.

Sudah beberapa bulan Kak Rini bekerja di luar negeri. Sejak kepergiannya, ia rutin mengirimkan uang kepada ayah, bukan kepada ibu. Awalnya aku tak terlalu memahami arti dari semua itu. Yang kutahu, setiap kali uang kiriman datang, ayah terlihat senang. Ia membeli barang-barang yang ia inginkan, sementara ibu tetap menjalani hari-harinya dengan wajah lelah dan diam yang panjang. Nafkah yang diberikan ayah kepada ibu sangat terbatas, jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga kami yang besar.

Perlahan, sikap ayah mulai berubah. Semangat kerjanya semakin memudar. Kadang ia berangkat ke tempat jahit, kadang memilih tinggal di rumah tanpa alasan yang jelas. Ayah lebih sering duduk, menunggu, seolah yakin bahwa uang kiriman Kak Rini akan selalu datang tepat waktu. Ibu tidak pernah membantah. Ia hanya mengerjakan semua pekerjaan rumah seperti biasa, meski aku tahu hatinya tak pernah benar-benar tenang.

Musibah itu datang tanpa peringatan. Suatu hari, sepulang kerja, ayah mengalami kecelakaan. Kakinya patah, membuatnya harus terbaring dan tak bisa lagi bekerja. Sejak kejadian itu, ayah semakin tenggelam dalam keputusasaan. Ia mudah marah, sering mengeluh, dan lebih banyak diam. Rumah yang dulu sudah sunyi, kini terasa semakin berat untuk dihuni.

Di tengah kondisi itu, ibu tak punya banyak pilihan. Anak-anaknya masih kecil, sebagian masih aktif bersekolah. Biaya hidup terus berjalan, sementara penghasilan hampir tak ada. Ibu tahu, jika ia ikut menyerah, maka kami semua akan ikut jatuh. Sejak kecelakaan ayah, ibu mulai berjualan gorengan setiap pagi dan sore. Ibu memasak dengan tangan yang tak pernah benar-benar beristirahat, sementara kami yang menjajakan dagangan itu berkeliling kampung.

Setiap pagi, sekitar pukul enam, sebelum berangkat sekolah, kami sudah keluar rumah membawa gorengan buatan ibu. Udara masih dingin, mata kami masih berat karena kantuk. Namun kami tetap berjalan dari rumah ke rumah, berharap dagangan kami habis terjual. Aku sering menunduk saat bertemu teman-teman seusiaku. Mereka berangkat sekolah dengan tas rapi, sementara aku membawa plastik berisi gorengan.

Sore harinya, sepulang sekolah, ibu kembali membuat kue. Tanpa sempat benar-benar beristirahat, ia kembali menyiapkan dagangan. Aku, abang, dan kakakku kembali turun ke jalan untuk menjajakan kue itu. Kadang kakiku terasa pegal, kadang hatiku ingin menangis, tapi tak ada waktu untuk mengeluh.

Kami masih anak-anak, namun hidup memaksa kami belajar tentang tanggung jawab terlalu cepat. Dari gorengan dan kue buatan ibu, aku belajar bahwa bertahan hidup bukan tentang pilihan, melainkan tentang keberanian untuk tetap melangkah, meski dunia terasa tidak adil sejak usia yang terlalu dini.

Di posisi seperti ini, aku sangat kasihan melihat ibu. Tekanan batin yang ia rasakan begitu besar setelah ayah mengalami kecelakaan. Kini, ibu harus menjadi tulang punggung keluarga. Ayah belum bisa menjahit untuk sementara waktu, sementara kebutuhan hidup terus berjalan. Tak hanya itu, ibu juga harus memikirkan biaya pengobatan ayah agar ia bisa sembuh dan kembali bekerja seperti semula.

Setiap hari, ibu memikul semua beban itu seorang diri. Wajahnya semakin sering terlihat lelah, matanya menyimpan banyak kekhawatiran yang tak pernah ia ceritakan. Namun, ibu tetap berusaha tegar di hadapan kami, seolah semuanya baik-baik saja.

Ironisnya, di saat ibu berada di titik terlemah, justru orang-orang terdekatnya tak menunjukkan empati. Adik-adik ibu dan orang tuanya seolah merasa senang melihat ibu menderita. Setiap kali ibu melewati rumah adiknya, pandangan sinis dan bisikan tajam selalu menyertai langkahnya.

Suatu hari, saat ibu lewat di depan rumah adiknya, Mirna—adik ibu—tak segan melontarkan hinaan. Dengan nada mengejek, ia berkata,

“Dasar orang miskin. Rasain sekarang susah cari makan. Dari dulu sudah dibilangin buat cerai sama suamimu, tapi masih juga kekeh bertahan dengan pria miskin itu.”

Kata-kata itu menusuk seperti pisau. Aku melihat ibu terdiam, langkahnya seakan tertahan. Namun ibu tak membalas sepatah kata pun. Ia hanya menunduk dan melanjutkan langkahnya, menelan semua hinaan itu sendirian.

Saat itu aku sadar, penderitaan ibu bukan hanya soal ekonomi, tapi juga tentang luka hati yang terus ditorehkan oleh keluarganya sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!