Ledakan pada sebuah laboratorium saat anak kelas XII IPA sedang praktek fisika, menjadi sebuah tragedi yang menagkibatkan menyebarnya wabah.
Zach dan Carol serta murid yang lain menjadi korban peristiwa tragis itu. Wabah penyakit yang menyebabkan manusia berubah wujud menjadi kera.
Virus merajalela,korban berjatuhan. Semua orang berputus asa, akankah dunia kiamat.
Apakah akan ditemukan obat untuk menangkal virus jahat itu.
Siapakah sebenarnya Pak Edward, orang yang menyebabkan virus itu.
Berhasilkah Zach dan Carol menyelamatkan diri?
Siapakah Jhon sebenarnya? pria paruh baya yang mencoba menyelamatkan Zach dan Carol dari daerah pandemi?
apakah pemerintah akan membumi hanguskan kota kecil tempat tinggal.Zach dan Carol.
Yuk simak cerita ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Linda Pransiska Manalu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20. kejadian di Villa.
Bagai dihipnotis, John tidak bergerak dari tempatnya berdiri. Bukan karena merasa ngeri melihat Carol yang berubah. Atau takut karena telah melihat manusia siluman. Tapi jauh lebih mengerikan dari ketika dia menyadari kalau mimpinya itu, bukan hanya sekedar mimpi.
Akan tetapi, mimpinya itu menjadi sebuah kenyataan. Mimpi itulah yang menuntunnya ke kota kecil ini. Saat membaca berita di sebuah tabloid. Kasus kebakaran yang terjadi di sekolah. Dan tidak ada informasi yang lebih detail dari peristiwa itu. Seolah sengaja dirahasiakan.
"Om, bantu aku menangkap Carol!" teriakan Zach yang kedua kali membuat John tersadar. Bergegas dia berlari ke atah pintu belakang. Carol terpojok di sudut tembok. Dia tidak bisa kemana- mana. Sementara Zach menghadang di arah pintu.
Tembok terlalu tinggi untuk dilompati. Carol menggeram dengan kaki siap menyerang. John, dan Zach waspada.
John berusaha menenangkan Carol.Dan perlahan melangkah ke arahnya. "Carol, tenang jangan panik. Apa yang terjadi padamu itu hanya ilusi oke .... Kamu harus bisa menguasai emosimu. Tarik perlahan nafasmu. Ayo hitung, satu ... Dua ...." John memberi jeda, fokus menatap mata Carol yang memancar kemerahan.
Perlahan otot Carol mulai mengendur. Ucapan John yang tenang dan lembut, mampu menelusup ke gendang telinganya. Wajah Carol yang memperlihat gigi taring perlahan menghilang. Begitu juga bulu-bulu di kulitnya menghilang seiring Carol terduduk di tanah.
"Carol!" seru Zach panik dan tegang. Ditatapnya John yang masih berdiri. John memberi isyarat supaya tenang. Mendekati Carol hendak memastikan apakah dia baik-baik saja.
Kurang selangkah lagi, tiba-tiba Carol menyeringai dan menggigit John. Lalu tubuhnya terkulai, pingsan!
"Aw! ...." seru John kaget. Saat lengannya berhasil digigit Carol. Zach mundur selangkah.
"Om, apakah Om baik-baik saja?"
"Tidak apa-apa. Ayo cepat angkat Carol. Kita harus mengikatnya di tempat tidur." titah John. Bergegas John ke arah kamar mandi. Menyalakan kran air. Menarik ujung jaketnya. Lalu mencuci bekas gigitan Carol dengan air mengalir.
Untunglah jaketnya menghalangi gigitan Carol sehingga lukanya tidak terlalu dalam. Setelah mencucinya dengan sabun, kran air dimatikan lalu keluar dari kamar mandi.
"Pak, coba dioleskan obat ini. Ini obat ramuan tradisional, biar lukanya tidak terinpeksi." Mang Karsa mengulurkan botol obat. John mencium aroma menyengat khas rempah-rempah.
"Terima kasih, Pak. Bagaimana dengan Carol?" ucap John seraya mengoleskan obat pada luka di lengannya.
"Masih pingsan Pak. Tapi sudah kami ikat di atas tempat tidur. Kalau boleh tau, Pak. Apa yang terjadi pada Nak Carol?"
"Entahlah! Saya juga belum tau Pak. Terima kasih " John menyerahkan botol obat ke Mang Karsa. Istrinya yang sedari tadi mepet ke suaminya nampak pucat dan terguncang.
"Tidak apa-apa, Bu. Semua akan baik-baik saja." ucap John menenangkan Lastri istri Mang Karsa. Lastri mengangguk perlahan. Lidahnya terasa kelua karena masih shock.
John memeriksa ikatan tali di tubuh Carol. Kedua tangan dan kaki Carol terikat di empat sudut tempat tidur. Carol masih pingsan.
John mengeluarkan beberapa benda dari dalam tasnya. Ada air dalam botol kecil. Sebuah Salib dan Rosario.
"Om, apa yang hendak Om lakukan pada Carol?" beliak Zach saat melihat benda-benda suci itu. Dan merasa heran. Siapakah sebenarnya John? Kenapa dia memiliki benda-benda suci itu.
"Om akan melakukan ritual doa. Kamu bisa doa Salam Maria?" Zach menggeleng.
"Kami bukan Katolik Om."
"Tidak apa. Lakukanlah doa seperti yang biasa kamu lakukan. Cukup dalam hati. Om akan mencoba mendoakannya, apakah kuasa kegelapan yang menguasai tubuh, Carol."
"Maksud Om? Perbuatan Setan?"
"Atau kamu tau sesuatu yang menimpa, Carol? Sudah tiga hari Om mencari tau kasus kebakaran itu. Tapi sama sekali tidak ada informasi. Yang Om temukan adalah banyak warga yang menderita sakit dengan gejala yang sama, batuk!"
Zach tercekat. Menatap John dengan pandangan yang membuatnya kebingungan. Antara mau jujur atau diam saja. John baru dikenalnya semalam. Pembicaraan Dokter Haris dan Dokter Ryan membuatnya tidak mudah mempercayai orang lain. Termasuk John.
"Kamu mau bicara sesuatu Zach? Katakan saja, kamu harus percaya kepada, Om. Bukan kebetulan kita bertemu. Tapi Tuhan memang menakdirkan kita untuk bertemu." John mendekati Zach. Zach malah mundur selangkah. Bingung harus berbuat apa.
Saat melihat Carol yang masih pingsan dan dalam kondisi terikat, membuat Zach kalut.
"Hem, mungkin kamu butuh waktu untuk percaya pada Om. Tapi tidak dengan Carol. Informasi sedikit saja sangat berarti sekali, Zach." ucap John menyakinkan. Suara John yang tenang dan lembut. Menandakan dia bukan orang sembarangan. Lagian, bukankah beliau yang menolong kami saat melarikan diri dari rumah sakit?
Perlahan keraguan Zach memupus.
"Aku akan cerita pada Om, semuanya. Sejak sebelum kebakaran itu terjadi." John mengerutkan keningnya.
"Maksudmu, kalian ada dalam kebakaran itu?"
"Zach mengangguk. "Kami saksi kebakaran itu, Om."
"Kami? Kalian berdua atau masih ada yang lain?" menunjuk Carol.
"Kami lima orang Pak, yang selamat dari kebakaran itu. Tiga orang lagi teman saya di sekap di ruang isolasi rumah sakit. Setelah apa yang terjadi dengan Carol. Genap lah kami berlima, telah terpapar oleh, entah virus atau bakteri. Membuat kami berubah wujud."
"Kamu juga seperti Carol?" John semakin penasaran sekaligus kaget luar biasa.
"Iya, itulah sebabnya kami melarikan diri semalam dari rumah sakit. Aku mendengar pembicaraan dokter tanpa sengaja. Kalau kami akan dijadikan bahan percobaan, untuk menemukan vaksin dari wabah yang telah melanda kota ini."
"Pemerintah belum mau memberi peringatan kalau wabah sudah menyerang. Kota kecil kami sudah dikunci Om. Tidak boleh ada yang keluar dan masuk lagi ke kota ini. Mereka telah membunuh Pak Edward karena penemuannya. Membakar rumah beliau untuk menghilangkan bukti. Secara perlahan, penduduk kota ini akan berubah menjadi seperti kami.
Semua bakalan terinfeksi, karena tidak ada obat untuk virus itu, Om!"
"Pak Edward? Siapa itu?"
"Guru Fisika di sekolah kami, Om. Ternyata dia adalah seorang peneliti. Yang mengembangkan obat untuk kanker istrinya. Tapi beliau telah melanggar peraturan. Obat itu ternyata dari persilangan DNA manusia dan kera."
"Aku dan Carol menyelidiki rumah Pak Edward. Dan menemukan banyak hewan yang diawetkan di salah satu kamar beliau. Carol meminum air dari kulkas yang dikiranya air minum. Itu sebabnya dia masuk rumah sakit. Lalu kami bertenu Om." Zach akhirnya menceritakan kronologi kejadian yang menimpa mereka.
John merasa kepalanya seperti dihantam balok! Bagaimana mungkin cerita Zach terkait dengan mimpi-mimpinya.
Penglihatan dalam mimpinya itu. Melihat korban banyak berjatuhan. Karena serangan manusia yang menyerupai hewan primata. Apakah semua mimpi itu pertanda bahwa dunia akan kiamat? ***