"Kalau kamu mau jadi malaikat, lakukan di tempat lain. Di Kediaman Jati Jajar, akulah ratunya!"
Rosie, seorang manajer sukses di era modern, terbangun di tubuh Kirana Merah Trajuningrat, sosok antagonis yang dibenci seluruh rakyat Kerajaan Indraloka.
Dunia di mana "Citra Diri" adalah segalanya, Merah dikenal sebagai gadis pemarah yang hobi menindas adiknya, Putih Sekar. Namun, Rosie segera menyadari ada yang salah.
Putih yang dianggap "Anak Kesayangan Rakyat" ternyata adalah manipulator ulung yang lihai bermain peran sebagai korban di depan para pelayan dan Pangeran.
Ditambah lagi, Ibu kandung Merah, Nyai Citra, adalah wanita ambisius yang menyiksa Putih demi kekuasaan, tanpa sadar bahwa setiap cambukannya justru memperburuk reputasi Merah di mata Pangeran Ararya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riyana Biru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Langkah Pincang Menuju Arcapada
Aroma akar-akaran yang direbus memenuhi udara kamar yang pengap saat Tabib tua itu kembali melangkah masuk melewati tirai kain. Wajahnya yang keriput tampak dipenuhi keraguan saat dia meletakkan jari-jarinya yang gemetar pada pergelangan tangan Rosie.
Di sudut ruangan, Citra berdiri dengan jemari yang meremas kipas pandan begitu kencang hingga buku-buku jarinya memutih.
"Bagaimana bisa keadaannya memburuk?" tanya Citra dengan suara yang bergetar menahan cemas. "Terakhir kali kamu datang, kamu bilang panas badannya sudah turun dan dia sudah mulai membaik."
Tabib itu mengusap janggut putihnya yang tipis, matanya menyipit menatap Rosie yang terbaring lemas dengan bibir pecah-pecah. "Benar, Nyonya. Secara fisik, hawa panasnya seharusnya sudah menguap. Namun, tubuh Nona Merah tampak menolak setiap sari makanan yang masuk. Jiwanya seperti sedang bertarung dengan raganya sendiri."
Rosie memejamkan mata, merasakan denyut di kepalanya yang seolah ingin membelah tengkoraknya. Setiap kali Laras atau Gendis mencoba menyuapkan bubur encer atau seteguk air, perutnya langsung bergejolak hebat.
Dia memuntahkan segala hal yang masuk ke kerongkongan. Dia benar-benar merasa sekarat, dan bagian terburuknya adalah rasa rindu pada air mineral botolan yang dingin dan obat penurun panas rasa jeruk yang praktis.
"Lihat ini," gumam Tabib sambil menyibak kain jarik yang menutupi kaki Rosie. "Bengkak di pergelangan kakinya justru semakin parah. Aliran darahnya tersumbat oleh emosi yang tidak stabil."
Tabib mulai mengoleskan parutan kencur dan jahe yang hangat pada pergelangan kaki Rosie yang membiru. Rasa panas yang menjalar membuat Rosie meringis, tapi dia terlalu lemas untuk meronta seperti sebelumnya.
Citra melangkah mendekat, lalu duduk di tepi dipan kayu yang keras itu. Dia membungkuk dan mendaratkan sebuah ciuman lembut di dahi Rosie yang terasa membara. "Nak, Ibu melarangmu keluar bukan karena ingin menyiksamu. Ibu melakukannya karena sayang. Lihatlah dirimu sekarang, Ibu tidak sanggup melihatmu menderita seperti ini."
Rosie memalingkan wajahnya ke arah dinding bambu. Suara Citra yang penuh kasih justru terasa seperti beban di pundaknya. Dia tahu wanita ini mencintai Merah, tapi dia bukan Merah yang asli. Dia hanyalah Rosie, si budak korporat yang tersesat dalam naskah dongeng yang kacau.
Pintu kamar kembali terbuka. Putih melangkah masuk dengan nampan kayu berisi mangkuk tanah liat berisi cairan hitam yang mengepulkan asap pahit. Wajahnya tampak kuyu, matanya sembap seolah dia tidak tidur sepanjang malam untuk meracik ramuan tersebut.
"Nona Merah ... tolonglah, minumlah sedikit obat ini," bujuk Putih dengan suara berbisik.
Rosie membuka matanya perlahan. Dia menatap Putih yang bersimpuh di lantai dengan kepala yang menunduk dalam. Rasa bersalah tiba-tiba menyusup ke hati Rosie.
Gadis ini sudah disiksa habis-habisan oleh Citra demi 'kesembuhannya,' tapi Putih tetap berada di sana dengan ketulusan yang menjengkelkan.
"Putih," panggil Rosie dengan suara parau.
"Saya, Nona," jawab Putih sigap tanpa berani mendongak.
"Jangan panggil aku Nona," ucap Rosie, membuat seluruh orang di ruangan itu membeku. "Mulai sekarang, panggil aku Kakak."
Putih mendongak, matanya membelalak penuh ketidakpercayaan. "Tapi, Nona ... Nyonya Besar tidak akan mengizinkan—"
"Enggak ada tapi," potong Rosie dengan nada yang tidak menerima bantahan, meskipun suaranya masih lemah. "Aku ingin dipanggil Kakak. Kalau kamu enggak mau, aku enggak akan meminum obat pahit ini sampai aku mati."
Citra yang mendengar itu tampak terkejut, tapi rasa cemasnya pada nyawa Rosie jauh lebih besar daripada aturan kasta di rumah itu. Dia memberikan anggukan singkat pada Putih.
"Baik ... Kakak," ucap Putih dengan suara yang sangat lirih, seolah kata itu adalah sesuatu yang keramat.
Barulah setelah itu Rosie mau membuka mulutnya dan membiarkan cairan pahit itu mengalir masuk ke tenggorokannya. Dia menelan setiap tetesnya dengan wajah yang mengernyit jijik, tapi anehnya, kali ini perutnya tidak menolak sesadis sebelumnya.
Malam itu, Putih benar-benar tidak beranjak dari sisi dipan Rosie. Dia duduk di atas lantai yang dialasi tikar pandan, menyandarkan kepalanya pada tepi kayu dipan hingga akhirnya jatuh tertidur karena kelelahan.
Rosie terjaga dalam kegelapan yang hanya diterangi lampu minyak temaram, menatap punggung adik tirinya yang terlihat begitu rapuh dalam tidurnya.
Keesokan paginya, keajaiban kecil terjadi. Rosie terbangun dengan perasaan yang jauh lebih ringan. Hawa panas di tubuhnya sudah menguap, meninggalkan rasa segar yang sudah lama tidak dirasakan.
Dia bangkit dari tempat tidur dan mendapati Putih masih terlelap dalam posisi yang sangat tidak nyaman di lantai.
Rosie menatap kakinya. Bengkaknya sudah menyusut banyak, hanya menyisakan warna kekuningan di sekitar mata kaki. Otak bisnisnya mulai bekerja kembali.
Dia tidak bisa terus-menerus terkurung di kamar ini. Dia harus memahami bagaimana dunia ini bekerja secara ekonomi jika dia ingin bertahan hidup jangka panjang.
"Aku harus melihat pasar," gumam Rosie pada dirinya sendiri. "Aku harus melihat gimana rempah-rempah dari gudang ini dijual ke konsumen akhir. Aku harus tahu supply chain-nya secara langsung."
Maka, saat makan siang tiba, Rosie sudah duduk rapi di ruang tengah bersama Citra. Dia makan dengan lahap, menghabiskan sepiring nasi dan sayuran tanpa sisa sedikit pun, sebuah pemandangan yang membuat Citra tersenyum lega.
"Ibu," panggil Rosie setelah meletakkan piringnya. "Aku mau pergi ke pasar di seberang sungai."
Senyum di wajah Citra langsung menguap, digantikan oleh gurat kecemasan yang baru. "Tidak, Merah! Kamu baru saja sembuh. Kakimu juga belum benar-benar kuat untuk berjalan jauh."
"Ibu, aku butuh udara segar," desak Rosie, mencoba mengatur nada bicaranya agar tidak terdengar seperti sedang merengek. "Lagi pula, aku mau nyari skincare baru. Aku ngerasa kulitku mulai kusam karna selalu mendekam di dalam kamar yang bau apek itu. Aku ingin tetap terlihat cantik agar Ibu tidak malu membawaku keluar nantinya."
"Kamu belum sembuh, bicaramu lagi-lagi menggunakan bahasa aneh." Citra menunjuk Rosie dengan kipasnya.
"Maksudku, ramuan kecantikan. Ayolah, Ibu, aku sudah sangat sembuh."
Mendengar alasan tentang 'kecantikan' dan 'ramuan', pertahanan Citra mulai goyah. Bagi wanita itu, citra diri dan kecantikan adalah segalanya. Dia menatap wajah Rosie yang memang terlihat sedikit pucat.
"Ramuan kecantikan, katamu?" tanya Citra sambil menimbang-nimbang.
"Iya, Ibu. Aku dengar di pasar seberang ada pedagang dari negeri jauh yang membawa bubuk mutiara dan minyak bunga langka. Aku butuh itu agar wajahku kembali bersinar," dusta Rosie dengan lancar.
Untung aja para pelayan hobinya gosip, jadi aku tahu dikit yang lagi viral, batin Rosie.
Citra mengembuskan napas panjang. "Baiklah. Ibu izinkan. Tapi dengan satu syarat mutlak."
"Apa itu, Ibu?"
"Kamu harus dikawal ketat. Jaka dan Wira harus menjagamu di depan dan belakang, dan pelayanmu harus berada di sisimu setiap saat," perintah Citra tegas. "Kebetulan hari ini adalah jadwal Putih dan Melati pergi ke pasar untuk membeli keperluan dapur. Kamu ikuti mereka dari belakang."
Rosie hampir saja bersorak, tapi dia segera menahan dirinya agar tetap terlihat anggun. "Baik, Ibu. Saya akan mematuhi semua perintah Ibu."
Persiapan keberangkatan pun dimulai. Rosie mengenakan kemben merah marun dengan motif parang yang megah, rambutnya disanggul rapi dengan satu tusuk konde kayu cendana yang harum.
Di halaman depan, Jaka dan Wira sudah berdiri tegak dengan otot-otot lengan yang mengkilap terkena cahaya matahari, masing-masing membawa tongkat kayu jati sebagai senjata penjagaan.
Gendis berdiri di samping Rosie dengan wajah yang penuh semangat, merasa bangga karena ditugaskan menjaga Nona kesayangannya. Sementara itu, beberapa langkah di depan mereka, Putih dan Melati berjalan dengan membawa bakul bambu yang besar.
"Ayo berangkat," perintah Rosie dengan nada otoritasnya.
Langkah kaki mereka mulai menyusuri jalan setapak yang menuju ke arah sungai. Rosie berjalan dengan sedikit pincang, tapi masih bisa berjalan sendiri. Matanya terus bergerak aktif mengamati setiap detail di sekitarnya. Dia tidak lagi melihat pepohonan atau jalanan sebagai pemandangan dongeng, melainkan sebagai jalur logistik yang sangat krusial bagi bisnis keluarganya.
"Nona, apa Nona benar-benar ingin mencari bubuk mutiara?" bisik Gendis dengan nada penasaran.
Rosie tersenyum tipis, sebuah senyuman yang membuat Jaka dan Wira di depan mereka menoleh sekilas karena merasa aneh. "Kita lihat aja nanti, Gendis. Aku punya rencana yang jauh lebih menarik daripada sekadar bubuk mutiara."
Dari kejauhan, suara riuh rendah pasar mulai terdengar, bercampur dengan aroma rempah dan bau amis sungai yang tajam. Rosie menarik napas panjang, merasa jantungnya berdegup kencang.
"Jadi ini pasarnya?" tanya Rosie bergumam.
"Benar Nona, ini adalah Pasar Arcapada tapi orang-orang biasa menyebutnya pasar bawah."
Rosie mengangguk paham dengan penjelasan Jaka.
Baginya, pasar ini bukan sekadar tempat belanja, ini adalah medan tempur pertamanya untuk mulai memutarbalikkan nasib di kerajaan Indraloka. Dia harus segera menemukan di mana letak ketidakefisienan dalam distribusi rempah milik ayahnya.
Di depan sana, Melati sesekali menoleh ke belakang dengan tatapan waspada, seolah dia sedang memastikan bahwa 'Nona Gila' itu tidak akan melakukan tindakan aneh yang akan membahayakan Putih di tengah keramaian pasar nantinya.
Namun, Rosie tidak peduli. Matanya terkunci pada gerbang pasar kayu yang berdiri kokoh di seberang jembatan bambu, menanti untuk dibongkar rahasianya.
Coba kalian kasih aku bintang 5, like, komen, gift gratisan juga gapapa, biar aku semangat update bab gitu, terimakasih cintakuhhh
Terus subscribe cerita ama follow juga boleh
maaf yak banyak minta hihi /Shy/