NovelToon NovelToon
Transmigrasi Si Gadis Polos

Transmigrasi Si Gadis Polos

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Romansa / Reinkarnasi / Cintapertama
Popularitas:8.7k
Nilai: 5
Nama Author: Lyly little

Shabila Diaskara adalah gadis polos dan lugu yang bersikap hiperaktif serta pecicilan demi menarik perhatian ayahnya—seorang Daddy yang membencinya karena kematian sang ibu saat melahirkan dirinya. Dalam sebuah insiden, Shabila berharap bisa merasakan kasih sayang seorang ayah sebelum akhirnya kehilangan kesadaran.

Saat terbangun, Shabila menyadari dirinya telah bertransmigrasi ke tubuh Aqila Weylin, gadis cantik namun pendiam dan cupu. Kini dipanggil “Aqila,” Shabila—yang akrab disapa Ila — mulai mengubah penampilan dan sikapnya sesuai kepribadiannya yang ceria dan manja.

Beruntung, kehidupan barunya justru memberinya keluarga yang penuh kasih. Sikap hiperaktif dan manja Ila membuat seluruh keluarga Aqila gemas, bukan marah. Setelah tak pernah merasakan cinta keluarga di kehidupan sebelumnya, Ila bertekad menikmati kesempatan kedua ini sepenuh hati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lyly little, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10 **Ila yang Diam**

Sesampainya di rumah, Ila sama sekali tidak menyapa orang tuanya. Bibirnya tertutup rapat, mengingat pesan Elzion yang menyuruhnya diam di perjalanan tadi. Gadis kecil itu menepati perintah tersebut dengan sangat patuh—terlalu patuh, bahkan.

“Assalamu’alaikum Bundaa!” teriak Elzion begitu pintu rumah terbuka, suaranya terdengar sedikit lebih keras dari biasanya.

Zeline yang sedang menonton televisi di ruang keluarga sontak menoleh ke arah pintu. Begitu melihat ketiga anaknya telah pulang, ia langsung bangkit dan melangkah menghampiri mereka.

“Wa’alaikumsalam,” sahut Zeline lembut.

Ketiga anaknya pun mencium punggung tangan Zeline satu per satu. Ila melakukannya sambil tersenyum tanpa sepatah kata pun.

Zeline langsung merasa ada yang aneh.

Matanya menatap Ila lebih lama. Putri bungsunya itu sejak tadi diam saja. Tidak ada celoteh, tidak ada cerita panjang seperti biasanya. Padahal Ila dikenal paling cerewet, paling manja, dan paling tidak bisa diam.

“Jadi, jalan-jalannya gimana?” tanya Zeline sambil tersenyum, matanya masih tertuju pada Ila.

Ila mengangguk kecil sambil tersenyum. Tangannya penuh dengan kantong makanan ringan yang mereka beli tadi. Namun tetap saja, tidak ada suara yang keluar dari mulutnya.

Alzian menahan tawa melihat Ila yang benar-benar menutup mulut rapat-rapat. Baginya, ini pemandangan langka.

Berbeda dengan Elzion.

Wajah Elzion mulai terlihat tegang. Ia melirik Ila berkali-kali, lalu melirik bundanya yang jelas-jelas mulai curiga.

Shitt… ini bukan maksud gue, umpat Elzion dalam hati.

Gue cuma suruh dia diem sebentar, bukan jadi bisu begini.

“Ihh kok pada aneh sih,” ucap Zeline sambil mengernyit. “Ila sayang, kamu mandi dulu ya. Bunda sudah siapin air hangat.”

Ila mengangguk patuh, lalu beranjak menuju kamarnya. Langkahnya terlihat ringan, bahkan berjalan dengan riang.

Di dalam hati, Ila justru merasa puas.

Abang Elzion kan bilang harus diam. Ila harus nurut, batinnya polos.

Setelah Ila menghilang ke arah kamar, Alzian dan Elzion pun hendak pergi menyusul. Namun belum sempat mereka bergerak, suara Zeline kembali terdengar.

“Kalian tetap di sini.”

Langkah mereka terhenti seketika.

“Iya, Bunda,” jawab mereka berdua, lalu duduk di sofa ruang tamu.

Zeline berdiri dengan tangan bersedekap. Tatapannya menatap kedua putranya bergantian.

“Adek kalian kenapa diam saja tadi?” tanyanya lugas.

Elzion menelan ludah.

“Mungkin capek, Bun. Habis jalan-jalan,” jawabnya, mencoba terdengar santai.

Zeline menaikkan alis.

“Masa sih?” katanya ragu. “Ila itu kalau capek biasanya malah makin cerewet.”

Alzian tidak kuat menahan senyum.

"Mhh.. Ya gak tau juga sih Bun mungkin adek pengen diam," ujar Elzion dengan gugup takut.

Zeline menghela nafas, mana mungkin anak nya yang cerewet tiba-tiba banget jadi pendiam, pasti ada alasan lain

"yasudah kalian mandi dan istirahat lah, nanti makan malam kita kumpul. "titah Radella.

"Iya bun," sahut mereka lalu beranjak pergi untuk ke kamar masing-masing.

...****************...

Aroma masakan sederhana buatan Zeline masih tercium samar. Lauk pauk tertata rapi di tengah meja makan, nasi mengepul hangat, dan suara denting sendok serta piring biasanya selalu diiringi tawa kecil.

Namun malam ini terasa sedikit berbeda.

Ada satu hal yang terasa janggal.

Ila, si bungsu kesayangan keluarga Weylin, duduk manis di kursinya sambil mengayun-ayunkan kaki kecilnya di bawah meja. Tangannya sibuk menyuap nasi dan lauk ke dalam mulut, gerakannya pelan dan rapi. Tapi bibirnya hampir tak mengeluarkan suara apa pun. Tidak ada celoteh khas Ila yang biasanya muncul tanpa jeda. Tidak ada pertanyaan polos yang sering membuat meja makan riuh.

Setiap kali Bryan atau Zeline melontarkan pertanyaan kecil—tentang makanannya, tentang hari ini—Ila hanya membalas dengan senyum kecil, anggukan singkat, lalu kembali diam.

Bryan, kepala keluarga Weylin, mulai merasa ada yang tidak beres. Ia beberapa kali melirik ke arah putri kecilnya itu, alisnya sedikit berkerut. Zeline pun merasakan hal yang sama. Ia menghentikan makannya sejenak, menatap Ila lebih lama dari biasanya.

Keduanya saling pandang, seolah bertanya tanpa suara.

Biasanya, Ila adalah pusat keramaian di meja makan. Tawa kecilnya, suara riangnya, dan ocehan polosnya selalu menjadi penutup lelah setelah seharian beraktivitas. Tapi malam ini, gadis kecil itu justru terlalu tenang—tenang yang terasa tidak wajar.

Di sisi lain meja, Elzion duduk dengan gelisah. Ia mencoba menyuap makanannya, namun sendoknya beberapa kali berhenti di udara. Matanya sesekali melirik ke arah Ila, lalu beralih cepat saat pandangan ayah atau bundanya terasa mengarah ke dirinya.

Diamnya Ila bukan membuat Elzion merasa tidak aman.

Justru sebaliknya.

Semakin lama Ila diam, semakin kuat rasa takut yang menggerogoti dadanya. Ia tahu betul, kepolosan adiknya bisa menjadi bumerang kapan saja.

“Ngomong elah, dek,” ujar Elzion akhirnya, nada suaranya terdengar jengah meski ia berusaha terdengar biasa saja.

Ila menghentikan makannya dan menoleh ke arah Elzion. Wajahnya polos, matanya bulat penuh tanya. “Ila udah boleh ngomong, bang?” tanyanya hati-hati, seolah benar-benar menunggu izin.

Elzion menghela napas kecil lalu mengangguk malas. “Iya.”

Begitu Ila diizinkan bicara, Bryan dan Zeline langsung menyadari perubahan itu. Mereka kembali saling pandang, kali ini dengan ekspresi yang lebih serius.

“Abang yang suruh kamu diam?” tanya Zeline lembut, berusaha menjaga nada suaranya agar tidak terdengar mengintimidasi.

“Hu’um,” jawab Ila singkat sambil mengangguk. Ia kembali menyuap makanannya, seolah hal itu bukan sesuatu yang penting.

Tatapan Zeline seketika berubah tajam dan langsung tertuju pada Elzion. Sementara itu, Elzion berpura-pura fokus pada makanannya, meski jantungnya berdetak semakin kencang.

“Kenapa?” tanya Bryan akhirnya, suaranya tenang tapi jelas mengandung tuntutan jawaban.

“Kenapa apa?” Ila menoleh ke ayahnya.

“Kenapa abang Elzion suruh Ila diam?”

Ila mengerutkan kening kecilnya, berpikir sejenak. “Nggak tahu,” jawabnya jujur. Baginya, ia hanya menuruti perintah. Disuruh diam, ya diam—tanpa perlu banyak alasan.

“Elzion,” panggil Bryan dengan nada rendah.

Elzion menelan ludah. “Iya, Yah.”

“Jelasin.”

“Jelasin apa?” Elzion mencoba mengulur waktu, berharap topik ini berlalu begitu saja.

“Kenapa kamu suruh Ila diam?”

“Nggak apa-apa,” jawab Elzion cepat. “Ila kan cerewet, Yah. Jadi Elzion suruh diam.”

Bryan mendelik. “Alasan.”

Sebelum suasana semakin menegang, Ila tiba-tiba berseru ceria, “Yeay! Ila kenyang!”

Semua perhatian langsung beralih padanya.

Setelah selesai makan, Bryan berdiri dan menghampiri Ila. “Mau ayah gendong?” tanyanya lembut.

“Hu’um!” Ila langsung mengangguk antusias dan mengulurkan kedua tangannya.

Bryan mengangkat tubuh kecil itu dan menggendongnya seperti koala. Ia melangkah ke ruang tamu dan duduk di sofa, dengan Ila yang langsung menyandar nyaman di dadanya.

“Sekarang coba cerita ke ayah,” ucap Bryan pelan. “Kenapa abang Elzion suruh Ila diam?”

Ila mengendus-endus dada ayahnya, mencari kenyamanan. “Ila habis lihat nilai abang,” katanya lirih. “Terus abang bilang jangan ngomong sama ayah sama bunda. Abang juga janji mau beliin jajan buat Ila dan ajak Ila jalan-jalan di mall.”

Bryan mengangguk perlahan. “Memangnya nilai abang berapa?”

“Kecil,” jawab Ila sambil cekikikan.

Bryan tersenyum gemas. Ia mengecup wajah Ila bertubi-tubi.

Cup..

Cup..

Cup..

“Ayah geli!” seru Ila sambil tertawa, tangannya melingkar erat di leher ayahnya.

“Berapa nilainya hm?” tanya Bryan lagi.

“Tiga puluh,” jawab Ila polos.

Bryan menarik napas panjang. “Lain kali, kalau disuruh abang diam, jangan mau. Bilang saja ke ayah dan bunda.”

Zeline dan Alzian baru saja bergabung di ruang tamu ketika Ila kembali bicara. “Abang bilang jangan bicara. Katanya nanti bunda marah. Terus kalau bunda marah, abang bisa mati. Serem, begitu kata nya.”

Elzion langsung menegang.

Zeline menatapnya tajam. “Kenapa ngomong begitu ke adik?”

Elzion gelagapan. “Cuma bercanda, Bun.”

“Lain kali awas aja kalua kayak gitu lagi,” ancam Zeline. “bunda gak kasih Uang jajan seminggu.”

"Iya Bun," Elzion mengangguk pasrah.

Tak lama kemudian, Ila menguap kecil. “Ayah… Ila ngantuk.”

Bryan tersenyum. “Putri ayah ngantuk?”

“Hu’um.”

Alzian berdiri. “Biar Al yang antar Ila ke kamar.”

Bryan menyerahkan Ila yang sudah terlelap.

Cup..

“Mimpi indah, cantik.”

“Ila cantik hi..hi..,” masih sempat nya Ila menjawab saat matanya sudah terpejam.

Mereka semua terkekeh dan menatap Ila dengan gemes.

Zeline mendekat lalu mencium pipi chubby anaknya itu dengan sayang.

Cup..

"Selamat malam putri kecil bunda "ucap Zeline.

"Malam bunda "sahut Ila yang masih menutup matanya.

Alzian membawa Ila ke kamar, membaringkannya dengan hati-hati, menarik selimut, lalu mengecup keningnya. “Selamat malam, princess.”

Ila tidak membalas karena sudah terlelap, jempol kecilnya masuk ke mulut. Alzian tersenyum kecil sebelum keluar dan menutup pintu perlahan.

1
Marsya
lupa namanya,tapi itu ketua dari abg2 ila klau gx slah,ampun dech bisa2nya lupa namanya🤣🤣🤣🤣
Little Girl ୭ৎ 。⁠*⁠♡.
maaf KA aku salah nulis tokoh harusnya Zeline bukan Radella.
Dewiendahsetiowati
Radella ini siapa Thor?
Dewiendahsetiowati
dapat ganti keluarga yang menyayangi
Dewiendahsetiowati
hadir thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!