"Di kantor kita adalah rekan kerja, di rumah kita adalah orang asing, dan di ranjang... kita hanyalah dua raga yang tak punya jiwa."
Alsava Emily Claretta punya segalanya: jabatan tinggi sebagai COO Skyline Group, kecantikan yang memabukkan, dan status sebagai istri dari Garvi Darwin—sang "Dewa Yunani" sekaligus CEO perusahaan tempat ia bekerja. Namun, di balik kemewahan mansion Darwin, Sava hanyalah seorang wanita yang terkurung dalam kesepian.
Saat Garvi sibuk menjelajahi dunianya, Sava melarikan penatnya ke lantai dansa nightclub. Ia mengira hubungan mereka akan selamanya seperti itu—dingin, berjarak, dan penuh rahasia. Hingga suatu saat, rasa jenuh itu memuncak.
"Aku butuh hiburan, Win. Butuh kebebasan," ucap Sava.
Sava tidak tahu bahwa setiap langkahnya selalu dipantau oleh mata tajam Garvi dari kejauhan. Garvi tak ingin melepaskannya, namun ia juga tak berhenti menyakitinya. Saat satu kata perceraian terucap—permainan kekuasaan pun dimulai. Siapa yang akan lebih dulu berlutut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Gerimis tipis yang mengguyur Jalan Putri Hijau seolah menambah kesan melankolis pada malam yang panjang ini. Di dalam mobil sedan mewah yang melaju membelah kesunyian kota, Sava—menyandarkan kepalanya pada kaca jendela yang dingin. Cahaya lampu jalanan Medan yang remang memantul di bola matanya yang lelah.
Konferensi pers di JW Marriott baru saja berakhir. Ia telah menunaikan tugasnya sebagai tameng bagi Skyline Group, sekaligus sebagai istri yang "setia" di depan kamera. Namun, batinnya terasa kosong.
"Apa aku melakukan hal yang benar, Win?" tanya Sava lirih tanpa menoleh pada Winata yang duduk di sampingnya.
Winata menghela napas, menatap sahabatnya dengan iba. "Kamu melakukan apa yang menurut hatimu benar, Va. Tapi ingat, Garvi yang sekarang... kita tidak tahu apakah itu Garvi yang tulus atau Garvi yang sedang memainkan peran barunya."
Sava terdiam. Kata-kata Winata bagai belati yang menyentuh luka lamanya.
**
Sava melangkah menyusuri lorong rumah sakit yang sunyi. Suara langkah stiletto-nya menggema, memecah keheningan malam yang hanya diisi oleh suara mesin pendingin ruangan. Setibanya di depan pintu kamar VVIP nomor 901, ia sempat ragu. Tangannya yang gemetar tertahan di gagang pintu.
Apakah dia sudah tidur? Apa dia akan marah karena aku tidak menuruti pesannya?
Dengan napas yang ditarik dalam, Sava memutar kenop pintu.
Cklek.
Pintu terbuka perlahan, namun pemandangan di depannya membuat Sava membeku di tempat. Garvi Darwin tidak sedang terbaring lemah di ranjangnya. Pria itu berdiri tegak, hanya beberapa langkah di depan pintu. Meskipun mengenakan pakaian rumah sakit, karismanya yang bak Dewa Yunani tidak luntur sedikit pun.
Garvi merentangkan kedua tangannya lebar-lebar. Sebuah senyum tipis—bukan senyum sinis yang biasanya ia tunjukkan, melainkan senyum yang terlihat amat lelah namun tulus—terukir di wajah rupawannya.
"Selamat datang kembali, Ave," suara bariton Garvi menyapu rungu Sava, terdengar hangat dan rendah.
Sava terpaku. Ia menatap Garvi dengan kebingungan yang nyata. "Mas... kenapa kamu berdiri? Dokter bilang kamu harus—"
"Ssst," sela Garvi, matanya menatap Sava dengan intensitas yang sanggup meluluhkan pertahanan mana pun. "Aku menunggumu sejak tadi. Kemarilah. Sambut suamimu yang malang ini. Berikan aku pelukan yang sedari tadi aku idamkan saat melihatmu bertarung sendirian di televisi."
Langkah Sava terasa gontai, seolah-olah ditarik oleh kekuatan tak kasat mata. Ia mendekat, perlahan namun pasti, hingga ia masuk ke dalam lingkaran lengan kokoh Garvi.
Garvi segera menutup rapat lengannya, mendekap tubuh semampai Sava ke dalam dadanya yang bidang. Ia membenamkan wajahnya di antara leher dan bahu Sava, menghirup dalam-dalam aroma parfum mawar yang bercampur dengan sisa-sisa ketegangan malam ini.
Sava bisa merasakan detak jantung Garvi yang kuat dan stabil. Pria itu meletakkan dagunya di atas kepala Sava, lalu mendaratkan sebuah kecupan manis di puncak kepala istrinya. Sebuah kecupan yang terasa lama, seolah ingin mentransfer seluruh kekuatan yang ia miliki.
"Kamu pasti lelah sekali ya, Ave?" bisiknya tepat di telinga Sava.
Sava memejamkan mata erat-erat. Ia menggelengkan kepala pelan dalam pelukan itu, meski air mata yang ia tahan sejak tadi mulai merembes membasahi baju rumah sakit Garvi.
"Aku minta maaf," gumam Garvi lagi, suaranya terdengar serak oleh emosi. "Aku minta maaf karena tidak bisa berada di sampingmu. Aku gagal menjadi pelindung. Aku membiarkanmu menjadi garda terdepan menghadapi para serigala itu sendirian. Seharusnya aku yang melindungimu, bukan sebaliknya."
Sava terdiam, tenggelam dalam pelukan yang ia akui sebagai pelukan terhangat dan ternyaman yang pernah ia terima selama tahun-tahun pernikahan mereka yang dingin.
Dulu, pelukan Garvi selalu terasa seperti sebuah klaim kepemilikan—posesif dan menindas. Tapi kali ini, ada sesuatu yang berbeda. Ada rasa melindungi yang tulus, ada kelembutan yang selama ini ia anggap mustahil dimiliki oleh seorang Garvi Darwin.
Namun, di tengah rasa nyaman itu, logika Sava berteriak. Ia teringat bagaimana Garvi terbiasa memanipulasi orang lain. Ia teringat bagaimana Garvi selalu punya cara untuk mendapatkan apa yang ia inginkan.
Apakah kecelakaan ini benar-benar mengubahnya? Atau apakah ini taktik baru untuk menjeratku agar aku membatalkan perceraian?
Sava melepaskan pelukan itu perlahan, menatap mata biru kelabu milik suaminya.
"Mas Garvi... kenapa? Kenapa tiba-tiba kamu berubah seperti ini?"
Garvi menatapnya dalam, tangannya terangkat untuk membelai rambut brunette curly Sava yang sedikit berantakan.
"Apa mencintai istri sendiri dianggap sebagai sebuah perubahan yang aneh, Ave?"
"Kamu tahu apa maksudku, Mas," suara Sava sedikit bergetar. "Selama ini kita... kita tidak seperti ini. Kamu tidak pernah peduli padaku. Kamu bahkan memata-matai setiap gerak-gerikku."
Garvi terdiam sejenak, tatapannya menyendu. "Ingatan yang kembali secara paksa itu seperti cermin yang pecah di depanku, Ave. Aku melihat betapa buruknya bayanganku di sana. Aku tidak meminta dimaafkan dalam semalam, tapi izinkan aku untuk menebusnya. Berikan aku satu alasan untuk tetap menjadi pria yang kamu peluk tadi."
Sava ingin percaya. Sungguh, hatinya yang haus akan kasih sayang ingin sekali meletakkan seluruh bebannya pada pria ini. Namun, bayangan kesombongan Garvi di masa lalu, dan ambisi Skyline Group seolah menjadi tembok tinggi yang memisahkan mereka.
**
Malam semakin larut. Garvi akhirnya setuju untuk kembali ke ranjangnya setelah Sava berjanji akan menemaninya sepanjang malam. Garvi tertidur sambil tetap menggenggam tangan Sava, seolah takut jika ia melepasnya sebentar saja, wanita itu akan menghilang.
Sava menatap wajah tidur Garvi yang tampak tenang. Dalam tidur pun, pria itu masih terlihat begitu dominan. Tiba-tiba, genggaman tangan Garvi mengerat dalam tidurnya. Ia menggumamkan satu nama dengan nada yang sangat menyedihkan.
"Jangan pergi... Ave... maafkan aku..." Suara Garvi pecah, terdengar serau dan sarat akan penderitaan. Alisnya bertaut rapat, keringat dingin mulai membasahi pelipisnya. Pria yang biasanya begitu angkuh dan tak tersentuh ini sekarang tampak begitu rapuh di bawah kuasa mimpi buruknya sendiri.
"Ave... maafkan aku... jangan tinggalkan aku..."
Jantung Sava berdesir perih. Ia belum pernah mendengar nada menyedihkan seperti itu keluar dari bibir Garvi. Selama bertahun-tahun pernikahan rahasia mereka, Garvi selalu menjadi pihak yang memerintah, pihak yang memegang kendali penuh. Melihatnya memohon seperti ini membuat pertahanan dingin yang dibangun Sava selama ini mulai retak.
Sava menghela napas panjang, membiarkan rambut brunette curly-nya jatuh menjuntai saat ia membungkuk mendekat. Dengan gerakan yang sangat lembut, ia membelai rambut brunette Garvi yang sedikit berantakan, mencoba menyalurkan ketenangan melalui sentuhannya.
"Aku di sini, Mas Garvi... aku tidak kemana-mana," bisik Sava lirih.
Ia mendaratkan sebuah kecupan lembut di dahi pria itu, cukup lama untuk merasakan suhu tubuh Garvi yang mulai stabil. Perlahan, kerutan di dahi Garvi menghilang. Genggamannya memang masih erat, namun napasnya mulai teratur kembali.
Sava menarik wajahnya, menatap wajah tidur suaminya dengan perasaan yang berkecamuk.
Mengapa saat kau lemah seperti ini, aku justru merasa sangat sulit untuk membencimu, Mas?
Tiba-tiba, keheningan itu pecah oleh getaran ponsel Sava di atas meja marmer. Cahaya layar ponsel yang terang benderang kontras dengan kegelapan ruangan. Sava segera menyambar ponselnya agar suaranya tidak membangunkan Garvi.
Matanya membelalak seketika saat membaca nama yang tertera di layar.
Tuan Besar Alfonso Darwin.
Darah Sava seolah berhenti mengalir. Alfonso Darwin bukan sekadar seorang kakek; dia adalah kaisar di balik imperium Skyline Group. Pria yang paling disegani, paling ditakuti, dan sosok yang memiliki kuasa absolut atas seluruh keluarga Darwin, bahkan melampaui ayah Garvi. Dialah orang yang mengirim Garvi ke medan perang bisnis internasional sejak usia muda.
Sava menarik napas dalam-dalam sebelum menggeser ikon hijau.
"Halo, Kek?" suara Sava terdengar sangat sopan, namun ada nada ketegangan yang tak bisa ia sembunyikan.
"Alsava," suara berat dan berwibawa di seberang sana menyahut. Meskipun usianya sudah senja, suara Alfonso masih memiliki getaran maut yang sanggup mengintimidasi siapa saja.
"Bagaimana keadaan cucuku?"
"Mas Garvi baru saja melewati masa kritisnya, Kek. Kondisinya sudah mulai stabil, dokter bilang dia butuh banyak istirahat untuk memulihkan ingatannya yang sempat terganggu," jawab Sava dengan jujur. Di depan Alfonso, berbohong adalah tindakan bunuh diri.
Hening sejenak di seberang sana.
"Dan kau sendiri? Apakah kau masih sanggup menjaga Skyline Group selagi dia terkapar?" tanya Alfonso, nadanya datar namun penuh selidik.
"Sava berusaha semaksimal mungkin, Kek. Semua urusan kantor di bawah kendali saya dan Roy," jawab Sava tegas, mencoba menunjukkan sisi COO-nya yang keras kepala.
"Bagus. Karena aku tidak suka mendengar berita tentang kekacauan di Medan. Victor Lindholm sudah membuat masalah terlalu jauh, dan aku tidak akan membiarkan tikus kecil seperti dia merusak nama besar Darwin."
Sava terdiam. Ia tahu Alfonso tidak pernah main-main.
"Dengarkan aku baik-baik, Sava," lanjut Alfonso. "Besok pagi, jet pribadiku akan mendarat di Kualanamu. Aku akan langsung menuju rumah sakit untuk menemui kalian. Ada banyak hal yang harus kita bicarakan secara pribadi—terutama mengenai rumor perceraian konyol yang sampai ke telingaku di London."
Jantung Sava seolah merosot ke perut. Jadi Kakek sudah tahu tentang surat itu?
"Baik, Kek. Saya akan menyiapkan segalanya. Kakek hati-hati di jalan," ucap Sava dengan suara yang sedikit bergetar.
"Sampai jumpa besok, Alsava."
Klik.
Panggilan terputus. Sava menurunkan ponselnya dengan tangan yang gemetar. Ia menoleh kembali ke arah Garvi yang masih terlelap. Jika Alfonso Darwin datang, itu artinya badai yang lebih besar dari sekadar fitnah Victor akan menghantam mereka. Alfonso adalah penganut nilai-nilai keluarga yang sangat kaku—baginya, perceraian adalah aib yang lebih buruk daripada kematian.
***
semoga Sava bisa memberikan alasan yg logis yg bisa di terima , tanpa menyalahkan Sava,
dan semoga dengan adanya tragedi pil kontrasepsi, bisa mengawali hubungan kalian lebih mesra tanpa adanya keraguan lagi.
Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰