"Di kantor kita adalah rekan kerja, di rumah kita adalah orang asing, dan di ranjang... kita hanyalah dua raga yang tak punya jiwa."
Alsava Emily Claretta punya segalanya: jabatan tinggi sebagai COO Skyline Group, kecantikan yang memabukkan, dan status sebagai istri dari Garvi Darwin—sang "Dewa Yunani" sekaligus CEO perusahaan tempat ia bekerja. Namun, di balik kemewahan mansion Darwin, Sava hanyalah seorang wanita yang terkurung dalam kesepian.
Saat Garvi sibuk menjelajahi dunianya, Sava melarikan penatnya ke lantai dansa nightclub. Ia mengira hubungan mereka akan selamanya seperti itu—dingin, berjarak, dan penuh rahasia. Hingga suatu saat, rasa jenuh itu memuncak.
"Aku butuh hiburan, Win. Butuh kebebasan," ucap Sava.
Sava tidak tahu bahwa setiap langkahnya selalu dipantau oleh mata tajam Garvi dari kejauhan. Garvi tak ingin melepaskannya, namun ia juga tak berhenti menyakitinya. Saat satu kata perceraian terucap—permainan kekuasaan pun dimulai. Siapa yang akan lebih dulu berlutut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
BRAK!
Pintu kamar VVIP itu terbuka dengan kasar.
"Sava! Aku bawakan sarapan bubur ayam legendaris di dekat—"
Kalimat Winata terputus di udara. Ia berdiri mematung di ambang pintu dengan kantong plastik di tangannya. Di belakangnya, Roy juga ikut masuk dengan wajah yang semula penuh laporan pekerjaan, kini berubah menjadi pucat pasi.
Pemandangan di depan mereka sungguh di luar nalar. Garvi Darwin—sang CEO yang seharusnya masih koma—kini sedang menindih sebagian tubuh Sava di atas ranjang yang sama, dengan posisi yang sangat ambigu dan intim.
Sava langsung mendorong dada Garvi dengan tenaga ekstra hingga suaminya itu sedikit terhuyung ke belakang. Ia segera duduk dan mencoba merapikan rambutnya yang berantakan dengan wajah merah padam.
"Mr... Mr. Garvi?!" Roy berseru, suaranya pecah karena terkejut. "Anda sudah sadar?"
Winata masih menutup mulutnya dengan tangan, matanya melotot menatap ke arah tangan Garvi yang masih posesif melingkar di pinggang Sava, meskipun Sava sudah berusaha melepaskannya.
Garvi, bukannya merasa malu atau tertangkap basah, ia justru memberikan tatapan dingin dan mematikan kepada Roy dan Winata. Tatapan yang seolah mengatakan, 'Berani sekali kalian mengganggu waktuku.'
"Kalian tidak pernah diajarkan cara mengetuk pintu sebelum masuk ke ruangan pribadi bos kalian?" tanya Garvi dengan suara yang kembali dingin dan penuh otoritas, sangat berbeda dengan suara manjanya kepada Sava tadi.
Winata gemetar, ia menoleh ke arah Sava yang kini menunduk dalam, mencoba menyembunyikan wajahnya. Suasana di ruangan itu mendadak menjadi sangat tegang dan canggung.
Sava berdeham pelan, mencoba mengurai simpul kecanggungan yang seolah membekukan udara. Ia memperbaiki posisi duduknya, meski tangan kekar Garvi masih melingkar protektif di pinggangnya, seolah-olah jika ia melepaskannya sedikit saja, istrinya akan menghilang.
"Tumben kalian datang sepagi ini?" tanya Sava, suaranya masih serak khas orang baru bangun tidur, namun tetap terdengar tegas sebagai seorang COO.
Winata mengerjapkan mata, berusaha mengalihkan pandangannya dari pemandangan "intim" bosnya yang biasanya sangat menjaga jarak itu.
"Aku... aku membawakan sarapan bubur ayam untukmu, Va. Dan Roy..." Winata melirik Roy yang berdiri kaku di sampingnya.
"Saya membawa beberapa dokumen mendesak dari kantor yang harus segera dilaporkan, Miss Sava," sambung Roy dengan nada seprofesional mungkin, meski matanya tak sengaja menangkap sorot tajam dari Garvi.
Garvi mendengus sinis. Alih-alih melepaskan pelukannya, ia justru semakin menyandarkan kepalanya di bahu Sava, menatap Roy dan Winata dengan tatapan predator yang terganggu wilayahnya.
"Apakah dokumen-dokumen itu tidak bisa dibahas di kantor?" sela Garvi dengan suara berat yang mengancam. "Kenapa harus dibawa ke sini? Apa kalian tidak lihat istriku sedang butuh istirahat? Apa kalian sengaja ingin membuat Ave jatuh sakit lagi dengan tumpukan kertas membosankan itu?"
Winata dan Roy saling pandang. Rahang mereka nyaris jatuh. Reaksi ini sangat tidak wajar. Selama ini, Garvi Darwin adalah pria gila kerja yang bahkan tetap meminta laporan saat sedang berlibur di Maldives. Garvi yang mereka kenal adalah pria dingin yang lebih suka "perang urat syaraf" dengan Sava daripada menunjukkan kemesraan yang berlebihan seperti ini.
Apakah kecelakaan itu membuat sekrup di kepala Mr. Garvi longgar? batin Winata heran.
Winata memberikan isyarat mata kepada Sava, seolah bertanya, 'Dia kenapa, sih?'
Sava hanya bisa menggelengkan kepala pelan, wajahnya memerah karena malu sekaligus bingung.
"Mr. Garvi, tolong. Mereka hanya menjalankan tugas."
"Tugas bisa menunggu, Ave. Kesehatanku—dan kesehatanmu—adalah prioritas," potong Garvi posesif.
Winata yang memang memiliki sifat blak-blakan tidak bisa menahan diri lagi. Ia memiringkan kepalanya dan menatap Garvi dengan selidik.
"Mr. Garvi, maaf saya lancang... tapi apakah Anda mengalami hilang ingatan? Ingatan Anda tidak tertukar dengan skenario drama Korea, kan?"
Garvi menajamkan tatapannya, sorot matanya yang rupawan bak dewa Yunani itu berkilat marah.
"Siapa yang hilang ingatan? Kalau aku hilang ingatan, tidak mungkin aku mengenali Ave sebagai istriku. Aku ingat semuanya. Aku ingat siapa diriku, siapa kalian, dan siapa pemilik hatiku."
Winata mendengus geli, meski ia sedikit merinding. "Tapi ini sulit dipahami. Anda biasanya tidak seperti... ini."
Sava segera mengambil kendali sebelum perdebatan itu semakin melantur.
"Cukup. Roy, katakan padaku apa yang ingin kamu laporkan."
Roy berdeham, mencoba mengabaikan hawa dingin yang terpancar dari arah Garvi.
"Ini tentang hasil penyelidikan sementara mengenai kecelakaan Anda, Mr. Garvi. Tim keamanan kami menemukan bahwa sabotase pada sistem pengereman mobil Anda adalah hasil kerja keras orang suruhan Victor yang bekerja sama dengan..." Roy menjeda kalimatnya, melirik ke arah Garvi dengan ragu.
"Lanjutkan, Roy," titah Sava.
"Sebaiknya kita bahas ini di luar, Miss Sava. Biarkan Mr. Garvi beristirahat agar tidak stres," saran Roy.
Mendengar itu, Garvi mendadak bangkit dari posisi manjanya. Ia duduk tegak di atas ranjang, meski selang infus masih menempel di tangannya.
"Kenapa harus bersembunyi dariku? Aku korbannya! Aku berhak tahu siapa yang mencoba membunuhku. Penyelidikan tentang apa ini sebenarnya?"
Roy menatap Sava, meminta persetujuan melalui kontak mata. Namun, sebelum Sava bisa menjawab, Garvi kembali meledak.
"Jangan menatap istriku seperti itu, Roy! Apa mau aku cungkil matamu? Bicaralah padaku!" gertak Garvi dengan nada manipulatif yang sangat kental.
Winata mengurut keningnya. Dewa Yunani ini benar-benar jadi gila posesif, pikirnya.
Sava akhirnya mengangguk pasrah. "Jelaskan saja semuanya di sini, Roy. Mas Garvi harus tahu."
Roy menarik napas panjang. "Baiklah. Kecelakaan itu murni ulah Victor. Dia bekerja sama dengan Shila untuk menjebak Anda. Victor menginginkan posisi Skyline Group melemah, dan Shila adalah alatnya."
Winata ikut menambahkan dengan nada kesal, "Dan Shila... wanita itu benar-benar ular. Hasil pelacakan kami menunjukkan bahwa beberapa bulan terakhir dia tidur dengan banyak pria lain, dan tidak ada nama Anda dalam daftar itu. Klaimnya tentang kehamilan itu hanyalah karangan Shila untuk menjebak Anda ke dalam komitmen pernikahan paksa."
"Bukan hanya itu," Roy menyambungkan. "Kami secara diam-diam melakukan tes DNA pada sampel yang kami ambil dari klinik tempat Shila memeriksakan kandungan. Hasilnya merujuk pada seorang pria warga negara asing yang merupakan kolega bisnis Victor di Swiss. Shila hanya mencari 'bapak' untuk anak itu, dan Anda adalah target termudah karena profil Anda sebagai cassanova."
Sava menghembuskan napas lega. Dadanya yang sejak kemarin terasa sesak kini mendadak lapang. Kebohongan Shila akhirnya terungkap dengan bukti medis yang tak terbantahkan.
Namun, reaksi yang mereka harapkan dari Garvi justru berbeda.
Garvi terdiam. Alisnya bertaut rapat, dahinya berkerut menunjukkan kebingungan yang sangat nyata.
"Victor? Shila? Untuk apa aku berurusan dengan orang-orang itu?"
Ruangan itu mendadak senyap.
"Aku bahkan tidak ingat pernah bertemu dengan mereka," lanjut Garvi dengan nada polos yang terdengar aneh. "Dan kalian bilang Shila hamil anakku? Melihat tubuhnya saja aku tidak pernah, mana mungkin aku menghamilinya? Dia itu sedang berhalusinasi atau bagaimana? Benar-benar tidak masuk akal. Kenapa aku harus repot-repot menemui wanita yang bahkan tidak ada dalam daftar ingatanku?"
Winata tidak bisa menahan amarahnya lagi. Sifat "pedas" asisten pribadi Sava ini keluar.
"Nyatanya, Shila datang ke rumah sakit ini sambil menangis histeris mengaku hamil anakmu, Mr. Garvi! Dan kecelakaan itu terjadi karena Anda sedang dalam perjalanan menemuinya di apartemen! Semua saksi dan bukti GPS mobil mengarah ke sana! Siapapun pasti curiga kalau itu anakmu karena rekam jejakmu yang... ya, Anda tahu sendiri!"
Garvi membeku. "Kecelakaan... karena menemui Shila?"
Tiba-tiba, Garvi mencengkeram kepalanya sendiri. Wajahnya yang rupawan itu mendadak memucat. Ia mengerang pelan, matanya terpejam rapat seolah sedang menahan hantaman godam di dalam tempurung kepalanya.
"Mas Garvi? Ada apa?" Sava panik, ia segera meraih pundak suaminya.
"Sakit... kepalaku sakit sekali..." gumam Garvi parau.
Potongan-potongan memori yang buram melintas di otaknya—suara tawa seorang wanita, aroma parfum yang menyengat, dan cahaya lampu jalanan yang berputar. Namun, ada satu bagian yang hilang. Bagian di mana ia memutuskan untuk menemui Shila. Ada sesuatu yang tidak sinkron antara apa yang dikatakan Roy dan apa yang tersisa di otaknya.
"Panggil dokter! Roy, cepat!" teriak Sava.
Garvi terus merintih, mencengkeram sprei ranjang hingga buku-bukunya memutih. Di tengah rasa sakit itu, Garvi menggumamkan sesuatu yang membuat Sava tertegun.
"Bukan aku... aku tidak ke sana untuk dia... Ave, aku..."
Kalimatnya terputus. Garvi jatuh tersungkur di pelukan Sava, pingsan kembali karena tekanan hebat di kepalanya.
***