Keinginan Zella, dia ingin tetap menjalani kehidupan tenang dan damainya dengan status janda. Namun hal itu terbentur oleh keadaan yang memaksanya harus menjadi istri kedua pria yang tak dia kenal. Zella dipaksa keadaan masuk dalam rumah tangga orang lain.
Hal ini sangat Zella benci, biduk rumah tangganya dulu hancur karena orang ketiga, namun kini dirinya malah jadi yang ketiga. tapi Zella tak berdaya menolak keadaan ini.
Akankah kehidupan damai berpoligami bisa Zella jalani dengan keluarga barunya? Ataukah malah masuk ke dalam sebuah neraka yang tak berdasar? Ataukah ada keajaiban yang membuka jalan pilihan lain untuk Zella, agar tak masuk dalam paksaan itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon heni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12. Berjanji
Bagas menatap Zella begitu serius. Jawaban yang Zella beri malah membuatnya semakin kesal. "Ayah serius! Apa pertimbanganmu menerima Rakha sebagai suamimu? Sejak kapan kalian mengenal??"
"Keputusanku menerima Abi menjadi suamiku karena aku butuh dia sebagai pelindungku dan Tifa di masa depan nanti," jawab Zella.
Abi merasa terbang ke udara mendengar jawaban Zella. Tiba-tiba muncul perasaan bangga, senang, bahagia dianggap sebagai pelindung. Karena selama ini di mata orang lain dirinya merasa lemah dan tak berdaya.
Bagas masih tidak puas dengan jawaban Zella, apalagi dirinya tahu keinginan kuat putrinya selama ini.
"Aku tahu Ayah kecewa dengan jawabanku. Tapi maafkan aku Ayah, aku bukan gadis remaja yang mengatas namakan cinta untuk menikah. Aku tak muda lagi, usiaku lebih dari 30 tahun. Aku butuh sesuatu yang realistis di setiap keputusan yang aku ambil!" terang Zella.
Bagas berusaha mencerna penjelasan putrinya. Kini tatapan seriusnya tertuju pada Abi yang terbiasa dia panggil Rakha. Tak dapat dipungkiri, dirinya menebak Abi pasti punya pengaruh yang kuat karena kekuasaan besar milik almarhum Kakek Abi dulu.
"Apa pun dasar keputusan kamu, Ayah berharap kamu menikah dengan Rakha bukan karena Ayah," ucap Bagas lemah.
"Aku menerima pernikahan ini, demi kebahagianku sendiri Ayah." sahut Zella mantap.
Kebahagiaanku melihat Ayah bebas, batin Zella.
"Kapan kalian saling mengenal?" tanya Bagas pada Zella.
"Aku baru mengenal Abi. Tapi aku sudah lama mengenal adik ipar Abi. Dulu dia sering bermalam di rumahku, dia mengagumiku dan memintaku jadi istri kedua Abi."
"Apa?? Istri kedua??" Bagas refleks berteriak mendengar jawaban itu.
Teriakan Bagas menarik perhatian semua orang yang ada di ruangan itu. Zella meminta maaf dengan isyarat pada semua orang, merasa bersalah karena teriakan Ayahnya mengganggu dan mengejutkan mereka semua.
Bagas berusaha mengendalikan emosinya. Dia segera duduk di kursi yang diperuntukan untuknya. "Zella, kamu mau menikah lagi Ayah bahagia. Tapi jika jadi yang kedua Ayah keberatan!"
"Maafkan aku Ayah, karena kali ini aku harus mengecewakan Ayah." Zella tak berano menatap langsung wajah Ayahnya.
Bagas menatap Abi dan Zella bergantian. Jujur dirinya merasa senang jika Abi menikahi Zella, walau keadaan Abi seperti itu, namun mengetahui Zella jadi yang kedua, Bagas tidak bisa terima.
"Istri Abi keadaannya persis seperti Abi. Dia begitu menyayangi Abi, dia tak sanggup menjaga Abi, sebab itu dia memintaku menjadi madunya. Pernikahan kedua ini memenuhi syarat, bukan?" tanya Zella pada Ayahnya.
"Aku tak bisa berkomentar. Jujur aku kecewa. Tapi aku tak bisa melarangmu bukan?" ucap Bagas bernada putus asa.
"Ayah merestui kami atau tidak, itu hak Ayah. Aku datang kali ini sekedar memberi tahu Ayah akan rencana kedepanku."
"Kamu tinggal di mana 2 hari ini?" tanya Bagas.
"Mulanya aku dipenginapan. Tapi Anjani dan Arumi memintaku menginap di rumah Abi untuk mengenal Abi lebih jauh sebelum kami memutuskan ke jenjang berikutnya," jawab Zella.
"Abi tahu kalau kamu punya seorang putri?" tanya Bagas pada Zella.
"Saya tahu om. Kedepannya putri Zella ingin ikut kami atau tetap di sana, aku mendukung penuh pilihannya, dan memberi Zella kebebasan untuk menjenguk putrinya," sela Abi.
"Aku menginap di rumah Abi juga untuk berkenalan dengan ibu Abi dan kedua anaknya," tambah Zella.
"Ternyata kalian sudah sejauh ini." Bagas memandangi putrinya. Diluar dugaannya, Zella begitu siap untuk ikatan baru ini. "Segera bicarakan hal ini pada mamamu." saran Bagas pada Zella.
"Setelah semua urusanku di sini selesai, aku akan segera kembali dan membicarakannya pada mama."
Bagas mengalihkan padangannya pada Abi. "Zella sangat berharga bagi kami, walau kalian sudah sepakat untuk menikah, tapi itu tak cukup. Ada restu yang lebih penting untuk diraih, yaitu restu dari wanita yang melahirkan Zella."
"Aku mengerti. Aku akan menemani Zella untuk kembali, untuk meminta restu dan memperkenalkan diri pada keluarga Zella di sana."
Keadaan terasa canggung kembali. Bagas sangat sulit menerima kenyataan ini. Dirinya dulu bertekad melindungi Abi, tapi tak harus jadi menantunya juga. Mengetahui Zella akan menikah dengan Abi, Bagas merasa seperti mendapat anugrah dan musibah bersamaan.
Zella dan Abi pun tak bisa berlama-lama di sana. Keadaan Abi yang lemah membuatnya harus membatasi kegiatan di luar rumah.
"Ayah, kami pamit dulu. Jaga diri Ayah." Zella langsung memeluk Ayahnya.
"Biarkan saja Ayah selamanya di sini? Jangan usahakan kebebasan Ayah."
Zella melepaskan pelukannya dengan sang Ayah. "Ayah bagian hidupku. Mana bisa aku membiarkan Ayah di sini sedang Ayah tak bersalah."
"Aku akan usahakan memproses kebebasan om Bagas secepatnya. Om Bagas adalah kebahagiaan Zella, tentu itu jadi kebahagiaan aku juga." ucap Abi tenang.
Miko yang sedari tadi diam, langsung menutup mulutnya dengan telapak tangannya, berusaha menahan tawa yang ingin menyembur mendengar perkataan majikannya barusan.
Pak Abi beneran bucin atau drama bucin seperti dulu lagi? Batin Miko.
Kini Abi dan Zella berada di mobil yang dikemudikan Miko. Keduanya tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing. Abi ingin mengikuti jejak Bagas yang berusaha keras memberi perhatian dan kasih sayang pada kedua anaknya. Sedang Zella memikirkan bagaimana naskah saat memberi tahu kabar pernikahan ini pada ibunya. Andai pernikahan dua insan biasa, ibunya pasti bahagia. Tapi kali ini pernikahan sebagai istri kedua, tentu ibunya tak akan terima.
"Kamu bilang pada Ayahmu kalau sebelumya kamu bermalam di penginapan. Barang kamu masih ada di sana?" tanya Abi.
"Masih, pakaian dan beberapa perlengkapan lain."
"Sebaiknya kamu ambil sisa barangmu, bawa semua ke rumahku. Lebih baik menginap di tempat kami selama menunggu proses pembebasan Ayahmu selesai."
"Jujur saya tak nyaman menginap di rumah Anda."
"Santai saja. Di rumah juga ada Anjani dan Arumi. Jangan takut digoda sama setan karena denganku. Lagian katamu aku lebih menakutkan dari setan."
Brush!
Tawa Miko terlepas mendengar perkataan Abi. Sedang Zella meringis menahan malu karena Abi menyinggung hal itu.
"Berikan alamat penginapan itu pada Miko, ambil semua barangmu. Satu lagi jangan terlalu formal bicara padaku. Santai saja."
Zella menyebutkan alamat penginapan itu. Mobil yang dikemudikan Miko melaju cepat menuju alamat yang Zella berikan.
"Zella, selain membebaskan Ayahmu dari tuduhan palsu, tak ada hal lain yang bisa aku berikan padamu. Lihat aku begitu lemah, mungkin saja umurku tak akan lama," ucap Abi.
"Tak ada hal lain yang aku inginkan dari Anda. Walau aku mau menikah dengan Anda karena ingin membebaskan Ayahku, namun aku akan berusaha menjadi istri yang baik untukmu."
Abi termanga mendengar jawaban Zella, 'istri yang baik' entah mengapa kalimat itu sangat menyenangkan hatinya.
"Aku menerima pernikahan ini memang bukan sebab hal indah seperti saling cinta atau apalah itu. Tapi menikah adalah hal sakral, aku tak peduli bagaimana Anda memandangku, yang akan aku usahakan, aku menjalani semua dengan ikhlas. Setelah menikah nanti, bagiku Anda adalah suamiku, sebisanya aku berbakti padamu. Aku tak bisa menganggap pernikahan suatu kesepakatan, bagiku menikah itu ibadah."
"Jika suatu saat nanti aku tiada. Apakah kamu akan tetap menganggap kedua anakku sebagai anakmu?"
"Setelah menikah kita jadi satu keluarga. Anak-anakmu akan jadi bagian hidupku juga. Insya Allah aku akan berusaha menjaga mereka sebisaku. Tapi kalau mereka mau."
"Aku khawatir nasib anak-anakku setelah aku tiada."
"Kenapa bahas kematian terus? Aku nggak nyaman dengernya," protes Zella.
"Karena rasanya aku sangat dekat dengan kematian, lihat aku yang lemah dan penyakitan ini. Rasanya umurku pendek."
"Tak ada jaminan yang sakit meninggal lebih dulu dari yang sehat. Sudah Anda jangan berpikir kejauhan."
"Aku hanya memikirkan mereka nanti, apakah masih ada yang perhatian dan menjaga dengan mereka seperti sekarang?"
"Sekarang sebaiknya Anda pikirkan bagaimana menjaga mereka dan menyampaikan rasa sayang Anda pada mereka mulai dari sekarang, karena itu yang kedua anak Anda nantikan dari Anda."
"Zella. Bisakah berjanji padaku?"
"Aku sangat takut berjanji, karena aku takut tak bisa mewujudkannya."
"Aku mohon ...." ucap Abi begitu dalam.
"Bagaimana jika aku tak bisa menepatinya?"
"Aku tak akan menyalahkanmu. Jika kau mau berjanji ini sangat menenangkan hatiku."
"Walau aku bohong dengan mengiyakannya?"
"Kau mau berjanji saja, aku sangat bahagia." Di wajah Abi terukir senyuman indah.
Zella terpana, hingga teringat kembali akan mimpinya pagi itu.