NovelToon NovelToon
Doctor Mafia

Doctor Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Duniahiburan / Mafia / Dark Romance / Enemy to Lovers / Obsesi
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Yuan La

Elaine seorang mahasiswi kedokteran memiliki perasaan yang mendalam pada seorang pria adi kuasa, Killian. Salah satu pria dari kaum elite global. Yang bekerja sama dengan para mafia untuk menjalankan bisnis kotornya.

Damian. Kakaknya bekerja di interpol untuk menyelidiki masa lalu kematian orang tua mereka. Saat ia mengetahui adiknya memiliki hubungan khusus dengan anggota elite global dan mafia. Elaine harus memutuskan akan berdiri melindungi kekasihnya atau kakaknya, keluarga satu-satunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuan La, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16 : Murka

Elaine tak lagi tidur. Sebentar lagi akan mencapai perbatasan kota Asgard. Rasa mual karena trauma mulai menyeruak di dalam perutnya, ia menyesal telah makan banyak.

Ia mengambil tasnya dan memakan permen mint untuk menetralkan rasa mualnya.

“Berikan satu untukku.” Pinta Lian yang sedari tadi memperhatikan wanita itu.

El membuka kontak permennya dan memberinya pada Lian, namun ia terperanjat saat pergelangannya ditarik oleh pria itu. Lian memakan permen dari jari El langsung, bibir pria itu terasa hangat dan lembut menyentuh jemarinya.

“Lian…” Sebut El lembut.

“Ya…”

“Apa tujuanmu datang ke kota ini?” Karena dirumah sakit cabang itu tak perlu sampai CEO utama yang datang menanganinya.

“Selain rumah sakit itu, aku memiliki perusahaan lain disini yang mengalami masalah.”

El kembali terdiam. Ia menatap perjalanan itu, sedikit ada perubahan setelah 18 tahun berlalu. Lian merasa wanita itu kedinginan hingga mengubah temperatur suhu nya sedikit hangat.

“Kenapa kau tidak ingin datang ke Asgard?”

“Bukan kenapa-kenapa.” Jawab El pelan.

“Lian… Lyxan datang menemuiku semalam.” Ucap El seketika membuat laju mobil Lian terhenti. Untungnya jalanan saat itu sedang sepi.

El yang sejak tadi menghadap jendela kini menoleh menghadap pria di sebelahnya. Lian kembali mengemudikan mobilnya tapi tidak untuk melanjutkan perjalanan, ia menepikan mobilnya. Ia tak menyangka El akan membahasnya di perjalanan itu dan ia tidak ingin menundanya.

“Kenapa kau kirimkan uangnya?” Tanya El kemudian.

“Apa yang dia lakukan padamu?”

“Itu tidak penting. Kenapa kau ikut campur dalam masalahku?”

“Apa luka di leher mu itu diperbuat olehnya?”

El terdiam, memang semalam pria itu menekan habis-habisan nafsunya hingga mencengkram leher El membuatnya sedikit ada luka memar.

“Kau tahu perbuatan yang kau lakukan justru semakin mempersulit ku.” El menghela nafasnya, ia menyerahkan amplop yang dikembalikan Lyxan semalam.

“Aku hanya ingin kau tidak berhubungan dengan dia.”

“Kenapa? Kau mengenalnya?”

“Sudah kukatakan pada mu, semua yang ada di pesta topeng itu kau tidak akan mengerti orang seperti apa El. Mereka…”

“Berbahaya?” Sela El, “Lalu bagaimana dengan mu? Apa kau lebih baik dari mereka?” Kesal El.

“Dengar aku tidak ingin berdebat denganmu. Mulai saat ini segala sesuatu yang berhubungan dengan dia akan menjadi urusan ku.”

El terdiam, pria itu kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh. Sesampainya di rumah dinas, wanita turun begitu saja. Tak mempedulikan Lian. Sama seperti waktu sebelumnya.

“El…” Mia yang lebih dulu tiba sedari tadi langsung berlari menghampiri Elaine. Raut wajahnya terlihat cemas.

“Kau baik-baik saja?”

Elaine tak menjawab. Killian setelah menurunkan wanita itu segera pergi menuju kantor lainnya.

“Mia… aku lelah. Bisa aku beristirahat sebentar.” Pinta El.

Mia tak berani mengganggu sahabatnya itu. Untungnya mereka tidak perlu bersusah payah untuk pergi menuju rumah sakit cabang. Rumah dinas itu menyatu dengan gedung rumah sakit tepat di belakangnya.

...****************...

Tiga hari terlewati oleh Elaine dengan tenang. Ia tak pernah pergi dari rumah dinasnya. Waktunya hanya dihabiskan dengan bekerja dan menyelesaikan laporan, beberapa kali Lyxan mencoba menghubunginya namun tak sekalipun El tanggali. Pesan singkat darinya juga tak pernah ia buka.

Lyxan melarang untuk memblokir nomornya namun tidak melarangnya untuk tidak mengangkat panggilan atau membalas pesan singkat darinya.

Hari itu Elaine habiskan waktunya di dalam kamarnya seperti biasa. Ia tidak keluar untuk makan malam, El sudah merasa cukup hangat berada di kamarnya dengan berselimutkan tebal.

TOK TOK TOK

El berhenti memainkan laptopnya. Ia beranjak menuju pintu untuk membukanya. Saat itu sudah pukul 9 malam. Mia mengatakan akan membawa makan malam ke kamar Elaine seperti biasa.

“Lian…” Sebut El terperanjat menatap Killian di depan pintu kamarnya, El menoleh untuk memastikan tidak ada yang melihat mereka. Dirasa aman, El segera menarik masuk pria itu.

“Apa yang kau lakukan?” El tidak mau ada suara sumbang mengenai dirinya bersama petinggi rumah sakit itu, “Kenapa wajah mu?” Tanya El lagi saat pria itu membuka topi dan maskernya.

Pria itu datang dengan memar di sudut bibirnya. Kepalan tangannya juga terluka.

Lian tak menjawab. Ia membasuh mukanya dan menenggak air dingin dari meja kerja El.

“Lian…” El menarik lengan pria itu.

Sorot mata mereka saling menatap tanpa suara. Setidaknya pria itu juga perlu tahu situasi hati wanita dihadapannya. Ia tidak ingin ribut dengan Elaine, tidak untuk saat ini dimana rindunya teramat dalam.

“Kemari.” El menarik pria itu duduk di ranjangnya, dari dalam tasnya Elaine mengambil obat untuk membersihkan luka diwajah dan kepalan tangan pria itu.

“Kau tidak makan malam?” Tanya Lian, “Aku mencari mu tadi diruang makan.”

“Ada apa kesini?” Tanya El tak menjawab pertanyaan Lian.

“Berobat.”

El menekuk dahinya. Ini bahkan tidak terdengar lucu sama sekali.

TOK TOK TOK

“EL BUKA PINTUNYA. KENAPA DIKUNCI.” Teriak Mia dari luar membawa makan malam untuk El seperti biasa.

“Diam disini.” Perintah El pada Lian.

El membuka pintu itu dengan pelan.

“Kenapa dikunci?” Tanya Mia yang hendak masuk.

“Mi…” El mencegah temannya untuk masuk, “Tadi aku sedang tidur. Aku cukup lelah.”

“Kau baik-baik saja?” Cemas Mia, “Dari kemarin kau dikamar. Jika terjadi sesuatu beritahu aku El, aku bisa…”

“Mia… aku hanya tidak suka cuaca disini.” Sela El langsung dan mengambil piring berisi makanannya, “Terimakasih. Kembalilah ke kamarmu. Aku akan makan ini dan kembali tidur.”

Mia seperti biasa selalu menuruti permintaan El. Tanpa rasa curiga ia kembali ke kamarnya.

Lian melangkah mendekati wanita itu. Mengambil piring dari tangan El dan meletakkannya di meja.

“Kenapa handphonemu tidak aktif?” Tanya Lian.

“Kau belum menjawab pertanyaan ku.” El menatap tajam Lian yang duduk di kursi kerja El itu.

“Kenapa kau datang ketempat ku?” Setahu El rumah dinas itu hanya disediakan untuk para staff dan tidak termasuk dengan dewan direksi.

“Aku rindu padamu.” Jawab Lian lugas.

“Jangan bercanda.” Kesal El, “Ada apa menemui ku?”

“Aku rindu. Apa tidak jelas.”

“Killian.” El menarik nafas mengontrol emosinya, “Apa yang kau perlukan?”

“Kau. Aku membutuhkanmu.”

El menekuk mukanya, ia sudah cukup kesal.

“El… Aku baru kembali dari Malice.” Ujar Lian menjelaskan, “Aku bertemu dengan Raine.”

“Lyxan?” Tanya El memastikan.

“Dia berani mengganggumu maka dia berani menanggung konsekuensinya.”

“Apa yang kau lakukan dengannya?” El mengambil ponselnya dan mengaktifkannya, pesan Lyxan yang selama ini di abaikan olehnya mulai ia baca satu per satu.

“Dia masih berani menghubungi mu?” Lian merampas ponsel El.

“Kau menghajarnya?” Tanya El memastikan.

“Harus nya kubunuh sekalian.”

“Kau tahu dia orang seperti apa?”

“Apa kau tahu dia seperti apa?” Tanya balik Lian.

El terdiam. Satu yang ia tidak ketahui. Dalam dunia mafia, meski kata itu cukup mengerikan. Namun masih ada status yang lebih menakutkan. Ia bergerak dengan tenang tanpa nama dan status. Semua yang mengusiknya akan ia ratakan tanpa meninggalkan jejak. Dan semua itu dapat dilakukan oleh Killian.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!