Dua ego yang bersinggungan. Dua imperium yang beradu. Satu perasaan yang dilarang.
Every adalah sang penguasa kampus, River adalah sang pemberontak yang ingin menggulingkannya. Mereka menyebutnya rivalitas, dunia menyebutnya kebencian.
"...semua yang terjadi di gubuk ini, jangan pernah lo anggap sebagai sesuatu yang lebih dari sekadar cara lo membayar utang.."
River hanya menyeringai, "... gue tetap orang yang tahu persis gimana rasanya lo gemetar ketakutan di pelukan gue semalam."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muse_Cha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Permainan "Cemburu"
River tidak melepaskan cengkeramannya. Ibu jarinya bergerak perlahan di urat nadi pergelangan tangan Every, merasakan detak jantung gadis itu yang berpacu liar tak beraturan.
"Lepasin, River," desis Every, suaranya bergetar meski ia berusaha keras memasang wajah angkuh. "Gue cuma mau ke dapur. Lo yang tiba-tiba narik gue."
River menyeringai tipis, sebuah seringai yang sudah lama tidak Every lihat seharian ini. "Ke dapur lewat samping sofa gue? Sejak kapan denah vila ini berubah, Every Riana?"
River mendudukkan tubuhnya, namun tetap tidak membiarkan Every menjauh.
Ia menarik tangan Every sedikit lebih dekat, memaksa gadis itu membungkuk di hadapannya. "Lo harusnya hati-hati. Axel lagi di atas, di balkon lantai dua. Dia dari tadi ngeliatin lo yang mondar-mandir kayak orang ilang."
Every tersentak, matanya otomatis melirik ke arah balkon gelap di lantai atas. Ketakutan akan tertangkap basah oleh Axel membuat pertahanannya goyah sejenak. "Axel... di sana?"
"He-eh," bohong River tanpa berkedip.
Padahal, River tahu persis Axel sudah angkat kaki dari vila dua jam lalu. Ia sendiri yang membukakan gerbang saat Axel pamit dengan alasan ada rapat saham darurat keluarga Ammerson yang tidak bisa ditinggal.
River sengaja menggunakan nama Axel hanya untuk melihat sejauh mana Every akan ketakutan.
"Kalau gitu lepasin! Gue nggak mau dia salah paham!" Every mencoba menyentakkan tangannya, namun River justru menariknya hingga Every terduduk di tepi sofa, tepat di sampingnya.
"Salah paham soal apa? Soal lo yang tengah malem nyamperin 'preman' teknik?" River mendekatkan wajahnya, memangkas jarak yang Every klaim sebagai zona terlarang. "Tadi di bus lo kelihatan menderita banget pas Aluna nyandar di bahu gue. Sekarang kenapa lo malah nyerahin diri?"
Gengsi Every yang setinggi langit langsung bangkit. Ia mendengus sinis, menatap River tepat di manik matanya dengan keberanian yang dipaksakan.
"Menderita? Lo terlalu percaya diri, Armani. Gue justru bersyukur ada Aluna yang bisa jinakin lo, jadi gue nggak perlu liat muka mesum lo seharian. Gue ke sini cuma mau mastiin kalau lo nggak mati kedinginan dan malah bikin repot panitia BEM gue."
River terdiam, menatap bibir Every yang bergerak tajam namun bergetar.
Ia bisa merasakan Every sedang membangun tembok tinggi lagi.
River pun mengubah taktiknya. Ia melepaskan tangan Every secara tiba-tiba, lalu kembali bersandar pada sofa dengan gaya acuh tak acuh.
"Oh, jadi lo cuma 'audit' keamanan ya?" River memejamkan matanya kembali, memutus kontak visual. "Kalau gitu auditnya selesai. Axel masih di atas, nungguin lo balik ke kamar. Pergi sana. Gue mau lanjut tidur sama Aluna yang... siapa tadi lo bilang? Jinak?"
Every terpaku. Kata-kata River barusan seperti tamparan. Ia berdiri dengan perasaan terhina, merapikan jaketnya dengan kasar. "Bagus kalau lo sadar posisi. Jangan pernah ganggu gue lagi di sisa perjalanan ini."
Every berbalik dan berjalan cepat menuju tangga, tanpa menyadari bahwa River diam-diam membuka satu matanya, menatap punggung Every dengan tatapan yang sangat dalam.
River tahu Every sedang merasa menang, padahal Every baru saja masuk ke dalam permainan "cemburu" yang River susun.
Begitu Every sampai di kamarnya dan melihat ke arah balkon yang kosong—dan menyadari mobil Axel sudah tidak ada di parkiran—ia baru tersadar.
River Armani baru saja membohonginya.
---
Pagi di Ciwidey tidak memberikan ampun.
Kabut tebal menyatu dengan rimbunnya pepohonan, membuat jalur trekking mencari jejak yang disusun tim BEM menjadi sangat licin dan berbahaya.
Sebagai Ketua, Every memimpin di depan bersama Bimo, staf divisi perlengkapan yang bertubuh bongsor.
River berada paling belakang.
Ia benar-benar menjaga janjinya—atau lebih tepatnya, tantangan Every.
Ia berjalan dalam diam, tanpa suara, seolah-olah ia hanya bayangan di antara pepohonan.
"Hati-hati, Every. Akar di depan ini lumayan berlumut," Bimo memperingatkan sambil mengulurkan tangan, namun Every yang keras kepala menolak bantuan itu.
"Gue bisa sendiri, Bim," sahut Every dingin.
Naas, tepat saat ia melompati sebuah celah kecil yang di bawahnya terdapat aliran sungai pegunungan yang deras, kaki Every mendarat di atas batu yang tertutup lumut basah.
"Aah!" Every terpekik. Tubuhnya kehilangan keseimbangan, limbung ke arah aliran air dingin di bawahnya.
"Every!" Bimo dengan sigap merenggut pinggang Every, menariknya kembali ke daratan sebelum gadis itu benar-benar terjun bebas. Posisi mereka cukup dekat; Bimo memeluk pinggang Every dengan kedua tangannya agar gadis itu tidak merosot.
Napas Every memburu karena kaget.
Ia bersandar di dada Bimo selama beberapa detik. Namun, rasa lega itu hanya bertahan sekejap.
Suasana mendadak menjadi sangat berat.
Tekanan udara di sekitar mereka seolah menyusut.
Every mendongak dan melihat River berdiri hanya beberapa langkah dari mereka.
River tidak berteriak, tidak memaki. Ia hanya berdiri diam dengan tangan masuk ke saku jaket, namun matanya... mata itu menatap tangan Bimo yang melingkar di pinggang Every dengan intensitas yang mengerikan.
Bimo, yang menyadari tatapan predator itu, mendadak merasa tangannya seperti terbakar. Nyali anak perlengkapan itu menciut seketika melihat kilatan gelap di mata River yang seolah berkata: Lepaskan atau tangan itu tidak akan pernah berfungsi lagi.
"S-sorry, Ev... Gue..." Bimo tergagap, dan karena panik di bawah tekanan intimidasi River, ia melepaskan pegangannya terlalu cepat—bahkan sebelum Every benar-benar berdiri dengan stabil.
Byur!
Every yang belum siap kehilangan tumpuan langsung jatuh terjengkang ke dalam ceruk sungai kecil di pinggir jalur. Air pegunungan yang suhunya mendekati titik beku itu menyergap seluruh tubuhnya.
"Every!" teriak anak-anak BEM lain.
Every bangkit dengan gemetar, air menetes deras dari rambut dan pakaiannya.
Masalahnya, Every hanya mengenakan sweatshirt putih berbahan tipis di balik jaket BEM-nya yang kini terbuka karena resletingnya rusak saat terjatuh tadi.
Air membuat kain putih itu menjadi transparan, melekat sempurna di tubuhnya, menampakkan setiap lekuk dan warna kulitnya dengan sangat jelas.
Every menyilangkan tangan di dada, wajahnya merah padam antara malu, marah, dan kedinginan yang luar biasa. "Bimo! Sialan!"
River melangkah maju. Kali ini ia melanggar aturan satu meter itu tanpa ragu. Ia berdiri tepat di depan Every yang masih terduduk di air dangkal, menghalangi pandangan Bimo dan anak-anak cowok lainnya.
"Semuanya, lanjut jalan ke pos dua. Sekarang," perintah River dengan suara rendah yang tidak menerima bantahan.
"Tapi Riv, Every basah kuyup—"
"Gue bilang jalan!" bentak River hingga Bimo dan yang lainnya terlonjak dan segera memacu langkah menjauh.
Kini tinggal mereka berdua di tengah hutan yang basah. River melepaskan jaket kulitnya yang berat, lalu melemparkannya tepat ke kepala Every hingga menutupi tubuh bagian atas gadis itu.
"Tadi malam lo sombong banget minta jarak satu meter," ucap River, suaranya terdengar sangat tajam saat ia berjongkok di depan Every. Ia menarik kerah jaket kulitnya yang dipakai Every agar gadis itu menatapnya. "Sekarang liat? Lo hampir bikin satu divisi perlengkapan dapet tontonan gratis karena kecerobohan lo."
"Ini gara-gara lo! Lo nakutin Bimo sampai dia lepasin gue!" Every memaki dengan gigi yang berkerat karena kedinginan.
River menyeringai tanpa rasa bersalah. Ia mendekatkan wajahnya, matanya melirik sekilas ke arah kaos putih Every yang menerawang di balik jaketnya yang terbuka. "Gue nggak suka barang milik gue jadi tontonan publik, Every Riana. Pakai jaket itu dengan bener, atau gue sendiri yang bakal kancingin sampai lo nggak bisa napas."
River berdecak, melihat Every yang berusaha berdiri namun kembali terduduk sambil meringis memegangi pergelangan kakinya.
Air sungai yang membeku seolah menyedot seluruh warna dari wajah gadis itu, menyisakan bibir yang membiru dan tubuh yang menggigil hebat di balik jaket kulitnya yang kebesaran.
"Minggir, gue bisa jalan sendiri," ketus Every, mencoba mendorong tangan River yang hendak menyentuhnya.
"Oh, ya? Silakan. Jalan pakai tangan kalau kaki lo udah nggak guna," balas River pedas.
Ia berdiri tegak, sengaja membiarkan Every berjuang berdiri hanya untuk melihat gadis itu kembali limbung.
"River! Kaki gue kayaknya terkilir, oke? Puas lo?" bentak Every dengan suara serak. "Panggil Bimo atau siapa pun, suruh bawa tandu!"
River tertawa sinis, suaranya memantul di antara pepohonan yang lembap. "Tandu? Lo pikir ini evakuasi korban bencana alam? Anak-anak udah jauh di depan. Pilihannya cuma dua: lo merangkak sampai vila atau lo ikut gue."
Tanpa menunggu persetujuan, River langsung berjongkok membelakangi Every. "Naik. Cepetan sebelum gue berubah pikiran dan ninggalin lo buat dimakan babi hutan."
"Gue nggak mau digendong lo!"
"Satu..." River mulai menghitung dengan nada mengancam.
"River Armani, gue bilang nggak—"
"Dua..."
Every menggeram, dengan perasaan hancur dan harga diri yang tersisa di dasar sungai, ia akhirnya melingkarkan tangannya di leher River.
Begitu tubuhnya menempel di punggung lebar itu, Every bisa merasakan panas tubuh River yang kontras dengan pakaiannya yang basah kuyup.
River berdiri dengan sentakan kasar, membuat Every terpekik dan refleks mengeratkan pelukannya.
"Jangan modus, Madam President. Pelukannya biasa aja," sindir River sambil mulai melangkah mendaki jalur yang licin.
"Siapa juga yang modus?! Lo jalannya sengaja dikasar-kasarin!" Every memukul bahu River dengan kepalan tangan kecilnya. "Dan jangan pegang-pegang paha gue terlalu kencang!"
"Terus gue pegang apa? Udara? Kaki lo licin kayak belut gara-gara air sungai ini," balas River ketus. Ia menaikkan posisi Every dalam satu hentakan yang membuat dada Every tertekan punggungnya. "Lagian, jaket gue jadi basah gara-gara lo. Lo tahu harga jaket ini berapa? Lebih mahal dari harga diri lo yang selangit itu."
"Gue bakal ganti! Besok gue beli sepuluh yang kayak gini!"
"Nggak perlu. Gue lebih suka liat lo kedinginan kayak gini, biar mulut lo nggak terlalu berisik," River terus berjalan dengan langkah stabil meski jalurnya menanjak.
Hening sejenak. Hanya ada suara napas River yang berat dan gesekan daun-daun kering.
Every menyandarkan kepalanya di bahu River—bukan karena ingin, tapi karena ia benar-benar merasa lemas dan pusing akibat suhu yang ekstrem.
"River..." bisik Every kecil.
"Apa? Mau minta turun? Silakan, tuh ada semak berduri," sahut River tanpa menoleh.
"Kenapa lo bohong soal Axel semalam?"
River terdiam sejenak. Ia menyeringai tipis yang tidak bisa dilihat oleh Every. "Cuma mau liat seberapa pengecutnya lo kalau nggak ada tunangan boneka lo itu. Ternyata bener, tanpa Axel, lo cuma cewek yang hobi mondar-mandir di depan kamar gue."
"Gue nggak ke kamar lo!" Every mencubit leher River sekuat tenaga.
"Aduh! Eve! Gue lepasin ya lo?!"
"Lepasin aja! Lepasin!"
River tidak melepaskannya. Sebaliknya, ia justru mengeratkan cengkeramannya pada paha Every, membuat gadis itu tidak punya celah untuk menjauh.
Di tengah hutan Bandung yang beku, perang mulut mereka terus berlanjut, namun anehnya, tak satu pun dari mereka yang benar-benar ingin mengakhiri momen itu.