Meski sudah menikah, Nabila Rasmini tetap menjadi aktris ternama. Filmnya laku dan dia punya banyak fans. Namun tak ada yang tahu kalau Nabila ternyata memiliki suami toxic. Semuanya tambah rumit saat Nabila syuting film bersama aktor muda naik daun, Nathan Oktaviyan.
Syuting film dilakukan di Berlin selama satu bulan. Maka selama itu cinta terlarang Nabila dan Nathan terjalin. Adegan ciuman panas mereka menjadi alasan tumbuhnya api-api cinta yang menggebu.
"Semua orang bisa merasakan cemistry kita di depan kamera. Aku yakin kau pasti juga merasakannya." Nathan.
"Nath! Kau punya tunangan, dan aku punya suami. Ini salah!" Nabila.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 4 - Tentang Nathan
Semenjak pertemuan di cafe itu, Nabila dan Nathan menjadi semakin akrab. Nathan bahkan terkadang mengirim pesan yang mampu membuat Nabila tersenyum.
'Pagi ini mentari bersinar cerah sekali. Tapi bagiku Kakak lebih cerah dari itu. Selamat pagi, Kakak Cantik...'
Begitulah bunyi pesan Nathan di keesokan pagi. Membuat Nabila langsung terkekeh geli. Mungkin itu adalah jenis pesan rayuan bagi Nathan, namun menurut Nabila pesan tersebut cuman sekedar lelucon receh. Bisa membuat tersenyum, tapi bikin bergidik.
'Jadi maksudmu wajahku bersinar lebih terang dari matahari? Kok aku merasa ini lebih condong ke penghinaan ya? Kalau aku lebih bersinar dari matahari, wajahku berapi-api dong!' Nabila membalas pesan Nathan.
Di sisi lain, Nathan tertawa kecil saat mendapat pesan dari Nabila. Menurutnya Nabila adalah tipe perempuan yang sulit digoda, dan jujur saja dirinya menyukai itu.
Nathan sekarang sedang bersama menagernya. Ia masih asyik bertukar pesan dengan Nabila.
"Awas kebablasan! Nanti beneran suka. Itu istri orang loh," bisik Zidan, managernya Nathan.
"Kami melakukan ini demi proyek film. Oke?" tanggap Nathan.
"Aku kan cuman mengingatkan," balas Zidan.
Bersamaan dengan itu, Nathan mendapatkan telepon dari Dini. Gadis yang diketahui merupakan tunangannya.
Dengan malas, Nathan menjawab, "Ya?"
"Sayang... Kamu lagi sibuk nggak? Bisa temani aku shopping nggak ke toko Chanel hari ini. Kebetulan ada produk keluaran terbaru katanya," ujar Dini dari seberang telepon.
"Shopping? Lagi?"
"Iya. Kenapa? Nggak boleh?" Nada suara Dini langsung berubah dingin.
"Bukannya begitu. Soalnya kan tempo hari kau baru aja beli tas baru. Tapi nggak apa-apa. Ya sudah, aku temani hari ini." Nathan langsung mengalah. Dia tahu betul Dini akan marah jika dirinya menolak.
"Makasih ya, Sayang... Jemput aku jam dua nanti."
Pembicaraan mereka berakhir. Nathan pun mendengus lega sambil menyandarkan punggung ke sofa.
"Kau itu sebenarnya suka nggak sih sama Dini? Kayaknya mukamu selalu kusut begitu kalau dapat telepon dari dia," tukas Zidan.
"Bukankah sudah jelas kalau aku nggak suka dia? Aku dan dia tunangan tuh karena perjodohan! Aku nggak ngerti kenapa pamanku sangat ingin aku menikahi cewek itu. Padahal aku juga masih pengen fokus sama karirku," jawab Nathan panjang lebar sambil memijit pelipisnya.
"Kau harusnya menolak saja, Nath! Kan kamu yang akan menjalani hubungan sama Dini, bukan pamanmu!"
"Aku tahu. Tapi kau tahu kalau pamanku sangat banyak jasanya dalam hidupku, dan baru kali ini dia meminta sesuatu dariku. Makanya aku nggak bisa menolak." Lagi-lagi Nathan menghela nafasnya.
"Memang sulit sih. Tapi Dini kayaknya cewek baik. Selain itu kau juga nggak punya pacar, jadi nggak ada salahnya mencoba dulu. Mungkin kau dan Dini nanti akan cocok."
"Itulah yang aku pikirkan awalnya. Tapi, setelah menjalin hubungan selama tiga bulan ini, aku sadar kalau aku dan Dini nggak cocok. Dia tipe cewek yang manja dan glamor."
"Terus apa kau akan melanjutkan hubungan dengannya?"
"Itulah yang aku pikirkan. Aku butuh alasan yang kuat agar bisa memutuskan hubungan dengan Dini."
Zidan mengangguk sambil menepuk pundak Nathan. Tak lama mereka beranjak karena Nathan harus melakukan pemotretan.
Di waktu yang sama, Nabila baru selesai syuting. Dia jadi terbiasa memeriksa ponsel karena menantikan pesan balasan Nathan.
'Aduh! Pikiran Kakak itu terlalu realistis. Ya sudah, bagaimana kalau aku bilang Kakak lebih cantik dari bunga dan lebih manis dari madu? Apa sekarang Kakak Cantik bisa membantah?'
Senyuman kembali mengembang di bibir Nabila. Menurutnya Nathan bukanlah tipe yang mudah menyerah.
'Kak, bolehkah kita berlatih beberapa adegan kita berdua? Terutama di bagian yang sulit.' Sebuah pesan dari Nathan kembali masuk. Membuat mata Nabila langsung terbelalak.
billa dipenjara tidak papa menyelamatkan semua korban lukman gak akan lama nanti para saksi akan muncul sendiri.
modelan lukman kalau gak dead gak akan berhenti