NovelToon NovelToon
MASALALU YANG MENGANTAR KEBAHAGIAAN

MASALALU YANG MENGANTAR KEBAHAGIAAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Mertua Kejam / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Penyesalan Suami
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: zanita nuraini

Naya percaya cinta cukup untuk mempertahankan pernikahan.

Namun tekanan dari ibu mertua yang terus menuntut keturunan, ditambah kemunculan masa lalu suaminya dengan sebuah kenyataan pahit, membuat hidup Naya perlahan runtuh.
Ini bukan kisah perempuan yang kalah, melainkan tentang Naya—yang pergi, bangkit, dan menemukan bahagia yang benar-benar ia pilih.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zanita nuraini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32 – Jejak yang Disembunyikan

Malam itu rumah terasa lebih sunyi dari biasanya. Bukan karena tidak ada suara, melainkan karena terlalu banyak hal yang tertahan untuk diucapkan.

Naya duduk di tepi tempat tidur sambil melipat pakaian bersih. Gerakannya rapi, nyaris mekanis. Adit baru saja keluar dari kamar mandi, mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil. Beberapa detik berlalu dalam diam yang canggung.

“Mas,” suara Naya akhirnya terdengar pelan, ragu-ragu.

Adit menoleh. “Iya?”

Naya menghentikan kegiatannya. Tangannya saling bertaut di pangkuan, seolah menimbang kata yang paling aman untuk diucapkan. “Mas… maaf sebelumnya. Aku mau tanya sesuatu.”

Adit mengangguk. “Tanya saja.”

Naya menarik napas dalam. “Apa Mas… pernah berhubungan dengan seseorang di masa lalu?”

Deg.

Handuk di tangan Adit berhenti bergerak. Ia tidak langsung menjawab. Jeda itu singkat, tapi cukup membuat jantung Naya berdegup lebih cepat.

“Kamu kenapa bertanya seperti itu?” tanya Adit akhirnya. Nadanya datar, tapi matanya menyimpan keterkejutan yang tidak bisa sepenuhnya ia sembunyikan.

Naya menunduk. “Aku cuma bertanya, Mas. Tentang masa lalu.”

Adit mendekat, lalu duduk di samping Naya. “Aku mencintai kamu, Nay,” katanya pelan namun tegas. “Tidak ada yang lain. Dari dulu sampai sekarang.”

Naya mengangguk kecil. “Aku tahu.”

“Ini karena ucapan ibu?” tanya Adit. “Tentang anak itu?”

Naya terdiam sesaat, lalu menghela napas. “Salah satunya.”

Adit mengusap wajahnya. “Masalah anak jangan bikin kamu mikir yang aneh-aneh. Kita jalani saja pelan-pelan.”

Naya menggigit bibirnya. Ada satu hal yang sejak tadi berputar di kepalanya, dan kini ia tahu—ia tidak bisa lagi menyimpannya sendiri.

“Mas,” ucapnya lagi, suaranya sedikit bergetar, “sebenarnya… aku sudah periksa.”

Adit menoleh cepat. “Periksa apa?”

“Kesuburan.”

Hening kembali memenuhi ruangan.

“Kapan?” tanya Adit pelan.

“Sekitar sebulan lalu.”

“Kamu ke rumah sakit sendiri?”

Naya mengangguk. “Iya.”

Adit menatapnya lama. Tidak ada amarah di sana, tidak pula kekecewaan. Hanya ekspresi seseorang yang sedang mencerna kenyataan baru.

“Hasilnya?” tanyanya lagi.

“Dokter bilang hasilnya bagus,” jawab Naya jujur. “Semua normal.”

Adit menunduk. Ada rasa lega yang sempat muncul, namun diikuti beban lain yang jauh lebih berat.

“Kalau kamu baik-baik saja,” ucapnya pelan, “berarti… Mas juga harus periksa.”

Naya tidak langsung menjawab. Ia hanya mengangguk kecil. Tidak ada tudingan, tidak ada paksaan. Hanya kesepakatan tak terucap bahwa ada sesuatu yang harus mereka hadapi bersama.

Beberapa hari kemudian, Naya kembali menjalani rutinitas bulanannya. Ia datang ke swalayan langganannya. Rak-rak dan lorong terasa akrab, seolah hidupnya memang berputar di jalur yang sama setiap waktu.

Di bagian kasir, Mira berdiri dengan seragam rapi. Wajahnya terlihat jauh lebih segar.

“Mbak Naya,” sapa Mira sambil tersenyum.

Naya membalas senyum itu. “Mira sudah masuk kerja lagi.”

“Iya, Mbak.”

“Kabar Rafi gimana?” tanya Naya sambil meletakkan belanjaannya.

“Alhamdulillah, baik, Mbak. Sekarang sudah sehat sekali.” Senyum Mira melebar. “Sekali lagi terima kasih ya, Mbak. Kalau bukan karena Mbak—”

“Sudah,” potong Naya lembut. “Jangan diulang-ulang. Aku bantu kamu ikhlas.”

Mira terdiam. Matanya berkaca-kaca. “Terima kasih, Mbak,” ucapnya lirih. Air matanya jatuh tanpa bisa ia tahan.

Naya hanya tersenyum tipis. Ia tidak mengatakan apa-apa lagi. Melihat Mira berdiri sendiri, mengurus anak, menanggung hidup tanpa pasangan, ada rasa hangat sekaligus perih yang menekan dadanya.

Setelah membayar, Naya melangkah keluar swalayan. Angin sore menyentuh wajahnya, tapi hatinya terasa kosong.

Tentang anak.

Tentang doa.

Tentang harapan yang belum juga datang.

******

Di kantor, Adit duduk menatap layar laptop tanpa benar-benar membaca isinya. Angka-angka laporan terhampar rapi, namun pikirannya jauh dari ruangan itu.

“Aku sudah periksa.”

“Hasilnya bagus.”

Kalimat itu terus berputar di kepalanya.

Kalau Naya tidak bermasalah…

berarti kemungkinan itu ada padanya.

Adit menyandarkan punggung ke kursi, menekan pelipisnya. Ia mencoba berpikir jernih, namun tiba-tiba sebuah ingatan lama menyeruak tanpa izin.

Malam itu.

Gelap. Panas. Alkohol.

Suara tangisan bercampur amarah.

Tubuh yang meronta.

Tangan yang tidak seharusnya menyentuh.

Adit menegakkan tubuhnya seketika. Napasnya memburu.

Tidak. Jangan ingat itu.

Namun wajah perempuan itu muncul begitu saja—jelas, terlalu jelas. Wajah yang selama ini ia paksa terkubur.

Perempuan itu hamil…

Adit menelan ludah. Dadanya terasa sesak.

Aku sudah menyuruhnya menggugurkan, batinnya cepat, seperti pembelaan yang refleks muncul.

Uang. Ancaman. Jarak. Putus total.

Seharusnya… tidak ada yang tertinggal.

Namun kini, setelah empat tahun pernikahan tanpa anak, pikirannya mulai mengkhianatinya sendiri.

Bagaimana kalau…

bagaimana kalau tidak benar-benar selesai?

Adit bangkit dan berjalan mondar-mandir di ruangannya. Tangannya mengepal. Ketakutan itu bukan tentang orang lain—melainkan tentang kebenaran.

Di rumah, Naya duduk sendirian di ruang tengah. Televisi menyala tanpa ia tonton. Pikirannya kembali pada Mira. Pada Rafi. Pada hidup yang berjalan tanpa suami.

Ada satu hal yang terus mengusiknya.

Wajah Rafi.

Senyum itu. Mata itu. Garis wajah kecil yang terlalu familiar.

Tidak mungkin.

Aku terlalu lelah. Aku terlalu banyak pikiran.

Namun bayangan itu muncul lagi, berimpit dengan senyum Adit yang ia lihat beberapa malam lalu.

Senyum yang… sama.

Naya memejamkan mata. Tangannya meremas ujung bajunya.

Ya Allah, batinnya, tolong jangan biarkan pikiranku sejauh ini.

Di dua tempat berbeda, dua orang yang terikat dalam satu pernikahan sama-sama dilanda kegelisahan. Tidak ada yang saling bercerita. Tidak ada yang berani membuka luka lebih lebar.

Selamat malam readers selamat membaca like komennya dong..

Terimakasih..

1
sherapine
bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!