NovelToon NovelToon
Rasa Yang Tertelan Jalan Terjal

Rasa Yang Tertelan Jalan Terjal

Status: tamat
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Wanita Karir / Anak Genius / Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:29
Nilai: 5
Nama Author: Icha cicha

Seperti kapal yang terombang-ambing di tengah lautan gelap tanpa bintang, hidup Murni melintasi jurang kebingungan saat jalan kuliahnya tiba-tiba terputus seperti tali yang dipotong kasar. Dunia yang dulu dihiasi dengan impian lembaran kertas putih bersih kini berubah menjadi hamparan jalan terjal yang penuh batu tajam dan genangan lumpur. Tanpa ragu, dia memilih merangkul dunia pabrik yang keras – tangan yang dulu memegang pena dengan lembut kini memegang alat berat dan bahan baku kasar, setiap tetes keringatnya menorehkan cerita perjuangan yang tak pernah terucapkan. Hidupnya seperti lautan yang terus bergelombang, menghantam pantai harapan dengan ombak rasa yang tertelan dalam diam.

Di tengah hiruk-pikuk mesin pabrik yang tak pernah berhenti berputar, cinta datang seperti embun pagi yang menyentuh dedaunan kering.

Akankah cinta yang tulus benar-benar ada di jalan yang penuh duri ini, atau hanya ilusi yang akan sirna seperti kabut pagi saat matahari muncul?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Icha cicha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PETIR YANG MENYAMBAR DI TENGAH KETENANGAN

Setelah seminggu penuh dengan hari-hari yang dipenuhi oleh aroma obat dan handuk yang selalu basah dengan air untuk menurunkan panas, tubuh Khem akhirnya pulih seperti tanaman yang kembali hijau setelah disiram hujan. Kulitnya yang tadinya pucat seperti kain kapas kini mulai kembali berwarna seperti tanah yang subur, dan matanya yang biasanya kusam kini bersinar kembali seperti bintang yang muncul setelah badai berlalu. Murni telah menghabiskan setiap menit waktunya merawatnya—dari memasak bubur yang lembut seperti air mata yang murni, hingga membersihkan kamar kostnya yang penuh dengan debu besi dan aroma yang tidak sedap.

Namun sejak dia sembuh, suasana di antara mereka berdua seperti udara sebelum badai datang—kaku, berat, dan penuh dengan ketegangan yang tidak bisa diucapkan dengan kata-kata. Khem sering tidak muncul di taman kecil antara dua pabrik saat jam istirahat, seperti yang mereka lakukan selama ini. Dia selalu bilang ada urusan penting yang harus diselesaikan di pabrik, atau dia harus pergi ke luar kota untuk mengurus sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan jelas. Kadang-kadang Murni melihatnya dari jauh, sedang berbincang dengan rekan kerja nya dengan wajah yang penuh dengan tawa seperti biasanya—namun ketika melihatnya datang, dia langsung berbalik dan pergi dengan cepat seperti orang yang sedang menyembunyikan rahasia.

“Kamu sudah baik-baik saja kan?” tanya Murni pada suatu sore ketika Khem datang ke warung kecil nya dengan wajah yang terlihat lelah seperti orang yang telah bekerja seharian tanpa istirahat. “Kenapa kamu tidak pernah datang menemani aku saat jam istirahat lagi? Aku merindukan waktu kita bersama makan bekal yang aku siapkan.”

Khem menggeleng dengan lembut, mengambil botol air kelapa muda yang ada di atas meja dengan gerakan yang tidak sabar seperti orang yang sedang haus parah. “Aku sudah bilang kan padamu, Murni—ada banyak urusan yang harus aku selesaikan. Jangan terlalu menggangguku ya, aku sudah capek bekerja.”

Kata-katanya seperti batu yang dilempar ke permukaan danau yang tenang—menimbulkan riak-riak kecil yang perlahan menyebar menjadi ombak yang lebih besar. Murni merasa seperti ada jarum yang menusuk hatinya setiap kali melihat wajah Khem yang dingin seperti es batu. “Mengganggumu? Aku hanya ingin tahu bagaimana kabarmu saja, Khem. Aku telah merawatmu dengan sepenuh hati ketika kamu sakit parah, tapi sekarang kamu bahkan tidak mau melihat wajah ku!”

“Jangan membuat masalah yang tidak perlu, Murni!” seru Khem dengan suara yang keras seperti guntur yang menyambar di tengah hari yang cerah. “Aku sudah cukup capek dengan semua urusan ku sendiri—jangan tambahkan beban bagi ku lagi!”

Pertengkaran itu seperti badai yang tiba-tiba melanda tanpa pemberitahuan. Kata-kata yang menusuk seperti panah yang ditembakkan dengan kuat, menghantam hati masing-masing dengan kekuatan yang luar biasa. Murni merasa seperti dunia nya sedang runtuh seperti rumah yang dibangun dari kartu—semua harapan dan cinta yang dia bangun selama ini tiba-tiba hancur berkeping-keping seperti kaca yang jatuh ke lantai.

“Apakah benar kamu telah mengkhianati aku, Khem?” tanya Murni dengan suara yang penuh dengan kesedihan seperti lagu rakyat yang menyayat hati. “Apakah semua cinta yang kamu berikan padaku hanya bohongan belaka? Apakah kamu sudah memiliki wanita lain di kampungmu seperti yang dikatakan Aksa?”

Khem melihatnya dengan mata yang penuh dengan kemarahan dan rasa frustrasi seperti kobaran api yang tidak bisa dipadamkan. “Mengapa kamu mempercayai kata-kata dia ketimbang kata-kataku sendiri? Aksa itu hanya ingin merusak hubungan kita! Aku tidak pernah melakukan apa-apa yang salah padamu!”

Namun ketika dia hendak melanjutkan kata-katanya, suara nada dering ponsel nya terdengar seperti musik yang mengganggu suasana yang sudah penuh dengan ketegangan. Dia melihat layar ponsel dengan wajah yang tiba-tiba menjadi pucat seperti kain putih yang sudah pudar, kemudian dengan cepat mematikan nya tanpa menjawab panggilan tersebut. Murni melihatnya dengan mata yang penuh dengan keraguan yang mendalam seperti jurang yang dalam—dia tahu bahwa ada sesuatu yang Khem sembunyikan darinya.

Sejak saat itu, kehidupan Murni menjadi semakin sulit seperti jalan yang penuh dengan batu dan duri. Khem sering tidak muncul di tempat kerja nya, atau datang terlambat dan pulang lebih awal tanpa memberikan alasan yang jelas. Dia merasa seperti orang yang sedang berjalan di atas awan yang tipis—setiap langkah nya bisa membuat nya jatuh ke dalam jurang yang dalam kapan saja.

Dan untuk membuat segala sesuatunya menjadi lebih menyebalkan, Aksa terus-menerus mengusik nya dengan pesan dan panggilan di media sosial. Foto-foto nya bersama Tenri yang sudah tidak lagi bersama muncul dengan seringnya, dengan caption yang penuh dengan kata-kata yang menyakitkan hati seperti “Lihat ya Murni… kamu sudah ditinggalkan oleh si Khem itu kan? Ayo datanglah padaku saja—aku akan memberikan yang terbaik untukmu!” atau “Kamu terlalu baik untuk seseorang yang mendua padamu. Aku selalu bilang kan padamu bahwa dia bukan orang yang tepat untukmu!”

Murni merasa seperti orang yang sedang terjebak di dalam badai yang tidak pernah berakhir. Hati nya penuh dengan rasa sakit, kecewa, dan keraguan yang tidak bisa dihilangkan dengan mudah. Dia tidak tahu harus berbuat apa lagi—apakah harus terus mempercayai Khem dan menunggu dia untuk menjelaskan semua yang terjadi, ataukah harus mengikuti kata-kata Aksa dan meninggalkan semua yang pernah dia miliki untuk memulai hidup baru.

Di malam hari yang penuh dengan kegelapan dan suara nyanyian cicak yang seperti irama biola yang menyayat hati, Murni duduk di tepi tempat tidur nya dengan foto-foto mereka berdua di tangan. Dia melihat setiap wajah yang penuh dengan senyum dan cinta, merenungkan semua kenangan indah yang pernah mereka lalui bersama. Hatinya berdebar kencang seperti gendang yang sedang dipukul dengan keras, sementara air mata nya mulai menetes perlahan seperti hujan gerimis yang jatuh di atas tanah kering.

 

━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━

Di kamar kost yang sepi seperti hutan yang ditinggalkan oleh semua makhluk hidup, Murni menatap layar ponselnya yang terus menunjukkan pesan “Panggilan Anda telah ditolak”. Dia telah mencoba menghubungi Khem selama berjam-jam—setelah beberapa hari yang lalu nomornya akhirnya dibuka blokir—tapi setiap kali panggilan selalu diabaikan seperti suara yang tidak pernah terdengar. Tangannya yang gemetar seperti daun yang terkena angin kencang terus mengetuk nomor yang sudah dia hafal seperti doa yang selalu diucapkan.

“Kenapa kamu tidak mau menjawab panggilanku, Khem?” bisiknya dengan suara yang pelan seperti embun yang akan menguap ketika terkena matahari. Dia telah pergi ke kost Khem beberapa kali, tapi pintunya selalu terkunci rapat seperti hati yang menutup diri dari dunia luar. Jendela kamar nya tertutup rapat dengan tirai yang kusam seperti kain yang sudah tidak terawat, tidak ada satu pun tanda kehidupan yang terlihat dari dalam.

Saat malam mulai menyelimuti langit dengan kain hitam pekat yang penuh dengan bintang-bintang yang tidak bersinar, suara ketukan pintu yang lembut seperti jari jemari menyentuh permukaan air terdengar di pintu kost Murni. Dia berdiri dengan perlahan, mengusap air mata yang menetes di pipinya, kemudian membuka pintu dengan hati-hati seperti seseorang yang sedang membuka buku yang penuh dengan rahasia.

Di luar berdiri Aksa, mengenakan jas hitam yang licin seperti kulit ular dan dasi merah seperti darah yang mengalir. Wajahnya membawa senyum yang lembut seperti angin pagi, namun matanya menyimpan kilatan yang tidak bisa dipercaya seperti cahaya dari mata api yang tersembunyi.

“Murni… aku melihat kamu dari jauh,” ucapnya dengan suara yang penuh dengan sok kepedulian seperti pelayan yang ingin mendapatkan kepercayaan majikannya. “Kamu terlihat sangat sedih. Apa kamu sudah mencoba menghubungi si Khem itu? Aku tahu dia sudah pergi—dia kembali ke kampungnya untuk menikahi wanita yang di jodohkan orang tuanya.”

Murni merasa seperti ada gumpalan besar yang terjepit di dalam tenggorokannya. Kata-kata Aksa seperti anak panah yang menusuk hati nya dengan kekuatan yang luar biasa. “Itu tidak mungkin… dia tidak akan pergi begitu saja tanpa memberitahuku,” jawabnya dengan suara yang goyah seperti pohon yang akan roboh akibat angin kencang.

“Sayangnya itu adalah kebenaran, Murni,” ucap Aksa dengan suara yang semakin lembut seperti madu yang mengalir. “Aku melihatnya di stasiun kereta kemarin sore—dia sedang membawa koper besar dan wajahnya penuh dengan senyum seperti orang yang akan mendapatkan kebahagiaan yang sesungguhnya. Dia bahkan tidak menyebutkan namamu sedikit pun ketika aku bertanya padanya.”

Rasa sakit yang melanda hati Murni seperti badai yang menghancurkan segala sesuatu yang ada di depannya. Semua harapan dan cinta yang dia simpan untuk Khem tiba-tiba hancur berkeping-keping seperti kaca yang jatuh dari ketinggian. Dia merasa seperti orang yang telah tersesat di tengah gurun yang luas tanpa ada air atau makanan untuk bertahan hidup.

“Jangan sedih begitu saja, Murni,” ucap Aksa dengan tangan nya yang mencoba menyentuh bahu Murni dengan gerakan yang lembut seperti menyentuh bunga yang mudah patah. “Kita bisa pergi ke tempat karaoke favoritmu—tempat di mana kita dulu sering pergi bersama sebelum semua ini terjadi. Biarkan aku menghiburmu, membantumu melupakan semua kesedihan yang kamu rasakan.”

Murni ingin menolaknya, ingin mengusir Aksa keluar dari tempat nya dengan kerasnya seperti orang yang sedang mengusir hama yang mengganggu. Tapi rasa sakit dan kesedihan yang melanda dirinya membuatnya lemah seperti kayu yang sudah lapuk akibat hujan dan panas. Dia merasa seperti seseorang yang sedang tenggelam di tengah lautan yang luas, siap untuk menangkap kayu penyelamat apa pun yang datang menghampirinya—meskipun kayu itu ternyata beracun.

Tanpa berkata apa-apa, dia mengambil jaket tipis nya yang terletak di kursi kayu, kemudian mengikuti Aksa keluar dari kost dengan langkah yang lambat seperti orang yang sedang dalam mimpi buruk. Malam hari yang sepi menyambut mereka dengan suara angin yang berdesir seperti bisikan rahasia dan lampu-lampu jalan yang berkedip seperti mata yang sedang memandang dengan penuh kesusahan.

Ketika mereka tiba di tempat karaoke yang terletak di sudut jalan yang ramai dengan lampu neon berwarna merah dan biru seperti pelangi yang tidak lengkap, aroma rokok dan minuman keras sudah mengapung di udara seperti kabut yang menyelimuti pandangan. Ruangan dalamnya dipenuhi oleh suara musik yang keras seperti guntur dan orang-orang yang sedang bernyanyi dengan suara yang tidak sedap seperti burung yang terkejut.

Aksa membawanya ke sudut ruangan yang lebih tenang, menyewa meja kecil yang dikelilingi oleh kursi sofa yang lembut seperti awan kapas. Dia memesan jus buah segar dan camilan ringan yang biasanya disukai Murni, kemudian menyalakan musik rakyat yang dulu sering mereka dengarkan bersama dengan volume yang rendah seperti bisikan hati.

“Dengar saja musiknya, Murni,” ucap Aksa dengan suara yang penuh dengan perhatian yang dibuat-buat. “Biarkan musiknya membawa kamu jauh dari semua kesedihan yang kamu rasakan. Kamu tidak sendirian—aku akan selalu ada untukmu.”

Murni menutup matanya dengan lembut, merenungkan semua kata-kata yang diucapkan Aksa. Ada bagian dari dirinya yang ingin mempercayainya, ingin menerima bantuan yang dia berikan dan melupakan semua tentang Khem. Tapi ada juga bagian dari dirinya yang tahu bahwa Aksa bukanlah orang yang bisa dipercaya—bahwa semua yang dia lakukan hanya untuk memenuhi keinginannya sendiri, untuk membuat Murni menjadi miliknya tanpa memikirkan perasaan nya.

Hati nya terbagi menjadi dua seperti daun yang terbelah menjadi dua bagian. Dia tidak tahu harus memilih mana—antara kebenaran yang menyakitkan atau kebohongan yang memberikan rasa lega sementara. Sementara itu, musik terus bermain dengan irama yang lambat seperti detak jantung yang lemah, membawa dia jauh dari dunia yang penuh dengan kesedihan dan kebohongan ke dalam dunia yang hanya ada dalam impian dan kenangan.

 

━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━

Hari berikutnya datang dengan langit yang mendung seperti kain yang direndam dalam air gelap. Murni merasa seperti tubuhnya terasa berat seperti batu yang terbenam di dasar laut—setiap langkahnya penuh dengan kelelahan yang mendalam seperti orang yang telah berjalan sejauh mungkin tanpa istirahat. Meskipun hati nya masih penuh dengan keraguan dan rasa sakit, dia merasa perlu untuk kembali ke kost Khem—untuk memastikan apakah kata-kata Aksa benar atau hanya kebohongan yang dibuat-buat untuk merusak hidupnya.

Ketika dia sampai di depan pintu kost Khem, dia merasa ada sesuatu yang berbeda. Pintu yang biasanya terkunci rapat kini terbuka selebar setengah, seperti mulut yang ingin berbicara tapi tidak bisa mengeluarkan suara. Bau alkohol yang kuat seperti air mata yang pahit menyebar keluar dari dalam kamar, bercampur dengan aroma rokok dan keringat yang tidak sedap.

Murni memasuki kamar dengan hati-hati seperti seseorang yang sedang memasuki hutan yang penuh dengan bahaya tersembunyi. Di dalamnya, Khem berbaring tergeletak di atas kasurnya yang berantakan seperti lautan yang dilanda badai. Baju nya kusut seperti kain yang telah digunakan selama berhari-hari tanpa dicuci, rambutnya berantakan seperti semak yang tidak pernah ditata, dan wajahnya merah memerah seperti buah yang terlalu matang akibat mabuk-mabukan.

Ketika dia melihat Murni datang, dia tersenyum dengan wajah yang tidak rata seperti bulan yang purnama yang tertutup awan. “Murni… sayangku… kamu datang untukku ya?” ucapnya dengan suara yang serak seperti daun kering yang terbentang di tanah, kata-katanya tercampur aduk seperti air yang dicampur dengan lumpur. “Aku sudah merindukanmu… aku sudah tidak bisa hidup tanpa kamu.”

Dia mencoba berdiri dengan perlahan, tapi tubuhnya bergoyang seperti pohon yang terkena angin kencang. Dia mencoba menghampiri Murni dengan langkah yang tidak stabil seperti kapal yang berlayar di tengah ombak besar, kemudian mencoba membungkus tangannya di sekitar pinggang Murni dengan gerakan yang kasar seperti orang yang sedang mencari sesuatu yang hilang.

Murni merasa seperti ada sesuatu yang menggelitik di dalam perutnya—rasa jijik yang muncul seperti cacing yang merayap di bawah kulitnya. Khem yang ada di depannya bukanlah orang yang dia kenal—bukanlah lelaki yang selalu menjaganya dengan penuh cinta, yang selalu membantu dia tanpa pamrih, yang selalu membuatnya merasa aman dan dicintai. Yang ada di depannya hanya bayangan dari lelaki itu—suatu sosok yang hancur berkeping-keping akibat alkohol dan kesalahan yang telah dia lakukan.

“Jangan sentuhku, Khem!” seru Murni dengan suara yang penuh dengan kemarahan dan rasa sakit yang mendalam seperti jurang yang dalam. Dia menjauh dari Khem dengan cepat seperti orang yang sedang menghindari ular yang akan menyerang. “Apa yang telah kamu lakukan pada dirimu sendiri? Kamu tidak seperti diri kamu dulu lagi!”

Khem tertawa dengan suara yang kasar seperti gong yang terkena pukulan keras. “Diri ku dulu? Diri ku dulu sudah mati, Murni! Aku telah kehilangan segalanya—orang tuaku yang marah padaku, pekerjaan ku yang mulai terancam karena sering tidak masuk kerja, dan kamu… kamu yang hampir pergi dariku karena kebohongan orang lain!”

Dia mengambil botol alkohol yang terletak di samping kasur dengan tangan yang gemetar seperti daun yang terkena hembusan angin, kemudian meneguknya dengan lahap seperti orang yang sedang haus parah. Cairan bening itu mengalir di bawah dagunya seperti air mata yang pahit, menetes di atas bajunya yang sudah kotor seperti kain yang telah digunakan untuk membersihkan lantai.

“Kamu harus berhenti melakukan ini, Khem!” ucap Murni dengan suara yang penuh dengan kesedihan seperti lagu rakyat yang menyayat hati. Dia mencoba mengambil botol alkohol dari tangan Khem dengan lembut seperti menyentuh anak yang sedang menangis. “Kita bisa menyelesaikan semua masalah ini bersama-sama—kita hanya perlu berbicara dengan jujur satu sama lain!”

Tapi Khem menolak dengan kerasnya seperti orang yang sedang menghindari bantuan yang diberikan padanya. “Jangan kamu campur urus hidup ku lagi, Murni! Aku sudah cukup sakit hati karena kamu yang tidak mempercayai aku! Aksa itu sudah memberitahuku bahwa kamu hampir pergi dengannya—bahwa kamu hampir meninggalkanku untuk lelaki yang selalu mencoba merusak hubungan kita!”

Kata-katanya seperti petir yang menyambar di tengah hari yang cerah—menghantam hati Murni dengan kekuatan yang luar biasa. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana Khem bisa mempercayai kata-kata Aksa ketimbang kata-katanya sendiri. “Itu tidak benar, Khem!” teriaknya dengan suara yang penuh dengan kemarahan dan rasa sakit yang mendalam. “Aksa itu datang padaku dan mencoba membuatku pergi darimu—tapi aku menolaknya! Aku selalu memilih untuk tetap bersama kamu, bahkan ketika semua orang bilang bahwa itu adalah kesalahan yang besar!”

Khem hanya tertawa lagi dengan suara yang menyakitkan hati seperti orang yang sedang gila. Dia kembali meneguk alkohol dari botolnya dengan lahap, kemudian jatuh kembali ke atas kasurnya dengan tubuh yang tidak bisa lagi berdiri tegak. Matanya mulai berat seperti tirai yang akan ditutup, dan suara nya menjadi semakin pelan seperti bisikan yang akan hilang di angin malam.

“Maafkan aku, Murni…” ucapnya dengan suara yang hampir tidak terdengar seperti embun yang menguap ketika terkena matahari. “Aku tidak bisa lagi seperti dulu… aku sudah terlalu banyak melakukan kesalahan.”

Murni melihatnya dengan mata yang penuh dengan kesedihan dan kecewa yang tidak bisa diucapkan dengan kata-kata. Dia ingin membantu Khem, ingin membantunya kembali menjadi orang yang dia kenal dan cintai. Tapi dia tahu bahwa dia tidak bisa melakukannya sendirian—Khem harus mau membantu dirinya sendiri terlebih dahulu.

Dengan hati yang berat seperti batu yang terbenam di dasar laut, dia mengambil handuk bersih dari sudut kamar dan menutupi tubuh Khem yang sudah mulai terlelap dengan lembut seperti menyelimuti anak yang sedang tidur. Dia melihatnya untuk yang terakhir kalinya dengan mata yang penuh dengan cinta dan harapan yang masih belum padam seperti lilin yang terus menyala di tengah kegelapan, kemudian berjalan keluar dari kamar dengan langkah yang lambat seperti orang yang sedang meninggalkan dunia yang pernah dia cintai.

 

...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!