Arunika hanyalah seorang mahasiswi biasa yang dunianya seketika runtuh saat kedua orang tuanya menjodohkannya dengan seorang dosen di kampusnya. Abimana Permana—pria dengan tatapan sedingin es dan sikap datar yang selama ini begitu ia segani.
Sebuah perjodohan paksa mengharuskan Arunika terikat dalam belenggu pernikahan dengan pria itu. Alih-alih menemukan kebahagiaan, ia justru terjebak dalam teka-teki hati sang suami yang sulit ditembus. Akankah kehidupan Arunika membaik setelah menyandang status sebagai istri, ataukah pernikahan ini justru menjadi luka baru yang tak berkesudahan?
Ikuti kisah perjuangan hati dan martabat dalam... "Aku Istrimu, Bukan Dia."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jing_Jing22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26 Menghindar
Sinar matahari pagi menyelinap di celah gorden, memutus mimpi dua orang yang masih bergelung di balik selimut: Arunika dan Abimana.
"Ugh...." lenguhan itu lolos dari bibir Arunika. Kesadarannya terkumpul seketika saat merasakan beban hangat di pinggangnya. Tangan Abimana ada di sana, memeluknya dengan posesif.
"Bisa-bisanya aku setenang ini saat dia memelukku?" gerutunya kesal sembari menepis tangan itu perlahan.
Arunika bergegas turun dari ranjang. Namun, sebelum menjauh, ia sempat berhenti untuk menunjuk wajah pria yang masih memejamkan mata itu.
"Ingat, ya. Aku belum melupakan kebenaran itu. Jangan harap rayuanmu mempan padaku kali ini." Ia menarik napas sejenak, mencoba meredam sesak yang tiba-tiba hadir kembali saat mengingat photo Abimana bersama Claudia.
"Lihat saja nanti. Aku juga bisa mencari yang lebih baik darimu! Huh, merusak moodku di pagi hari saja." dengus Arunika. Dengan langkah kasar, ia melenggang menuju kamar mandi. Ia tak menyadari bahwa di atas tempat tidur, Abimana sebenarnya sudah terbangun dari tidurnya. Pria itu terkekeh pelan. Alih-alih merasa terancam dengan ancaman Arunika, ia justru merasa tertantang.
"Aku tidak akan menyerah, Nika. Sampai kamu sadar kalau aku benar-benar sudah menerima pernikahan ini." bisik Abimana lirih sebelum kembali memejamkan mata.
Di dalam kamar mandi dengan kekesalan yang masih mengganjal di hati. Ia menutup pintu sedikit kasar, melampiaskan rasa jengkelnya.
Lima belas menit berlalu, Arunika telah menyelesaikan ritual mandinya. Ia bergegas bersiap mengenakan pakaian kampus, tak lupa memoles make-up tipis-tipis di wajahnya.
Arunika terpaku sesaat. Sisi tempat tidur di sampingnya sudah kosong dan rapi.
"Ke mana dia?" gumamnya heran. Namun, ia segera menepis rasa ingin tahunya dan melangkah keluar kamar.
Aroma masakan yang menggugah selera langsung menyambut indra penciumannya. Di sana, di balik konter dapur, Abimana tampak sibuk dengan spatula di tangan.
"Pagi, Nika. Sarapan sudah siap." sapa Abimana tanpa mengalihkan pandangan dari piring, lalu menoleh dan memberikan senyum tipis. "Tenang saja, kali ini bukan nasi goreng asin seperti waktu itu. Aku sudah belajar sedikit agar hasilnya layak kita nikmati."
Arunika melangkah mendekat ke arah Abimana. Di atas meja makan, sudah tersedia dua piring omelet dan dua gelas susu.
Arunika masih terdiam. Ia sangat marah pada Abimana, namun menolak pemberian itu terasa tidak sopan, sangat jauh dari didikan ayah dan ibunya yang selalu mengajarkan untuk tetap bersikap santun kepada pasangan dalam keadaan semarah apa pun.
Namun, pikiran Arunika kembali pada realitas yang pahit. Kelakuan Abimana sudah sangat keterlaluan. Jika benar laki-laki itu akan memiliki anak dengan wanita lain, apakah orang tuanya akan tetap menerima menantu pilihan mereka itu?
Dengan langkah mantap, Arunika menatap Abimana tajam.
"Aku tidak lapar." suaranya ketus dengan wajah ditekuk. "Simpan saja perhatianmu ini untuk kekasihmu. Dia lebih butuh sarapan darimu daripada aku."
Tanpa menunggu jawaban, Arunika membalikkan badan dan melangkah pergi, meninggalkan Abimana yang hanya bisa menatap punggungnya dengan kekecewaan yang tak mampu ia ucapkan.
"Tunggu, Nika!" ia menahan langkah istrinya dengan mencengkram pergelangan tangannya pelan.
"Oke, aku mengerti kalau kamu tidak mau sarapan. Tapi tolong, biarkan aku mengantarmu ke kampus hari ini. Aku mohon, Nika." lirih Abimana. Matanya menatap Arunika penuh harap.
Pertahanan Arunika sedikit goyah. Ada ketulusan di mata itu yang sempat menyentuh hatinya. Namun, bayangan pengkhianatan itu kembali muncul, membuat hatinya merasakan sakit seketika.
"Tidak perlu. Aku bisa berangkat sendiri." Ia menepis tangan Abimana lalu menatapnya tajam. "Jangan mendadak peduli hanya karena kamu sedang merasa bersalah. Jika nanti kamu sudah dimaafkan, apa ada jaminan kamu tidak akan mengulanginya lagi?" setelah mengatakan itu Arunika bergegas melangkah pergi, meninggalkan Abimana yang tertohok dengan setiap kalimat yang istrinya ucapkan.
Penolakan Arunika barusan benar-benar menguji kesabaran Abimana.
"Argh, sial!" Abimana mengacak rambutnya frustrasi, menatap pintu lift yang baru saja tertutup dan membawa Arunika pergi. Ia tidak boleh menyerah sekarang.
"Aku akan buktikan kalau aku tidak pernah tidur bersama Claudia, apalagi sampai punya anak, menyentuhnya saja belum pernah."
Di lantai bawah, Arunika melangkah keluar dari lobi dengan napas memburu. Kata-kata manis Abimana tadi masih terngiang, tapi hatinya telanjur kecewa.
"Kamu pikir semudah itu? Hanya dengan sedikit perhatian lalu semua selesai?" gerutunya pada udara kosong. "Tidak akan, Abimana. Dasar laki-laki tidak punya pendirian!"
Arunika melangkah menuju basement. Hari ini ia ingin menyetir sendiri, tanpa ada bayang-bayang Abimana yang mengusik. Ia segera masuk ke dalam mobil dan melaju, meninggalkan area apartemen dengan deru mesin yang tenang.
Mobilnya membelah hiruk-pikuk kota yang mulai sibuk. Namun, pandangannya terhenti pada sesosok wanita tua renta di pinggir jalan. Wanita itu menggenggam tongkat kayu dengan gemetar, tampak bingung mencari celah di tengah arus kendaraan yang seolah tak mau berhenti.
Rasa iba seketika menggeser kekesalannya. Arunika menepikan mobil, lalu bergegas turun menghampiri wanita itu.
"Nek, mari saya bantu menyeberang." tawar Arunika lembut sambil meraih lengan si nenek.
"Terima kasih banyak, Nak. Kamu baik sekali mau membantu nenek tua ini." senyum tulus tersungging di wajah keriputnya.
Arunika membalas senyum itu lebih tulus. "Sama-sama, Nek. Tadi kebetulan saya melihat Nenek kesulitan."
Tak jauh dari sana, seorang laki-laki yang tengah bersandar di atas motor sport hitamnya mengamati dalam diam. Helm full face yang masih bertengger di kepalanya tidak bisa menyembunyikan binar matanya saat melihat aksi Arunika.
Ia tersenyum tipis, merasa kagum melihat ada orang yang mau turun dari mobil di tengah kemacetan hanya untuk menolong seorang nenek tua.
"Menarik." senyumnya semakin lebar sebelum ia menyalakan mesin motor yang menderu.
Usai memastikan si nenek aman, Arunika segera kembali ke balik kemudi dan melajukan mobilnya menuju kampus.
Lima belas menit kemudian, ia sudah memarkirkan kendaraannya dengan rapi.
Namun, tanpa Arunika sadari, di sudut lain area parkir, laki-laki bermotor sport tadi sudah memperhatikannya. Laki-laki itu masih duduk di atas motor, seolah sengaja menunggu untuk memastikan sesuatu.
"Sebuah kebetulan yang tak terduga... ternyata wanita itu juga berada di kampus ini." matanya sedikit menyipit, mengikuti setiap gerak-gerik Arunika yang mulai melangkah menjauh, tanpa sekalipun mengalihkan pandangannya.