Sepuluh tahun yang lalu, sebuah ledakan di tepi Sungai Adige menghancurkan kejayaan keluarga Moretti dan meninggalkan Elena Moretti sebagai satu-satunya pewaris yang menanggung noda pengkhianatan. Kini, Elena kembali ke Verona bukan untuk menuntut warisan, melainkan untuk mengubur masa lalunya selamanya.
Namun, Verona tidak pernah melupakan.
Langkah Elena terhenti oleh Matteo Valenti, pria yang kini merajai langit Verona. Matteo bukan lagi pemuda yang dulu pernah memberikan mawar di balkon rumahnya; ia telah berubah menjadi sosok berdarah dingin yang memimpin bisnis gelap di balik kemegahan kota kuno itu. Bagi Matteo, kembalinya Elena adalah kesempatan untuk menuntaskan dendam keluarganya.
Elena dipaksa masuk ke dalam kehidupan Matteo—sebuah dunia yang penuh dengan aturan tanpa ampun, pertemuan rahasia di gedung opera, dan darah yang tumpah di atas batu jalanan yang licin. Namun, saat "gema" dari masa lalu mulai mengungkap kebenaran yang berbeda tentang kematian orang tua mereka,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SHEENA My, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pelarian di Atas Gletser
Udara malam di Zurich terasa seperti pisau yang mengiris paru-paru. Elena dan Matteo berlari menembus taman Dolder Grand yang luas, menghindari lampu sorot yang mulai menyapu permukaan salju dari arah helipad hotel. Di belakang mereka, suara sirine khas keamanan Swiss mulai meraung, memecah kesunyian malam yang seharusnya elit dan tenang. Karl Vogel mungkin sudah terpojok di ruang kerjanya, namun perintahnya untuk menangkap "pasangan Rossi" telah tersebar ke seluruh jaringan keamanan kota.
"Ke arah dermaga, Elena!" Matteo menarik tangan Elena, membimbingnya menuruni lereng bukit yang licin. "Luca sudah membajak sistem navigasi kapal feri otomatis di danau. Itu satu-satunya jalan keluar sebelum mereka memblokir seluruh jembatan di pusat kota."
Elena merasakan adrenalinnya memuncak. Di tangan kiri, ia masih menggenggam erat tablet yang berisi data "Proyek Albatros". Maksud dari pelarian ini bukan sekadar menyelamatkan nyawa, melainkan mengamankan satu-satunya bukti yang bisa menghancurkan konspirasi global yang menyeret nama ayahnya. Setiap langkah di atas salju yang tebal terasa berat, namun kehadiran Matteo di sampingnya memberikan kekuatan yang melampaui batas fisik.
Tiba-tiba, suara dengungan peluru yang dilengkapi peredam suara memecah udara. Puff! Puff! Salju di dekat kaki Elena mencuat ke atas.
"Penembak jitu di balkon lantai tiga!" Matteo segera berbalik, melepaskan dua tembakan balasan dari pistol Glock-nya tanpa berhenti berlari. "Jangan melambat, Elena! Teruslah bergerak zig-zag!"
Mereka mencapai tepian Danau Zurich tepat saat sebuah kapal feri kecil tanpa awak mulai bergerak menjauhi dermaga. Matteo melompat lebih dulu, lalu menangkap tubuh Elena saat wanita itu meluncur ke arah dek kapal. Kapal itu melaju membelah air danau yang hitam dan sedingin es, meninggalkan bayang-bayang pengejar mereka di daratan.
Di dalam kabin kapal yang temaram, Elena segera membuka tabletnya. Layar digital itu menampilkan peta genetika kompleks dan dokumen-dokumen bertahun 1990-an yang mencantumkan logo Moretti Pharmaceuticals berdampingan dengan lambang rahasia militer.
"Albatros bukan sekadar senjata, Matteo," bisik Elena, matanya bergerak cepat membaca baris-baris kode. "Ini adalah eksperimen pengeditan genetik yang gagal. Ayahku... dia mencoba menghentikan pendanaannya ketika dia menyadari bahwa Dewan Tujuh ingin menjual formula ini kepada rezim otoriter. Dia bukan pengkhianat; dia adalah seorang pelindung yang dikhianati oleh sistemnya sendiri."
Matteo duduk di samping Elena, mengawasi kegelapan danau melalui jendela kecil. "Dan sekarang kita membawa beban yang sama. Vogel tidak akan berhenti sampai kita hancur. Jenewa adalah sarang mereka, Elena. Pergi ke sana sama saja dengan masuk ke mulut singa."
"Justru itu," Elena menatap Matteo dengan tegas. "Di Jenewa terdapat pusat data fisik 'The Vault'. Jika data di tablet ini adalah kuncinya, maka di sana adalah pintunya. Kita harus membuktikan kepada dunia bahwa Moretti bukan nama seorang penjahat."
Matteo menghela napas, lalu ia meraih tangan Elena, mengunci jemari mereka. "Maka kita akan melakukannya dengan cara kita. Tidak ada lagi penyamaran sebagai pasangan Rossi. Kita masuk sebagai diri kita sendiri. Biarkan mereka tahu bahwa Moretti dan Valenti telah datang untuk menagih hutang masa lalu."
Perjalanan dari Zurich menuju Jenewa ditempuh melalui jalur kereta api barang untuk menghindari pemeriksaan ketat di stasiun utama. Di dalam gerbong yang penuh dengan peti kayu, Elena dan Matteo duduk berdekatan, saling berbagi kehangatan di tengah udara pegunungan Alpen yang menusuk.
Dalam kegelapan gerbong yang bergoyang, Matteo mengeluarkan sebuah pisau lipat kecil dan mulai mengukir sesuatu di dinding kayu gerbong. "Kau tahu, saat kita kecil, aku pernah berjanji pada ayahmu bahwa aku akan selalu memastikan kau tersenyum. Malam ini, aku merasa telah gagal total."
Elena menyandarkan kepalanya di bahu Matteo. "Kau tidak gagal, Matteo. Kau memberiku alasan untuk melawan. Tanpamu, aku mungkin sudah menyerah di Poveglia atau Roma. Tersenyum adalah hal mudah jika dunia sedang baik-baik saja, tapi tetap berdiri tegak di tengah badai... itu hanya bisa aku lakukan karena kau ada di sampingku."
Matteo berhenti mengukir. Ia menatap Elena, lalu mengecup puncak kepalanya. "Setelah Jenewa selesai, aku bersumpah kita akan pergi ke tempat di mana salju hanya ada di dalam gelas minuman kita. Bukan di bawah kaki kita saat sedang melarikan diri."
Elena tersenyum tulus. Maksud dari percakapan ini adalah untuk menjaga kewarasan mereka di tengah kegilaan yang mereka hadapi. Mereka adalah dua pejuang yang sedang jatuh cinta, mencoba mencari celah untuk hidup normal di antara dentuman peluru dan konspirasi internasional.
Saat fajar mulai menyingsing di cakrawala Jenewa, kereta melambat di pinggiran kota. Mereka melompat turun di dekat distrik industri. Namun, kejutan lain telah menunggu mereka.
Marco mengirimkan pesan suara singkat melalui frekuensi darurat: "Elena, Matteo... identitas kalian sudah dikompromikan di tingkat Interpol. Karl Vogel telah mengeluarkan 'Red Notice' palsu atas nama kalian berdua. Kalian sekarang adalah buronan internasional paling dicari. Jangan percaya pada siapa pun di Jenewa, bahkan pada polisi sekalipun."
Elena menatap Matteo. Skala permainan telah meningkat. Mereka bukan lagi sekadar melawan mafia atau pengacara korup; mereka kini melawan hukum dunia yang telah dimanipulasi oleh tangan-tangan gelap.
"Interpol?" Matteo tertawa sinis sambil memeriksa magasin senjatanya. "Sepertinya kita memang sudah menjadi sangat terkenal sekarang."
"Ini justru memudahkan kita," ucap Elena sambil mengenakan tudung jaketnya. "Jika seluruh dunia mencari kita, maka kita tidak perlu lagi bersembunyi. Kita akan langsung menuju pintu depan mereka."
Mereka berdiri di sebuah bukit yang menghadap ke arah Istana Bangsa-Bangsa di Jenewa. Di suatu tempat di bawah jalanan kota yang rapi itu, rahasia "Albatros" sedang menunggu untuk diledakkan. Elena Moretti dan Matteo Valenti kini memulai babak yang paling berbahaya: menjadi musuh publik nomor satu demi mengungkap kebenaran yang akan menyelamatkan jutaan nyawa.
Perjalanan menuju Jenewa bukan lagi soal pelarian, tapi soal sebuah invasi. Dan di bawah langit Swiss yang dingin, dua bayang-bayang dari Verona itu mulai bergerak, siap untuk meruntuhkan tembok-tembok kebohongan yang telah dibangun selama tiga dekade.