NovelToon NovelToon
Istri Cerdik Pak Kades

Istri Cerdik Pak Kades

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan
Popularitas:8.3k
Nilai: 5
Nama Author: habbah

Arum, seorang sarjana ekonomi yang cerdas dan taktis, terpaksa menikah dengan Baskara, Kepala Desa muda yang idealis namun terlalu kaku. Di balik ketenangan Desa Makmur Jaya, tersimpan carut-marut birokrasi, manipulasi dana desa oleh perangkat yang culas, hingga jeratan tengkulak yang mencekik petani.

Baskara sering kali terjebak dalam politik "muka dua" bawahannya. Arum tidak tinggal diam. Dengan kecerdikan mengolah data, memanfaatkan jaringan gosip ibu-ibu PKK sebagai intelijen, dan strategi ekonomi yang berani, ia mulai membersihkan desa dari para parasit. Sambil menata desa, Arum juga harus menata hatinya untuk memenangkan cinta Baskara di tengah gangguan mantan kekasih dan tekanan mertua.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon habbah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21: Audit Sang Guru

Debu dari runtuhnya tambang bawah tanah masih menyelimuti pakaian Arum, namun dinginnya pengkhianatan di layar laptopnya terasa jauh lebih menyesakkan. Nama yang muncul di daftar pemegang saham rahasia "Aset No. 05" adalah Drs. Haris Sudjatmiko.

Haris bukan orang sembarangan. Ia adalah "Bapak Lingkungan Hidup" Indonesia, peraih penghargaan internasional, dan mentor yang memberikan pidato di hari pelantikan Navasari Institute. Bagi dunia, dia adalah cahaya; bagi data Arum, dia adalah bayangan yang mengarahkan tangan-tangan korporat.

"Bu Arum, tidak mungkin Pak Haris terlibat," bisik Jaka yang ikut mendampingi ke Kalimantan. "Dia yang mengajari kami cara memetakan hutan ini."

"Itu taktiknya, Jaka," Arum menyeka jelaga di pipinya. "Dia mengajari warga memetakan hutan agar dia tahu persis di mana titik mineral yang paling berharga, lalu dia menjual informasi itu pada Adrian. Dia mengaudit untuk mencuri, bukan untuk menjaga."

Arum segera menghubungi Baskara. "Mas, jangan biarkan Pak Haris meninggalkan Jakarta. Dia dijadwalkan mengisi seminar di kementerian sore ini. Amankan semua arsip di kantor yayasannya, tapi lakukan dengan senyap. Jangan sampai dia tahu kita sudah memegang 'buku besar' dari Kalimantan."

Arum tiba di Jakarta saat hujan badai mengguyur ibu kota. Ia langsung menuju hotel tempat seminar nasional lingkungan berlangsung. Di sana, Haris Sudjatmiko sedang berdiri di podium, berbicara dengan penuh karisma tentang "Etika Ekologi" di depan ratusan pejabat dan aktivis.

Arum masuk ke ruangan, berjalan pelan di lorong tengah. Kehadirannya yang kotor dan penuh debu kontras dengan kemewahan ruangan itu. Haris menghentikan pidatonya, menatap Arum dengan senyum kebapakan yang kini tampak seperti topeng porselen.

"Arum? Anakku? Kau tampak kacau. Apa yang terjadi di pedalaman?" tanya Haris dengan nada cemas yang dibuat-buat.

Arum tidak berhenti sampai ia berdiri tepat di depan podium. Ia mengeluarkan sebuah pemutar audio dan menghubungkannya ke sistem suara ruangan.

"Saya baru saja kembali dari 'Aset No. 05', Pak Haris," ujar Arum, suaranya menggema dingin. "Saya menemukan sebuah audit yang belum selesai. Audit tentang nurani seorang guru."

Arum menekan tombol play. Suara rekaman percakapan Adrian dan Haris di dalam terowongan tambang seminggu lalu yang berhasil dipulihkan Arum dari hard drive yang rusak memenuhi ruangan.

"Jangan khawatir, Adrian. Warga Dayak itu mempercayaiku. Aku akan mengarahkan mereka untuk memprotes di sisi Utara, sehingga kau bisa leluasa mengeruk sisi Selatan tanpa gangguan. Pastikan saja persentase yayasanku masuk tepat waktu."

Seluruh ruangan mendadak sunyi. Wajah Haris yang tadinya merah karena semangat, kini pucat pasi. Ia mencoba meraih mikrofon, namun Arum lebih cepat.

"Tuan-tuan dan Puan-puan," Arum menatap audiens. "Etika ekologi yang dibicarakan pria ini hanyalah harga untuk menutupi lubang raksasa di Kalimantan. Dia menggunakan ilmu audit kita untuk membangun benteng kebohongan."

"Ini fitnah! Rekaman itu bisa direkayasa!" teriak Haris, suaranya mulai melengking panik.

"Mungkin rekaman bisa direkayasa, tapi Aliran Dana Kripto tidak," Arum menampilkan grafik transaksi blockchain di layar besar aula. "Dana dari Adrian dikirim ke akun anonim yang kuncinya ditemukan di brankas tambang tadi pagi. Akun itu terdaftar atas nama istri simpanan Anda di Singapura, Pak Haris. Auditor tidak pernah berhenti pada satu bukti."

Polisi dari Satgas Pemberantasan Mafia Tambang masuk ke aula. Haris mencoba lari melalui pintu belakang panggung, namun ia langsung dihadang oleh Baskara dan tim Navasari.

"Audit Anda ditutup hari ini, Pak Haris," ujar Baskara sambil menunjukkan surat perintah penangkapan.

Saat Haris digiring keluar, ia berpapasan dengan Arum. "Kau pikir kau menang, Arum? Dunia ini terlalu kotor untuk orang yang terlalu jujur sepertimu. Setelah aku, akan ada guru-guru lain yang lebih licin."

Arum menatap mantan mentornya itu dengan iba. "Mungkin. Tapi setiap kali mereka muncul, saya akan ada di sana. Karena sekarang, saya bukan lagi murid Anda. Saya adalah pemeriksa Anda."

Setelah ruangan itu kosong, Arum terduduk di kursi baris depan. Ia merasa sangat lelah. Baskara mendekatinya dan memberikan sebotol air.

"Sudah berakhir, Rum?"

Arum menggeleng pelan. "Aset No. 05 adalah puncak gunung es, Mas. Masih ada sisa-sisa di daftar itu. Tapi setidaknya, untuk malam ini, hutan Kalimantan bisa bernapas."

Ponsel Arum bergetar. Sebuah pesan dari nomor anonim—lagi. Kali ini pesannya sangat pendek:

"Kau baru saja membuka kotak Pandora yang sebenarnya. Selamat datang di liga utama. — Aset No. 01."

Aula yang tadinya megah itu kini terasa mencekam. Meskipun Haris Sudjatmiko sudah digiring keluar oleh petugas, gema suaranya yang menuduh Arum "terlalu jujur" masih memantul di dinding-dinding marmer. Para peserta seminar—pejabat tinggi, aktivis, hingga jurnalis—berdiri mematung, menatap Arum seolah ia adalah malaikat maut bagi reputasi siapapun yang memiliki rahasia kotor.

Baskara mendekati Arum, memberikan jaketnya untuk menutupi kemeja Arum yang masih bernoda tanah Kalimantan. "Rum, pesan dari 'Aset No. 01' itu... kau tahu artinya?"

Arum menatap layar ponselnya yang masih menyala. Angka '01' itu seolah mengejeknya. "Dalam setiap audit sistemik, Mas, nomor satu bukanlah urutan waktu. Itu adalah pusat kendali. Root directory. Jika Darmono adalah operator dan Haris adalah fasilitator, maka '01' adalah pemilik izin dari semua izin."

Arum kembali ke meja podium yang kini kosong. Ia membuka laptopnya dan menarik data dari hard drive yang ia curi di hutan lindung. Ia tidak melihat daftar nama lagi. Kali ini, ia mencari "Algoritma Pengalokasian".

"Lihat ini, Mas," Arum menunjuk pada baris kode yang sangat rapi. "Ini bukan sekadar korupsi manual. Ini adalah sistem otomatis yang membagi persentase keuntungan mineral ke berbagai rekening yayasan, partai politik, dan dana pensiun pejabat secara otomatis setiap kali ada satu ton mineral yang terjual. Mereka mengaudit korupsi mereka sendiri agar tetap 'seimbang' dan tidak terdeteksi oleh PPATK."

"Arsitek sistem ini pasti orang yang sangat jenius," gumam Baskara ngeri.

"Atau orang yang sangat berkuasa hingga bisa mendikte sistem perbankan kita," balas Arum.

Tiba-tiba, lampu aula padam. Bukan karena gangguan teknis, melainkan sebuah pemadaman terencana. Pintu-pintu aula terkunci secara otomatis. Di layar besar yang tadinya menampilkan data korupsi Haris, kini muncul sebuah simbol grafis sederhana: sebuah timbangan yang tidak seimbang.

Sebuah suara terdistorsi muncul dari pengeras suara, memenuhi ruangan yang gelap.

"Selamat, Arum. Kau telah membedah anatomi korupsi ini dengan sangat cantik. Namun, kau lupa satu hukum dasar audit: Jika kau menghapus satu entitas besar tanpa menyiapkan penggantinya, kau hanya akan menciptakan kekosongan kekuasaan yang lebih berdarah."

"Siapa kau?!" teriak Arum ke arah kegelapan.

"Aku adalah penjaga keseimbangan. Penambangan di Kalimantan, lithium di Navasari, nikel di Muara Biru... itu semua adalah baterai yang menjalankan negeri ini. Kau mungkin menganggapnya kejahatan, tapi bagi kami, itu adalah biaya pertumbuhan. Sekarang, kau punya dua pilihan."

Layar menampilkan dua dokumen digital.

"Dokumen pertama: Pengangkatanmu sebagai Menteri Pengawas Sumber Daya Alam dengan kekuasaan mutlak. Kau bisa membersihkan sistem ini dari dalam, perlahan, sesuai caramu. Dokumen kedua: Surat perintah penangkapan Baskara atas tuduhan penggelapan dana desa yang sudah kami 'siapkan' bukti-buktinya sejak tahun lalu."

Baskara tersentak, wajahnya mengeras. "Rum, jangan dengarkan mereka. Itu fitnah!"

"Mereka sudah merencanakan ini sejak kita masih di Navasari," bisik Arum, tangannya gemetar. Arum menyadari bahwa "Aset No. 01" tidak ingin membunuhnya. Mereka ingin mengaudit integritasnya. Mereka ingin tahu, apakah Arum bisa dibeli dengan kekuasaan, atau dihancurkan melalui orang yang paling ia cintai.

Arum berdiri tegak di tengah kegelapan aula. Ia memejamkan mata, memanggil kembali ingatan tentang wajah Jaka di Muara Biru, Pak Luhat di Kalimantan, dan warga Navasari.

"Audit saya tidak mengenal kompromi," suara Arum terdengar jernih di tengah kegelapan. "Jika kalian mengancam suami saya dengan bukti palsu, maka saya akan mengaudit setiap helai kertas di kantor kepresidenan sampai saya menemukan siapa yang memegang pulpen untuk memalsukannya. Saya tidak memilih dokumen manapun. Saya memilih pilihan ketiga."

"Pilihan apa?!" suara dari speaker itu terdengar mulai kehilangan ketenangannya.

"Pilihan untuk meruntuhkan seluruh gedung ini bersama isinya," Arum menekan satu tombol di laptopnya. "Saya baru saja mengunggah kunci enkripsi 'Aset No. 01' ke jaringan Open Source global. Mulai detik ini, setiap auditor di seluruh dunia bisa melihat apa yang kalian sembunyikan. Kalian tidak bisa lagi bernegosiasi dengan saya, karena sekarang, seluruh dunia adalah pemeriksa kalian."

Lampu aula mendadak menyala kembali. Pintu-pintu terbuka. Namun, sosok di balik suara itu tetap misterius. Arum tahu, ia baru saja membakar jembatan untuk kembali ke kehidupan normal.

Baskara memeluk Arum. "Kau baru saja menyatakan perang pada seluruh sistem, Rum."

"Bukan perang, Mas," Arum menyeka air mata di sudut matanya. "Hanya audit total. Dan kali ini, tidak akan ada yang bisa lolos dari opini Disclaimer."

1
Ris Tanti
seperti sebuah kisah nyata..
Wanita Aries
keren thor
Wanita Aries
seruu dan menegangkan
Wanita Aries
keren thorr
Wanita Aries
seruuu thor
Wanita Aries
mampir thorrr
Chelviana Poethree
ijin mampir thor
piah
bagus ..
menegangkan ..
Agustina Fauzan
ceritanya seru dan d
Agustina Fauzan
ceritanya seruuu...tegang...

lanjut thor..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!