Akibat ledakan di laboratorium, Jenara terbangun menjadi ibu tiri jahat di sebuah desa kerajaan Campa. Ia adalah wanita yang dibenci warga, ditakuti tiga anak tiri, dan akan ditinggalkan oleh suaminya.
Jenara menolak akhir itu.
Dengan pengetahuan sebagai peneliti bahan pangan sekaligus kemampuan memasaknya, Jenara membuat anak-anak dan para orang tua menjadi lebih sehat.
Perlahan, warga yang membencinya mulai bergantung padanya.
Tiga anak tiri yang ketakutan mulai memanggilnya Ibu.
Dan, saat kemampuannya menarik perhatian istana, rahasia terbesar pun terbongkar. Suami tampan yang selalu menjaga jarak itu bukanlah peternak desa biasa, melainkan sosok yang tak ia sangka.
Mampukah Jenara mengubah takdir ibu tiri jahat menjadi akhir bahagia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ICHA Lauren, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penyusup di Malam Hari
Begitu langkah Ranisya dan ibunya menghilang di balik pintu, Jenara segera menutup daun pintu kayu itu rapat-rapat. Palang bambu ia pasang kembali dengan tangan yang masih bergetar.
Barulah saat itu, Jenara bisa menghela napas panjang. Namun belum sempat ia menenangkan diri, matanya menangkap pemandangan yang membuat dadanya kembali sesak.
Tiga anak kecil itu—Giri, Gatra, dan Gita—masih berdiri berdekatan di sudut ruang tengah. Tubuh mereka gemetar. Bahu kecil mereka saling bersentuhan, seakan hanya dengan begitu mereka bisa merasa aman.
Begitu Jenara melangkah mendekat, ketiganya refleks mundur. Punggung mereka merapat ke dinding anyaman bambu. Mata mereka membesar, penuh kewaspadaan dan ketakutan yang belum sempat padam.
Jenara langsung berhenti melangkah. Ia mengangkat kedua tangannya perlahan, membentuk isyarat janji kepada mereka.
“Kalian jangan takut. Ibu tidak akan menjual Gita," ucapnya pelan, suaranya diturunkan serendah mungkin.
“Ibu juga tidak akan berbuat kasar pada kalian lagi. Kalian… boleh percaya pada Ibu.”
Tidak ada jawaban. Tidak ada anggukan, tidak pula penolakan.
Ketiganya hanya diam. Mata mereka menatap Jenara dengan hampa, seolah janji tersebut belum mampu menembus tembok ketakutan yang sudah terbangun terlalu lama.
Jenara menelan ludah. Ia tahu kepercayaan tidak lahir dari ucapan, melainkan tindakan.
“Sekarang kalian harus mandi,” kata Jenara memutus kesunyian. “Tunggu di sini. Ibu akan ambilkan baju dan air bersih untuk kalian.”
Dalam ingatan pemilik tubuh asli, Jenara tahu bahwa rumah ini hanya memiliki dua kamar. Satu kamar milik suami istri, dan satu lagi milik anak-anak.
Jenara menyusuri lorong sempit menuju bagian dalam rumah. Ia membuka pintu kayu yang sedikit berderit.
Di dalam kamar itu terdapat tiga tempat tidur kecil dari kayu kasar. Rangkanya sederhana, tanpa ukiran, hanya papan-papan yang disatukan dengan pasak kayu. Alas tidurnya berupa tikar anyaman pandan yang sudah menipis di beberapa bagian.
Tempat tidur itu berjajar rapat, seolah sengaja didekatkan agar ketiganya bisa tidur saling berdekatan.
Jenara berdiri terdiam cukup lama. Ini benar kamar anak-anak.
Tanpa membuang waktu, ia membuka peti kayu kecil di sudut kamar. Begitu tutupnya terangkat, hatinya langsung mencelos.
Pakaian-pakaian di dalamnya kusut, berbau apek, dan sebagian besar penuh noda. Ada yang robek di bagian lengan, ada yang berlubang di punggung, ada pula yang warnanya sudah pudar entah sejak kapan. Tidak ada satu pun yang tampak benar-benar layak.
Jenara menggenggam kain itu perlahan. Dadanya terasa nyeri.
Beruntung, setelah ia memilah dengan teliti, masing-masing anak masih memiliki satu pakaian bersih yang masih bisa dipakai.
Jenara mengambil ketiganya sambil bergumam. "Setelah ini, aku akan bekerja supaya bisa membelikan mereka baju."
Ia kembali ke ruang tengah dan menyerahkan pakaian itu satu per satu.
“Sekarang mandi, dimulai dari Gita dulu. Setelah itu Gatra. Terakhir Giri," atur Jenara.
Gita menerima bajunya dengan tangan kecil yang ragu. Gadis kecil itu menatap Jenara sekilas, lalu berbalik dan berjalan ke arah bilik mandi di samping rumah.
Jenara pun berdiri di dekat pintu bilik mandi, berjaga. Tak lama kemudian, Gita keluar. Rambutnya basah, pipinya memerah karena dingin.
“Sekarang giliran Gatra," kata Jenara tersenyum kecil.
Gatra masuk, tetapi beberapa detik kemudian ia keluar lagi. Bocah itu menunjuk ke arah gentong air di samping bilik mandi.
Kosong.
Jenara terdiam sesaat, lalu mengangguk mengerti.
“Ibu ambilkan air.”
Tanpa pikir panjang, ia berjalan menuju sumur di belakang rumah. Sumur itu sederhana, dindingnya dari batu, dengan timba dan tali kasar tergantung di atasnya.
Jenara menatap sumur itu dengan ragu.
Di dunia modern, ia tinggal memutar keran maka air mengalir dengan sendirinya. Ia tak pernah benar-benar memikirkan dari mana air itu berasal. Namun, sekarang ia harus menimba.
Jenara menarik napas, menggenggam timba, lalu melemparkannya ke dalam sumur.
Cesss.
Ia menarik tali dengan susah payah. Otot lengannya langsung terasa tertarik dan bahunya nyeri.
“Aduh, berat sekali,” gumamnya.
Percobaan pertama gagal, timba miring dan air tumpah. Percobaan kedua pun hampir sama. Baru pada percobaan ketiga, timba itu berhasil terangkat penuh.
Jenara terengah-engah. “Aku harus lebih menghargai air setelah ini,” keluhnya kepayahan.
Dengan langkah tertatih, Jenara mengangkat ember itu menuju gentong. Air tumpah sedikit di sepanjang jalan, tetapi akhirnya gentong itu terisi cukup.
Gatra menatapnya dengan mata terbelalak. Seolah tak percaya Jenara mau melakukan semua itu sendiri.
“Gatra, giliranmu mandi,” panggilnya.
Bocah itu akhirnya masuk ke bilik mandi. Setelah Gatra selesai, giliran Giri.
Terpaksa, Jenara kembali menimba air. Tangan dan kakinya mulai gemetar karena lelah, punggungnya terasa seperti ditusuk-tusuk rasa sakit. Namun ia tetap harus menimba air, karena tidak ada siapapun yang bisa dimintai tolong.
Terakhir, giliran Jenara sendiri yang mandi. Ia pun membersihkan diri dengan cepat. Air dingin menyentuh kulitnya yang sudah kelelahan.
Begitu selesai, kaki Jenara terasa lemas seperti jelly. Tangannya pegal luar biasa. Apalagi, bekas pukulan tongkat kayu di punggungnya kembali berdenyut nyeri.
Ia hampir terjatuh ketika melangkah keluar. Dengan wajah pucat, Jenara kembali ke ruang tengah.
“3G…” katanya lemah. “Ibu mau tidur dulu. Rasanya mau pingsan. Kalian juga tidur, ya.”
Tanpa menunggu jawaban, Jenara berjalan menuju kamar. Langkahnya gontai, kepalanya pening, tubuhnya nyaris tak punya tenaga.
Begitu tubuhnya menyentuh alas tidur kayu itu, Jenara langsung menjatuhkan tubuhnya. Tidak empuk sama sekali. Bahkan, tiap seratnya terasa menusuk, hingga rasa nyeri di punggung Jenara menjalar tajam.
“Ah…” desisnya lirih.
Jenara mengerang pelan, lalu memutuskan berbaring miring. Ia menekuk lutut sedikit untuk mengurangi tekanan di punggung.
“Besok pasti memar,” gumamnya lelah.
Pandangan Jenara menyapu kamar sederhana itu. Dinding bambu, lampu minyak di sudut, dan ia melihat sebuah botol kaca kecil di dekat rak kayu.
Jenara meraih botol itu. Tutupnya ia buka lantas ia dekatkan ke hidung. Aroma khas langsung menyeruak memenuhi indra penciumannya.
“Ini minyak urut," gumam Jenara lega.
Tanpa banyak pikir, Jenara membuka baju luarnya, menyisakan hanya dalaman tipis. Ia menuangkan sedikit minyak ke telapak tangan, dan mulai mengoleskannya ke lengan yang sejak tadi terasa pegal.
Ia mengusap perlahan, lantas mencoba memutar bahu agar bisa menjangkau punggung sendiri.
Namun tiba-tiba—
KREAAK.
Pintu kamar terbuka.
Belum sempat Jenara bereaksi, sesosok pria tinggi dan tegap sudah berdiri di ambang pintu. Dengan matanya yang tajam, pria itu menatap Jenara tanpa berkedip
Lampu minyak memantulkan cahaya ke kulitnya yang tampak basah oleh keringat perjalanan. Napas pria itu berat, seolah baru menempuh perjalanan jauh.
Seketika, Jenara menjerit panik. Entah mengapa ada pria yang menyelinap ke kamarnya di kala ia hanya mengenakan dalaman tipis.
“AAAAA! Tolong, ada penjahat!"
Ia refleks meraih botol minyak dan mengacungkannya dengan tangan gemetar.
“Keluar kau! Atau kupukul kau pakai botol minyak ini!”
Namun alih-alih mundur, pria itu justru melangkah masuk.
Satu langkah.
Dua langkah.
“Jangan mendekat!” suara Jenara bergetar. “Aku serius! Aku akan memukulmu.
Pria itu tidak berhenti.
Dalam satu gerakan cepat, ia sudah berada di depan Jenara. Dan, sebelum Jenara sempat menjerit lagi, tangannya terulur dan membungkam mulut wanita itu.
mau punya ruang Wiji juga lah 🙏🙏🙏