Setelah dokumentasi ekspedisi mereka melesat ke permukaan dan menjadi perbincangan dunia, nama "Gautama Family" bukan lagi sekadar nama keluarga biasa.
Mereka kini menjadi tujuan akhir bagi mereka yang sukmanya tersesat di tempat-tempat yang tidak bisa dijangkau oleh akal manusia.
Kelahiran Arka Kumitir Gautama, bayi yang lahir tepat di ambang batas kematian semalam, membawa aura baru sekaligus beban yang lebih berat bagi keluarga ini.
Namun, di balik kebahagiaan itu, sebuah panggilan pahit datang dari benua lain. Ada raga-raga yang terbaring kaku; tubuh mereka masih di sini, namun sukma mereka telah didekap habis oleh kegelapan alam sebelah.
.Kalian akan kembali mendengar suara teriakan, tangisan, dan jeritan dari sudut-sudut bumi yang paling sunyi. Ekspedisi ini akan terus berjalan hingga waktu memaksa mereka untuk berhenti.
[Saya sarankan baca Season 1, supaya lebih mengenal kemampuan dan karakter keluarga Gautama]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Stanalise, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 020 : Satu Tubuh Lima Entitas (Portal Alam Sebelah)
"LEPASKAN DIA, IBLIS!!!"
Raungan itu tidak terdengar seperti suara manusia, melainkan gabungan dari geraman harimau purba dan teriakan perang panglima kuno yang bangkit untuk menagih nyawa.
Rachel berdiri di sana, diselimuti aura emas-merah yang membara, menerangi kegelapan gereja. Matanya yang merah menyala menatap langsung ke arah Sang Pemahat.
Dalam sekejap mata, Rachel sudah berpindah posisi—sebuah gerakan yang melampaui kecepatan mata manusia.
Ia menghantam wajah Sang Pemahat dengan pukulan yang begitu kuat hingga seluruh tulang wajah pria itu hancur berantakan.
Sang pembunuh terpelanting sejauh sepuluh meter, menghantam deretan patung marmer buatannya hingga hancur menjadi debu putih.
Rachel segera menghampiri Marsya. Dengan tangan kosong yang sekarang diperkuat energi Senopati Cakar, ia merenggut kawat berduri yang melilit adiknya seolah itu hanyalah benang rapuh.
Telapak tangan Rachel robek dan berdarah karena duri itu, namun ia sama sekali tidak menunjukkan rasa sakit. Tatapannya hanya tertuju pada adiknya yang menggigil hebat dan hampir kehilangan kesadaran karena syok.
"Marsya, tetap di sini. Tutup matamu. Jangan lihat apa yang akan kulakukan pada makhluk ini," bisik Rachel dengan suara yang berlapis-lapis, bergetar dengan otoritas ghaib yang sanggup meruntuhkan nyali setan sekalipun.
Sang Pemahat bangkit dari puing-puing dengan susah payah. Wajahnya sudah tidak berbentuk, hidungnya rata, dan matanya satu tertutup darah.
Namun, kebencian satanik di dalam dirinya memberikan kekuatan tambahan. Ia mencabut sebuah kapak kecil dan menyererang Rachel dengan membabi buta, melupakan semua teknik taktisnya demi amarah.
Rachel tidak menghindar. Ia menangkap mata kapak yang bergerak cepat itu dengan tangan telanjang, mematahkannya menjadi dua bagian dengan kekuatan Maung, lalu menancapkan patahan besi itu ke kedua bahu sang pembunuh hingga menembus tulang belikatnya.
Sang Pemahat melolong kesakitan, sebuah suara yang lebih mirip binatang daripada manusia.
Rachel tidak memberikan ampun sedikit pun. Amarah para leluhur menguasai raganya. Dengan kuku-kuku ghaib, ia mencengkeram dada Sang Pemahat dan menyayat kulitnya secara perlahan namun dalam, membalas setiap penderitaan yang pernah dialami para korban pria itu.
Bau daging robek dan darah memenuhi udara altar. Rachel kemudian menyeret tubuh pria itu menyusuri lantai marmer yang kasar dan penuh serpihan batu tajam, menekan wajah sang pembunuh ke lantai hingga seluruh kulit wajahnya terkoyak habis, memperlihatkan jaringan daging merah dan putih yang bergetar mengerikan.
"Kau suka keabadian?" Rachel berbisik tepat di telinga pria yang sudah sekarat itu, suaranya dingin seperti es kutub.
"Aku akan memberikanmu keabadian di tempat di mana api tak pernah padam dan rasa sakitmu akan diulang selamanya."
Dengan satu hentakan kaki yang mengandung kekuatan bumi dari Simbah Gautama, Rachel menghancurkan simbol baphomet di lantai altar.
Terjadi ledakan energi hitam yang besar, memicu gelombang kejut yang meruntuhkan beberapa pilar gereja.
Sang Pemahat memuntahkan darah hitam kental yang berbau busuk, tubuhnya mengejang hebat saat kekuatan iblis yang ia sembah justru menarik paksa sukmanya keluar sebagai bayaran atas kegagalannya.
Pria itu tewas dalam kondisi yang sangat mengerikan—sebuah onggokan daging tak berbentuk yang hancur, dikelilingi oleh karya seni kematiannya sendiri yang kini hancur menjadi debu.
Bersamaan dengan tewasnya sang pembunuh, Adio dan Inspektur Luca merangsek masuk bersama pasukan polisi bersenjata lengkap.
Mereka membeku di tempat, terdiam melihat pemandangan horor di depan mereka: gereja yang hancur, tim Gautama yang bersimbah darah, dan Rachel yang berdiri tegak di tengah genangan darah dengan mata merah yang perlahan memudar.
Tiba-tiba, suara krek yang tajam dan mengerikan terdengar dari arah tulang belakang Rachel, seperti ranting kering yang dipatahkan paksa.
Kekuatan lima leluhur itu ditarik kembali ke alam ghaib secara mendadak karena tubuh fisik Rachel sudah mencapai batas absolut. Rachel terbatuk hebat, memuntahkan darah kental dalam jumlah banyak dari mulut, hidung, dan telinganya.
"Rachel!" Adio berlari sekuat tenaga, mengabaikan mayat di lantai, dan menangkap tubuh Rachel sebelum menghantam lantai.
Rachel hanya sempat melirik ke arah Marsya yang selamat di pelukan Cak Dika. Ia memastikan adiknya masih bernapas dan aman, sebelum akhirnya seluruh saraf di tubuhnya terasa mati rasa secara instan, dimulai dari ujung kaki hingga ke pinggang.
Kesadarannya terputus total. Dunianya menjadi gelap di pelukan Adio, tanpa ia sadari bahwa raga yang ia gunakan telah membayar harga yang teramat mahal untuk sebuah keselamatan—sebuah harga yang akan mengubah hidupnya selamanya.