Rangga adalah pria sederhana yang hidup serba kekurangan, namun memiliki cinta yang tulus dan impian besar untuk membahagiakan kekasihnya. Selama bertahun-tahun, ia bertahan dengan pekerjaan kasar dan penghasilan pas-pasan, percaya bahwa cinta mereka cukup untuk melawan kerasnya hidup. Namun semuanya runtuh ketika ibu kekasihnya memutuskan menjodohkan sang putri dengan pria kaya demi masa depan yang dianggap lebih layak.
"maafin aku ya kak, aku ngga bisa lawan ibuku"
Rangga hanya bisa menatap kepergian sang kekasih yang mulai menjauh dari matanya yang mulai berembun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 33
Setelah urusan di kantor notaris selesai dengan lancar, Ayu kembali ke hotel dengan perasaan yang sangat hampa. Penjualan apartemen itu membuahkan hasil, uangnya sudah cair dan masuk ke rekeningnya.
Di dalam kamar, Ayu bergerak cepat. Ia melipat pakaiannya, memasukkannya ke dalam koper, dan memastikan tidak ada satu pun barang yang tertinggal. Sambil duduk di tepi tempat tidur, ia membuka aplikasi perbankan di ponselnya.
Dengan tangan yang sedikit bergetar, ia mentransfer sejumlah uang yang cukup besar ke rekening Rangga jumlah yang tepat sama dengan biaya rumah sakit yang pernah Rangga bayarkan dulu. Setelah transaksi berhasil, Ayu menarik napas panjang dan mengetik sebuah pesan singkat.
"Mas, uang rumah sakit sudah saya transfer balik ya. Sekarang semuanya sudah lunas. Tidak ada lagi sangkut paut atau utang budi di antara kita. Terima kasih atas bantuannya selama ini."
Klik. Pesan terkirim. Ayu segera menutup kopernya dan bersiap menuju lobi.
Sementara itu, di kamar sebelah, Rangga baru saja keluar dari kamar mandi dengan rambut yang masih basah dan handuk tersampir di bahunya. Begitu ia menyalakan ponsel yang tergeletak di meja, matanya langsung tertuju pada notifikasi transfer dan pesan singkat dari Ayu.
Jantung Rangga seakan berhenti berdetak sesaat.
"Nggak... nggak bisa begini!" gumamnya panik.
Tanpa sempat menyisir rambut atau bahkan memakai sepatu dengan benar, Rangga langsung menyambar kunci kamar dan berlari keluar. Ia menggedor pintu kamar Ayu dengan kalap.
Tok! Tok! Tok!
"Yu! Ayu! Buka pintunya!" teriak Rangga. Suaranya terdengar sangat cemas hingga beberapa tamu hotel di lorong menoleh ke arahnya.
"Ayu, jangan begini! Saya nggak butuh uang itu! Saya cuma butuh kamu!"
Tepat saat itu, pintu terbuka. Ayu berdiri di sana dengan koper di sampingnya, sudah mengenakan hijab dan tas selempangnya, siap untuk pergi. Wajahnya datar, tidak ada lagi kemarahan, hanya ada tatapan yang menunjukkan bahwa ia sudah menyerah.
"Mau apa lagi, Mas?" tanya Ayu pelan.
"Maksud pesan itu apa, Yu? Kenapa kamu bilang nggak ada sangkut paut lagi?" Rangga menahan pintu agar Ayu tidak bisa menutupnya kembali.
"Kalau soal semalam, saya minta maaf seribu kali pun saya lakukan. Tapi tolong, jangan putus hubungan kayak gini."
Rangga menghalangi jalan Ayu, tubuhnya yang besar menutupi pintu sementara napasnya masih memburu. Matanya menatap Ayu dengan tatapan hancur, memohon agar wanita itu tidak melangkah lebih jauh.
"Aku sudah bayar semuanya, Mas. Aku nggak mau punya beban lagi," jawab Ayu dingin sambil tetap menggenggam erat gagang kopernya.
"Kita kembali ke kehidupan masing-masing saja."
Ayu menarik napas panjang, menatap lurus ke mata Rangga yang mulai berkaca-kaca.
"Lagipula, kita juga nggak ada hubungan apa-apa kan, Mas? Selama ini kita cuma mantan kekasih. Tidak kurang, tidak lebih. Jadi jangan bersikap seolah-olah Mas punya hak atas hidup saya."
Mendengar kalimat itu, pertahanan Rangga runtuh. Rasa takut kehilangan Ayu untuk kedua kalinya membuat logikanya lumpuh. Tanpa peringatan, Rangga justru merangsek maju, mendorong Ayu sedikit kembali ke dalam kamar, dan langsung memeluk Ayu dengan sangat erat.
Rangga menyembunyikan wajahnya di pundak Ayu, memeluknya seolah-olah jika ia melepaskannya, Ayu akan menghilang selamanya.
"Nggak, Yu... Tolong jangan bilang begitu. Saya sayang kamu, saya nggak bisa kalau kita jadi orang asing lagi," bisik Rangga dengan suara parau.
"Mas! Lepasin! Ini nggak benar, Mas!" seru Ayu dengan suara tinggi yang bergetar karena emosi. "Apa-apaan sih? Setelah semalam Mas buat saya kecewa, sekarang Mas malah begini? Lepasin!"
Ayu berhasil menjauhkan diri, ia mundur beberapa langkah hingga menabrak ujung tempat tidur. Wajahnya memerah karena marah sekaligus sedih. Hijabnya sedikit berantakan karena pergulatan singkat tadi.
"Mas Rangga jahat kalau begini caranya," ucap Ayu dengan air mata yang akhirnya menetes.
"Mas nggak menghargai saya sama sekali. Keluar, Mas! Keluar dari kamar saya sekarang!"
Rangga merasa dunianya seakan runtuh melihat air mata Ayu. Ia tersadar bahwa tindakannya barusan, meski didasari rasa takut kehilangan, tetaplah sebuah kesalahan besar yang melukai kehormatan Ayu.
Tanpa mempedulikan harga dirinya lagi, Rangga langsung bersimpuh di lantai, berlutut di depan kaki Ayu yang masih gemetar. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam, tidak berani menatap wajah wanita yang sangat ia cintai itu.
"Saya minta maaf, Yu... Demi Allah, saya minta maaf," ucap Rangga dengan suara yang pecah oleh tangis.
"Saya bodoh, saya kasar, saya memang nggak tahu diri. Tolong jangan benci saya... saya benar-benar kalap karena takut kamu pergi dan nggak mau kenal saya lagi."
Ayu menghapus air matanya dengan kasar. Ia menatap ke arah Rangga yang bersimpuh di bawahnya dengan tatapan yang sulit diartikan, ada kemarahan, tapi juga ada rasa lelah yang teramat sangat. Ia tidak ingin lagi berdebat atau larut dalam drama yang menyesakkan ini.
Ayu menarik napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungnya. Ia meraih kembali gagang kopernya dengan tangan yang masih sedikit gemetar.
"Sudah, Mas. Berdiri. Nggak usah seperti ini," ujar Ayu.
Rangga perlahan mendongak, matanya sembab. "Saya benar-benar menyesal, Yu..."
"Saya mau pulang sekarang," potong Ayu tanpa mau membahas penyesalan Rangga lebih jauh. Ia melangkah melewati Rangga yang masih berlutut, menuju pintu kamar yang terbuka. Di ambang pintu, ia berhenti sejenak tanpa menoleh.
"Kalau Mas mau ikut pulang ke Bandung, ya silahkan. Tapi tolong, jangan ganggu saya selama di perjalanan. Saya mau tenang."
Rangga langsung berdiri dengan cepat, meski kakinya terasa lemas. Ia mengusap wajahnya kasar, mencoba mengumpulkan sisa-sisa kekuatannya.
"Iya, Yu. Saya ikut. Saya janji... saya nggak akan bicara atau macam-macam. Saya cuma mau pastiin kamu sampai di rumah dengan selamat."
Ayu tidak menyahut. Ia terus berjalan menuju lift tanpa menunggu Rangga.
Rangga pun mengekor di belakang dengan jarak yang cukup jauh, Ia memegang kantong belanjaan bajunya dengan erat, merasa sangat kecil di hadapan ketegasan Ayu.