NovelToon NovelToon
Bangkit Setelah Dihancurkan

Bangkit Setelah Dihancurkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Tiri / Trauma masa lalu / CEO / Romantis / Cinta pada Pandangan Pertama / Romansa
Popularitas:893
Nilai: 5
Nama Author: Kumi Kimut

Kehidupan Nana berubah total saat sang ibu tiada. Nana terpaksa tinggal bersama ayah dan ibu tiri yang memiliki dua anak perempuan. Perlakuan saudara tiri dan ibu tiri membuatnya menderita. Bahkan saat dirinya akan menikah, terpaksa gagal karena fitnah sang ibu tiri.

Setelah semua kegetiran itu, Nana memilih untuk bangkit. Dia bersumpah akan membalas semua perbuatan jahat yang dilakukan oleh ibu dan saudara tirinya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kumi Kimut, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5 - Nana dan Kehidupan Barunya

Di balai desa ...

Lampu balai desa menyala terang, menusuk mata. Warga berkerumun — berbisik, menatap, menghakimi tanpa menunggu penjelasan.

Nana dan Dimas didorong ke tengah ruangan.

Di kursi depan, duduk Pak Ferdy — ayah Nana — masih memakai kemeja dinas yang kusut. Di sampingnya, Bu Sari menatap penuh cemas, namun tetap diam.

“Nana, duduk,” suara Pak Ferdy terdengar tenang — tapi dingin.

Nana menelan ludah. Itu suara ayahnya, tapi terasa seperti milik orang lain. Ia duduk pelan, sementara Dimas berdiri di samping, menahan gusar.

“Coba jelaskan,” ucap Pak Ferdy. “Kenapa kamu di saung, malam-malam — sama Dimas?”

Nana menunduk.

“Yah… aku cuma butuh tenang. Dimas cuma menemani. Nggak ada apa-apa. Demi Allah—”

Belum selesai, warga langsung menyambar.

“Baru ibunya meninggal, sudah begitu kelakuannya!”

“Zina! Malu-maluin bapaknya!”

Dimas maju setengah langkah.

“Pak, Bu — jangan sembarang ngomong. Kami cuma ngobrol—”

Tiba-tiba, orang tua Dimas datang. Wajah ayahnya dingin, ibunya tampak kesal.

“Ini yang kami takutkan,” kata ibunya. “Anak kami sarjana. Masa depannya bagus. Kenapa harus kepikiran nikah sama anak kampung!”

Kata-kata itu menusuk.

Nana menggenggam ujung roknya kuat-kuat.

Dimas menahan napas. “Bu, tolong—”

“Diam,” potong ayahnya. “Kamu sudah kebawa jauh.”

Warga makin ribut.

Pak Ferdy mengangkat tangan, meminta hening.

Namun tatapannya tidak lagi sebagai ayah.

Tatapan seorang kepala desa — yang takut kehilangan wibawa.

“Ayah…” suara Nana pecah. “Aku nggak salah. Tolong percaya.”

Bu Sari mengusap matanya, gelisah.

Namun Pak Ferdy hanya menarik napas dalam.

“Nak… ini bukan cuma soal kamu. Ini soal omongan orang. Nama baik keluarga. Nama baik jabatan Ayah.”

Hening.

Dingin.

Menusuk.

“Ayah sudah pikirkan,” lanjutnya pelan namun tegas.

“Untuk sementara… kamu akan Ayah kirim ke panti rehabilitasi perempuan. Supaya tenang. Supaya mentalmu tertata. Supaya tidak mengulang kesalahan.”

Nana ternganga.

Seolah bumi hilang dari pijakan.

“Yah… jangan…” suaranya bergetar. “Aku nggak salah… Aku cuma sedih…”

Dimas meledak.

“Pak Ferdy! Itu nggak adil! Nana korban—”

“Cukup!” bentak Pak Ferdy — kali ini benar-benar sebagai ayah sekaligus hakim.

Tatapan Nana memburam.

Ayahnya tidak memeluk.

Tidak membela.

Tidak berdiri di sisinya.

Hanya menggeleng pelan.

“Maaf, Nana. Ini yang terbaik — untuk semua.”

_____

DI PANTI PEMBINAAN & REHABILITASI PEREMPUAN

Gerbang besi panti itu tertutup pelan dengan suara berderit—pelan, tapi menghantam dada Nana seperti palu.

Bangunan tinggi bercat putih pucat berdiri kaku. Di depannya, papan bertuliskan:

PANTI PEMBINAAN & REHABILITASI PEREMPUAN

Nana menggenggam tas kecilnya erat. Petugas perempuan berseragam abu-abu menuntunnya masuk tanpa bicara banyak.

“Ini kamar kamu,” ucapnya singkat.

Pintu kayu dibuka.

Satu ruangan panjang — enam ranjang berderet. Bau obat dan karbol bercampur dengan udara pengap.

Lima pasang mata langsung menoleh.

Berbeda-beda usia.

Berbeda-beda wajah.

Namun semuanya punya tatapan yang sama: tajam, waspada, seperti hewan yang terlalu sering disakiti.

Seorang perempuan berambut pendek menyeringai.

“Pendatang baru,” gumamnya.

Yang lain terkekeh kecil.

Nana menelan ludah. Ia melangkah masuk pelan, meletakkan tas di ranjang paling pojok.

“Kamu masuk sini kenapa?” tanya seorang perempuan berbadan besar, suaranya berat.

Nana ragu.

“A-aku… salah paham aja. Aku nggak ngapa-ngapain…”

Perempuan itu tertawa pendek — dingin.

“Semua orang di sini bilang ‘nggak salah’ waktu pertama datang.”

Yang lain ikut menimpali.

“Hati-hati. Kalau lemah, kamu diinjak.”

“Jangan kebanyakan nangis. Nggak ada yang peduli.”

Kata-kata itu menghantam lebih keras dari bentakan warga tadi malam.

Nana menunduk, menahan air mata yang ingin jatuh.

Ia menata selimut pelan — sekadar memberi dirinya sesuatu untuk dikerjakan agar tidak runtuh.

Beberapa menit kemudian, bel kecil berbunyi di luar.

“Pasien baru ke ruang periksa!” suara perawat terdengar.

Pintu kamar terbuka.

Seorang dokter masuk.

Putih jasnya kontras dengan mata lembut yang menatap satu-satu penghuni kamar.

Tinggi. Posturnya tegap.

Wajahnya tenang — bukan menghakimi, bukan menakutkan.

“Selamat malam,” sapanya ramah. “Saya Dokter Jordan.”

Perempuan-perempuan di ruangan itu langsung sedikit berubah — sebagian pura-pura cuek, sebagian malah memperbaiki duduknya.

Dokter Jordan memeriksa daftar di tangannya.

“Mana… Nana Ferdyana?”

Nana tersentak pelan — lalu mengangkat tangan ragu.

“Saya, Dok.”

Senyum tipis muncul di wajah Jordan.

“Ayo ke ruang periksa sebentar. Santai saja. Ini hanya pemeriksaan awal.”

Langkah Nana terasa berat saat mengikuti. Lorong panjang terasa seperti jalan menuju tempat yang tidak ia kenal — dan tidak ia inginkan.

Di ruang periksa, Jordan mempersilakan duduk.

“Di sini nggak ada yang menghakimi,” katanya pelan. “Tugas saya bukan menghukum. Saya cuma ingin tahu, kamu baik-baik saja atau tidak.”

Kalimat sederhana itu — justru membuat dada Nana perih.

Untuk pertama kalinya sejak ibunya pergi… ada seseorang yang bertanya apakah ia baik-baik saja.

Air matanya nyaris jatuh.

“Aku… nggak tahu, Dok,” suaranya pelan. “Aku cuma… capek. Semua orang bilang aku salah. Padahal… aku cuma sendirian.”

Jordan mengangguk pelan — tidak menyela.

“Baik,” katanya tenang. “Kita mulai pelan-pelan. Di sini, kamu aman. Tidak ada yang boleh menyentuhmu, menyakitimu, atau memaksamu. Mengerti?”

***

Bersambung...

1
Cindy
lanjutt
Cindy
lanjut
Cindy
lanjutt
Cindy
lanjut
Cindy
lanjutt
Cindy
lanjut
Cindy
lanjutt
Cindy
lanjut
Cindy
lanjutt
Cindy
lanjut
Cindy
lanjutt
Cindy
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!