"menikah, atau kamu kami coret dari daftar pewaris?"
"tapi dia gila mah,"
.........
Narendra meradang saat jalinan kasihnya selama bertahun-tahun harus kandas dan berakhir dengan menikah dengan perempuan pilihan orang tuanya.
Reyna, putri konglomerat yang beberapa tahun belakangan di isukan mengidap gangguan jiwa karena gagal menikah adalah perempuan yang menjadi istri Narendra.
tak ada kata indah dalam pernikahan keduanya, Naren yang belum bisa melepas masa lalunya dan Rayna yang ingin membahagiakan keluarga nya di tengah kondisi jiwanya, saling beradu antara menghancurkan atau mempertahankan pernikahan.
apakah Naren akhirnya luluh?
apakah Rayna akhirnya menyerah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kyky Pamella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MPG_10
Narendra tampak sangat serius menyimak pemaparan Bayu mengenai desain bangunan yang akan direalisasikan dalam waktu dekat. Tatapannya tak lepas dari layar besar di ruang rapat tempat. Sesekali ia mengangguk kecil, sesekali pula melontarkan pertanyaan singkat namun tajam, menandakan betapa proyek ini bukan sekadar formalitas baginya.
Saat ini, Tunggal Jaya Group tengah menggagas pembangunan sebuah panti asuhan terpadu dengan fasilitas yang bisa dibilang di atas standar. Tak hanya panti, di area tersebut juga akan dibangun sekolah dari tingkat PAUD hingga SMA, lengkap dengan kurikulum unggulan dan tenaga pengajar pilihan. Selain itu, sebuah puskesmas yang terbuka untuk umum pun akan didirikan, sehingga keberadaannya tak hanya bermanfaat bagi anak-anak panti, tetapi juga masyarakat sekitar. Seluruh proyek sosial itu berada di bawah naungan Yayasan Tunggal Asa, yayasan yang dipimpin langsung oleh Farah, sang manah. perempuan tangguh yang selama ini dikenal memiliki dedikasi tinggi pada kegiatan kemanusiaan.
Narendra sengaja menggandeng kedua sahabatnya untuk merealisasikan proyek besar tersebut. Ia mempercayakan pengerjaan fisik bangunan kepada perusahaan kontraktor PT Karya Bandung Bondowoso milik Bayu, sementara urusan legalitas, perizinan, serta mediasi selama pembangunan berlangsung ditangani oleh Bobi Agas Santoso, S.H., M.H. alias Bagas. mereka bertiga memang bagaikan tuan dan printilannya. kemana-mana selalu se paket, sejak mereka sekolah menengah pertama bahkan sampai di dunia kerja.
Hampir satu jam lamanya mereka bertiga larut dalam pembahasan masing-masing job description. Bayu sibuk menjelaskan detail teknis konstruksi, Bagas menimpali dengan catatan hukum dan risiko legal, sementara Narendra menjadi poros yang memastikan semuanya berjalan searah dengan visi yayasan.
Setelah rapat dinyatakan selesai, Bayu dan Bagas segera berpamitan. Mereka masih memiliki agenda lain yang tak kalah padat. Narendra mengantar kedua sahabatnya hingga pintu ruang rapat, lalu melangkah kembali ke ruang kerjanya dengan langkah cepat.
Begitu tiba di ruangannya, Narendra langsung bergegas mencari ponselnya. Ia mengedarkan pandangan ke meja kerja, sofa kecil di sudut ruangan, hingga rak dokumen. Alisnya sempat berkerut sebelum akhirnya matanya menangkap benda yang ia cari.
“Ah… ternyata benar tertinggal di sini,” gumamnya lega.
Saat tombol power ditekan, layar ponsel langsung menyala, menampilkan deretan notifikasi. Salah satunya menarik perhatian Narendra—pesan dari Ajeng. Tanpa menunggu lama, ia segera membukanya. Pesan itu tercatat terkirim tiga puluh lima menit yang lalu.
[Hai, sayang. Maaf untuk tadi pagi, ya.]
[Aku cuma takut kehilangan kamu, makanya aku bertindak seperti itu.]
[Kamu pasti lagi sibuk, kan?]
[Aku susul ke kantor, ya. Kita makan siang bareng sebagai ganti sarapan kita yang batal tadi pagi.]
[Kabari aku kalau kamu sudah jam istirahat.]
Ajeng membombardirnya dengan pesan beruntun. Narendra tanpa sadar mengulum senyum. Ada rasa hangat menjalar di dadanya mengetahui perempuan yang ia cintai itu sudah tak lagi marah.
Ia hendak menekan tombol panggilan untuk menelepon Ajeng, namun belum sempat jarinya menyentuh layar, sebuah panggilan masuk justru muncul.
“Assalamu’alaikum, Pah. Ada apa?” sapanya setelah mengangkat telepon.
“Wa’alaikum salam. Kamu ini benar-benar keterlaluan, Naren!” suara Toro terdengar menggelegar dari seberang. Narendra refleks menjauhkan ponsel dari telinganya dan menurunkan volume. “Papah sudah pulang sejak kemarin, tapi kamu belum juga membawa menantu papah ke rumah.”
“Ah… iya, Pah,” jawab Narendra hati-hati. “Hari ini Naren baru pertama masuk kantor setelah cuti, jadi banyak pekerjaan yang harus diselesaikan.”
“Tidak ada alasan,” potong Toro tegas. “Pulang sekarang. Jemput istrimu dan bawa dia ke rumah utama keluarga kita.”
Perintah itu meluncur tanpa memberi celah untuk membantah.
Narendra terdiam. Bibirnya terkatup rapat, pikirannya berkelindan. Ia dan Ajeng baru saja berdamai setelah insiden gagalnya sarapan pagi tadi. Kini, apakah rencana makan siang mereka juga akan kembali kandas?
Sejak pernikahannya dengan Rayna, hubungan mereka memang menjadi rumit. Tak lagi sesederhana dulu.
“Diam kamu papah artikan iya,” lanjut Toro sebelum Narendra sempat menyahut. “Papah tunggu kalian untuk makan siang bersama.”
Tutt… tutt…
Sambungan terputus begitu saja. Ia menghela napas panjang. Jika sudah papahnya yang meminta, itu berarti mutlak—tak bisa ditawar.
Dengan gerakan cepat dan sedikit kasar, Narendra membereskan berkas-berkas yang tercecer di atas meja. Sepuluh menit kemudian, ia sudah berdiri di depan ruangan Ardi.
“Ar,” ujarnya singkat namun tegas. “Kamu handle semua urusan di kantor. Saya ada keperluan mendadak dan harus balik sekarang.”
Ardi yang jelas terkejut dengan kemunculan bosnya di ruangannya hanya bisa mengangguk patuh. Selama hampir lima tahun bekerja bersama Narendra, ini adalah pertama kalinya sang direktur mendatangi ruangannya secara langsung. Biasanya, cukup satu panggilan telepon untuk memerintahkannya.
POV AUTHOR END
---
Aku sedang menenteng dua kantong kresek besar ketika tiba-tiba pintu terbuka dari dalam. Narendra berdiri di sana, menatapku dengan ekspresi tak ramah.
“Itu apa?” tanyanya tanpa basa-basi.
“Wa’alaikum salam,” sarkas ku
Ia mendengus kecil. “Eum… assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikum salam,” balasku lagi, datar.
“Itu apa? Terus mau dibawa ke mana?”
“Ini sampah. Mau aku buang ke tempat sampah,” jawabku ringan.
“Tidak mungkin di rumah ini ada sampah sebanyak itu,” bantahnya cepat. “Dan ini juga tidak bau sampah. Malah seperti bau—”
Ia menghentikan ucapannya. Aku tahu betul, ia hendak mengatakan bau parfum Ajeng. Tanpa melanjutkan kata-katanya, Narendra meraih salah satu kantong kresek dan membukanya paksa.
“Apa yang kamu lakukan?! Kembalikan semua barang-barang Ajeng ke tempatnya sekarang!” Sorot matanya memerah, rahangnya mengeras menahan emosi.
“Aku tidak pernah melihat orang selancang dirimu,” lanjutnya sambil menatapku tajam.
Aku mengangkat bahu. “Di mana?” tanyaku santai. “Katakan di mana seharusnya barang-barang ini diletakkan. Itu sudah menjadi kamarku. Atau kamu mau meletakkannya di kamarmu? Silakan. Tapi aku tidak bertanggung jawab atas efek samping yang akan terjadi.”
“Kamu bisa membuang semua barang Ajeng,” katanya dingin, “tapi jangan harap kamu bisa membuang bayang-bayang Ajeng dari rumah ini dan dari hatiku.”
“Cih,” aku mendengus sinis. “PD sekali Anda, ya.”
Aku mengernyitkan dahi, menatapnya tanpa gentar. “Pertama, aku bukan anak indigo yang bisa melihat makhluk astral, jadi aku tidak peduli dengan bayang-bayang roh halus apa pun di rumah ini. Kedua, aku juga bukan wanita jablay yang akan menghabiskan sisa hidupnya cuma untuk ngebucin.”
Narendra mengusap wajahnya kasar, frustrasi jelas tergambar.
“Arrggh… terserah!” katanya akhirnya. “Aku masih bisa membelikan barang-barang baru untuk Ajeng.”
Dengan nada ketus, ia melangkah menuju kamar, meninggalkanku berdiri dengan kantong-kantong kresek di tangan.
---
POV NARENDRA
Entah dosa apa yang pernah kulakukan di masa lalu hingga aku harus menjalani kisah cinta setragis ini. Mungkin aku benar-benar kuwalat karena terlalu sering menjadikan kisah Siti Nurbaya sebagai bahan lelucon bersama Bayu dan Bagas. Kini, aku justru terjebak dalam cerita yang tak jauh berbeda.
Jika Siti Nurbaya dipaksa menikah dengan pria tua, aku dipaksa menikahi perempuan yang bahkan tak kukenal dan parahnya lagi, dia pengidap gangguan jiwa
Mamah dan papah mengancam akan mencoret namaku dari daftar pewaris tunggal Admawijaya. Soal itu, sebenarnya aku tidak terlalu peduli. Namun saat mereka mengancam akan menghabiskan masa tua mereka di panti jompo jika aku menolak pernikahan ini, aku tak sanggup. Mereka adalah harta paling berharga dalam hidupku.
Di sisi lain, Ajeng juga memberiku ultimatum. Ia mengancam akan meninggalkanku jika aku tidak menjadi pewaris Admawijaya.
Ajeng… aku sangat mencintainya.
Ia gadis cantik, berdarah blasteran Indo–Cina, setidaknya itu yang selama ini diyakini orang-orang. Tak ada yang benar-benar tahu siapa ayah biologisnya, bahkan ibunya sendiri. Fakta itulah yang membuat mamah dan papah menentang hubungan kami dengan keras.
Hingga suatu hari, mamah mengajukan syarat agar Ajeng bisa diterima sebagai bagian dari keluargaku. Namun Ajeng terlalu menyepelekan hal itu. Ia tak pernah benar-benar berusaha memenuhi syarat tersebut.
Ketika semua jalan terasa buntu, aku akhirnya menyerah. Aku menerima pernikahan itu.
Bayangan harus bersanding dengan perempuan yang gila benar-benar membuatku frustrasi.
Pagi itu, seluruh keluarga sibuk mempersiapkan acara ijab kabul. Aku diminta datang ke lokasi pernikahan pukul sembilan tepat. Begitu tiba, aku mendapati lokasi itu adalah sebuah rumah, bukan gedung mewah seperti yang kubayangkan.
Aku diarahkan duduk di sisi kanan meja panjang, bersama penghulu dan para saksi. Hingga ijab kabul selesai diucapkan, aku bahkan belum tahu seperti apa wajah perempuan yang kini sah menjadi istriku.
Dalam pikiranku, terbayang sosok wanita dengan rambut acak-acakan, tubuh kurus kering, tak terawat, dengan mimik wajah yang bisa berubah drastis dari tersenyum menjadi menangis dalam hitungan detik. Bayangan itu nyaris membuatku kabur saat itu juga.
Namun ketika rombongan pengantin turun dari tangga, pandanganku tertumbuk pada seorang wanita bergaun pengantin putih, wajahnya tertutup cadar. Sorot matanya teduh, alisnya simetris sempurna. Tingginya sekitar sepundakku, dengan tubuh yang proporsional—jauh dari bayangan mengerikan yang sebelumnya menghantuiku.
Dadaku berdegup lebih cepat ketika akhirnya cadarnya dibuka. Aku yakin, semua orang di ruangan itu sepakat denganku—perempuan itu sangat cantik. Hidungnya mancung, bibirnya tipis, wajahnya bersih dan menenangkan.
Jika saja hatiku belum sepenuhnya dimiliki Ajeng, mungkin saat itu juga aku akan jatuh hati padanya.