NovelToon NovelToon
IQ 278: Jejak Yang Disembunyikan

IQ 278: Jejak Yang Disembunyikan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Peran wanita dan peran pria sama-sama hebat / Karir / Kehidupan alternatif / Persaingan Mafia / Trauma masa lalu
Popularitas:429
Nilai: 5
Nama Author: woonii

Hani Ravenna Arclight memiliki IQ 278 dan hidup dengan dua wajah. Di balik layar dunia digital, ia dikenal sebagai The Velvet Phantom, hacker profesional yang bergerak tanpa jejak. Di dunia nyata, ia menyembunyikan identitasnya dan menjalani hidup sederhana di sebuah kampung, menutupi masa lalu dan nama besar keluarganya.

Pertemuannya dengan Darren Maximilian Vireaux mengguncang ketenangan yang ia bangun. Darren memaksanya kembali menghadapi dirinya sendiri bukan sebagai bayangan, melainkan sebagai Hani Ravenna Arclight yang sesungguhnya.

Di antara rahasia dan pilihan, Hani harus menentukan: tetap bersembunyi, atau berani kembali ke cahaya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon woonii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hanya Ada Satu Nama

Darren menoleh tajam ke arah yang gadisnya tunjuk, tampak Bella berdiri dengan wajah yang sedikit tegang. "Beraninya kau menghina calon istriku" ucap Darren dengan penuh penekanan.

...--------------------------------...

Semua orang yang mencibir Hani mendadak bungkam, mereka tak berani akan tatapan tajam Darren. Mutia sedikit takut tetapi ia sempat melongo akan ucapan Darren 'Wah calon suami Hani orang kaya nih' batinnya.

Bella menjadi sedikit gelisah tetapi ia tetap menunjukkan raut wajah angkuh nya. "T-tapi bukankah kita sudah dijodohkan, kenapa kau memilih wanita j*lang mu it-"

Plakk

Darren menampar keras pipi Bella, ia tidak suka dengan perkataan yang dilontarkan oleh Bella. "Berani berani nya kau mengatai gadisku j*lang, seharusnya kau lah yang pantas disebut j*lang. Dan ingat satu hal, aku telah menolak perjodohan itu" ucap Darren tegas.

Bella terdiam membisu sembari memegang pipinya yang memerah, ia dipermalukan oleh banyak orang oleh ucapan Darren. Tanpa mempedulikan orang-orang yang sedang menyaksika

n kejadian itu Bella langsung melangkah pergi dengan tergesa-gesa meninggalkan kerumunan.

Satu persatu orang yang menyaksikan mulai meninggalkan tempat itu tanpa berani bersuara. "Pastikan semua orang yang menyaksikan kejadian ini untuk tutup mulut, dan hapus semua video CCTV yang berada disini." ucap Darren pada para anak buah nya yang berdiri tidak jauh dari situ.

Hani menatap bingung ke arah Darren. "Kenapa harus tutup mulut om?" tanya nya.

Darren menatap mata Hani dengan menunduk karena perbedaan tinggi badan yang cukup jauh. Darren memiliki tinggi 196cm, sedangkan Hani memiliki tinggi 160cm. "Aku tidak ingin musuhku mengincar dan melukai mu sayang" jawab Darren, ia sudah mulai terbiasa memanggil Hani dengan sebutan romantis.

"Aku bisa melawan musuhmu itu" jawab Hani dengan santai, padahal ia tahu bahwa musuh Darren sangatlah banyak dan juga cukup kuat.

"Dan aku tidak akan membiarkan mu untuk melawan musuhku, biar itu menjadi tugas para anggota ku" jawab Darren tak mau kalah.

Hani berdecak malas sembari melipat tangan nya didepan dada. "Ya udah lah om terserah, sekarang aku mau lanjut belanja sama temen ku ini" Jawab Hani sembari menarik tangan Mutia yang bersembunyi dibalik nya.

Darren melihat sekilas ke arah wanita yang berdiri di belakang Hani. "Baiklah, ini untukmu" ucap Darren sembari menyodorkan kartu hitam tanpa limit.

Hani memutar malas bola matanya. "Aku bisa membayar sendiri dengan uang ku om, bahkan aku bisa membeli satu mall ini" jawab Hani sombong, karena ia memiliki tabungan yang sangat amat banyak dari berbagai usahanya.

Dahi Darren berkerut tak mengerti. "Kau tidak perlu menolak pemberian ku" ucapnya.

Mutia yang melihat Hani tidak menerima kartu itu menyenggol lengan Hani sebagai kode agar menerima nya. "Udah terima aja itu, lumayan biar tambah cuan" bisik Mutia disebelah telinga Hani.

Hani tersenyum canggung dan melirik sekilas ke arah Mutia. "Kalo ku terima om jadi miskin ga? aku takut om jadi gelandang dipinggir jalan" ucap Hani blak-blakan.

Mutia sebisa mungkin menahan tawa nya, begitupun para anak buah Darren termasuk Jack yang ada disana. "Uang ku tidak akan habis jika hanya kau gunakan untuk berbelanja" jawab Darren dengan tangan yang masih menggantung diudara menunggu Hani untuk menerimanya.

Hani mengangguk angguk mengerti. "Oke lah kalo om maksa, aku ambil ya" ucap Hani dan mengambil kartu itu dengan mata yang dikedip kedipan menggoda.

Darren tersenyum tipis nyaris tak terlihat ketika melihat ekspresi Hani yang menurutnya lucu. "Baiklah aku pergi, jika ada sesuatu hubungi aku" ucap Darren dengan mengelus elus kepala Hani.

Para anak buah Darren saling pandang satu sama lain, baru kali ini melihat Darren bersikap manis seperti itu, dulu ketika berpacaran dengan Amora Darren selalu bersikap cuek. Sedangkan disisi lain Jack sedikit melongo dan Mutia malah asik memandangi wajah tampan Jack.

"E-eh iya om" jawab Hani sedikit gugup ketika diperlakukan seperti itu, tanpa dia sadari pipinya sedikit memerah.

Lagi dan lagi Darren berusaha menyembunyikan senyum nya ketika melihat wajah Hani yang merona seperti kepiting rebus. Dia dan Jack langsung melangkah untuk pergi dari mall itu, sedangkan anak buah Darren mulai menjalankan tugasnya.

"Wah ada yang jadi kepiting rebus nih" ucap Mutia menggoda ketika Hani masih berdiri mematung memandangi punggung Darren yang semakin menjauh.

Reflek Hani memegang kedua pipinya karena mendengar ucapan Mutia. 'Aduh malunya' batin Hani. "Eh apa sih mut, ini cuma kena hawa AC aja makanya merah" jawab Hani berusaha mengelak.

"Alah udah jujur aja Han, kalo kamu jadi nikah sama tuan Darren itu boleh lah ya aku sama temen nya yang ganteng tadi" tawar Mutia ketika mengingat wajah tampan Jack.

Dahi Hani berkerut tak paham. "Temen yang mana?" tanya nya.

Mutia berdecak malas akan pertanyaan Hani. "Ish yang itu jalan bareng sama tuan Darren" ucap Mutia.

Hani tertawa geli mendengar ucapan Mutia, rupanya sahabatnya ini naksir dengan asisten Jack. "Owalah jadi kamu naksir sama asisten Jack ya? dia itu asisten Darren bukan temenya" ucap Hani menjelaskan.

Mutia mengangguk angguk mengerti. "Lumayan lah ya dapet asisten tuan Darren, sama-sama ganteng pula" ucapnya antusias.

"Ah udahlah ayo buruan kita habisin uang om kutub itu dari kartu ini" ucap Hani sembari menggoyang goyangkan kartu pemberian Darren didepan wajah Mutia.

Hani dan Mutia mulai berbelanja dimall tersebut dengan membeli berbagai jenis barang. Mulai dari baju, skincare, tas, sandal, snack dan juga bahan bahan masakan. Setelah kurang lebih satu setengah jam berbelanja Hani dan Mutia memutuskan untuk mampir disebuah restoran dalam mall tersebut.

"Eh aku mau ngerjain om om kutub itu ah, aku mau ngaku kalo matre biar dia ketar-ketir" ucap Hani tersenyum licik ketika sudah selesai menikmati hidangan di restoran itu.

"Kamu gila apa, kita belanja ga sampe 100jt udah mau ngaku matre? sedangkan kartu dia aja tanpa limit" ucap Mutia tak percaya akan ide Hani.

"Ah iya juga ya, apa aku harus beli mobil baru dulu biar kita habis banyak?" ceplos asal Hani.

"Emm... mendingan uang tuan Darren itu kamu donasikan ke panti panti asuhan aja buat membantu sesama" pendapat Mutia yang sedikit masuk akal.

"Boleh juga, kasian anak-anak yang dipanti asuhan pasti mereka jarang makan enak. Gimana kalo nanti kita beli beberapa snack dan jajanan juga?" ucap Hani.

"Gass lah" jawab Mutia antusias.

Beberapa saat kemudian Hani sudah berada di salah satu panti asuhan yang membutuhkan donasi, Hani mendonasikan uang Darren sebanyak 600jt dibeberapa panti asuhan yang berbeda, ia juga membagikan snack kepada setiap anak.

"Huh akhirnya panti asuhan yang terakhir beres" ucap Hani ketika mereka sudah berada didalam mobil untuk pulang.

"Gila sih han, lebih dari 700jt uang tuan Darren kamu habisin? ya walaupun aku juga termasuk sih hehe" ujar Mutia tak percaya.

"Ah salah dia itu, kalo om kutub itu marah aku ga peduli. Sekarang saat nya kita kerjain itu om kutub" sahut Hani dengan tersenyum jahil. Ia kemudian membuka ponsel nya untuk mengirimkan pesan chat kepada Darren.

*****

Tepat diperusahaan Cakrawala Holdings, Darren sedang berada didalam ruangan nya untuk mengerjakan beberapa berkas berkas penting.

toktoktok

"Masuk" ujar Darren pada orang yang mengetuk pintu ruangan nya.

Tampak Jack masuk ke dalam dengan membawa sebuah iPad ditangan nya. "Tuan saya ingin memberikan informasi mengenai data pengeluaran kartu yang anda berikan pada nyonya Hani" ucap Jack hati hati.

"Katakan" pinta Darren.

"Total seluruh pengeluaran nyonya Hani hari ini 700jt tuan, kurang lebih sekitar 100jt untuk berbelanja dan 600jt untuk didonasikan ke panti asuhan yang berbeda-beda" jelas Jack.

"Hanya itu? kenapa sedikit sekali, dan 600jt untuk didonasikan? apa apaan" ucap Darren tak terima akan pengeluaran Hani yang menurut sangat sedikit.

Jack hanya diam tanpa membalas perkataan Darren, ia hanya membatin dalam hati. 'Orang kaya mah beda, 600jt sedikit katanya'

ting ting

Nada notifikasi pada ponsel Darren berbunyi, Darren segera melihat siapa yang mengiriminya sebuah pesan.

"Aduh om maaf banget ya hari ini uang nya habis banyak, aku matre soalnya 😘" pesan chat yang dikirim oleh Hani pada Darren, padahal Hani sendiri bukan lah sosok wanita matre yang suka menghabiskan uang.

Darren tersenyum tipis ketika membaca pesan itu. 'Dia bahkan hanya menghabiskan 100jt untuk dirinya sendiri dan sisanya untuk orang lain, tetapi mengapa dia menyebut dirinya sendiri matre? dasar tidak masuk akal ' batin Darren.

"Of course, kuras semua hartaku sayang" jawab Darren tanpa pikir panjang.

Beberapa saat kemudian Hani membalas pesan yang sebelumnya telah dijawab oleh Darren. "Jangan nyesel kalo uang nya habis ditangan ku om" ketiknya.

Darren hanya tersenyum memandangi pesan itu tanpa ada niat untuk membalasnya membuat Jack sedikit bertanya-tanya akan hal yang sedang Darren perhatikan.

"Lucu" ucap Darren singkat tanpa memperhatikan ke arah Jack yang sedang kebingungan.

*****

Disisi lain Steven Lorenzo De Luca sudah mendarat dikota London untuk memeriksa kekacauan yang terjadi diperusahaan nya, terlebih lagi saham saham itu sudah dijual kepada Darren.

Steven melangkah masuk ke dalam dengan ekspresi yang menahan amarah, seluruh sistem komputer diperusahaan nya tidak bisa dioperasikan bahkan ada beberapa komputer yang meledak karena dipaksa untuk menghidupkan sistem nya.

"SIAPA YANG BERANI BERMAIN-MAIN DENGAN KU? HAH!? " bentak Steven pada para anak buah nya.

"T-tuan sebaiknya kita bicarakan mengenai hal ini didalam ruangan anda, saya akan memerintahkan tenaga IT terbaik dikota untuk mengatasi kekacauan diperusahaan ini" ucap Beno sedikit terbata.

Steven hanya mengikuti saran dari Beno tanpa ingin menjawab perkataan nya, ia melangkah masuk ke dalam ruang pribadi miliknya. "Sial, jika lebih dari 50% saham telah terjual pada pria brengsek itu posisiku bisa terancam" ucap Steven menggeram marah.

"Tuan saya ingin memberikan informasi terbaru dari tenaga IT perusahaan kita" ucap Beno hati-hati.

"Katakan" balas Steven

"Menurut penjelasan, sistem perusahaan kita terkena virus BlackNull Protocol, Saat sistem mencoba booting, seluruh proses dikembalikan ke null state sehingga komputer mati total. Dan penyebab dari virus tersebut belum diketahui secara pasti tuan" ucap Beno memaparkan informasi yang dia dapatkan.

Dahi Steven berkerut bingung. "Hanya ada satu nama yang bisa membuat kekacauan seperti ini, dan kau tahu siapa itu?" tanya Steven setelah mendengar informasi dari Beno

"Tidak tuan" jawab Beno cepat.

"The Velvet Phantom, setelah ia menghilangkan jejak aku curiga bahwa dia telah mengetahui sebuah kesalahan fatal yang kita lakukan kepadanya, tetapi aku tidak mengetahui kesalahan apa itu" ucap Steven frustasi.

Steven menghela nafas berat, dia tidak bisa mengambil alih saham nya kembali ditangan Darren, dan hanya ada cara legal dengan bantuan Hacker untuk menyelesaikan ini. "Perintahkan seluruh anak buah untuk mencari tahu mengenai siapa pelaku dari kekacauan ini. Dan aku ingin kau mencari tahu kemana perginya The Velvet Phantom selama 2 tahun ini, bawa dia kembali untuk bekerja sama dengan kita. SECEPATNYA! " perintah Steven.

"Baik tuan" ucap Beno kemudian ia menunduk hormat dan segera keluar dari ruangan Steven.

"Kau tidak akan pernah lari lagi dibawah kekuasaan ku Velvet, aku akan membuat mu tunduk kepadaku" ucap Steven dengan senyum licin nya. Di dunia bawah sering kali Hani dipanggil sebagai Velvet karena tidak ada yang mengetahui identitas aslinya.

1
ni.crypt
bantu dukungan guys
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!