"Aku membelimu seharga 10 miliar. Jadi, jangan harap bisa melarikan diri dariku, bahkan ke sekolah sekalipun."
Gwen (18 tahun) hanyalah siswi SMA tingkat akhir yang bercita-cita kuliah seni. Namun, dunianya runtuh saat ayahnya kabur meninggalkan hutang judi sebesar 10 miliar kepada keluarga terkaya di kota itu.
Xavier Aradhana (29 tahun), CEO dingin yang dijuluki 'Iblis Bertangan Dingin', memberikan penawaran gila: Hutang lunas, asalkan Gwen bersedia menjadi istri rahasianya.
Bagi Xavier, Gwen hanyalah "alat" untuk memenuhi syarat warisan kakeknya. Namun bagi Gwen, ini adalah penjara berlapis emas. Ia harus menjalani kehidupan ganda: menjadi siswi lugu yang memakai seragam di pagi hari, dan menjadi istri dari pria paling berkuasa di malam hari.
Sanggupkah Gwen menyembunyikan statusnya saat Xavier mulai menunjukkan obsesi yang tak masuk akal? Dan apa yang terjadi saat cinta mulai tumbuh di tengah kontrak yang dingin?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr. Awph, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33: Menjadi Pelayan di Pesta Suami Sendiri
Menjadi pelayan di pesta suami sendiri adalah satu-satunya cara bagi Gwenola untuk tetap bertahan hidup setelah serangan berdarah yang memporak-porandakan seisi hotel. Adrian yang muncul dengan wajah penuh luka memar segera menarik Gwenola masuk ke dalam ruang ganti karyawan yang tersembunyi di lantai bawah tanah. Ia melemparkan sebuah seragam pelayan berwarna hitam putih yang sangat lusuh ke arah Gwenola dengan tangan yang terus bergetar hebat.
Gwenola menatap seragam tersebut dengan pandangan yang kosong sementara suara ledakan dan teriakan di atas sana masih terdengar sangat memilukan. Ia merasa seolah-olah seluruh martabatnya sebagai seorang istri pimpinan perusahaan telah hilang ditelan oleh kegelapan malam yang sangat mencekam ini. Namun, sorot mata Adrian yang sangat cemas memaksanya untuk segera melepas gaun merah darahnya dan menggantinya dengan kain murah tersebut.
"Cepat pakai seragam ini sekarang juga sebelum para pengawal berbaju hitam itu menemukan persembunyian kita!" bisik Adrian dengan nada suara yang sangat panik.
Gwenola bergerak dengan sangat kaku sambil menahan isak tangis yang mulai menyumbat seluruh rongga dadanya yang terasa sangat sesak. Ia tidak menyangka bahwa temannya yang biasanya hanya membawa susu kotak stroberi ke sekolah kini bisa melakukan aksi penyelamatan yang sangat nekat. Rasa bingung yang sangat besar kini mulai bercampur dengan rasa takut akan nasib Xavier yang masih berada di tengah pusat pertempuran.
"Darimana kau tahu aku ada di sini, dan kenapa kau bisa masuk ke gedung yang dijaga sangat ketat ini?" tanya Gwenola sambil mengancingkan baju pelayannya dengan tangan gemetar.
Adrian tidak menjawab secara lisan dan justru sibuk mengintip melalui celah pintu untuk memastikan bahwa area koridor benar-benar aman dari jangkauan musuh. Ia memberikan sebuah nampan perak berisi beberapa gelas minuman sebagai kedok agar Gwenola bisa keluar dari area hotel tanpa memancing kecurigaan. Penyamaran ini adalah satu-satunya kesempatan bagi Gwenola untuk melarikan diri dari pusaran konflik bisnis yang sangat mematikan ini.
"Fokuslah pada keselamatanmu sendiri dan jangan pernah lepaskan nampan ini sampai kita tiba di pintu keluar belakang," perintah Adrian tanpa berani menatap mata Gwenola.
Gwenola melangkah keluar dari ruang ganti dengan kepala yang tertunduk sangat dalam, berusaha menyembunyikan wajahnya di balik helaian rambut yang mulai berantakan. Ia berjalan melewati beberapa pengawal pribadi Xavier yang nampak sedang sibuk memeriksa setiap sudut ruangan dengan senjata api yang sudah terkokang sangat siap. Jantungnya berdegup sangat kencang saat ia tanpa sengaja berpapasan dengan kepala tim keamanan yang biasanya selalu mengawasi gerak-geriknya di kediaman mewah.
Pria bertubuh raksasa itu sempat berhenti sejenak dan menatap Gwenola dengan pandangan yang sangat penuh dengan selidik dan rasa curiga yang tajam. Gwenola menahan napasnya sekuat tenaga hingga paru-parunya terasa sangat perih dan kepalanya mulai terasa sangat pening karena kekurangan udara secara tiba-tiba. Beruntung, sebuah ledakan di lantai atas mengalihkan perhatian pria itu hingga ia segera berlari pergi meninggalkan Gwenola yang hampir jatuh pingsan karena ketakutan.
"Teruslah berjalan, jangan berhenti sedikit pun atau mereka akan menyadari ada yang salah dengan caramu melangkah," bisik Adrian yang berjalan beberapa meter di belakangnya.
Gwenola terpaksa masuk ke dalam aula utama yang kini sudah berubah menjadi reruntuhan bangunan yang sangat mengerikan dan penuh dengan debu yang sangat pekat. Ia melihat Xavier sedang berdiri di tengah kekacauan tersebut dengan luka sayatan yang cukup lebar di lengan kirinya hingga darah segar membasahi jas mahalnya. Pimpinan perusahaan itu nampak seperti singa yang terluka, tetap berdiri tegak dengan tatapan mata yang sangat beringas mencari keberadaan istrinya yang hilang.
Xavier meraih sebuah botol minuman dari atas nampan yang dibawa oleh seorang pelayan lain yang lewat di dekatnya dengan gerakan yang sangat kasar. Ia tidak menyadari bahwa Gwenola yang asli justru sedang berdiri hanya berjarak beberapa meter darinya dengan menyamar sebagai pelayan rendahan yang sangat hina. Rasa perih di hati Gwenola semakin menjadi-jadi saat melihat suaminya berjuang sendirian melawan kepungan musuh yang terus berdatangan dari berbagai arah.
"Berikan aku laporan mengenai posisi istriku sekarang juga, atau aku akan menghanguskan tempat ini beserta isinya!" teriak Xavier kepada anak buahnya melalui alat komunikasi.
Gwenola ingin sekali berlari dan memeluk Xavier untuk mengatakan bahwa dia baik-baik saja, namun tangan Adrian segera menahan bahunya dengan sangat kuat. Ia dipaksa untuk terus bergerak menuju pintu keluar dapur yang nampak sangat gelap dan sangat penuh dengan tumpukan sampah sisa pesta. Penyamaran ini terasa sangat menyiksa batin karena ia harus berpura-pura tidak peduli saat suaminya sedang bertaruh nyawa di atas sana.
"Lepaskan aku, Adrian! Aku tidak bisa meninggalkan dia sendirian dalam kondisi terluka seperti itu!" rontah Gwenola dengan suara yang tertahan di tenggorokan.
Adrian justru semakin kuat mencengkeram lengan Gwenola dan menariknya paksa masuk ke dalam sebuah mobil tua yang sudah menunggu di luar area hotel. Ia menyuruh pengemudi untuk segera memacu kendaraan dengan kecepatan yang sangat tinggi sebelum tim keamanan Xavier berhasil menutup seluruh blokade jalanan. Gwenola menangis sejadi-jadinya di kursi belakang mobil, merasa bahwa ia telah menjadi seorang pengkhianat yang sangat pengecut bagi suaminya sendiri.
Di dalam kegelapan mobil, Adrian memberikan sebuah amplop cokelat yang berisi beberapa lembar dokumen rahasia mengenai kontrak sepuluh miliar yang selama ini disembunyikan. Gwenola membuka dokumen tersebut dengan tangan yang sangat dingin dan ia menemukan fakta bahwa ayahnya tidak pernah berhutang kepada Xavier. Kontrak tersebut adalah sebuah jebakan yang dirancang oleh musuh bisnis Xavier untuk menjadikan Gwenola sebagai sandera yang sah secara hukum di dalam pernikahan.
"Semua ini adalah permainan kotor untuk menghancurkan Xavier melalui dirimu, Gwenola," ucap Adrian dengan nada yang sangat penuh dengan kebencian.
Gwenola merasa dunianya seketika runtuh untuk kesekian kalinya karena kenyataan yang ia terima jauh lebih menyakitkan daripada kebohongan yang ia jalani. Ia memandang ke luar jendela mobil dan melihat gedung hotel yang mulai terbakar hebat di kejauhan, memancarkan cahaya merah yang sangat menakutkan ke langit malam. Harapannya untuk hidup normal kembali kini telah musnah sepenuhnya karena ia telah masuk ke dalam pusaran dendam yang sangat dalam dan sangat luas.
Mobil tersebut terus melaju menuju sebuah tempat persembunyian yang sangat rahasia di pinggiran kota yang sangat sunyi dan sangat jarang dilewati orang. Gwenola hanya bisa mendekap dokumen tersebut di dadanya sambil terus memikirkan bagaimana caranya untuk kembali kepada Xavier tanpa membahayakan nyawa mereka berdua. Ia menyadari bahwa perasaannya terhadap sang suami telah berubah menjadi sesuatu yang sangat rumit dan sangat sulit untuk ia definisikan kembali.
Tiba-tiba, mobil mereka berhenti secara mendadak karena sebuah mobil hitam besar telah memalang jalanan sempit tersebut dengan sangat angkuh dan sangat provokatif. Pintu mobil hitam itu terbuka dan sesosok pria dengan kacamata hitam melangkah keluar sambil memegang sebuah foto Gwenola yang sedang mengenakan seragam pelayan. Pria itu menyeringai lebar ke arah kamera pengawas yang ada di pinggir jalan, seolah sedang mengirimkan pesan tantangan kepada Xavier yang sedang mengamuk.
"Tuan muda kami ingin menyapa asisten pribadimu yang baru saja melarikan diri ini, Xavier," ucap pria itu ke arah alat komunikasi yang ia pegang.
Gwenola gemetar hebat saat menyadari bahwa pelariannya kali ini justru membawanya masuk ke dalam kandang serigala yang jauh lebih berbahaya daripada sebelumnya. Ia melihat Adrian mulai mengeluarkan sebuah pisau kecil dari balik bajunya, bersiap untuk melakukan perlawanan yang nampak sangat sia-sia dan sangat tidak mungkin berhasil. Di tengah ketakutan yang sangat memuncak, Gwenola melihat sepasang mata merah menyala dari kejauhan yang terus mengawasinya dengan penuh gairah kepemilikan.