NovelToon NovelToon
Ketika Restu Jadi Penghalang

Ketika Restu Jadi Penghalang

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengganti / Keluarga / Diam-Diam Cinta / Romantis / Cintamanis / Cinta setelah menikah
Popularitas:22.9k
Nilai: 5
Nama Author: Muliana95

Bagas, seorang petani yang hidup di desa. Walaupun seorang pertani, dia mempunyai keuangan yang stabil. Bahkan bisa di katakan dia dan keluarga termasuk orang berada.

Namun, uang bukan segalanya. Buktinya, walaupun banyak uang dia tidak bisa menikah dengan pacar yang sudah menemaninya sejak delapan tahun terakhir.

Kenapa begitu?
Dan alasan apa yang membuat mereka tidak menyatu ...
Yuk, ikuti kisah Bagas ❤️

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muliana95, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dan Akhirnya

"Bisa minta no rekening mu?" sebuah pesan masuk dari Bagas.

Safira yang sedang menyetrika baju, mengernyit bingung.

"Untuk apa?" balasnya setelah beberapa saat.

"Aku hacker, jadi akan menarik semua uangmu yang ada disana," balas Bagas geram.

"Aku gak punya rekening," balas Safira cepat.

Dan tanpa menunggu balasan dari Bagas, dia langsung mematikan ponselnya.

"Bener gak ya, dia bisa menarik uangku?" gumam Safira bergidik ngeri.

Karena sejujurnya, bukan takut uangnya di tarik, Safira lebih malu, jika Bagas tahu, jumlah uang yang ada di rekeningnya.

Mungkin, bila di hitung-hitung, jumlahnya gak sampai dua puluh ribu.

Karena memang Safira bikin atm, agar memudahkan kedua adiknya yang kerja di luar kota, untuk mengirimkan uang, untuk ibunya.

"Ra ..." suara yang terdengar menjengkelkan belakangan ini, berteriak memanggilnya.

"Apa sih bang, kalo mau ngegodain gak usah," balas Safira merenggut.

"Bagas nelpon," Malik memperlihatkan layar ponselnya. "Katanya nomormu gak aktif," sambung Malik menaik-turunkan alisnya.

"Ba-batreinya lowbat ... Ya, batrenya lowbat," teriak Safira, pada Malik, yang sedang istirahat bersama tukang pekerja lainnya.

Beberapa saat kemudian. Safira kembali mengaktifkan ponselnya. Dan ketika membuka pesan dari Bagas. Dia malah mendapatkan slip, bukti tanda kiriman uang dari calon suaminya, itu.

"Eh, kok ..." Safira mengerjap.

Dan, panggilan dari Bagas, langsung masuk, ketika pesan darinya terbaca.

"Halo ..."

"Coba cek, udah masuk," balas Rangga di seberang sana.

"Kenapa kamu mengirimkan aku uang? Padahal kita belum menikah," tanya Safira binggung

"Kan kita hampir menikah. Siap-siap ya, aku ke rumah. Kita fitting baju hari ini,"

"Eh hari ini? Katanya besok,"

"Besok, aku panen, di sawah satunya. Gak apa-apa kan, jika hari ini?" tanya Bagas di seberang sana.

Safira mengangguk, "Baiklah, aku siap-siap dulu,"

"Kalo ada baju maroon, pakai ya. Biar kita couple," pinta Bagas.

Sekitar satu jam setengah kemudian. Bagas tiba, seperti katanya tadi, lelaki itu datang dengan memakai kemeja lengan pendek berwarna maroon.

Dan Safira, dia juga memakai baju berwarna sama.

Dia memakai tunik warna maroon, di padukan dengan celana kulot berwarna hitam serta jilbab yang senada dengan baju.

"Bu, izin ajak Fira fitting baju ya," pamit Bagas menyalami Juliana. Dia juga sempat menepuk, pelan, bahu Malik.

Di tempat fitting, Safira memilih baju putih sebagai akad. Dan setelahnya, memilih baju adat, untuk acara resepsi.

Tak lupa, Safira juga memilih heels sesuai kakinya.

Sedangkan Bagas juga memalukan hal yang sama. Dia juga memakai baru putih, dari pasangan baju yang sebelumnya di pilih oleh Safira. Serta memilih pakaian adat, sesuai warna yanh Safira tunjukkan.

"Jadi udah pas semua ini kan? Untuk calon suaminya, sepatu punya sendiri, kan?" tanya petugas, mencatat segala pilihan Safira dan Bagas.

"Untuk pelaminnya, kalian mau pakai yang tradisional atau modern?"

"Pilih dua-duanya," balas Bagas cepat.

"Kok dua-duanya?" Safira bertanya heran.

"Maksudku, untuk ngunduh mantu, satu," balas Bagas kikuk.

"Kalo begitu, tradisional digunakan kapan, modern kapan?"

Bagas menatap Safira, menyuruhnya untuk memilih lebih dulu.

"Aku pilih modern," balas Safira lirih.

Petugas manggut-manggut. Kemudian mulai, memperlihatkan jenis-jenis pelamin juga warna yang akan di pilih kliennya.

Satu jam lebih mereka disana. Dan akhirnya, mereka mendapatkan apa yang di inginkan keduanya.

"Kita jalan-jalan dulu mau? Sekaligus, agar kita saling mengenal," ajak Bagas, sebelum mereka naik sepeda motor.

Safira mengangguk setuju. Dan kini, mereka memilih jalan-jalan di alun kota.

Suasana, tepi laut, dan banyaknya stand makanan, membuat, alun-alun di penuhi oleh orang-orang di berbagai kelangan usia.

"Mau pesan apa lagi?" tanya Bagas, ketika mereka mengantri beli minuman boba.

"Habisin ini dulu gak sih? Ini aja udah kebanyakan," Safira menunjukkan tentengan di tangan Bagas.

Bagas mengangguk, menyetujui.

"Eh Gas ..." sebuah tangan menepuk bahu Bagas.

"Disini juga bro," sapa Bagas tersenyum ramah.

Safira hanya melirik sekilas. Kemudian, memilih menunduk, karena merasa tidak nyaman.

"Eh, Nadia ... Tumben, diam aja," lelaki itu memanggil Safira, yang diduga Nadia.

"Eh, ini calon istriku ... Namanya Safira," ujar Bagas, mengenggam tangan Safira.

"Eh," Safira mengerjap, Nadia memang sempat tertekun dan penasaran tentang siapa itu Nadia. Namun, genggaman tangan Bagas, membuatnya lupa segalanya.

"Oo, hai Safira ..." lelaki yang berstatus teman Bagas mengulurkan tangannya.

"Oo, hai ..." Safira hendak menjabat tangan itu. Namun, malah di wakili oleh Bagas.

"Dah ya, pesanan kami udah siap. Duluan," pamit Bagas.

Dan benar saja, Safira mulai melupakan tentang sosok Nadia tadi. Dia malah lebih fokus pada Bagas. Bahkan, dari obrolan ringan mereka di atas batu tepi pantai, Safira tahu, jika Bagas, sosok yang enak di ajak bicara.

...✨✨✨...

"Bu, minggu depan Bagas menikah," ujar Anwar pada istrinya yang sedang membuat bakwan di dapur.

"Ya terus?" Hesti bertanya balik.

"Seharusnya Nadia juga kita nikahkan. Masak kita kalah dari mereka," balas Anwar.

"Mau dinikahkan dengan siapa? Guru honor, yang bahkan gajinya tidak cukup untuk kebutuhan anak kita. Atau, tentara kemarin? Yang mau jadikan Nadia, istri kedua?" tanya Hesti beruntun.

"Ya makanya, kita sebagai orang tuanya jangan nyerah. Paling tidak, suruh anakmu cari pacar baru," balas Anwar sewot.

"Eh bang, kamu pikir aku gak menyuruhnya? Bahkan ludahku udah berbusa-busa bang. Aku selalu menyuruhnya untuk cari jodoh. Bila perlu, datangi teman-temannya, semasa kuliah dulu," cerocos Hesti panjang lebar.

Anwar terdiam. Dia memilih memijitkan keningnya. Pusing dengan permasalah yang tak pernah ada jalan keluarnya.

...✨✨✨...

Hari yang di nanti-nanti pun tiba. Kini Safira di apit oleh kedua adiknya.

Di depan sana, Bagas sedang menyalami Malik, seraya mengucap kata-kata paling suci. Janji Bagas pada yang kuasa.

Dan kini, Safira telah sah menyandang status sebagai istri. Ketika suara sah, menggema di seluruh pelantaran mesjid.

Bukan hanya Juliana yang menangis haru. Bahkan Hayati juga sama.

Dia tersedu, mencium pucuk kepala anaknya dan merapalkan doa, berharap rumah tangga anaknya bahagia.

Dengan langkah pelan dan pasti, Bagas mendekati Safira.

Perempuan itu menunduk. Menahan haru, di hatinya.

"Assalamualaikum istriku," sapa Bagas, mendekati Safira.

"Waalaikum salam," sahutnya lirih, bahkan dia tak berani mengangkat wajahnya, guna menatap lelaki yang kini telah menjadi suaminya.

Begitu tangan Bagas terulur. Safira menyambutnya.

Dingin, itu hal pertama yang dirasakannya.

Gugup? Jangan tanyakan.

Karena sudah pasti, keduanya saling merasakan kegugupan di hatinya.

Begitu tangan Bagas, di ciumnya. Lelaki itu, meletakan tangannya yang sebelah kiri ke ubun-ubun Safira.

Dia langsung merapalkan doa, dan berharap rumah tangga mereka di ridhai dan di berikan keturunan yang shaleh dan shalihah.

Dan mesjid menjadi saksi. Kedua insan, telah saling berjanji untuk mengikat janji suci di depan Illahi.

Dan tak ada yang tahu, ujian seperti apa yang Allah siapkan, setelahnya.

1
Nuri_cha
Lagian Nadia sudah move on banget siiih
Nuri_cha
lah, kenapa jadi nyalahin Safira
Nuri_cha
duh, hati Safira sakit banget pasti denger ini dari bagas
Filan
ya, Bagas masih mau berusaha.
Filan
baguslah. terus aja counter omongannya
PrettyDuck
bisa stroke ini bapaknya nadia kalo tau /Sweat/
PrettyDuck
lah ditanya gitu doang sewot banget bang /Smug/
PrettyDuck
semoga wandi gak bikin luka baru ya 😭
-Thiea-
dimana-mana ada ibu ini ya. merusak siasana aja. 😑
-Thiea-
jangan Bagas. ntar istrimu di bawa kabur. 🤭
-Thiea-
gelagatnya kayak orang gak benar. sungguh malang nasibmu nad.
Zenun
Wandi kalo ngomong bener juga😁
Zenun
so sweet lhaaa
@dadan_kusuma89
Udah, Gas, fir! Buang saja kata "bagaimana" dalam kehidupan kalian, beres.
@dadan_kusuma89
Pak Anwar, anda ini kurang kerjaan apa gimana? Pake ikut-ikutan ngitung keuangan Bagas.
Nuri_cha
dia sedang berusaha jadi yg terbaik buat kamu. bantu Bagas ya Fira
Nuri_cha
makjleb bgt ucapannya pak Yusuf. dengerin tuh bang, kamu tega bgt sama Safira kalo cuma jd pelampiasan
Nuri_cha
Safira istri yg baik, gas. jgn kamu sia3i. ya
Nuri_cha
kamu ngapain sih nyariin suami org? move on Nad 🤧
Oksy_K
wkwk mau dijadiin madu gak tuh. berasa jadi sapi perah, di suruh beranak mulu🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!