NovelToon NovelToon
Rasa Yang Tertelan Jalan Terjal

Rasa Yang Tertelan Jalan Terjal

Status: tamat
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Wanita Karir / Anak Genius / Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:46
Nilai: 5
Nama Author: Icha cicha

Seperti kapal yang terombang-ambing di tengah lautan gelap tanpa bintang, hidup Murni melintasi jurang kebingungan saat jalan kuliahnya tiba-tiba terputus seperti tali yang dipotong kasar. Dunia yang dulu dihiasi dengan impian lembaran kertas putih bersih kini berubah menjadi hamparan jalan terjal yang penuh batu tajam dan genangan lumpur. Tanpa ragu, dia memilih merangkul dunia pabrik yang keras – tangan yang dulu memegang pena dengan lembut kini memegang alat berat dan bahan baku kasar, setiap tetes keringatnya menorehkan cerita perjuangan yang tak pernah terucapkan. Hidupnya seperti lautan yang terus bergelombang, menghantam pantai harapan dengan ombak rasa yang tertelan dalam diam.

Di tengah hiruk-pikuk mesin pabrik yang tak pernah berhenti berputar, cinta datang seperti embun pagi yang menyentuh dedaunan kering.

Akankah cinta yang tulus benar-benar ada di jalan yang penuh duri ini, atau hanya ilusi yang akan sirna seperti kabut pagi saat matahari muncul?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Icha cicha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

JEJAK AIR MATA DI LANTAI BANDARA

Pulanglah Murni ke kamar kost yang sempit itu, langkahnya seperti orang yang sedang berjalan di atas awan yang rapuh. Setiap tangga yang dinaiki terasa seperti bukit yang tak berujung, setiap pintu yang dibuka membawa bayangan kenangan yang menusuk hati. Ia menjatuhkan tasnya ke lantai dengan suara yang pelan, lalu menggulingkan tubuhnya ke atas kasur yang sudah lama tak terasa hangat—seolah panasnya tempat itu telah hilang bersama dengan kepergian Khem.

Mata tertutup, dan dalam kegelapan kelam, pikirannya terbang kembali ke hari itu—hari di mana dia mengantarkan Khem ke bandara. Langit saat itu masih biru cerah, dengan beberapa awan putih yang melayang seperti kapas yang lembut. Tapi di dalam hati Murni, ada rasa gelisah yang tak bisa dijelaskan, seperti ombak kecil yang terus menerus menghantam dinding dalam dirinya.

Kemarin sore, ketika mereka berdiri di lorong keberangkatan, tangan mereka saling menggenggam erat—seperti dua batu yang saling menopang di tengah lautan luas. Khem mengenakan baju koko warna biru tua yang selalu ia suka, rambutnya yang sedikit kusut tetap terlihat menarik di mata Murni. Ia melihat ke dalam mata Khem dengan penuh cinta, air mata sudah mulai menggenang di sudut matanya.

"Aku bakal datang kembali ya, sayang," ujar Khem dengan suara yang lembut, menyeka air mata Murni dengan ujung jempolnya yang hangat. "Cuma satu bulan saja aku pulang kampung, untuk membantu orang tua. Setelah itu, kita akan bersama lagi—aku janji."

Murni mengangguk dengan hati yang penuh kerinduan, meskipun rasa tak rela sudah meluap-luap seperti air yang melampaui tepi waduk. Ia merenggam bajunya dengan kuat, tidak ingin melepaskan tangan yang telah menjadi tempat perlindungan baginya selama ini. "Jangan lama-lama ya," bisiknya dengan suara yang menggigil, "Aku akan merindukanmu setiap hari."

Khem mencium dahinya dengan lembut, bibirnya yang hangat menyentuh kulitnya seperti cahaya matahari yang menyapa bunga di pagi hari. "Tidak akan lama, aku jamin. Nanti aku bawa oleh-oleh rambutan dari kampung ya—yang paling manis dan besar," katanya dengan senyum yang dibuat-buat riang, seolah ingin menyembunyikan sesuatu yang tersembunyi di balik mata nya yang dalam.

Ketika suara pengumuman menyatakan bahwa penerbangan sudah siap untuk berangkat, Khem perlahan melepaskan genggaman tangannya. Ia berjalan dengan langkah yang lambat menuju pintu masuk pesawat, seringkali menoleh untuk melihat Murni yang masih berdiri di sana, tangan masih mengangkat sebagai tanda perpisahan. Air mata Murni akhirnya menetes ke pipinya, jatuh ke lantai bandara yang bersih dan mengkilap—menciptakan jejak kecil yang segera menghilang karena panas udara. Ia berdiri di sana sampai pesawat itu menghilang di balik awan, menghirup udara yang kini terasa kosong dan dingin.

Sekarang, ketika kenangan itu kembali menghantui dirinya, Murni merasakan bagaimana setiap kata yang pernah diucapkan Khem kini seperti duri yang menusuk dalam hati. Cuma satu bulan saja... Aku bakal datang kembali ya... Semua janji itu ternyata hanyalah kabut yang indah namun mudah larut di hadapan sinar matahari yang menyengat. Ia mengingat bagaimana ia telah menghitung hari-hari dengan penuh harapan, bagaimana ia telah menyimpan uang gajinya untuk membeli baju baru yang akan dikenakan ketika bertemu orang tua Khem, bagaimana ia telah membayangkan momen bahagia ketika mereka berdiri bersama di depan rumah tua yang penuh kenangan.

Semua itu kini hancur berkeping-keping seperti kaca yang jatuh dari ketinggian.

Ia meraih bantal di bawah kepalanya, menekannya kuat ke wajahnya untuk menahan tangisan yang ingin meledak. Suara tangisannya terdengar seperti desahan lembut yang tersembunyi di balik kain bantal—desahan atas rasa sakit yang dalam, atas kepercayaan yang telah dihancurkan, atas cinta yang ternyata hanya sebuah permainan yang dirancang dengan cermat.

Di luar kamar, hujan masih terus turun, menyiram jalanan dengan air yang dingin dan basah. Setiap tetesnya seolah mengetuk jendela kamar Murni dengan nada yang pelan, seolah ingin mengatakan bahwa dunia juga merasakan kesedihan yang dia rasakan. Ia berpikir tentang Lilu, yang telah menyimpan rahasia itu sendiri selama ini—benarkah teman baiknya itu sengaja menyembunyikannya, ataukah dia hanya ingin melindunginya dari rasa sakit yang kini menghantui dirinya?

Malam semakin larut, dan kelelahan akhirnya menyergap Murni. Ia tertidur dengan wajah yang masih basah karena air mata, mimpi-mimpi tentang Khem dan janji-janji yang tak terwujud mulai menghiasi dunia tidurnya. Di dalam mimpi itu, mereka masih berdiri di bandara, tapi kali ini Khem tidak pergi—ia tetap ada di sana, memeluknya dengan erat dan berkata bahwa semua yang terjadi hanya mimpi buruk yang akan segera berlalu.

Namun ketika matahari mulai menyinari kamar pada keesokan paginya, Murni terbangun dengan kenyataan yang menusuk. Khem tidak ada di sana—hanya ada bayangan kosong di sisi kasur yang biasanya ditempati dirinya, dan suara hujan yang masih terus mengguyur bumi dengan kesedihan yang tak berkesudahan.

 

━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━

Waktu istirahat kerja tiba seperti biasa, membawa dengan diri jeda singkat dari kebisingan mesin dan aroma bahan baku yang memenuhi ruang pabrik makanan ringan. Murni mengambil kotak makan yang dibawanya dari kost—nasi putih yang hangat dan lauk tempe orek yang biasanya menjadi favoritnya. Tapi hari ini, wadah makan itu terasa lebih berat dari biasanya, seperti membawa beban seluruh dunia yang runtuh di dalamnya.

Ia berjalan perlahan menuju perbatasan dua pabrik—tempat di mana tanah yang berdebu besi bertemu dengan tanah yang berasap tepung. Dahulu kala, setiap kali istirahat tiba, Khem akan sudah menunggu di sana dengan wajah yang ceria, tangan memegang kotak makan yang selalu diisi dengan hidangan yang ia siapkan sendiri. Mereka akan duduk bersebelahan di atas batu besar yang sudah menjadi tempat khusus mereka, saling berbagi makanan dan cerita sambil tertawa lepas.

Murni ingat betul bagaimana Khem selalu menyukai sambal yang ia buat sendiri—pedasnya membuat matanya berkaca-kaca tapi ia tetap menikmatinya dengan senyum lebar. "Sambalmu ini rasanya seperti cinta kita, Murni—pedas tapi membuat hati jadi hangat," ujarnya dulu kala, sambil mengoleskan sambal di atas nasi dengan hati-hati. Suara tawa mereka pun akan terdengar di antara kebisingan pabrik, seperti musik yang menyegarkan di tengah kebisingan yang menyiksa.

Sekarang, batu besar itu masih ada di sana—tetapi hanya bersandar sendirian di bawah teduhan pepohonan kecil yang mulai layu. Tanah di sekitarnya masih penuh dengan bekas jejak kaki mereka yang pernah berlari dan berlari bersama, tapi kini hanya ada kesunyian yang menusuk hati. Udara yang dulu penuh dengan candaan dan tawa kini hanya membawa aroma debu dan panas yang menyengat.

Murni duduk di atas batu itu dengan hati yang berat, meletakkan kotak makan di depannya. Ia mengambil sendok makan dengan tangan yang gemetar, menusuknya ke dalam nasi putih yang sudah mulai dingin. Ketika ia memasukkannya ke mulutnya, rasanya hambar seperti pasir kering—meskipun lauk tempe orek yang biasanya gurih dan lezat ada di sana. Tidak ada rasa yang bisa dirasakan selain kesedihan yang meluap-luap, seperti lautan yang menghanyutkan segala sesuatu yang ada di dalam dirinya.

Setiap suapan yang ditelan terasa seperti menelan batu bata yang kasar dan berat. Ia berpikir tentang bagaimana Khem telah meninggalkannya begitu saja—meninggalkan semua momen indah yang mereka lalui bersama, meninggalkan tempat khusus mereka yang dulu selalu penuh dengan kehangatan. Jangan harap lagi mereka akan saling berbagi makanan di sini, jangan harap lagi suara tawa mereka akan menggema di antara pepohonan itu, jangan harap lagi Khem akan kembali untuk mengisi tempat yang kini kosong dan sunyi.

Air mata mulai menggenang di sudut matanya lagi, jatuh ke dalam kotak makan dan mencampur dengan nasi yang tersisa. Ia mencoba untuk makan lagi, tapi tenggorokannya terasa sesak dan penuh dengan rasa sakit yang tak bisa dijelaskan. Akhirnya, ia menutup kotak makan dengan cepat dan mendorongnya jauh dari dirinya—seolah ingin menjauh dari semua kenangan yang telah membuat hatinya terluka dalam.

Di kejauhan, Lilu muncul dari arah pabrik besi dan baja. Ia melihat sosok Murni yang sedang duduk sendirian di batu besar itu, dan hatinya terasa seperti tertusuk oleh jarum yang tajam. Ia mendekatinya dengan langkah yang lambat dan hati-hati, lalu duduk di sebelahnya tanpa berkata apa-apa. Kedua perempuan itu hanya duduk diam, menyaksikan awan yang melintas di langit dengan kecepatan yang lambat—seolah waktu juga merasa prihatin dan memilih untuk berjalan lebih pelan bagi mereka.

"Kamu masih mencoba untuk mengharapkannya?" tanya Lilu dengan suara yang pelan, seperti bisikan yang takut akan menyakiti.

Murni menggeleng perlahan, air matanya menetes ke pipinya dengan deras. "Tidak," jawabnya dengan suara yang remuk, "Aku sudah tidak berani mengharapkan apa-apa lagi. Hanya saja... aku tidak bisa menerima bahwa semua yang kita alami itu hanya sebuah kenangan yang tidak akan pernah terulang lagi."

Lilu mengangguk dengan pemahaman yang dalam. Ia mengambil tangannya dengan lembut, memegangnya erat—seperti mencoba untuk memberikan sedikit kehangatan di tengah dunia yang kini terasa begitu dingin dan sepi. Di sekitar mereka, waktu terus berlalu dengan lambat, membawa dengan diri kenangan yang tak bisa dilupakan dan kenyataan yang harus diterima dengan berat hati.

 

━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━

Lilu mengerucutkan tubuhnya lebih dekat ke Murni, tangan mereka masih saling menggenggam erat—seperti dua pohon yang tumbuh berdampingan di tengah badai, saling menopang agar tidak tumbang. Udara sore yang mulai sejuk menyapu wajah mereka, membawa aroma daun kering yang terbawa angin dan suara jangkrik yang mulai bersiul di kejauhan. Di kejauhan, matahari mulai meremuk di balik gugusan pepohonan, mengecat langit dengan warna jingga dan merah tua yang seperti lukisan kesedihan yang indah.

"Sama seperti kamu, Murni... aku juga pernah ditinggalkan oleh pacarku dulu," ujar Lilu dengan suara yang pelan namun jelas, seperti aliran sungai yang perlahan mengungkapkan kedalaman dasarnya. "Kita satu tempat kerja—dia bekerja di bagian perakitan, selalu datang dengan senyum yang membuat hatiku berdebar kencang. Kita sering makan siang bersama, berbagi cerita tentang masa depan yang kita impikan bersama. Dia bilang akan membawa aku pulang kampung, bilang akan menikah denganku setelah menyimpan cukup uang."

Kata-katanya keluar dengan perlahan, seperti lembaran buku yang terbuka satu per satu untuk mengungkap cerita yang telah lama terpendam. Murni menoleh padanya, mata yang masih merah karena menangis kini penuh dengan rasa pengertian yang mendalam. Ia tidak berkata apa-apa, hanya mendengarkan dengan seksama setiap kata yang keluar dari bibir Lilu.

"Tapi semua itu hanya omongan manis belaka," lanjut Lilu, matanya menatap jauh ke arah ufuk yang mulai gelap. "Saat dia harus pulang kampung karena dikabarkan ayahnya sakit, aku bahkan meminjamkan semua uang simpananku untuk biayanya. Dia berjanji akan kembali dalam waktu satu bulan, akan segera menikah denganku. Tapi ketika aku mencoba menghubunginya, nomornya sudah tidak aktif. Setelah beberapa bulan, baru aku tahu kebenarannya—dia sudah beristri, bahkan sudah punya dua anak kecil."

Lilu menghela napas panjang, suara suaranya penuh dengan rasa sakit yang telah mengeras menjadi luka yang dalam. "Ternyata selama ini dia menipu aku. Aku yang bodoh, terlalu percaya pada omongan manis suami orang. Aku merasa dunia ku runtuh begitu saja—seperti kamu rasakan sekarang. Aku tidak bisa bekerja selama beberapa hari, hanya menangis di kamar kost sambil menanyakan pada diri sendiri, apa salahku hingga harus diperlakukan seperti itu."

Ia menatap Murni dengan mata yang penuh dengan kehangatan dan pemahaman. "Kita senasib, Murni. Dua perempuan yang sama-sama dipermainkan oleh kata-kata indah yang tak pernah ditepati. Tapi jadikan ini pelajaran aja ya," ujarnya dengan nada yang semakin kuat, seperti seseorang yang telah bangkit dari bawah puing-puing kesedihan. "Kita tidak boleh membiarkan diri kita terjebak dalam kenangan yang menyakitkan. Kita tidak boleh membiarkan cinta yang salah membuat kita terluka terus-menerus."

Murni mengangguk perlahan, air mata masih mengalir namun kini ada sedikit kilatan kekuatan di dalam matanya. Ia merasakan bagaimana cerita Lilu seperti obat yang menyentuh luka dalam hatinya—ia tidak sendirian dalam rasa sakit ini. Mereka seperti dua kapal yang telah mengalami badai yang sama, yang kini bertemu di pelabuhan yang aman untuk saling memberikan kekuatan.

"Kenapa kamu tidak pernah bilang padaku tentang ini, Lilu?" tanya Murni dengan suara yang pelan.

Lilu tersenyum dengan lembut, menyeka air mata yang mulai menggenang di sudut matanya sendiri. "Karena aku tahu betul bagaimana rasanya ketika dunia kita tiba-tiba runtuh. Aku tidak ingin kamu merasa seperti aku dulu—sendirian dan tidak punya orang yang bisa mengerti. Jadi aku memilih untuk menyimpan rahasia Khem sendirian, berharap bisa menemukan cara yang paling lembut untuk memberitahumu. Tapi sepertinya takdir memilih jalan yang lebih keras untuk kita."

Mereka berdiri bersama dari atas batu besar itu, tangan masih saling menggenggam. Langit sudah mulai gelap, dan bintang-bintang mulai muncul satu per satu di langit malam yang jernih—seperti titik-titik harapan yang menyala di tengah kegelapan. Di sekitar mereka, suara kehidupan kota mulai muncul kembali—suara mobil yang lewat, suara orang berbicara riang di warung makan dekat sana, suara anak-anak yang sedang bermain lari-lari.

"Semangat, Murni," ujar Lilu sambil memeluk tubuh Murni dengan erat. "Kita pasti bisa bangkit dari ini. Kita punya pekerjaan yang kita cintai, kita punya satu sama lain. Kita tidak membutuhkan pria yang hanya bisa memberikan janji kosong. Kita bisa meraih kebahagiaan dengan kekuatan kita sendiri."

Murni merespon pelukan itu dengan erat, merasakan bagaimana kehangatan tubuh Lilu bisa menghangatkan hati yang dingin akibat kesedihan. Ia menatap langit malam yang penuh dengan bintang-bintang, berkomitmen pada diri sendiri bahwa dia akan bangkit kembali. Dia akan menghormati rasa sakit yang dia rasakan, tapi dia tidak akan membiarkannya menguasai hidupnya. Seperti Lilu yang telah bisa bangkit, dia juga akan menemukan jalan keluar dari kegelapan ini—menuju masa depan yang lebih cerah dan penuh harapan.

Di tempat mereka dulu makan siang bersama Khem, batu besar itu tetap berdiri dengan kokoh. Ia telah menyaksikan kesedihan dua perempuan yang berbagi nasib yang sama, tapi juga akan menyaksikan bagaimana mereka bangkit kembali dengan kekuatan yang tak terkira. Karena terkadang, dalam kesedihan yang paling mendalam, kita menemukan sahabat yang paling berharga—dan dari sana, kita bisa membangun kembali dunia yang pernah runtuh menjadi sesuatu yang lebih kuat dan indah.

 

...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!