Arka Baskara, dikirim oleh dinas ke Desa Sukamaju. Tugasnya menjadi Pejabat (Pj) Kepala Desa termuda untuk membereskan kekacauan administrasi dan korupsi yang ditinggalkan kades sebelumnya.
Arka datang dengan prinsip kaku dan disiplin tinggi, berharap bisa menyelesaikan tugasnya dengan cepat lalu kembali ke kota.
Namun, rencananya berantakan saat ia berhadapan dengan Zahwa Qonita. Gadis ceria, vokal, dan pemberani, anak dari seorang Kiai pemilik pesantren cukup besar di desa.
Zahwa adalah "juru bicara" warga yang tak segan mendatangi Balai Desa untuk menuntut transparansi. Baginya, Arka hanyalah orang kota yang tidak paham denyut nadi rakyat kecil.
Bagaimanakah kisah Arka dan Zahwa selanjutnya? Hanya di Novel "Ada Cinta di Balai Desa"
Follow Me :
Ig : @author.ayuni
TT: author ayuni
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengutarakan Niat
Keesokan harinya, Arka mengikuti saran Pak Sugeng, langkah Arka terasa mantap saat menyusuri jalan setapak menuju Pesantren Al-Hadid. Ia mengenakan kemeja koko berwarna biru navy yang dipadukan dengan celana kain hitam, tampak rapi namun tetap membumi. Di dalam sakunya, ia terus meraba tasbih kecil—bukan hanya untuk berzikir, tapi juga untuk menenangkan degup jantungnya yang kian kencang.
Namun, saat ia melewati rimbunan pohon bambu di sebelum kelokan arah pesantren, langkahnya terhenti. Lima orang pemuda tampak berdiri berjajar, menghalangi jalan. Di tengah mereka, seorang pemuda bertubuh tegap dengan jaket kulit kusam menatap Arka dengan pandangan permusuhan yang nyata.
Dia adalah Fikri.
Fikri bukan warga Sukamaju, tapi namanya cukup dikenal sebagai pemuda keluarga terpandang dari desa tetangga. Selama dua tahun terakhir, ia merasa menjadi pemenang yang tak terlihat karena setiap pria yang mencoba melamar Zahwa selalu pulang dengan tangan hampa.
Fikri merasa, hanya waktu yang akan membawanya bersanding dengan putri Kiai Hasan itu. Hingga Festival Teh kemarin menghancurkan keyakinannya.
"Berhenti! Pak Kades," suara Fikri berat dan penuh intimidasi.
Arka menghentikan langkah, ia tetap tenang meski otaknya mulai memetakan situasi.
"Ada yang bisa saya bantu? Saya rasa ini masih wilayah Sukamaju, dan saya tidak punya janji temu dengan warga desa sebelah sore ini."
Fikri melangkah maju, memperpendek jarak hingga ia berdiri tepat di depan Arka.
"Jangan mentang-mentang Anda pejabat kota, Anda bisa seenaknya di sini. Saya tahu maksud kedatanganmu ke pesantren setiap hari. Anda pikir saya buta melihat cara Anda menatap Neng Zahwa di festival kemarin?"
Arka mengernyit. Ia belum tahu siapa laki-laki di depannya ini, tapi ia menangkap aroma kecemburuan yang kuat.
"Maaf, urusan saya di pesantren adalah urusan pribadi dan kedinasan. Saya tidak merasa perlu menjelaskan apa pun pada Anda."
"Dengar ya, Kades Muda!" Fikri menunjuk dada Arka dengan jari telunjuknya.
"Neng Zahwa itu sudah jadi incaran saya sejak dia masih sekolah. Banyak yang lebih hebat dari Anda ditolak oleh Kiai. Jadi, lebih baik Anda fokus urus aspal dan kebun tehmu saja. Jangan coba-coba mengetuk pintu pesantren untuk urusan hati, kalau Anda tidak mau harga diri Anda hancur di desa ini."
Arka terdiam sejenak. Ia melihat kepalan tangan teman-teman Fikri. Sebenarnya, Arka bisa saja menggunakan kekuatannya untuk menghajar mereka, karena Arka pernah menjuarai kejuaraan Karate tingkat nasional saat kuliah dulu, tapi ia teringat pesan Pak Sugeng dan Kiai Hasan, Hadapi masalah dengan kepala dingin.
"Maaf.. Zahwa bukan barang yang bisa diklaim oleh siapa pun. Siapa pun yang berhak bersanding dengannya adalah pilihan dia sendiri dan ridha ayahnya. Jika Anda merasa punya hak, silakan sampaikan pada Kiai, bukan menghadang orang di tengah jalan seperti ini."
"Anda menantang saya?!" Fikri tersulut emosi, ia menarik kerah kemeja Arka.
"Saya tidak menantang," balas Arka tegas, matanya menatap tajam langsung ke bola mata Fikri tanpa rasa takut.
"Tapi saya punya urusan penting. Shalat Maghrib sebentar lagi dimulai. Tolong lepaskan, atau kita bicara di kantor polisi kalau Anda lebih suka cara itu."
Ketegangan memuncak. Teman-teman Fikri sudah bersiap maju, namun suara azan Maghrib tiba-tiba berkumandang dari menara pesantren, membelah kesunyian hutan bambu itu. Suara azan itu seolah menjadi pengingat bagi Arka akan tujuannya yang suci.
Fikri perlahan melepaskan cengkeramannya, namun wajahnya masih merah padam. "Hari ini Anda lolos karena azan. Tapi ingat, kalau saya dengar Anda macam-macam di pesantren, saya tidak akan tinggal diam."
Arka merapikan kerah kemejanya yang sedikit kusut. Ia tidak membalas ancaman itu. Ia hanya menatap Fikri dengan tatapan kasihan, lalu melanjutkan langkahnya menuju masjid.
Di dalam hatinya, Arka semakin yakin. Jika gangguan seperti Fikri saja sudah muncul, itu artinya ia memang harus segera meresmikan niatnya. Ia tidak ingin rahasia ini bocor ke warung Bu Sari atau menjadi konsumsi publik desa sebelum ada kepastian dari Kiai Hasan. Cukuplah Pak Sugeng yang menjadi saksi bisu perjuangannya sore ini.
Arka mempercepat langkah. Ia harus sampai di masjid, bersujud, dan meminta kekuatan. Sebab musuh yang ia hadapi bukan cuma pengembang lahan atau ayahnya di Ibu Kota, tapi juga preman asmara yang merasa memiliki hak atas wanita yang kini akan ia perjuangkan.
***
Arka berjalan memasuki masjid pesantren, meski pun masih ada sisa ketegangan dari perdebatannya dengan Fikri tadi, namun Arka berusaha tetap tenang, ia mengambil air wudhu lalu ia berdiri di barisan saf pertama, tepat di belakang Kiai Hasan.
Selama shalat Maghrib dan Isya, Arka berusaha sekuat tenaga mengosongkan pikirannya dari ancaman Fikri, memfokuskan seluruh jiwanya pada setiap sujud yang ia lakukan.
Selesai shalat Isya dan wirid panjang, Arka memberanikan diri mendekat saat Kiai Hasan hendak bangkit dari sajadahnya.
"Kiai... jika diperkenankan, saya memohon waktu sebentar untuk berbicara secara pribadi" ucap Arka dengan suara rendah dan penuh takzim.
Kiai Hasan menatap wajah Arka sejenak, lalu tersenyum teduh. Seolah beliau sudah bisa membaca apa yang berkecamuk di dalam dada pemuda itu. "Mari, Nak Arka. Kita bicara di dalam saja sambil minum teh."
Di dalam rumah, suasana begitu tenang. Arka tidak melihat tanda-tanda keberadaan Zahwa. Ia tahu, jam segini Zahwa biasanya sedang berada di kobong santriwati atau asrama putri, menjalankan tugasnya sebagai putri pengasuh untuk memantau para santriwati bersama kepala asrama. Ada rasa lega karena ia bisa bicara lebih bebas dengan Kiai Hasan, namun ada sedikit rasa rindu yang tertahan.
Kiai Hasan menuangkan teh hangat ke cangkir Arka. "Jadi, apa yang ingin kamu sampaikan, Nak Arka? Sepertinya ini sangat serius".
Arka menarik napas panjang, menaruh kedua tangannya di atas lutut yang sedikit bergetar.
"Kiai... kehadiran saya di sini, selain untuk mengabdi sebagai Pj Kades, ternyata Allah tumbuhkan rasa yang lain di hati saya. Saya datang ke sini untuk menyatakan niat tulus saya... saya ingin meminang putri Kiai, Zahwa.."
Arka menunduk, tidak berani menatap langsung mata sang Kiai.
"Saya tahu saya banyak kekurangan. Ilmu agama saya masih dangkal, dan latar belakang keluarga saya mungkin jauh dari kata ideal bagi sebuah pesantren. Tapi saya berjanji, saya ingin belajar dan menjaga Zahwa seumur hidup saya."
Keheningan sempat menyelimuti ruangan itu selama beberapa saat. Kiai Hasan menyesap tehnya perlahan, matanya menerawang ke arah jendela yang menampilkan siluet asrama putri di kejauhan.
" Nak Arka," panggil Kiai Hasan lembut.
"Zahwa adalah amanah terbesar dalam hidup saya. Selama ini banyak yang datang, tapi saya selalu menyerahkan keputusannya pada Zahwa dan istikharah saya. Dan untukmu... jujur saja, saya sudah melihat bagaimana kamu berjuang merangkak belajar agama di sini. Saya melihat bagaimana warga mencintaimu."
Kiai Hasan tersenyum lebar, sebuah angin segar yang membuat Arka merasa jantungnya kembali berdetak normal.
"Saya menerima niat baikmu, Nak Arka. Zahwa pun, melalui isyarat-isyarat yang saya tangkap, sepertinya sudah memberikan tempat untukmu di hatinya."
Mendengar itu, Arka merasa seolah beban seberat satu ton terangkat dari dadanya. Rasa syukur yang luar biasa membuncah di hatinya.
"Alhamdulillah... terima kasih, Kiai," ucap Arka dengan suara yang hampir pecah karena haru.
"Tapi Nak Arka, ini baru awal," Kiai Hasan mengingatkan dengan bijak.
"Lamaran dari seorang laki-laki akan sempurna jika disaksikan oleh orang tuanya. Bicaralah pada ayah dan ibumu. Bawalah mereka ke sini agar kita bisa meresmikannya secara adat dan syariat."
Arka mengangguk mantap. "Tentu, Kiai. Saya berjanji, secepatnya saya akan berbicara dengan Papa dan Mama saya. Saya akan kembali ke sini bersama mereka untuk melamar Zahwa secara resmi."
Malam itu, Arka pulang dari pesantren dengan perasaan yang sangat berbeda. Ia melewati lokasi penghadangan Fikri tadi sore tanpa rasa takut sedikit pun. Baginya, ancaman Fikri atau siapa pun kini terasa kecil dibandingkan lampu hijau yang baru saja ia dapatkan dari Kiai Hasan.
Dalam kegelapan jalan menuju rumah dinasnya, Arka bergumam lirih, "Tunggu aku, Zahwa. Aku akan datang membawa keluargaku untuk menjemput masa depan kita."
...🌻🌻🌻...