NovelToon NovelToon
SUKSES BERKAT DUKUNGAN ANAK ANAK

SUKSES BERKAT DUKUNGAN ANAK ANAK

Status: sedang berlangsung
Genre:Suami Tak Berguna / Duda
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: E'Ngador Together

Ketika dunia seolah runtuh di sekelilingnya, hanya cinta anak-anak yang bisa membangunnya kembali.

Rian baru saja di-PHK ketika rumah tangganya yang sudah berjalan 7 tahun hancur berkeping-keping. Dituduh selingkuh oleh istri, Novi, dan dipermalukan oleh keluarga besarnya, ia tidak punya pilihan selain kembali ke kampung halaman dengan membawa dua anaknya – Hadian dan Alea. Kedua anak itu dengan tegas memilih mengikuti ayahnya, bahkan menolak untuk bertemu dengan ibunda kandung mereka yang kini sudah hidup dengan orang lain.

Di rumah panggung peninggalan orangtuanya, Rian memulai dari nol. Dengan tangan yang terlatih bekerja keras dan dukungan tak lekang dari kedua anaknya, ia mengolah lahan pertanian, membuka peternakan, hingga akhirnya mendirikan perusahaan dan restoran yang sukses.

Setiap langkah kemajuan yang diraihnya tak pernah lepas dari kehadiran Hadian dan Alea. Ketika pertemuan tak terduga dengan Novi dan keluarga barunya terjadi berkali-kali, anak-anak itu tetap berdir

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon E'Ngador Together, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

23 KEDATANGAN DI KAMPUNG HALAMAN

Matahari sudah mulai muncul di ufuk timur ketika Rian dan anak-anak menyusuri jalan desa yang beraspal rusak menuju rumah nenek mereka. Udara pagi yang segar membawa aroma daun kelapa yang baru dipotong dan sawah yang lembab setelah hujan ringan semalam. Namun meskipun aroma khas kampung masih terasa, kondisi kampung yang mereka lihat sekarang sudah jauh berbeda dari apa yang Rian ingat.

“Papa, kok rumahnya banyak yang kosong ya?” tanya Hadian dengan suara yang penuh dengan rasa heran, melihat sekeliling rumah-rumah kayu yang sebagian besar tampak terbengkalai atau sudah tidak terawat dengan baik. Beberapa rumah bahkan memiliki atap yang roboh atau tembok yang mulai retak akibat usia dan cuaca yang tidak bersahabat.

Rian mengangguk perlahan, hatinya merasa berat melihat kondisi kampung yang dulu pernah ramai dan penuh kehidupan kini terlihat sepi dan suram. “Ya, Nak,” jawabnya dengan suara yang lembut. “Banyak orang dari kampung ini yang pergi ke kota untuk mencari pekerjaan yang lebih baik. Mereka meninggalkan rumah mereka karena tidak bisa lagi hidup dari bertani saja.”

Alea yang sedang berada di belakang ayahnya dengan membawa boneka Kiki-nya melihat sekeliling dengan mata yang penuh rasa ingin tahu namun juga sedikit takut. Jalan desa yang dulu dia ingat sebagai jalan tanah yang penuh dengan rerumputan kini sebagian sudah ditutupi aspal, namun sebagian lagi sudah kembali menjadi tanah yang berlubang-lubang akibat tidak terawat. Beberapa pohon besar yang dulu menjadi tempat bermain anak-anak desa kini sudah tidak ada lagi, digantikan oleh beberapa bangunan kecil yang tampak seperti warung atau tempat usaha kecil yang sudah tidak beroperasi.

Ketika mereka mendekat ke arah rumah nenek mereka – sebuah rumah kayu dua kamar yang berdiri di pinggir sawah – mereka melihat bahwa rumah itu juga sudah mengalami banyak perubahan. Atap genting yang dulu berwarna merah bata kini sebagian sudah pudar dan beberapa lembarnya sudah hilang. Tembok kayu yang dulu diolesi cat merah kini sudah mengelupas dan menunjukkan serat kayu yang sudah mulai lapuk akibat terkena hujan dan panas matahari selama bertahun-tahun. Pekarangan rumah yang dulu penuh dengan tanaman sayuran dan bunga kini hanya menjadi rerumputan yang tinggi dan beberapa semak yang tumbuh liar.

“Nenek sudah tidak bisa merawat rumah ini sendirian lagi, ya Papa?” tanya Hadian dengan suara yang penuh kesedihan, melihat kondisi rumah nenek mereka yang sudah tidak lagi seperti dulu. Dia masih ingat bagaimana neneknya dulu sering mengajaknya bermain di pekarangan rumah, menanam cabe dan tomat bersama-sama, serta membuat kue tradisional yang sangat lezat.

Rian mengangguk dengan mata yang berkaca-kaca. “Ya, Nak,” jawabnya dengan suara yang bergetar. “Nenek sudah tua dan tidak punya kekuatan lagi untuk merawat rumah dan kebunnya. Banyak keluarga kita yang sudah pergi, jadi tidak ada yang bisa membantunya.”

Saat mereka sampai di depan pintu rumah, mereka melihat sosok seorang wanita berusia lanjut sedang duduk di teras kecil rumah dengan membawa anyaman rotan yang sedang dia kerjakan. Wajahnya yang keriput menunjukkan usia yang sudah sangat tua, namun matanya masih tetap ceria dan penuh dengan cinta ketika melihat kedatangan cucunya dan dua cicitnya.

“Rian! Anak-anak!” teriak Nenek Siti dengan suara yang penuh kegembiraan, segera meletakkan anyaman rotan yang dia kerjakan dan berdiri dengan bantuan tongkat kayu yang selalu dia gunakan. “Aku sudah menunggu kamu berdua datang sejak lama!”

Alea langsung berlari ke arah neneknya dengan menangis pelan, memeluk kaki neneknya dengan erat. “Nenek!” teriaknya dengan suara yang penuh dengan rindu. “Aku rindu banget sama Nenek!”

Nenek Siti membungkuk dan mencium dahi cucunya yang kecil itu dengan penuh kasih sayang. “Aku juga rindu banget sama kamu, sayang,” jawabnya dengan suara yang lembut. “Kamu sudah tumbuh besar ya. Dan kamu juga, Hadian – sudah jadi anak laki-laki yang tampan.”

Hadian mendekat dan memberikan pelukan lembut pada neneknya. “Aku juga rindu sama Nenek,” ujarnya dengan suara yang jelas. “Kita sudah lama tidak bisa bertemu.”

Rian mendekat dan membungkus ibunya dengan pelukan yang erat. Dia merasa sangat bersyukur melihat bahwa neneknya masih dalam kondisi yang baik meskipun sudah sendirian selama bertahun-tahun. “Maafkan aku sudah lama tidak mampir, Bu,” ujarnya dengan suara yang bergetar. “Aku sudah mengalami banyak hal di kota.”

Nenek Siti mengangguk dan menepuk punggung anaknya dengan lembut. “Aku sudah tahu semuanya, Rian,” jawabnya dengan suara yang penuh dengan pengertian. “Kakakmu sudah memberitahu aku tentang apa yang kamu alami. Tidak apa-apa, anakku – yang penting kamu dan anak-anak sudah sampai di sini dengan selamat. Sekarang kamu bisa istirahat dan mulai hidup baru di sini.”

Setelah itu, Nenek Siti mengajak mereka masuk ke dalam rumah. Meskipun kondisi luar rumah terlihat kurang terawat, dalam rumah tetap terlihat rapi dan bersih. Aroma kayu dan bunga kamboja yang berasal dari meja kecil di sudut ruangan membuat suasana dalam rumah terasa hangat dan nyaman. Beberapa furnitur lama masih ditempatkan dengan rapi – meja makan kayu yang sudah aus, lemari kayu yang digunakan untuk menyimpan pakaian, serta tempat tidur kayu yang dulu menjadi tempat Rian tidur ketika masih kecil.

“Kamu bisa menggunakan kamar sebelah untukmu dan anak-anak,” ujar Nenek Siti dengan suara yang hangat, menunjukkan ke arah kamar kecil yang masih memiliki kasur dan beberapa bantal yang cukup untuk mereka tiga. “Aku sudah membersihkannya beberapa hari yang lalu karena merasa bahwa kamu akan datang.”

Rian merasa sangat terima kasih mendengar kata-kata ibunya. Dia segera membantu anak-anak meletakkan barang-barang mereka di kamar tersebut, sementara Nenek Siti pergi ke dapur untuk menyiapkan minuman hangat dan beberapa kue tradisional yang sudah dia buat sejak pagi hari.

Saat mereka duduk bersama di ruang tamu yang kecil namun nyaman, menikmati minuman hangat dan kue yang lezat, Rian melihat sekeliling rumah dan merenungkan semua perubahan yang telah terjadi di kampung halamannya. Meskipun kondisi kampung sudah jauh berbeda dari sebelumya – banyak rumah yang kosong, sawah yang tidak terawat, dan orang-orang yang pergi mencari kehidupan yang lebih baik di kota – dia merasa bahwa di sinilah dia bisa menemukan kedamaian dan tempat perlindungan yang dia dan anak-anak butuhkan.

Hadian dan Alea sudah mulai bermain dengan beberapa mainan tradisional yang dulu dimiliki Rian ketika masih kecil – sebuah layangan yang sudah cukup tua namun masih bisa digunakan, serta beberapa boneka kayu yang dibuat oleh kakek mereka sebelum meninggal dunia. Mereka tertawa riang dan berlari-lari kecil di dalam rumah, membawa semangat baru dan kehidupan yang dulu sudah mulai hilang dari kampung ini.

Nenek Siti melihat cucunya yang sedang bermain dengan senyum yang penuh dengan cinta. “Kampung ini memang sudah banyak berubah, Rian,” ujarnya dengan suara yang lembut, melihat ke arah anaknya yang sedang merenung. “Banyak hal yang sudah tidak seperti dulu. Tapi aku yakin bahwa dengan datangnya kamu dan anak-anak, kampung ini akan kembali menjadi seperti dulu – penuh dengan kehidupan dan harapan untuk masa depan yang lebih baik.”

Rian mengangguk dengan senyum. Dia tahu bahwa tidak akan mudah untuk membangun kehidupan baru di kampung halaman yang sudah banyak berubah. Namun dengan dukungan dari neneknya, cinta dari anak-anak, dan tekad yang kuat untuk memberikan kehidupan yang layak bagi keluarga kecilnya, dia yakin bahwa mereka akan bisa mengatasi segala rintangan yang ada dan membuat kampung ini menjadi tempat yang benar-benar bisa mereka sebut sebagai rumah.

Di luar jendela, matahari sudah mulai tinggi dan memberikan cahaya hangat pada kampung yang tenang itu. Meskipun banyak hal yang sudah berbeda dari sebelumya, namun rasa kebersamaan dan cinta yang ada di antara mereka membuat semua kesulitan yang mereka alami terasa lebih mudah untuk diatasi. Mereka tahu bahwa jalan yang akan ditempuh tidak akan mudah, namun dengan semangat yang baru dan harapan yang membara dalam hati mereka, mereka siap untuk menghadapi segala tantangan yang akan datang dan membangun masa depan yang lebih baik bersama-sama.

1
Dewiendahsetiowati
ada typo Thor Budi yang harusnya kakak jadi ayah
Dewiendahsetiowati
hadir thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!