Meski sudah menikah, Nabila Rasmini tetap menjadi aktris ternama. Filmnya laku dan dia punya banyak fans. Namun tak ada yang tahu kalau Nabila ternyata memiliki suami toxic. Semuanya tambah rumit saat Nabila syuting film bersama aktor muda naik daun, Nathan Oktaviyan.
Syuting film dilakukan di Berlin selama satu bulan. Maka selama itu cinta terlarang Nabila dan Nathan terjalin. Adegan ciuman panas mereka menjadi alasan tumbuhnya api-api cinta yang menggebu.
"Semua orang bisa merasakan cemistry kita di depan kamera. Aku yakin kau pasti juga merasakannya." Nathan.
"Nath! Kau punya tunangan, dan aku punya suami. Ini salah!" Nabila.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 29 - Tentang Dini
Di apartemen mewahnya yang menghadap pusat kota Jakarta, Dini berdiri di depan cermin besar. Rambutnya disanggul rapi, make-up flawless, gaun sutra berwarna krem melekat sempurna di tubuhnya. Setiap detail penampilannya selalu diperhitungkan, karena baginya, kesempurnaan bukan pilihan, melainkan kewajiban.
Ponsel di tangannya kembali bergetar. Nama Nathan muncul di layar. Namun sebelum panggilan itu sempat terhubung, kembali terputus.
Dini mengeraskan rahangnya. “Kenapa sih susah sekali dihubungi?” gumamnya kesal, tapi matanya justru memancarkan kecemasan yang berusaha dia tutupi. Ia duduk di tepi ranjang, menatap layar ponsel yang kini gelap. Dalam kepalanya, bayangan Nathan terus berputar.
Senyum Nathan. Suara Nathan. Nama Nathan.
Obsesi itu sudah lama tumbuh, jauh sebelum publik mengenal mereka sebagai pasangan ideal.
Nathan bukan cinta pertama Dini. Tapi Nathan adalah target.
Bagi Dini, Nathan adalah lelaki paling populer dan tampan saat ini. Semua wanita mengidolakannya. Karena bertunangan dengan Nathan, banyak orang yang iri pada Dini. Termasuk teman-temannya, dan Dini menyukai itu. Dia seperti memenangkan lotre. Membayangkan Nathan akan jadi semuanya, dirinya merasa hidupnya pasti akan sempurna.
Sejak awal, hubungan mereka memang bukan lahir dari perasaan. Mereka dijodohkan. Pamannya Nathan adalah sahabat lama ayah Dini, dua pengusaha besar yang sama-sama percaya bahwa pernikahan adalah alat strategis, bukan urusan hati.
Dini tahu itu, dan justru karena itulah ia bertekad membuat Nathan benar-benar menjadi miliknya.
Malam itu, Dini turun ke ruang makan besar rumah orang tuanya. Ayahnya sedang membaca koran bisnis, ibunya sibuk dengan tablet, memeriksa undangan sosial.
“Papa,” ucap Dini manja sambil menarik kursi di samping ayahnya. “Kita sudah terlalu lama menunda pernikahanku.”
Ayahnya menurunkan koran. “Nathan masih sibuk syuting di luar negeri.”
“Itu selalu alasannya,” balas Dini cepat. “Aku capek menunggu. Aku tunangannya. Calon istrinya. Tapi rasanya aku seperti… opsional.”
Ibunya menoleh tajam. “Dini, jaga nada bicaramu.”
Dini menarik napas, lalu mengganti strategi. Ia meraih tangan ibunya. “Mama tahu kan, reputasiku? Kita? Orang-orang mulai bertanya. Aku tidak mau terlihat seperti perempuan yang ditinggal terlalu lama.”
Ayahnya terdiam. Ia tahu, di dunia mereka, persepsi publik adalah segalanya.
“Lagi pula,” lanjut Dini lembut namun menekan, “Nathan butuh stabilitas. Seorang istri. Aku bisa jadi itu.”
Ibunya menatapnya lama. “Kau mencintainya?”
Dini tersenyum, senyum yang terlatih. “Tentu.”
Padahal yang sebenarnya ada di dadanya bukan cinta yang hangat, melainkan kebutuhan untuk memiliki.
“Aku akan bicara dengan paman Nathan,” kata ayahnya akhirnya. “Kita percepat. Setelah filmnya selesai.”
Mata Dini berbinar. “Terima kasih, Pa.”
Di kamarnya kembali, Dini menatap cermin sekali lagi. Kali ini senyumnya lebih tajam. “Sebentar lagi,” bisiknya pada bayangannya sendiri. “Kau akan resmi jadi milikku, Nathan.”
Dini tidak tahu, atau mungkin tidak mau tahu, bahwa di belahan dunia lain, Nathan sedang berdiri di ambang keputusan yang akan menghancurkan semua rencana rapi itu.
Tak lama kemudian, Dini kembali menghubungi Nathan. Pupil matanya membesar, karena kali ini teleponnya di angkat.
"Kau kemana aja sih?!" timpal Dini.
"Maaf... Aku baru selesai syuting. Ada apa?" tanggap Nathan dari seberang telepon.
"Aku ingin memajukan tanggal pernikahan kita. Kata Papah, dia akan diskusi sama pamanmu," ungkap Dini.
"Apa?! Dipercepat?!" Nathan terdengar kaget.
"Lho, kok kamu kaget begitu. Nggak mau nikah sama aku?" Dini langsung cemberut.
billa dipenjara tidak papa menyelamatkan semua korban lukman gak akan lama nanti para saksi akan muncul sendiri.
modelan lukman kalau gak dead gak akan berhenti