Follow fb : mumuyaa
ig : @tulisanmumu
Zaidan tidak tahu, apakah ini cinta pada pandangan pertama, atau hanya rasa kasihan hingga rasa ingin melindungi saja karena dirinya yang merupakan seorang polisi. Namun yang ia tahu, ia ingin melindungi wanita itu.
“Saya berjanji. Saya akan pastikan pria bajingan ini pasti akan menerima hukuman yang berat. Dia tidak akan pernah lolos, tidak akan pernah merasakan dunia luar lagi. Jadi… jangan buat hati ibumu patah lagi."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mumu.ai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PPPL 35
Setelah pagi sebelumnya bertemu dengan Yumna, di malam harinya Zaidan dan Zahra akhirnya berpapasan dengan Arsyi yang datang menjenguk Bu Anti.
Begitu masuk ke kamar rawat, Arsyi langsung berseru heboh.
“Aci tau dari Kak Yumna, Bang, kalau ibunya pacar Bang Zaidan lagi dirawat. Sempat kaget aku, lah udah punya pacar emang Bang Zaidan. Eh rupanya sama Zahra, ya. Cieeee…” Mulutnya benar-benar tanpa rem.
Zahra sontak menegang. Ia melirik sekilas ke arah ibunya. Bu Anti yang mendengar hanya tersenyum kecil, tidak ikut menanggapi. Namun dalam hatinya, ia sudah bisa menebak. Tidak mungkin seorang lelaki datang pagi dan malam, mengurus ini-itu, kalau tidak ada rasa.
Zaidan berdehem pelan.
“Mulut kamu tuh, Ci…”
Arsyi malah terkekeh, lalu duduk di samping Zahra. Selama di kamar itu, Arsyi justru lebih banyak mengobrol dengan Zahra, bertanya tentang pekerjaan, tentang keseharian, sampai cerita-cerita ringan yang membuat Zahra beberapa kali tertawa lepas.
Karena usia mereka tak terpaut jauh, suasana cepat mencair. Sebelum pulang, Arsyi bahkan meminta nomor ponsel Zahra.
“Nanti kalau Bang Zaidan macam-macam, laporin aku,” bisiknya jahil.
Zahra tersipu, sementara Zaidan hanya bisa menggeleng pasrah.
Tiga hari kemudian, Bu Anti diperbolehkan pulang. Zaidan kembali memastikan semuanya pada dokter tentang kondisi Bu Anti. Memastikan jika tekanan darah stabil, obat sudah sesuai, dan tidak ada risiko lanjutan akibat insiden jatuh tempo hari itu.
Namun pagi penjemputan, Zaidan mendadak mendapat panggilan tugas.
“Maaf ya, Ra, Mas nggak bisa jemput Ibu,” ucapnya di ujung telepon. Suaranya terdengar menyesal.
“Iya nggak apa-apa, Mas. Kami bisa sendiri. Jangan khawatir.” Zahra berusaha terdengar tenang, walau sebenarnya ia tahu Zaidan pasti merasa tidak enak.
“Mas sebenarnya nggak enak banget ninggalin kamu.”
“Kerja dulu yang benar, Mas. Itu lebih penting.”
Zaidan terdiam sejenak, lalu menghela napas.
“Ya sudah. Mas lanjut kerja dulu. Ini sudah dipanggil. Nanti kalau sudah sampai rumah, kabarin Mas.”
“Iya. Mas hati-hati.”
Telepon ditutup.
Walaupun belum ada status resmi yang terucap jelas di antara mereka, Zahra mulai sadar, ia tidak lagi menjaga jarak sejauh dulu. Ia mulai membiarkan Zaidan masuk pelan-pelan ke dalam hidupnya.
“Administrasi rumah sakit udah kelar semua, Ra?” tanya Bu Anti ketika dirinya baru saja dilepaskan infus dari tangannya.
“Jangan khawatir, Bu. Semua sudah dibereskan langsung sama Mas Zaidan.” Bukan Zahra yang menjawab, melainkan perawat yang sedang membantu Bu Anti.
“Tapi dia tidak ada di sini sekarang, Sus. Kok bisa dia yang ngurusin?” tanya Bu Anti lagi yang penasaran.
Perawat yang sudah senior itu hanya tersenyum lembut. Ia menduga jika pasiennya ini belum mengetahui siapa sosok Zaidan sebenarnya.
“Itu keuntungannya punya orang dalam, Bu.”
Jawaban yang diberikan oleh perawat itu semakin membuat Zahra dan Bu Anti bingung. Tetapi karena sang perawat yang tahu jika akan ada pertanyaan selanjutnya, ia bergegas keluar dari kamar itu, takut untuk ditanya lebih jauh.
“Siapa orang dalamnya, Ra?” tanya Bu Anti pada putrinya.
“Setahu Zahra, Mas Zaidan punya sepupu dokter di sini, Bu. Itu lho kakaknya Arsyi.”
“Oo…”
Tak lama Bu Anti dan juga segera keluar dari kamar rawat itu. Bu Anti tetap diminta untuk duduk di kursi roda dan dibantu oleh seorang satpam yang akan membawanya menuju lobi rumah sakit.
Keesokan paginya, saat matahari bahkan belum benar-benar tinggi, terdengar ketukan di pintu rumah kecil Zahra.
Zahra yang baru saja selesai merapikan rumahnya terkejut. Ia membuka pintu, dan mendapati Zaidan berdiri di sana dengan kaos polo hitam dan tas selempang. Di tangannya ada dua kantong plastik besar.
“Mas?” Zahra mengerjap. “Sudah mau berangkat kerja?”
Zaidan menggeleng santai.
“Pulang aja Mas belum.”
Zahra mengernyit.
“Mas cuma mau nganterin sarapan ini buat kamu sama Ibu.” Ia mengangkat sedikit kantong plastiknya. “Setelah ini Mas harus balik lagi ke kantor.”
Zahra terdiam sejenak. Dadanya terasa hangat oleh perhatian kecil yang terasa begitu besar.
“Mas repot-repot banget sih…” gumamnya pelan.
“Nggak repot. Kebetulan lewat,” jawab Zaidan ringan, padahal jelas arah kantor dan rumah Zahra berlawanan.
Zahra tahu itu alasan yang dibuat-buat. Namun ia memilih tidak membongkarnya.
“Mas sudah makan?”
“Nanti aja. Di kantor.”
“Jangan bohong.”
Zaidan tersenyum miring. “Ya udah, Mas makan sedikit sama kalian.” Zahra pun mempersilahkannya masuk.
Di dalam, Bu Anti yang baru saja keluar dari kamarnya tampak terkejut melihat Zaidan datang pagi-pagi.
“Lho, Zaidan? Nggak kerja?”
“Kerja, Bu. Ini cuma antar sarapan buat Ibu sama Zahra. Habis ini langsung ke kantor.”
Bu Anti tersenyum penuh arti.
“Perhatian sekali kamu.”
Zahra menunduk, pura-pura sibuk membuka bungkusan makanan. Aroma bubur ayam dan gorengan hangat memenuhi ruangan sederhana itu.
Mereka makan bersama di meja kecil ruang tamu. Rumah Zahra yang sederhana menjadikan ruang tamu itu sekaligus menjadi ruang santai. Tidak ada percakapan berat. Hanya obrolan ringan tentang obat Bu Anti, tentang jadwal kontrol, dan sedikit cerita Zaidan soal pekerjaannya.
Namun di sela-sela itu, beberapa kali mata Zaidan tertuju pada Zahra. Zahra yang tahu tidak lagi menghindari tatapan itu.
Setelah selesai makan, Zaidan berdiri.
“Mas harus balik sekarang.”
Zahra mengangguk. Ia ikut mengantar sampai ke pintu.
“Hati-hati ya, Mas.”
“Kamu juga. Jaga Ibu baik-baik. Kalau ada apa-apa, telepon Mas. Jangan sok kuat sendiri.”
Zahra tersenyum kecil.
“Iya.”
“Hari ini kerja?” tanyanya lagi.
“Iya, Mas masuk siang nanti.”
“Kalau Mas bisa, nanti pulangnya Mas jemput, ya,” ucap Zaidan.
Zahra hanya tersenyum. Ia tahu jika menolak pasti tidak ada gunanya sebab Zaidan yang suka memaksa.
Zaidan sempat menatapnya sejenak, seolah ingin mengatakan sesuatu. Namun akhirnya ia hanya mengusap pelan puncak kepala Zahra.
“Mas pamit.”
Zahra berdiri di ambang pintu, memperhatikan punggung pria itu menjauh.
Perasaannya hangat, dan dalam hati ia berdoa, semoga saja ia diizinkan untuk bahagia bersama pria itu.
ngeriiii euy... 🤣🤣🤣🤣