NovelToon NovelToon
KETIKA AKU MENCINTAI PUTRA

KETIKA AKU MENCINTAI PUTRA

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Cintapertama / Berondong
Popularitas:314
Nilai: 5
Nama Author: Essa Amalia Khairina

Salma tidak pernah merasakan seperti apa itu pacaran. Setiap kali dirinya menyukai seseorang, pasti orang yang dicintainya itu tidak pernah membalas perasaannya, hingga akhirnya selalu berujung kepada cinta bertepuk sebelah tangan. Sekalinya pacaran, justru disakiti. Hingga ia mati rasa kepada pria mana pun.

Namun anehnya, setelah mendapati satu murid yang pintar, cerdas, manis dan memiliki kharismatik sendiri, Salma justru terjebak dalam cinta itu sendiri. Layaknya dejavu yang belum pernah ia lewati. Bersama Putra, Salma merasa bahwa ia kembali pada titik yang seharusnya ia miliki sejak dulu.

Menentang takdir? Bodo amat, toh takdir pun selalu menentangnya untuk merasakan seperti apa ia benar-benar dirinya dicintai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Essa Amalia Khairina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KOMITMEN YANG TAK TERUCAP

"Bagaimana Bu Salma bisa seyakin itu?" Ulang Putra dengan tawa renyah di bibirnya. Kalimat Pak Yanto seakan menjadi penenang baginya saat kini, Salma tengah berada di didekatnya, di sampingnya.

Salma melempar senyum. Matanya yang semula kosong menatap tanah taman yang yang letaknya di belakang sekolah, kini bulat bola matanya berpaling memandang langit siang yang redup. "Aku sudah bercerai dengan Erwin."

Raut wajah Putra mendadak berubah. Perlahan, ia memandang Salma dari samping, seolah ingin memastikan kalimat itu benar-benar keluar dari bibir perempuan di hadapannya—bukan sekadar salah dengar. Namun yang ia lihat, tidak ada kesedihan, tidak ada kekecewaan, hanya ketegaran dan kelapangan dada yang terpancar disana.

"Ibu... serius?" Kata Putra memastikan. "Ibu gak lagi bercanda, kan?"

Salma mengangguk. "Aku sudah kehilangan segalanya." Lanjutnya. "Bukan karena Erwin. Tapi Ibuku."

Salma lalu menunduk dalam, tenggorokannya terasa kaku saat menelan saliva yang terasa pahit. "Hal yang paling menyedihkan di dunia ini..." Suaranya bergetar, nyaris berupa bisikan, "...adalah kehilangan Ibu untuk selamanya."

​Jakun Putra bergerak naik turun. Kalimat Salma menghantam dadanya dengan telak. Di balik binar mata wanita itu, Putra melihat air mata yang menggenang—sebuah luka lama yang menganga lebar, begitu pedih hingga tak lagi mampu disembunyikan. Ada dorongan tak kasatmata yang menggerakkan tubuh Putra. Secara perlahan, ia mengulurkan tangan, meraih punggung jemari Salma dan mengusapnya lembut.

​Sentuhan itu sederhana, namun seolah menyalurkan kekuatan yang tidak bisa diucapkan kata-kata. Entah dari mana keberanian itu muncul, dan entah mengapa, Salma tidak menarik tangannya. Dunia di sekitar mereka seolah melambat. Batas antara guru dan murid itu mengabur, menyisakan dua jiwa yang saling melengkapi, satu menelan kesedihan, satunya lagi menyelami kesedihan.

Detik berikutnya, ​Salma mengangkat wajahnya. Ia menoleh ke arah Putra dengan senyuman tipis yang tulus, meski sisa duka masih menggelayut di matanya. ​"Putra... aku akan bantu kamu semampu aku. Aku melakukannya sebagai rasa terima kasihku karena kamu sudah mau mendengarkan dan membantuku melewati saat-saat sulit kemarin," Ucap Salma lembut.

​"Bu Salma—" Putra hendak menyahut, namun kalimatnya terputus.

​Salma menggeleng pelan, tatapannya mengunci manik mata Putra. "Aku mau kamu kejar cita-cita kamu. Aku yakin kamu bisa, Putra! Percayalah. Dan satu permintaanku... mulai sekarang, tolong panggil aku Salma saja."

​Putra membisu. Ada getaran yang tidak tertulis dalam buku panduan sekolah mana pun. Ia merasakan dadanya meledak, membuncah penuh kemenangan atas kegelisahannya tentang Salma kini terbayar. Pun, Salma merasakan kehangatan dari tangan Putra yang lambat laun menjalar hingga ke dadanya, meruntuhkan tembok pertahanan yang selama ini ia bangun atas nama profesionalisme. Baginya, Putra bukan lagi sekadar siswa yang duduk di bangku kelas. Ia adalah satu-satunya manusia yang mampu melihat retakan di hatinya tanpa menghakimi.

​"Salma." Ucap Putra kemudian, terasa seperti membisikkan sebuah rahasia suci. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena takut, melainkan karena rasa hormat yang kini bersalin rupa menjadi sesuatu yang lebih dalam dan protektif.

Mereka tahu, mereka tengah berdiri di ambang batas yang berbahaya, namun di saat yang sama, merasa begitu aman karena akhirnya menemukan seseorang yang benar-benar mengerti tanpa perlu banyak bicara. Hati mereka seolah telah bersepakat untuk saling menjaga, tak peduli betapa rumitnya dunia yang akan mereka hadapi nanti.

****

Jarum jam sudah melewati angka dua belas, namun kantuk seolah enggan menyapa Putra. Kamarnya hanya diterangi cahaya remang dari layar ponsel yang ia gulir tanpa arah, sekadar membunuh sunyi di tengah malam yang kian larut.

Ia kemudian berbaring telentang, sesekali menghela napas panjang menatap langit-langit kamar yang gelap.

​Tiba-tiba, sebuah getaran pendek di genggamannya memecah keheningan.

​Putra sedikit tersentak. Pupil matanya melebar saat melihat satu nama muncul di baris notifikasi. Salma.

Dengan gerakan cepat, ia membuka pesan itu...

​Besok hari libur. Aku akan bimbing kamu mulai besok.

​Seketika, rasa kantuk yang tersisa hilang sepenuhnya. Senyum lebar tak tertahankan merekah di wajah Putra. Ia bangkit dari baringnya dengan semangat yang meledak-ledak, seolah seluruh energi di dunia baru saja dipompakan ke dalam tubuhnya. Sungguh, malam yang tadinya membosankan kini berubah menjadi penantian yang mendebarkan.

****

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!