NovelToon NovelToon
Second Wife

Second Wife

Status: sedang berlangsung
Genre:Poligami / CEO / Janda / Selingkuh / Aliansi Pernikahan / Ibu Mertua Kejam
Popularitas:709
Nilai: 5
Nama Author: yulia puspitaningrum

Pernikahan yang bahagia selalu menjadi dambaan bagi setiap wanita didunia ini, namun terkadang takdir tidak berjalan sesuai apa yang kita harapkan.

Begitupun dengan apa yang dialami Alyssa, wanita cantik berusia 26 tahun itu harus menerima kenyataan pahit. Bahwa pernikahan yang selalu ia jaga hancur oleh penghianatan sang suami.

Rasa kecewa dan sakit yang ia rasakan membuat ia trauma dan berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak menjadi duri dalam rumah tangga orang lain. ia menutup dirinya rapat rapat namun semua itu tidak lantas mengubah prasangka buruk orang orang karena statusnya sebagai seorang janda.

Namun bagaimana jadinya jika takdir memintanya untuk menjadi istri kedua... akankah ia menolaknya mengingat janjinya. atau ia akan menerimanya karena keadaan yang begitu memaksa dirinya...
lalu sanggupkah ia menjalani kehidupannya.

penasaran intip kisahnya disini jangan lupa berikan kritik dan saran yang membangun...
terimakasih

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yulia puspitaningrum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

29. Malu...

Pagi datang perlahan, sinar matahari menyelinap lewat celah tirai jendela rumah sakit, membentuk garis-garis cahaya lembut di lantai kamar rawat itu.

Suasana masih sunyi. Hanya terdengar bunyi mesin infus yang berdetak pelan dan napas teratur para penghuninya.

Pintu kamar terbuka perlahan.

Lita melangkah masuk lebih dulu, diikuti putri bungsunya,Bela yang masih menguap kecil karena bangun terlalu pagi.

“Mama sudah tidak sabar ingin melihat kakakmu, sebenarnya dia sedang apa kenapa bisa dia tidak mengabari mama kalau mertuanya sudah siuman." Kesal Lita mencari cari keberadaan putranya dan ketika ia menemukannya Lita terpaku.

Disana tepatnya disamping ranjang besannya, sang anak tengah tertidur pulas bersama Alyssa.

Sebenarnya bukan itu yang membuat Lita terkejut melainkan posisi anaknya yang tertidur miring, satu tangannya melingkar protektif di pinggang Alyssa.

Wajah pria itu terlihat jauh lebih tenang dibanding biasanya.

Sementara Alyssa terlelap menghadap ke arahnya, dahinya hampir menyentuh dada Brayen, jemarinya tanpa sadar menggenggam ujung kemeja yang masih melekat di tubuh laki laki itu.

Bukan pelukan yang penuh nafsu.

Bukan pula kedekatan yang canggung.

Itu pelukan dua orang yang sama-sama lelah… dan akhirnya menemukan rasa aman.

Bela yang juga ikut menyaksikan hal itu pun langsung menutup mulutnya sendiri, menahan suara terkejutnya.

“Aku tidak salah lihat kan ma?" Tanya bela melirik ibunya.

Lita tidak langsung menjawab.

Matanya melembut. Ada sesuatu yang menghangat di dadanya melihat putranya yang selama ini tertutup, keras pada diri sendiri, dan selalu merasa tidak sempurna karena keadaannya kini tidur setenang itu sambil memeluk Alyssa.

“Pelan sedikit, nanti mereka bangun,” bisik Lita seraya tersenyum. Terlihat sekali jika ia senang melihat anak dan menantunya seperti itu.

“Tapi kalau diingat ingat baru kali ini aku melihat kak Brayen setenang itu dalam tidurnya. Biasanya dia selalu terbangun dan berteriak seperti orang gila..." Gumam Bela yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari ibunya.

"Itu karena dia frustasi bukan gila. Kalau saja Maudy tidak meninggalkannya mungkin dia tidak akan seperti itu."

“tapi... Mama bahagia melihatnya seperti ini itu artinya dia mulai merasa nyaman dengan Alyssa.” ucap Lita tersenyum lega.

"Maaf anda siapa, mengapa anda datang kesini. Siapa yang anda cari?" Tanya seseorang yang tidak jauh darinya mengalihkan perhatian lita.

Lita tersenyum dengan perlahan ia mendekati wanita paruh baya itu dan duduk disampingnya.

"Saya ibunya Brayen, maaf baru menjenguk sekarang. Saya baru tau kalau ibu sudah siuman." Ucap Lita menjelaskan.

"Ternyata besan, tidak apa apa saya mengerti lagi pula saya baru siuman kemarin dan mungkin Brayen belum sempat memberitahu anda "

"Tidak perlu berbicara formal kita ini keluarga, panggil saja saya Lita sepertinya kita seumuran." Pinta Lita yang di anggguki dengan perlahan oleh Manda.

Hening mereka masih asik memperhatikan Alyssa dan juga Brayen hingga akhirnya Manda teringat jika ia belum sempat berterimakasih kepada Lita secara langsung.

"Oh iya lita, terimakasih atas bantuan yang kamu berikan. Jika bukan karena mu mungkin aku sudah terbujur kaku saat ini. Aku tidak tau harus membalas kebaikanmu dengan cara apa." Lita tersenyum, diraihnya kedua tangan Manda dan menepuknya perlahan.

"Tidak perlu berterimakasih mbak, saya senang bisa membantu mbak dan Alyssa. Mbak juga tidak perlu membalas apa yang saya lakukan karena Alyssa sudah membalas semuanya. Seharusnya saya yang berterimakasih kepada mbak, karena mbak tidak menyalahkan Alyssa atas apa yang dia lakukan."

" Bagaimana bisa aku menyalahkannya, sedangkan dia melakukan semuanya karena ku. Alih alih marah aku justru merasa bersalah. Andaikan aku tidak seperti ini mungkin dia tidak akan merelakan kebahagiaannya dan menikah dengan laki laki yang tidak dikenalnya." Ucap Manda sendu, meskipun Alyssa tidak menyalahkannya tapi tetap saja ia merasa sakit ketika mengingat itu.

Sama halnya dengan Manda, Lita juga merasa bersalah karena sudah memaksa Alyssa untuk menikah dengan anaknya.

"Maaf karena sudah memaksa Alyssa menikah dengan Brayen." Lirih Lita menundukkan kepalanya.

Manda tersentak, ia sungguh tidak memiliki pemikiran menyinggung wanita dihadapannya .

"Aku sama sekali tidak menyalahkan mu, aku mengerti kamu melakukan semua ini demi Brayen. Alyssa sudah menceritakan semuanya. Jika aku menjadi kamu, aku juga akan melakukan hal yang sama. Ibu mana yang tidak ingin anaknya kembali seperti sedia kala, hidup bahagia dan tidak terus terbelenggu dengan lukanya." Mata Lita berkaca kaca, ia teringat bagaimana perjuangannya untuk memulihkan Brayen. Begitu sulit bahkan ia tidak yakin anaknya bisa kembali seperti dulu.

Sementara Manda yang menyadari betapa beratnya perjuangan Lita pun hanya bisa menepuk pundak wanita itu untuk menguatkannya.

"Semua yang terjadi sudah digariskan, kita harus menerimanya dan mendoakan yang terbaik untuk mereka." Lita mengangguk tangannya terulur mengusap air matanya dengan perlahan.

"Maaf, mbak malah melihatku menangis." Manda hanya tersenyum berusaha memahami keadaan Lita.

Merasa terusik dengan kebisingan disekitarnya, Alyssa membuka matanya.

Dan hal yang pertama kali dilihatnya adalah dada bidang sang suami. Jantung Alyssa berdegup dengan kencang, ia tidak menyangka akan sedekat ini dengan Brayen.

Kepalanya terdongak keatas menatap wajah Brayen yang terlihat tenang. Senyum terukir dibibir Alyssa tanpa sadar tangannya terulur ingin menyentuh rahang laki laki itu namun sebelum ia melakukannya tiba tiba saja ia mendengar sebuah suara.

"Pstt... Pstt..." Alyssa menolehkan wajahnya berusaha mencari sumber suara itu dan ketika ia menemukannya matanya melebar, ia terkejut melihat bela yang kini tengah tersenyum kepadanya dan melambaikan tangannya.

Dengan cepat Alyssa mengalihkan pandangannya kearah lain dan benar saja disana juga ada ibu mertuanya yang saat ini tengah asik mengobrol dengan ibunya.

"Apa mereka sudah melihatku dan kak Brayen." Lirih Alyssa tiba tiba saja merasa malu, pipinya memerah apalagi kala membayangkan senyum mengejek dari bela rasanya ia ingin menenggelamkan dirinya.

Alyssa berusaha menyingkirkan tangan Brayen dari pinggangnya, ia tidak ingin bela dan ibunya terus melihatnya dalam keadaan seperti itu namun Brayen tidak mau melepaskannya.

Suaminya itu malah semakin mengeratkan pelukannya hingga Alyssa tidak bisa bergerak lagi.

"Bangunlah kak, atau kita akan semakin malu nanti." Bisik Alyssa tidak Brayen pedulikan. Ia masih mengantuk dan tetap ingin memeluk Alyssa.

"Kak... Aku mohon." Pinta Alyssa yang sudah mulai merasa kesal.

Hening Brayen masih tidak bergeming akhirnya Alyssa tidak punya pilihan lain ia cubit pinggang Brayen sedikit keras hingga laki laki itu langsung membuka matanya.

"Apa yang kamu lakukan Alyssa kenapa kamu mencubit ku?" Teriaknya menatap Alyssa tajam.

"Lihat kedepan kak." Kening Brayen berkerut heran, dengan perlahan ia menolehkan kepalanya kearah depan dan sama seperti istrinya ia juga terkejut melihat ibu, mertua dan adiknya yang saat ini tengah menatapnya dengan senyum tersimpul dibibir mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!