NovelToon NovelToon
Pesona Istri Yang Kusia-siakan

Pesona Istri Yang Kusia-siakan

Status: sedang berlangsung
Genre:Lari Saat Hamil / Selingkuh / Pelakor / CEO / Suami Tak Berguna / Penyesalan Suami
Popularitas:120.3k
Nilai: 5
Nama Author: Melon Milk

Alyssa hidup dalam pernikahan yang hancur bersama Junior, pria yang dulu sangat mencintainya, kini menolaknya dengan kebencian. Puncak luka terjadi ketika Junior secara terang-terangan menolak Niko, putra mereka, dan bersikeras bahwa anak itu bukan darah dagingnya. Di bawah satu atap, Alyssa dan Niko dipaksa berbagi ruang dengan Maureen, wanita yang dicintai Junior dan ibu dari Kairo, satu-satunya anak yang diakui Junior.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melon Milk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

25

Niko memberi tahu ibunya bahwa ia hanya akan keluar sebentar dari apartemen.

"Sayag, kamu belum terlalu hafal kota ini. Lagipula sebentar lagi Mommy harus pergi ke studio Tante Briana. Cecil juga tidak ada yang menemani." ujar Alyssa sambil merapikan barang-barangnya.

"Mommy, aku nggak jauh-jauh, janji. Aku cuma ke minimarket. Pakai sepeda yang dikasih Paman Edgar," kata Niko, jelas terlihat antusias, meski berusaha terdengar santai agar tak dicurigai.

Ia bahkan memeluk tubuh ibunya.

Dan karena Alyssa memang ibu yang mudah luluh, ia akhirnya mengangguk. "Baiklah. Tapi jangan jauh-jauh, ya? Perhatikan jalan, selalu waspada, mengerti?" pesannya sambil mengecup kepala Niko.

Niko mengangguk. Meski masih kecil, ia sudah terbiasa memperhatikan sekeliling.

Ia semakin bersemangat keluar, apalagi sekarang ia tak punya teman bermain. Ia merindukan teman-teman sebayanya di Amerika. Sedikit sedih, tapi ia mencoba menerima kenyataan bahwa mereka akan tinggal di sini.

"Terima kasih, Mommy. Aku pergi dulu!" pamitnya sambil mengecup pipi Alyssa sebelum keluar dari apartemen.

Saat mengayuh sepeda di trotoar, suasana cukup tenang. Hanya beberapa mobil melintas, dan beberapa orang berjalan di sisi seberang. Jalan yang ia lewati juga relatif sepi, jalan besar yang ramai ada di sisi lain.

Tiba-tiba pandangannya tertuju ke arah jalan, dan ia menghentikan kayuhan.

"Oh… itu Kairo?" gumamnya, menyipitkan mata.

Ia menelan ludah. Hampir saja tersenyum, tapi ia menahan diri. Ia memaksa wajahnya tetap serius meski sudut bibirnya nyaris terangkat.

Adiknya ada di sana.

Lalu siapa pria tinggi di sampingnya?

Junior… ayahnya.

Mereka keluar dari minimarket, membawa beberapa kantong plastik. Mereka tampak bahagia.

Kaki Niko berhenti mengayuh, roda sepeda berputar pelan lalu berhenti.

Ia melihat ayahnya masuk ke mobil, sementara Kairo kembali masuk ke minimarket. Entah kenapa, tubuh Niko bergerak begitu saja. Ia memarkir sepedanya di samping minimarket dan hampir berlari masuk.

Perasaannya seperti otomatis, campur aduk antara marah, senang, dan bingung.

Begitu masuk, ia segera mencari-cari hingga menemukan orang yang ia cari.

"Hei, Kairo," panggilnya.

Kairo menoleh. Tatapannya singkat, dingin cukup untuk membuat Niko merasakan jarak di antara mereka.

"Kamu, ya. Niko. Ngapain kamu di sini?"

Nada suaranya jelas menunjukkan ia tak ingin bertemu Niko.

Ia tak lagi memanggil Niko dengan sebutan "Kakak". Itu menusuk.

Niko mencoba tenang. "Beli sesuatu," jawabnya, meski sebenarnya tidak ada yang ingin dibeli. Ia menatap Kairo, berharap ada senyum atau nada yang lebih lunak.

Namun tidak ada.

"Oke. Aku sama Papa," kata Kairo sambil melirik ke dinding kaca, ke arah mobil mereka. Ada kebanggaan di suaranya.

"Jangan pernah muncul di depan dia kalau kamu nggak mau dia marah," bisik Kairo sambil mendekat. "Aku kan sudah bilang. Aku anaknya. Anak satu-satunya. Dia nggak sayang kamu dan nggak peduli." Ia menyeringai. "Dan Kakek memberiku sepeda besar yang bisa kupakai nanti."

Niko mengalihkan pandangannya, tak tahu harus menjawab apa.

"Aku favoritnya. Dia meluangkan waktu buatku. Kami main basket. Dia mau aku jadi pemain inti nanti. Kamu? Dia bahkan nggak nanya kabarmu karena kamu bukan anak kandungnya."

Niko menelan sesak di tenggorokan. Ia mengepalkan tangan.

Kenapa masih sakit?

Ia seharusnya tak peduli.

Tapi… ia ingin dekat dengan adiknya. Ia berharap masih ada sedikit ikatan. Ternyata ia salah. Bahkan Kairo membencinya.

Baik.

Jika Kairo membencinya, maka ia juga akan berhenti mencoba.

Ia memutar mata, memaksa diri tak terlihat terpengaruh. Setidaknya ia tak menangis seperti pertemuan mereka di parkiran dulu, yang benar-benar menyakitkan dan membuatnya iri.

Namun saat berbalik ke pintu keluar, matanya membelalak. Junior dan Kairo sudah di sana, bersama lagi.

"Papa, anak palsumu ada di sini," kata Kairo sambil menunjuk Niko dengan senyum menyebalkan.

"Diam, Kairo!" bentak Junior, keningnya berkerut. Kairo mundur sedikit, tampak terkejut, lalu berdiri di sisi ayahnya.

'Pantas,' batin Niko.

Niko berdiri diam, menatap pria yang dulu ingin sekali ia banggakan sebagai ayahnya.

Junior memandanginya dari ujung kepala hingga kaki. "Kamu sendirian?" tanyanya, bahkan menoleh ke belakang Niko.

"Urus urusanmu sendiri," balas Niko dingin.

Ia membencinya. Sangat.

Namun Junior malah menyeringai kecil, seolah terhibur. "Memang anak Alyssa," gumamnya, nyaris tertawa.

Ia teringat nada dan api dalam suara Alyssa saat marah dan kini ia melihatnya pada Niko.

Niko tak mendengar dan hanya mendengus.

"Mau ikut? Kami mau lihat sekolah di dekat sini," tawar Junior dengan nada tenang.

Kening Niko berkerut. Kenapa ayahnya tiba-tiba selembut ini?

"Kenapa ngajak dia, Papa?" sela Kairo kesal. "Bukannya Papa benci dia?"

Junior menghela napas, menepuk bahu Kairo. "Dia dulu tinggal bersama kita. Aku hanya ingin meluangkan waktu sebentar." Ia menoleh ke Niko. "Mau?"

Dalam kepala Niko, teriakan menggema: Jangan bilang iya. Dia mengabaikanmu. Dia tak pernah mengakui kamu.

Wajahnya menegang, matanya menyala. "Tidak!" teriaknya. "Kalian menjijikkan! Jangan bicara denganku!"

Ia berlari keluar menuju sepedanya.

Namun sebelum sampai, ia tersandung dan terjatuh ke aspal. Telapak tangannya menahan tubuh, lututnya tergores.

"Aduh!"

Ia menoleh dan melihat Kairo, yang baru saja mendorongnya.

"Kenapa kamu bilang Papa menjijikkan?!" teriak Kairo. "Kamu cuma iri karena Papa lebih sayang aku!"

"Kairo, berhenti!" teriak Junior, cepat menarik bahu anaknya.

"Dia bilang kita menjijikkan!"

"Sudah, biarkan!" balas Junior.

Niko diam. Ia menatap Kairo dengan luka yang tak terucap. Ia berdiri tanpa membalas, mengepalkan tangan, menahan sakit di lututnya.

"Kamu nggak apa-apa?" tanya Junior sambil mengulurkan tangan.

Niko menepis tangan itu dan berdiri sendiri.

Ia memalingkan wajah, dadanya terasa berat.

Ia berjalan tertatih ke sepedanya. Junior memperhatikannya, langkah yang berat, lutut berdarah.

"Mau aku antar pulang?" tawar Junior lagi.

"Jangan dekati aku!" bentak Niko. "Aku nggak butuh bantuan dari iblis dan ayah tak berguna seperti kamu!"

Junior terpaku. Kata-kata itu menghantamnya keras.

Kairo muncul lagi dan, tanpa ragu, memukul pipi Niko. "Papa-ku bukan ayah tak berguna! Kamu ngomong begitu karena kamu bahkan nggak punya ayah!"

"Cukup! Kita pergi!" bentak Junior sambil menarik Kairo.

"Kenapa Papa bicara sama dia? Dia bukan bagian dari kita!"

Junior menoleh lagi ke Niko, pipi memerah, tangan gemetar, lutut berdarah.

"Maaf soal itu. Kamu yakin nggak mau dibantu?" tanyanya pelan.

"Berhenti bicara denganku! Aku benci kalian!" teriak Niko, lalu menaiki sepedanya dan mengayuh pergi meski lututnya sakit.

"Niko!" panggil Junior. Anak itu tak menoleh.

***

Suasana Studio Fashion Briana sunyi, hanya terdengar dengungan mesin jahit.

Dua desainer lain membantu Briana mengerjakan gaun Maureen.

Di tengah studio, Alyssa berdiri dengan tangan terlipat, menatap dinding kosong. Lalu pandangannya jatuh pada gaun putih di mannequin.

"Nona Maureen pasti menyukai desain ini," ujar Briana sambil memegang sketsa. "Kita mulai gaun pengantin Maureen hari ini. Kamu penasaran hasilnya?"

Alyssa tersenyum tipis. "Tentu. Desainnya indah. Kamu cepat sekali."

"Tentu! Itu kan desainmu. Mereka nggak tahu kamu yang buat," canda Briana.

"Gila," Alyssa tertawa kecil, namun hatinya terasa perih.

Ia menggigit bibir. Ini pekerjaan. Hanya gaun. Tidak seharusnya menyangkut perasaannya.

Namun bayangan Junior terus menghantuinya.

"Alyssa, kamu baik-baik saja?" tanya Briana.

"Ya," jawabnya cepat. "Ayo lanjut."

Teleponnya berdering. Nama ibunya muncul.

"Bu?"

"Alyssa, pulang sebentar. Niko terluka, pipinya memar. Dari minimarket. Dia nggak mau cerita."

Mata Alyssa membesar. "Apa?! Di mana dia sekarang?"

"Di kamar. Nggak mau keluar."

Alyssa langsung mengambil tasnya dan berlari keluar.

Sesampainya di apartemen, ia mengetuk kamar Niko.

"Sayang, ini Mommy."

Pintu terbuka.

Niko duduk di tepi ranjang, lutut diperban, pipi dikompres, bahunya bergetar.

"Sayang…" Alyssa berlutut. "Apa yang terjadi?"

"Kami bertengkar. Dia mulai dulu," isak Niko. "Maaf bikin Mommy pulang."

Alyssa memeluknya. "Mommy selalu pilih kamu."

"Kairo… sama Papa."

Tubuh Alyssa menegang. "Junior? Dia biarkan itu terjadi?"

"Dia mau bantu, tapi aku nolak."

Alyssa memeluk lebih erat. "Kamu benar menolak."

Ia merawat luka Niko dengan lembut.

"Aku nggak akan biarkan siapa pun menyakitimu lagi, sayang."

Niko tersenyum kecil. Ia merasa aman.

1
kalea rizuky
menye menye alisya males dahh
kalea rizuky
pergi jauh alisya enak aja qm sama anak mu cm di jadiin cadangan doank dih laki goblokkk
Asyatun 1
lanjut
Oma Gavin
waduh ini yg koma istri edgar jgn seneng dulu kamu maureen hbs ini giliran edgar yg akan menghabisi mu dan hans
Anonymous
LEMAH AMAT 🤣
Asyatun 1
lanjut
Anonymous
Alyssa mental Slime
Ma Em
Alyssa bulatkan tekadmu pergilah ke Amerika lbh baik Alyssa dan anak2 tinggal di Amerika , Alyssa hrs bisa melupakan Junior emang Junior tetaplah papanya Niko dan Cecil itu tdk akan ada yg bisa menggantikannya , aku tdk sukanya sama Alyssa tetap saja lemah dan bodoh msh saja TDK bisa move on dari Junior sama saja Alyssa dipakai tambah lumayan sama Junior dulu dicaci dihina dan diusir dibuang seperti sampah tapi Alyssa sdh melupakan momen itu .
Ma Em
Alyssa akhirnya kamu emang selalu kalah dari Maureen kamu yg bodoh Alyssa msh saja percaya sama Junior , Junior tetap saja memprioritaskan Kairo daripada Niko , lbh baik kamu lupakan Junior lbh baik kamu keluar negeri lagi jgn tinggal di indonesia lagi lupakan Junior carilah kebahagiaanmu dan anak2 Alyssa .
Asyatun 1
lanjut
Adinda
Alysa tolol udah dibuang,difitnah direndahkan masih mau bertahan
Adinda
wanita tolol udah dibuang kayak sampah masih saja bodoh
kalea rizuky
kapok goblok sih jd orang menyia nyiakan anak dan istri demi anak haram
Oma Gavin
nah bener kan kairo bukan anak junior sudah jelas dari kelakuan nya mirip maureen kamu saja yg oon bin goblok junior selama ini kamu hanya dimanfaatkan maureen jelas" selingkuh dgn hans kamu masih saja ngga test DNA udah dari awal kamu ragu wajah ngga ada miripnya dgn kamu masih saja kamu pertahankan, semoga kamu juga ditinggalkan sama alyssa dan niko, cecil biar komplit penderitaan mu junior
Anonymous
ole ole balikan... DASH DASH OHRANGER
Anggrenioi
okeee
Anita Rahayu
cerita kamu memuakkan dan jenuh thor karakter cowo gk tegas dan plin plan begitu juga dgn cweknya gk sukalah bacanya
kalea rizuky
Alisa lemah lembek tolol lawan bodoh
kalea rizuky
sekali lacur ttep lacur
kalea rizuky
klo balik q ksih rating jelek. ini. novel liat aja
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!