Naura "gadis ideal". Ia memiliki senyum cerah yang tampak tulus, suara yang riang, dan kemampuan luar biasa untuk mencairkan suasana. Di SMA Pelita Bangsa, ia dikenal sebagai siswi yang ramah, sedikit ceroboh agar tidak terlihat mengancam, dan sangat mudah disukai.
Di balik binar matanya, Naura adalah seorang pengamat yang sangat dingin.
Arkan adalah sosok yang dijuluki "Cowok Kulkas". Ia pendiam, sinis, dan selalu menjaga jarak dengan siapapun. Ia lebih sering terlihat dengan buku sketsa atau headphone yang melingkar di lehernya. Arkan tidak peduli pada hierarki sosial sekolah dan tidak ragu untuk bersikap kasar jika merasa privasinya terganggu.
Arkan bukan sekadar remaja yang membenci dunia. Ia memiliki kecerdasan arsitektural dan teknis yang melampaui usianya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yahhh__, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Suasana di dalam ruangan privat itu mendadak mencekam. Arkan terdiam, mencerna informasi yang baru saja ia bongkar dari sistem keamanan tingkat tinggi yang melindungi identitas Naura.
"S3 Kriminologi dan usia lo sekarang 23 tahun. Penyamaran yang luar biasa niat, Naura. Atau harus gue panggil Doktor Naura Amira Al-fatih?" Arkan meletakkan sumpitnya, menatap Naura dengan intensitas yang bisa mengintimidasi siapa pun, kecuali wanita di depannya ini.
Naura menyesap ocha-nya dengan tenang, matanya yang tadi berbinar ceria kini berubah menjadi tajam dan dingin, sorot mata seseorang yang sudah melihat sisi tergelap manusia.
"Gue rasa gelar itu nggak berguna di sini, Arkan. Di SMA Pelita Bangsa, gue cuma gadis berisik yang suka tas Milan," jawab Naura datar. "Lalu, apa lagi yang lo temukan? Soal alasan gue pergi lima tahun lalu?"
Arkan menyandarkan punggungnya. "Catatan resmi menyebutkan lo pindah ke luar negeri karena ingin menjaga nenek lo yang sakit. Alasan yang sangat 'bakti' dan sulit dibantah.
Alasan lo sangat klise, Naura."
Naura terdiam, jemarinya memainkan pinggiran cangkir teh.
"Najam... dia kakak lo," lanjut Arkan, suaranya sedikit melunak namun tetap tegas. "Dan dia adalah sahabat terbaik yang pernah gue punya di akademi. Gue tahu seberapa hancurnya dia saat lo mutusin buat pergi dengan alasan itu."
Naura mendongak, ada kilatan luka yang berusaha ia sembunyikan. "Gue pergi buat jadi lebih kuat, Arkan. Supaya saat gue balik, gue nggak cuma jadi beban buat dia. Dan gue nggak suka sama diri gue yang lemah."
Arkan mengangguk pelan, menerima penjelasan itu untuk sementara. Namun, ada satu bagian dari profil Naura yang benar-benar kosong, seolah-olah sengaja dilenyapkan oleh kekuatan besar.
"Lalu, gimana dengan orang tua lo?" tanya Arkan tiba-tiba. "Nggak ada catatan kematian, nggak ada catatan domisili, bahkan nama mereka nggak muncul di kartu keluarga lo dan Najam selama sepuluh tahun terakhir. Siapa mereka sebenarnya?"
Seketika, atmosfer di ruangan itu mendingin. Naura yang tadinya mulai terbuka, kini kembali memasang tembok pertahanan yang tinggi. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi, melipat tangan di dada dengan raut wajah yang menutup rapat.
"Itu wilayah terlarang, Arkan," jawab Naura dingin. "Gue sudah kasih tahu lo soal umur gue, gelar gue, dan alasan gue ninggalin Najam. Tapi soal orang tua gue... itu bukan bagian dari kesepakatan atau misi ini. Jangan pernah tanya lagi kalau lo masih mau kita kerja sama."
Arkan menyipitkan mata, menyadari bahwa ia baru saja menyentuh titik paling sensitif dalam hidup Naura. Sebelum ia sempat mendesak lebih jauh, sebuah getaran dari jam tangan taktis Arkan memberikan peringatan.
"Ada pergerakan di luar," bisik Arkan sambil menekan earpiece-nya. "Seseorang dengan akses VIP baru saja melewati lift pribadi."
Naura segera mengubah ekspresinya. Dalam hitungan detik, tatapan dingin sang doktor kriminologi menghilang, digantikan oleh binar mata Naura sang siswi SMA yang ceria. Ia meraih sumpitnya dan mulai tertawa kecil seolah-olah mereka baru saja membicarakan hal lucu.
"Duh, Arkan! Serius deh, masa lo nggak tahu cara pakai sumpit yang bener?" seru Naura dengan nada tinggi yang sengaja dikeraskan.
Pintu geser ruangan privat itu terbuka. Gibran berdiri di sana dengan senyum ramahnya yang khas, namun matanya memindai seisi ruangan dengan sangat teliti.
"Wah, ternyata benar kalian di sini," ujar Gibran santai. "Kebetulan aku juga ada janji di lantai ini. Boleh aku bergabung sebentar?"
Arkan tidak membiarkan Gibran melangkah lebih jauh ke dalam ruangan. Ia meletakkan cangkir jus nya dengan suara ketukan yang mantap di atas meja, lalu menatap Gibran dengan tatapan yang sangat datar, bahkan cenderung mengusir.
"Maaf, Gibran," potong Arkan sebelum Gibran sempat menarik kursi. "Gue rasa ini bukan waktu yang tepat buat bergabung."
Gibran menaikkan satu alisnya, senyum ramahnya masih bertahan, namun ada kilat dingin yang tertangkap oleh mata tajam Naura. "Oh ya? Gue pikir kita berteman cukup baik untuk sekadar duduk bersama."
"Gue sedang menepati janji traktiran gue ke Naura," lanjut Arkan dengan suara berat yang penuh penekanan. "Dan ini adalah dinner. Gue nggak terbiasa ada orang ketiga kalau sedang urusan personal. Lo paham, kan?"
Suasana mendadak menjadi sangat canggung. Nadira atau murid lain mungkin akan gemetar melihat interaksi dua "pilar" sekolah ini, tapi Naura justru menikmati drama ini. Ia memasang wajah yang seolah-olah tersipu malu, menunduk sambil memainkan ujung rambutnya.
"Iya, Kak Gibran... maaf ya," ucap Naura dengan nada suara yang dibuat selembut mungkin. "Bukannya nggak mau, tapi Arkan tadi bilang dia mau ngomongin sesuatu yang... emm, pribadi. Mungkin lain kali kita bisa makan bareng bertiga?"
Gibran terdiam sejenak, matanya bergantian menatap Arkan yang kaku dan Naura yang tampak malu-malu. Ia bisa merasakan ada tembok tak kasat mata yang dibangun oleh keduanya untuk menghalanginya masuk.
"Pribadi, ya?" Gibran terkekeh pelan, suaranya terdengar tulus tapi tidak mencapai matanya.
"Oke, kalau begitu. Gue nggak mau jadi pengganggu di momen penting kalian. Nikmati makan malamnya, Arkan. Dan Naura... sampai jumpa di sekolah besok."
Begitu Gibran menutup pintu geser dan langkah kakinya menjauh, Arkan langsung memeriksa jam tangannya.
"Dia sudah pergi dari koridor VIP," bisik Arkan.
Naura menghela napas panjang, seluruh akting "malu-malunya" luntur seketika. Ia menyandarkan punggungnya dengan kasar ke kursi. "Gila, lo berani banget ngusir anak pemilik yayasan. Lo nggak takut penyamaran lo dipersulit?"
"Dia terlalu ingin tahu," jawab Arkan dingin.
"Kalau gue biarkan dia duduk di sini, dia akan mulai mencocokkan pola bicara kita. Gibran punya kemampuan observasi di atas rata-rata murid SMA."
Naura mengangguk setuju. "Dia bukan sekadar ingin tahu, Arkan. Dia sedang mencari celah"
Baru saja ketegangan mereda setelah kepergian Gibran, pintu geser ruangan privat itu tiba-tiba terbuka dengan kasar. Kali ini bukan dengan ketukan sopan, melainkan dengan suara gaduh yang sudah sangat familiar di telinga Arkan.
"DEMI APA?! ARKAN?! NAURA?!"
Bimo muncul dengan mata melotot, disusul Rio yang sibuk memegang ponselnya, siap merekam. Mereka berdua berdiri di ambang pintu dengan ekspresi seolah baru saja melihat fenomena alam yang langka.
"Woy, parah banget! Ternyata beneran di sini!" Rio berteriak heboh, mengabaikan tatapan tajam dari para pelayan restoran di lorong. "Gue kira naura cuma bercanda pas bilang minta di traktir tadi pagi!"
Arkan tidak merespon, ekor mata nya melihat ada gibran di balik pintu ruang masuk
Cepat-cepat, Arkan mengubah posisinya. Ia mengambil sumpitnya, menjepit sepotong sushi tuna terbaik, dan dengan gerakan yang terlihat agak kaku namun sengaja dibuat "manis", ia mengarahkannya ke depan mulut Naura.
"Buka mulutmu," gumam Arkan, suaranya dibuat serendah mungkin agar terdengar seperti bisikan romantis di telinga orang luar.
Naura, yang instingnya langsung menyala melihat kedatangan Bimo dan Rio, langsung berakting. Ia membelalakkan mata, lalu perlahan tersenyum malu-malu dan menerima suapan itu dengan wajah memerah yang sangat natural.
"Aaaa... enak banget, Arkan. Makasih ya," ucap Naura manja.
"GILA! GUE PINGSAN! GUE PINGSAN SEKARANG JUGA!" Bimo memegang kepalanya, sementara Rio hampir menjatuhkan ponselnya karena kaget melihat pemandangan "langka" tersebut.
Arkan meletakkan sumpitnya dengan kasar, lalu menoleh ke arah Bimo dan Rio dengan wajah yang dibuat sangat kesal seolah-olah privasi kencannya baru saja dirusak oleh pengganggu.
"Kalian ngapain di sini?" desis Arkan tajam. "Nggak ada kerjaan lain selain ngebuntutin gue?"
"Duh, Ar-Rais... santai dong!" Rio tertawa puas, merasa di atas angin. "Kita kan cuma mau mastiin kalau sahabat kita ini nggak lagi kesurupan jin restoran. Ternyata bener ya, kekuatan Naura bisa bikin kulkas jadi mesin penghangat."
"Keluar," perintah Arkan singkat. "Gue mau lanjut makan. Ganggu aja."
"Iya, iya! Galak banget sih pengantin baru," ledek Bimo sambil menarik Rio mundur. "Ra, jangan lupa ya ceritain detailnya besok di kelas! Kita cabut dulu!"
Begitu pintu tertutup kembali dan suara tawa mereka menjauh, Arkan langsung menjauhkan kursinya dari Naura. Ia memijat pelipisnya, merasa harga dirinya baru saja jatuh ke titik terendah demi sebuah penyamaran.
"Gibran cerdik," gumam Arkan. "Dia nggak perlu masuk ke sini sendiri. Dia cukup mantau di luar ruangan akibat ke datangan bimo dan rio."
Naura menelan sushi-nya, lalu tertawa kecil kali ini tawa tulus yang sedikit mengejek Arkan. "Tapi akting lo lumayan juga, Komandan. 'Buka mulutmu' katanya? Gue hampir beneran baper kalau nggak inget lo itu agen kaku."
Naura kembali serius. "Tapi baguslah. Sekarang Gibran pasti mikir kalau kita cuma dua remaja yang lagi dimabuk cinta. Itu bakal bikin dia sedikit lengah di perkemahan nanti."