Rayya Assyura tidak pernah menyangka, ketika menerima laporan tentang karyawan terbaik yang direkomendasikan langsung dari cabang luar negeri adalah Devan Yudistira. Pria yang paling ia benci sejak masa remaja. ketika menginjakkan kaki di rumahnya sebagai anak tukang kebun.
Rayya masih mengingat jelas bagaimana papanya begitu menyukai kepribadian Devan, cerdas, santun, pekerja keras, hingga tanpa ragu menyekolahkannya di SMA elit yang sama dengannya. Lebih dari itu, sang papa bahkan meminta Devan menjaga Rayya di sekolah.
kehidupan rayya sempat tenang ketika mendapati devan mendapat beasiswa kuliah di oxford university.
namun kharisma devan sekarang membuat rayya dipaksa berpikir ulang.
apakah kebencian masih dipertahankan atau takdir justru mempermainkan mereka berdua. bagaimana kisah selanjutnya? mari kita saksikan..
mencari angin
Lounge hotel malam itu dipenuhi cahaya temaram dan alunan musik lembut. Aroma kopi hangat bercampur dengan suara obrolan ringan para direksi yang tampak jauh lebih santai dibandingkan suasana formal di kantor. Beberapa dari mereka duduk melingkar, menikmati minuman sambil melepas penat setelah hari yang panjang.
Devan sudah berada di sana lebih dulu. Ia duduk bersama beberapa direktur, secangkir kopi hitam di hadapannya. Obrolan mereka mengalir tentang proyek pelabuhan, rencana kerja sama dengan Hariaksa Group, hingga hal-hal ringan tentang Labuan Bajo. Sikap Devan tetap tenang dan profesional, membuat suasana diskusi terasa seimbang.
Tak lama kemudian, Pak Surya muncul di pintu lounge. Tatapannya langsung tertuju pada Devan. Ia menghampiri dengan langkah mantap, lalu menepuk bahu Devan dengan bangga.
“Devan,” katanya, kali ini dengan nada yang jauh lebih personal, “Papa ingin mengucapkan selamat secara langsung. Kinerja kamu hari ini sangat baik. Kamu dan Rayya sudah membawa nama perusahaan ke arah yang tepat.”
Devan segera berdiri. “Terima kasih, Pak. Saya hanya menjalankan tanggung jawab saya.”
Pak Surya tersenyum lebar. “Tetap saja, hasilnya tidak main-main. Tender ini besar, dan kerja sama kalian solid. Acara malam ini memang pantas untuk merayakan kemenangan perusahaan.”
Para direksi lain mengangguk setuju, mengangkat cangkir mereka seolah menyetujui pernyataan itu. Suasana lounge pun terasa lebih hangat.
Beberapa menit kemudian, Rayya tiba.
Ia langsung bergabung dengan kelompok para wanita, istri direksi dan beberapa direktur perempuan. Seperti biasa, Rayya tampil dengan pakaian santai namun elegan. Tanpa kesan berlebihan, auranya justru semakin menonjol. Rambutnya tergerai rapi, wajahnya terlihat lebih rileks, jauh dari ketegangan rapat dan presentasi.
Devan tanpa sadar menoleh.
Untuk sesaat, Rayya tampak seperti berada di dimensi lain, bukan Rayya yang kaku dan penuh dinding pertahanan, melainkan perempuan yang santai dan percaya diri. Ada ketenangan di sana yang jarang ia lihat.
Namun Devan segera menarik dirinya kembali. Ia tahu, seberapa pun tenangnya Rayya malam ini, dendam lama itu masih ada. Rayya tetaplah Rayya yang sama, yang memandangnya dengan jarak dan penolakan.
Entah bagaimana, Rayya menoleh. Tatapan mereka bertemu sesaat.
Rayya tidak tersenyum. Ia hanya mengangkat dagu sedikit, sebuah kode halus bahwa ia hadir. Bahwa ia tidak mundur.
Devan membalasnya dengan senyum simpul, singkat namun penuh arti.
Acara coffee time berlangsung hangat dan tanpa ketegangan. Percakapan mengalir ringan, tawa sesekali terdengar, menandai suasana yang benar-benar berbeda dari ruang rapat. Namun seiring waktu berjalan, satu per satu para direksi mulai pamit. Agenda esok hari menanti, outbond yang sudah dijadwalkan sejak lama. membuat mereka memilih beristirahat lebih awal.
Devan ikut berdiri, memberi salam singkat kepada Pak Surya dan beberapa direksi lain. “Saya izin dulu, Pak,” ucapnya sopan.
Bukan karena mengantuk. Devan justru merasa butuh udara segar. Setelah seharian penuh berada di ruang tertutup, pikirannya ingin tenang. Ia melangkah keluar area hotel, menuju tepi laut yang tidak jauh dari bangunan utama. Angin malam menyentuh wajahnya, membawa aroma asin yang menenangkan. Devan duduk sendiri di salah satu kursi kayu, memandang laut gelap yang berkilau samar oleh pantulan cahaya lampu.
Sementara itu, Rayya juga memutuskan untuk kembali ke kamarnya. Ia sempat menoleh ke arah tempat Devan tadi duduk, kosong. Dalam hatinya, ia menyimpulkan bahwa Devan pasti sudah lebih dulu naik ke kamar. Pikiran itu tidak terlalu ia pedulikan.
Namun ketika Rayya membuka pintu balkon kamarnya dan melangkah keluar, niatnya hanya satu: menghirup udara malam sebentar sebelum tidur. Dari atas, pandangannya tanpa sengaja tertuju ke bawah.
Rayya terdiam.
Di sana, di tepi laut, Devan masih duduk sendirian. Sosoknya terlihat kecil dari kejauhan, punggungnya menghadap hotel, sepenuhnya menatap laut. namun rayya yakin dengan pakaian yang di kenakan devan tadi. Tidak ada ponsel di tangan, tidak ada siapa pun di sekitarnya. Hanya Devan dan malam.
Untuk sesaat, rasa penasaran menyelinap. Ada sesuatu yang berbeda dari cara Devan duduk, dari kesunyian yang mengelilinginya. Namun Rayya segera mengalihkan pandangan. Ia tidak ingin terseret ke dalam perasaan yang tidak perlu. Terlebih, ada hal lain yang lebih mendesak.
Ponselnya bergetar.
Nama Tommy muncul di layar.
Rayya mengangkat panggilan itu tanpa banyak ekspresi. Di seberang, suara Tommy terdengar sedikit tegang. Ia menjelaskan bahwa ada masalah mendadak di perusahaannya. sesuatu yang belum bisa ia tinggalkan begitu saja. Ia belum bisa memastikan apakah akhir pekan ini bisa menyusul ke Labuan Bajo.
Rayya mendengarkan dalam diam.
“Aku mengerti,” jawabnya akhirnya, nada suaranya tenang. Ia tidak menuntut penjelasan lebih jauh. Tidak memaksa, tidak mempersoalkan. Namun setelah panggilan itu berakhir, ada rasa kecewa yang tidak bisa ia hindari.
Ia menatap layar ponselnya sebentar, lalu menghela napas pelan.
Tadinya, ia berpikir Tommy sudah bisa diandalkan.
Rayya menyandarkan tubuhnya di pagar balkon, kembali memandang laut, tanpa sengaja, tatapannya dengan Devan bertemu.
Di tepi laut, tadinya Devan duduk dengan kedua tangan bertumpu di lututnya. Tatapannya kosong, menembus gelap malam yang hanya diterangi cahaya lampu-lampu kecil di sekitar dermaga. Debur ombak yang pelan justru menyeretnya jauh ke masa lalu, ke kenangan yang selama ini ia simpan rapat.
Ia teringat tunangannya.
Perempuan itu selalu menyukai laut. Setiap kali ada kesempatan libur, mereka akan mencari pantai, menyewa perahu kecil, atau sekadar duduk berdua menikmati angin asin sambil berbagi cerita. Laut, bagi mereka, bukan sekadar tempat, melainkan ruang aman, tempat mereka merencanakan masa depan dengan senyum dan harapan sederhana.
Devan mengingat tawa itu. Cara tunangannya memejamkan mata ketika angin laut menerpa wajahnya. Cara ia menggenggam tangan Devan, seolah tidak ingin melepaskannya.
Namun kenangan itu berhenti di sana.
Devan menghela napas panjang. Dadanya terasa sesak, meski wajahnya tetap tenang. Ia tahu, sekeras apa pun ia menginginkan waktu berputar kembali, kenyataan tidak akan berubah. Perempuan yang pernah mengisi dunianya itu tidak akan pernah kembali. Semua rencana, semua janji, berhenti pada satu titik yang tidak bisa ia langkahi lagi.
“Sudah selesai,” gumamnya pelan, lebih kepada dirinya sendiri.
Devan menegakkan punggung, menarik pikirannya kembali ke masa kini. Ia tidak membiarkan dirinya terlalu lama terjebak dalam luka lama. Hidup harus terus berjalan, itu prinsip yang ia pegang sejak hari ia kehilangan.
Ia menatap laut sekali lagi, lalu bangkit berdiri. Malam ini cukup. Kenangan itu akan tetap ada, namun ia tidak lagi menguasainya.
devan ternyata ingin kembali ke kamarnya seraya memandangi bangunan hotel. tanpa sengaja tatapannya bertemu dengan rayya yang masih berdiri di balkon. langkah devan sempat terhenti, namun devan segera memalingkan wajahnya dan berpura - pura melihat bagian lain hotel, ia tak mau rayya salah paham padanya. kemudian melangkahkan kakinya lagi dan berjalan menuju kamarnya.
tak lama rayya pun memutuskan untuk tidur agar besok dia bisa kembali segar.