NovelToon NovelToon
Cinta Yang Tergadai

Cinta Yang Tergadai

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintamanis / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:477
Nilai: 5
Nama Author: Aksara Senada

Ini tentang Anin yang berusaha menjaga api cinta dalam rumah tangganya agar tetap menyala kala badai datang menggoyahkan–menguji cinta dan keutuhan rumah tangganya dengan Harsa yang telah banyak memberi bahagia. Haruskah ia gadaikan cinta mereka dengan perasaan sesaat?
....
Kamu adalah cinta yang datang layaknya hujan, membasahi saat aku merasa paling gersang. Namun, sayangnya kamu pergi bagai puing yang belum pernah sempat kugenggam.
~Sekala Bumi
....
Aku pernah tersesat diantara persimpangan gelap, kamu hadir menemukanku diantara pekatnya malam yang hampir menelan. Sayangnya diantara ribuan pilihan kau malah meninggalkanku sendirian tanpa pernah kau perjuangkan.

Kini ... aku tak lagi sama. Ragaku telah bertuan, walau pada kenyataannya separuh hatiku masih ingin menggenggammu.
~Anindyaswari

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Senada, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

7. Kecewa

Begitu pintu terbuka, Anin seketika membelalak melihat Harsa pulang dalam keadaan kacau begini.

Kesal, kecewa sekaligus khawatir yang tadi melanda dan berkecamuk dalam dada seketika berubah berganti muak.

Sebuah mobil yang masih milik sosok yang juga dikenalnya terparkir di jalan membuat ia mau tak mau berusaha tersenyum ramah meski hati rasanya ingin meledak. Brama dan Gilang mengantar suaminya pulang lantaran kondisi Papa Zura ini tak memungkinkan jika harus mengemudi sendiri.

Anin menghembuskan napas panjang. Sebagaimana pun usahanya ia tetap tak bisa mengendalikan ekspresi.

Gilang berdehem kikuk, “Harsa gak bisa nyetir sendiri, jadi kami antar pulang,” ujarnya sembari menoleh ke arah Brama yang lebih memilih menunggu di mobil. Sialan, kampret satu itu beneran pilih jalur aman! Gilang mengumpat dalam hati.

Anin hanya mengangguk mendengar penjelasan Gilang. Menikah dengan Harsa jelas membuat ia cukup kenal dengan semua sahabat karib suaminya itu.

“Dia agak mabuk.” Gilang lanjut menjelaskan dengan setengah-setengah.

Dan Anin makin tak bisa berkata-kata saat mendengar penjelasan tambahannya yang menurutnya agak tidak sesuai fakta. Yang benar aja?! gerutu Anin dalam diam

Laki-laki keturunan Tionghoa itu lalu menyerahkan Harsa yang sempoyongan padanya. Anin lantas merangkul tubuh suaminya, berusaha menahan diri agar tubuhnya tetap seimbang. Meski agak kewalahan, untungnya tinggi badan Anin yang cukup tinggi bisa diadalkan untuk menopang tubuh suaminya yang berpostur tinggi berisi itu.

Cih, ini yang katanya agak mabuk? Anin bertanya dalam hati, membuatnya tanpa sadar terkekeh miris. Siapa yang mau dibodohi laki-laki kampret ini? Ini bukan agak mabuk, ini namanya sudah gak sadarkan diri! Kalian kira aku sebodoh itu apa?

Sementara Gilang yang melihat reaksi Anin seketika merasakan aura peperangan nyata tak terhindarkan. Istri Harsa ini memang tersenyum, tapi aura kesalnya terlalu menghujam. Membuat suasana malam itu kian dingin mencekam. Lagi, Gilang menoleh kikuk sambil menggaruk kepala yang tak gatal pada Brama yang hanya bisa menyaksikan daru kejauhan, dia benar-benar cari aman.

Brama sialan! Harusnya dia ikut masuk juga, jangan malah kayak nge-kambing hitamkan gue begini. Suara hati Gilang terdengar sangat frustasi, ia tertekan menghadapi istri Harsa yang galaknya tak main-main.

“Ehmm.” Gilang berdehem demi untuk mengusir perasaan canggungnya. “Kalau gitu, kami pamit dulu,” ujarnya seraya menunjuk kikuk ke arah Brama.

Anin hanya mengangguk, masih berusaha seramah mungkin pada sosok yang jelas ia tahu adalah dalang dari semua ini seperti yang sudah-sudah. Karena bagi Anin, Harsa dan pergaulannya bersama ketiga sohibnya itu adalah bukti nyata dari kesesatan bersama–pertemanan yang membawa pada kenistaan. Sungguh! Anin tak berdusta, ia serius mengatakan ini.

Tadinya Anin berniat mengucapkan terimakasih, tapi rasa kesal sekaligus muak yang telah menguasai membuatnya tak bisa lagi beramah-tamah. Ia tak pandai berpura-pura.

Dan tepat setelah mobil itu melaju, Anin langsung memapah Harsa masuk. Tak lupa mengunci pintu lalu mendorong tubuh itu hingga terjerambah ke sofa.

“Mas?!” seru Anin dengan tatapan nyalang. Air mata yang tak bisa lagi ia tahan akhirnya luruh juga. Dada wanita itu tampak naik turun menahan amarah yang sejak tadi terperangkap dalam diri, berkecamuk antara rasa muak dan kecewa.

Sementara Harsa, merasakan tubuh terhempas membuat kesadarannya kembali meski hanya setengah. Tangan laki-laki itu terangkat memijat pelipis, lalu berujung pada membekap mulut saat perasaan pening menghantarkan pada rasa mual yang bergejolak dalam perut, dada hingga kerongkongan.

Huek...

Eerk...

Rasanya seperti terbakar. Ia mendesah pelas sembari meringis saat gas dan aroma alkohol terasa menusuk hidung dan tenggorokan lantaran ia baru saja bersendawa.

Harsa mendesah pelan sembari mengulas senyum, “Nin?” panggilnya dengan suara serak, ditatapnya sosok Anin yang tampak hanya berupa siluet samar dan buram yang ditangkap oleh penglihatan, tapi ia tahu itu jelas adalah istrinya.

“Kenapa mabuk-mabukan lagi?“

“Bukannya kamu udah pernah janji gak akan ngelakuin hal yang gak aku suka. Hal yang agama juga gak suka, Mas! Kenapa?“ Anin mencecar tak habis pikir.

Ingatannya tertuju pada saat Zura baru berusia beberapa bulan. Kala itu, entah apa yang membuat suaminya memilih meminum minuman lucknut itu dan pulang dalam keadaan mabuk. Ia marah besar, tak terima dan rasanya tak percaya mengetahui fakta seorang Harsa yang ia kenal ternyata bisa tersesat juga. Mereka bahkan bertengkar hebat.

Selama pernikahan, Anin sadar jika banyak hal yang jelas belum ia ketahui tentang Harsa. Apalagi mereka memang menikah hanya dalam waktu singkat. Seiring bertambahnya usia pernikahan–Harsa bukannya berubah, hanya saja suaminya lebih menampakkan sifat asli yang selama ini tidak pernah ia ketahui.

Kadang kala hal itu kerap menimbulkan perbedaan dan pertengkaran kecil yang menghiasi, tapi Anin sadar jika memang beginilah pernikahan. Tak ada alasan untuk muak hanya karena sebuah masalah yang menjerat, sebab jika mau dilihat kebahagiaan yang diberi jelas lebih besar dari itu. Yang intinya pernikahan tidak melulu soal cinta dan bahagia, di dalamnya jelas ada banyak hal yang harus di hadapi dan lalui bersama walau kadang terasa berat. Begitu Anin selalu berusaha berpikir jernih tiap kali Jin Dasim bersemayam di dada menguji batasannya sebagai istri.

“Mas!” sentak Anin lagi saat Harsa malah diam dan termenung seperti orang linglung. Hal yang kian membuatnya frustasi. Beginilah efek yang ia tak suka, alasan kenapa minuman memabukkan itu dilarang.

Memang tak ada gunanya bicara dengan orang yang setengah kesadarannya bahkan entah di mana. Namun, ia tak mau diam saja. Sebab kekesalan yang menguasai membuat Anin ingin menyidang suaminya saat itu juga. Ia ingin mengintrogasi Harsa.

“Harsa!”

Persetan dengan sopan santun. Anin sudah tak peduli, baginya saat ini yang terpenting adalah perasaannya. Ia tak ingin memikirkan hal lain, sebab di sini ia terluka karenanya.

“Jawab, Harsa!”

“Aku tanya, kenapa kamu mabuk lagi?” Kesabaran yang benar-benar di ambang batas membuat suara Anin kian meninggi sementara sosok di depannya masih tak bergeming. Harsa hanya menggeliat, menghembuskan napas dan kembali diam.

“Harsa ... jawab!” desaknya kesal, bahkan kini ia sambil setengah menunduk demi untuk menggoyangkan tubuh suaminya. Wajahnya meringis di sela tangis yang tak juga mereda.

Yang mana usahanya lumayan berhasil. Harsa menggeleng cepat sembari memperbaiki posisi duduknya, dengan mata berat ia kembali menatap wajah cantik Anin yang sejak tadi ia rindukan. Laki-laki itu tersenyum, tangannya terulur hendak menyentuh wajah Anin tapi langsung ditepis oleh wanita itu.

Harsa mendesah kecewa sambil berdecak, ia menghembuskan napas berat. “Sebenarnya tadi udah mau pulang, tapi harus ketemu mereka dulu karena emang udah lama gak ketemu.”

“Ketemu sih ketemu, tapi gak harus mabuk, kan, bisa.” Anin menyela dengan cepat. Membuat Harsa lekas menangkup tangan. Memohon untuk dimaafkan. Di setengah kesadaran Ia mengaku salah.

“Aku gak mabuk sayang ....”

Hell! Bukannya mengaku ia malah kian memperburuk keadaan.

“Sumpah!” katanya sambil mengangkat dua jari.

Demikianlah, orang mabuk memang kerap tak sadar diri. Tuhan sudah memberikan akal sehat untuk digunakan secara rasional dan berpikir jernih, namun pada kenyataannya sebagian manusia ini malah memilih hilang akal.

“Gak mabuk apanya?” Anin menyentak kian emosi. Berbicara dengan orang mabuk memang melelahkan dan menguras tenaga. Stres, semua stres!

 Mengingat Zura disela kegeraman pada Harsa yang kian memuncak membuat Anin memilih beranjak dari sana. Ia meninggalkan Harsa begitu saja. Tak mau peduli pada pemabuk, malam ini terserah dia mau seperti apa. Anin tak ingin berbelas kasih. Ia juga lelah, ia juga butuh dipahami. Emosinya bergejolak karena tingkah laki-laki ini.

Begitu sampai di kamar, Anin langsung merebahkan tubuh, berbaring di sisi Zura. Ditatapnya buah hatinya lekat-lekat dengan air mata yang perlahan kembali menetes, satu-satunya kekuatan yang terisi saat dunia terasa berat. Sungguh hatinya sakit, ia kembali dibuat kecewa.

Bisakah Harsa memikirkan bagaimana perasaannya jika bertindak demikian?

Bisakah Harsa sedikit memberatkannya, mengingatnya atau setidaknya mengingat Tuhan agar tak melakukan kesesatan?

Kelakuannya tak hanya merugikan diri, tetapi menyalakan api pertengkaran yang bisa membakar apa pun.

Bukan sekali dua kali, tapi sungguh Anin takut jika Harsa akan benar-benar candu pada hal yang salah. Padahal ia sangat mengagumi suaminya itu. Namun, sekali lagi, pada dasarnya beginilah pernikahan–akan selalu ada hal yang menguji batas kesabaran.

.

.

Gelap makin larut, kala pikirian kalut waktu terasa bergerak lamban. Perasaan kecewa dan sakit membuat Anin tetap terjaga. Kepalanya tiba-tiba di hantam pening. Demikianlah yang selalu ia rasakan setiap kali masalah bertamu di hidupnya.

Sementara itu, Harsa...

Jam sudah menunjukkan pukul 2.30 dini hari saat ia terbangun dan mendapatkan semua kesadarannya. Sambil memukul kepala yang terasa pening tatapannya mengitari ruangan tempatnya berada, dan saat sadar ia tengah berada di rumah, Harsa lalu bergegas berdiri sambil mengutuki kebodohan yang ia lakukan.

“Sialan! Kenapa malah pilih mabuk?!”

“Bego, bego!” makinya kala ingatan beberapa waktu lalu kembali terputar, saat ia meminta penghiburan pada orang yang salah.

Pikiran kalut, pusing sekaligus cemas membuatnya jadi bodoh. Memikirkan ancaman soal kasus yang ia tangani membuatnya tertekan. Seberani dan senekat apa pun dirinya, ia jelas hanyalah seorang kepala keluarga yang jelas harus memikirkan keselamatan istri dan anaknya lebih dari apa pun. Harsa takut Anin dan Zura terseret dalam arus masalah jika ia ... Ah, sialan! Harsa berteriak frustasi seraya memukul angin. Kondisi dan situasi membuatnya tertekan.

Kebuntuan kadang kala membutuhkan hiburan, sekedar pelepas penat dan ia butuh teman untuk sekedar berbagi keluh. Sebab, ia jelas tak akan berbagi pada Anin. Tak akan ia bebani wanitanya dengan masalah yang seharusnya menjadi tanggungannya seorang. Sudah cukup Anin kewalahan mengurus putri mereka, mengurus anak sekaligus rumah jelas bukan hal mudah. Itulah sebabnya orang yang tepat ia bebani adalah ketiga manusia lucknut titisan Nuaiman itu, yang salah satu di antara mereka malah mengajak bertemu di Klub. Yang lebih parahnya lagi ia dengan kesadaran penuh malah mau-mau saja dan menyetujui. Pikiran kalut dan buntu membuat Harsa jadi bodoh.

Ia ingat, awalnya semalam ia lebih memilih minum teh biasa daripada minuman nista yang mengantarkannya pada kubangan masalah part dua dengan Anin begini. Namun, seiring dengan ia berbagi cerita dan ketiga temannya memberi saran, entah bagaimana ia malah ikut-ikutan dengan Gilang dan Antoni memilih minuman siyalan itu.

Makin larut dalam cerita, makin menggila pula ia meneguk cita rasa alkohol.

“Ck, gue bilang juga apa. Gak usah ditawarin minum, lu pada mau dia diamuk bininya lagi?!” Dan ia bahkan masih ingat bagaimana Brama mengomeli Gilang dan Antoni karena hasutan merekalah ia ikut terjerat arus setan.

Harsa meringis saat sudah berdiri di depan kamar. Berkali-kali ia menelan ludah demi untuk menetralisir perasaan.

“Ini namanya lari dari masalah untuk masuk ke masalah lainnya,” ia mendumel sendiri membayangkan amukan Anin.

Pelan-pelan ia membuka pintu dan seketika terpaku, berdiri seperti patung kala mendapati Anin yang tengah duduk menyusui Zura menoleh dengan tatapan dingin tapi menusuk telak hingga ke ulu hati. Belum lagi kertas putih yang tertempel di jidat dan kedua pelipis wanitanya membuat rasa bersalahnya kian besar.

Migrain Anin jelas kumat karenanya.

Harsa menelan ludah sebelum tersenyum, menampakkan jejeran gigi pada sosok yang aura intimidasinya kuat sekali, lebih dari apa pun. Bahkan ruang kamar yang ber-AC seketika terasa panas dan pengap.

Kediaman Anin yang tak langsung mencecar, menghujaninya dengan pertanyaan membuat Harsa semakin cemas. Meski begitu, ia memilih ke kamar mandi terlebih dulu untuk membersihkan diri. Anin paling Anti jika mulutnya masih bau alkohol. Ia jelas akan diamuk dan saat samar-samar ingatan tiba-tiba memutar ulang bagaimana sebelumnya Anin memarahinya, membuat Harsa lantas memukul wajahnya sendiri. Ia ingat, ternyata Anin sudah menyambutnya dengan amarah. Kini hanya tinggal tunggu lanjutannya.

Begitu selesai membersihkan tubuh, membuat mulutnya sewangi mungkin dan berganti pakaian. Harsa segera melangkah ke tempat tidur, dengan gerakan halus, ia duduk di belakang Anin yang masih menyusui Zura.

Pelan tapi pasti, Harsa langsung merengkuh Anin dari belakang. Memeluk tubuh itu dan menciuminya dengan penuh penyesalan. “Maaf!” lirihnya mengakui.

“Gak usah sentuh-sentuh, aku gerah!” sentak Anin dingin seraya melepaskan diri dari pelukannya.

Harsa tak bisa memaksa, ia dibuat terpaku. Sikap dingin Anin menamparnya. Jujur, kalau boleh memilih ia lebih suka dimarahi dan diomeli daripada harus didiamkan. Rasanya terlalu menyakitkan.

Sejenak ia terdiam, mengambil jeda sesaat untuk kembali berusaha memohon maaf.

“Sini, Zura sama aku aja. Biar aku ayun, kamu pasti capek, kan, belum tidur.” Dengan penuh pengertian dan kelembutan ia tulus ingin menebus kesalahan.

“Dia tiba-tiba demam, aku udah coba ayun tapi dia cuma mau dipangku begini.”

Seketika Harsa merasa hatinya seperti ditusuk sesuatu. Terasa nyeri mengetahui buah hatinya tiba-tiba sakit begini.

“Aku coba, ya,” pintanya setelah mengecek suhu tubuh Zura dengan menempelkan telapak tangan di kening anaknya.

Setelah berusaha meraih Zura dari Anin, lalu turun dan mengayun anak mereka Harsa menoleh pada Anin yang hanya diam seribu bahasa, tatapannya entah tertuju ke mana.

Penghujung malam itu mereka lewati dengan bekerjsaama mengurus Zura yang kian rewel. Hingga bayi 17 bulan itu baru benar-benar terlelap tepat menjelang subuh.

“Maafin aku, ya!” lirih Harsa membuka obrolan saat ia baru kembali duduk setelah menyalakan ayunan elektrik sang Anak.

Diraihnya tangan Anin yang tengah berbaring, mereka melantai menggunakan karpet bulu. Anin tampak menghembuskan napas kasar tanpa melepaskan genggamannya. Itu membuatnya sedikit tersenyum, senang karena Anin tak menolak sentuhannya.

“Aku beneran gak bermaksud mau bikin kamu marah atau ingkar janji, tapi ...”

“Tapi apa?” sela Anin saat Harsa malah menggantung ucapan, membuatnya menatap nyalang.

“Aku tuh udah capek ya, ingetin kamu soal itu!”

“Selalu aku ingatkan kalau mau apa-apa tuh coba dipikir dulu. Ini istriku pasti marah kalau tau aku gini? Nanti kami bertengkar lagi. Bisa gitu gak?” cecar Anin yang sudah mulai berpidato panjang lebar dan Harsa hanya bisa diam.

“Coba kalau posisinya dituker, gimana kalau misal aku yang ngelakuin hal yang gak kamu suka?”

“Meski udah kamu ingetin tapi aku lakuin, gimana?”

Harsa masih diam seribu bahasa. Terlepas dari masalah yang menjadi alasan ia melakukan itu membuat Harsa lebih memilih diam, ia memang salah dan tak ada gunanya juga membela diri.

“Aku capek, tau gak?!”

“Belum lagi kamu ingkar janji. Tau gak berapa lama aku nunggu kamu pulang? Kamu bilang mau temenin belanja, tapi yang ditunggu gak pulang-pulang. Tau gitu aku pergi berdua aja, ikut sama mbak Gita sekalian coba mobil barunya.” Kali ini Anin tak hanya mengeluarkan unek-unek, tetapi sesekali ia juga memukuli lengan Harsa lantaran kesalnya.

“Ditambah lagi kamu bohong, katanya udah otw tapi ditungguin sampai malam gak sampai-sampai. Emang otw darimana kamu, mas? Dari luar kota?” sarkas Anin dengan nada julid yang khas, bahkan bibirnya sudah meliuk-liuk menirukan isi chat yang Harsa kirim. Namun, sayangnya Harsa masih tetap diam meski sesekali wajahnya tampak mencebik mendengar omelan panjang istrinya.

“Kalau ditanya tuh jawab, jangan diam aja!” sentak Anin seraya menoel lengan Harsa yang kini duduk bersandar di sisi ranjang. Sementara ia, satu tangannya masih berada di pangkuan suaminya.

“Ya, mau aku jawab apa juga?” tanya Harsa bingung. “Kan aku emang salah. Nanti aku jawab kamu bilang lagi ’udah salah, bukannya introspeksi diri malah jawab mulu kamu tuh!’.” Harsa bahkan menirukan gaya bicara Anin, membuat istrinya langsung mencebik dengan memutar mata malas.

Sejenak Anin terdiam sembari melepas koyonya yang panasnya sudah hilang karena memang sudah cukup lama sebelum kembali melanjutkan pidato yang berkedok bimbingan rumah tangga. “Kalau ke mana-mana tuh ya ngabarin kek, ini hp mahal-mahal gak tau apa gunanya. Ditelepon gak aktif, dihubungi susah bener kayak seleb 19 juta followers aja kamu tuh.”

“19 juta mah lapangan kerja janjinya pak Wapres.”

“Jawab mulu!” sergah Anin galak. “Orang lagi serius juga!”

Yang mana hal itu lantas membuat Harsa kicep, mulutnya tertutup rapat seketika sembari membatin. Tuh, kan, salah lagi!

“Emang apa susahnya ngabarin, gak tau apa gimana khawatirnya istri kalau kamu gitu. Kamu sengaja, kan, non-aktifin hp biar gak digangguin?”

Harsa menghembuskan napas gusar. Sungguh telinganya sudah sangat tebal mendengar omelan Anin yang seperti mengintrogasi. Iya, Harsa tahu ia salah tapi ia heran dan mempertanyakan dimana Anin mendapatkan tenaga untuk terus mengomelinya sementara ia sendiri sudah sangat mengantuk. Waktu sudah hampir jam enam, dan ia ingin sekali tidur meski hanya sejenak. Apalagi nanti masih harus bekerja. Bisa tidak bimbingannya dilanjutkan besok lagi? Ia meringis dalam hati.

“Bukan sengaja loh, sayang. Hp aku emang lowbat.”

“Marahnya lanjut besok lagi aja ya, aku ngantuk banget, Yang.” Sungguh ia tak mampu lagi menahan kantuk, hingga membuatnya langsung merebahkan diri dan mendekap Anin erat-erat.

“Kita tidur bentar yuk. Kamu pasti juga capek, kan, tadi gak tidur jagain Zura. Kita butuh istirahat,” selorohnya sembari menarik selimut membalut tubuh mereka. Ia tak ingin melepaskan Anin meski wanita itu meronta di peluknya.

“Lepas ah, aku males dipeluk orang yang bau alkohol.”

“Nggak ya. Aku udah gosok gigi pun,” protes Harsa tak terima seraya memantulkan napas ke tangan, memastikan kebenaran ucapan Anin. Hmm. Menurutnya sudah tak separah itu.

“Iya, tapi baunya masih ada.” Anin berkata ketus seraya memukul pelan tangan Harsa yang masih berusaha meraih pinggangnya sementara ia terus menjauh.

“Ayolah, sinian napa. Aku mau peluk.”

“Kamu tahan napas aja, yang penting aku bisa meluk.”

“Dih, setres! Kamu mau aku mati, hah?” kesal Anin sembari memukul Harsa menggunakan bantal. Sungguh ucapan dan kelakuan laki-laki satu ini selalu di luar nalar.

.... . ....

1
kalea rizuky
klo harsa selingkuh cerai nin harsa ini g bs move on kayaknya dr mantannnya
kalea rizuky: orang pendiem itu malah yg rawan selingkuh kak /Curse//Curse/
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!