NovelToon NovelToon
Pembalasan Istri Tersiksa

Pembalasan Istri Tersiksa

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor jahat / Menantu Pria/matrilokal / Penyesalan Suami / Selingkuh / Dijodohkan Orang Tua / Bullying dan Balas Dendam
Popularitas:10.8k
Nilai: 5
Nama Author: BI STORY

MONSTER KEJAM itulah yang Rahayu pikirkan tentang Andika, suaminya yang tampan namun red flag habis-habisan, tukang pukul kasar, dan ahli sandiwara. Ketika maut hampir saja merenggut nyawa Rahayu di sebuah puncak, Rahayu diselamatkan oleh seseorang yang akan membantunya membalas orang-orang yang selama ini menginjak-injak dirinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BI STORY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mimpi Buruk Santi

Pukul 01.00 di Rumah Sakit Citra Sehat Medika

Terbangun dengan napas memburu dan keringat dingin yang membasahi dahi, Santi nyaris terjatuh dari ranjang rumah sakit. Dalam mimpinya tadi, tangan Rahayu yang dingin dan pucat mencengkeram rahangnya, lalu sebuah tamparan keras mendarat di pipinya hingga telinganya berdenging.

Bayangan Rahayu yang berdiri tegak bukan lagi wanita buta yang lemah, melainkan sosok dengan mata yang tajam dan penuh dendam

masih terasa begitu nyata.

​"Ra-hayu." rintihnya pelan, matanya menyapu sekeliling kamar VVIP yang hanya diterangi lampu tidur remang-remang.

​Santi mencoba mengubah posisi duduknya, namun gerakan kecil itu justru memicu rasa perih yang luar biasa di pahanya. Ia meringis, air matanya menetes saat melihat perban putih tebal yang melilit pahanya. Di balik kain itu, ia bisa merasakan denyutan panas dari kulit yang mengelupas akibat siraman kopi mendidih Julia.

​"Sakit... brengsek, ini sakit banget," isaknya sambil meratapi nasibnya sendiri.

​Pahanya yang dulu ia banggakan, yang selalu ia pamerkan dengan rok mini untuk menggoda Andika, menggoda kolega almarhum Pak Rio kini hancur dan menjadi jelek. Ia membayangkan bekas luka yang mungkin akan menetap selamanya.

Keangkuhannya sebagai "calon ratu" pengganti Rahayu di keluarga Andika seolah luntur bersama rasa sakit itu.

​Santi mengepalkan tangannya ke atas sprei. Ia teringat kembali bagaimana dulu ia sering menyiksa Rahayu di mansion. Menggores wajah Rahayu dengan gunting, atau memukuli Rahayu.

​"Dulu aku yang ketawa melihatnya merangkak kesakitan... tapi kenapa sekarang aku merasa dia sedang menertawakan aku dari kegelapan ya?" gumam Santi dengan suara bergetar.

​Ketakutan itu mulai merayap. Ucapan ibunya tentang "kembaran" Rahayu di pesta tadi terus berputar di otaknya seperti kaset rusak.

​Tiba-tiba, pintu kamar terbuka sedikit. Andika masuk dengan wajah lelah, ia baru saja selesai berbicara dengan tim hukumnya di luar. Melihat Santi menangis, ia segera mendekat.

​"Sayang, kenapa bangun? Ada yang sakit?" tanya Andika cemas.

​"Andika... paha aku yang mulus! Aku gak mau tahu, besok pagi Julia harus udah di kantor polisi! Dan wanita bertopeng itu... aku yakin itu bukan sekadar orang mirip, Andika. Aku merasa Rahayu benar-benar kembali untuk mengambil semuanya!" Santi histeris, mencengkeram kerah kemeja Andika.

​Andika menghela napas panjang, mencoba menenangkan wanita yang mulai tampak kehilangan akal sehatnya itu.

​"Dengar, Sayang. Besok aku akan mengirim detektif pribadi untuk menyelidiki siapa sebenarnya wanita yang bersama Agung itu. Dan soal Julia, dia gak punya siapa-siapa. Dia hanya pion kecil yang mudah kita singkirkan. Sekarang tidurlah, aku udah meminta dokter memberikan dosis pereda nyeri tambahan."

​Di sisi lain kota, di dalam rumah sewa megahnya, Ayu (Rahayu) sedang menatap sebuah papan besar di ruang kerjanya. Papan itu berisi foto-foto keluarga Andika, termasuk foto Santi yang kini sudah ia tandai dengan tinta merah besar. Termasuk foto lima preman biadab yang dulu menodainya, dan foto dua ART Lilis dan Bi Sari yang ikut membantu Bu Citra untuk menyiksanya. Foto Bu Laura, ibu tirinya juga ada.

​Ia menyesap teh hangatnya, jas milik Agung masih tersampir di kursi kerjanya, menyebarkan aroma maskulin yang sejenak membuat hatinya tenang. Namun, ia segera menepis perasaan itu.

​"Ini baru permulaan, Santi. Luka bakar di pahamu belum sebanding dengan kegelapan yang aku rasakan saat kamu dan Andika mendorongku ke sungai itu," bisik Ayu dengan nada dingin.

Pagi menyingsing dengan cahaya keemasan yang menerobos masuk melalui celah gorden rumah sewa Ayu. Namun, kehangatan mentari itu tak mampu mencairkan tatapan dingin Ayu yang masih terpaku pada papan target di ruang kerjanya.

Tinta merah di foto Santi tampak seolah-olah sedang menetes, mewakili awal dari kehancuran yang telah ia rancang.

​Suara deru mesin mobil mewah yang berhenti di halaman depan membuyarkan lamunannya.

Tak lama kemudian, bel rumah berbunyi. Ayu segera merapikan tatanan rambutnya dan berjalan menuju pintu.

​Di sana berdiri Agung. Pria itu tampak gagah dengan kemeja slim-fit berwarna biru dongker yang menonjolkan bahu tegap dan tubuh atletisnya.

Senyum tipis yang tulus tersungging di wajah tampannya, memberikan kontras yang drastis dari dunia dendam yang gelap yang baru saja Ayu renungkan.

​"Selamat pagi, Ayu," sapa Agung dengan suara berat yang menenangkan.

​"Selamat pagi, Mas Agung. Silakan masuk," jawab Ayu sambil membukakan pintu lebih lebar.

​Mereka duduk di ruang tamu yang elegan. Agung meletakkan sebuah map kecil di atas meja, lalu menatap Ayu dengan penuh keyakinan.

​"Aku datang membawa kabar baik. Julia udah berada di lokasi aman di luar kota. Tim kepercayaanku udah mengurus segalanya identitas baru, tempat tinggal yang layak, dan perlindungan penuh. Gak akan ada satu pun detektif, Andika, atau bahkan polisi, yang bisa menemukannya. Julia benar-benar 'hilang' dari radar mereka."

​Ayu menghela napas panjang. Beban berat di pundaknya seolah terangkat seketika. Julia adalah saksi sekaligus korban yang tak ingin ia biarkan hancur di tangan Andika dan Santi. Keamanan Julia adalah kunci ketenangannya saat ini.

​"Terima kasih, Mas... terima kasih banyak," bisik Ayu dengan tulus.

​Rasa syukur yang meluap-luap membuat pertahanan diri Ayu runtuh sejenak. Tanpa sadar, ia bergerak maju dan refleks memeluk Agung. Ia membenamkan wajahnya di dada bidang pria itu, mencari perlindungan dari trauma masa lalunya yang masih sering menghantui.

​Agung tersentak. Tubuhnya kaku sesaat, merasakan kehangatan tubuh Ayu dan aroma lembut rambutnya yang memenuhi indranya.

Jantung Agung berdegup kencang, dentumannya terasa hingga ke telinga. Pelukan itu sederhana, namun bagi Agung, itu adalah pengakuan bahwa ia telah menjadi tempat bersandar bagi wanita cantik yang sangat ia kagumi ini.

Rasa cinta yang ia pendam seolah meledak, membuatnya ingin mendekap Ayu selamanya dan melindunginya dari seluruh dunia.

​Detik berikutnya, kesadaran menghantam Ayu. Ia menyadari kehangatan yang baru saja ia ciptakan. Dengan wajah yang merona merah, ia segera melepas pelukannya dan mundur selangkah.

​"Maaf... maafin aku, Mas. Aku hanya... aku terlalu lega mendengarnya," kata Ayu terbata-bata, tatapannya dialihkan ke arah lantai karena malu.

​Agung berdeham, mencoba menetralkan suaranya yang mendadak serak karena perasaan yang campur aduk.

"Gak apa-apa, Ayu. Aku ngerti. Aku akan selalu ada di pihakmu, apa pun yang terjadi."

​Meskipun suasana menjadi sedikit canggung, binar di mata Agung tak bisa berbohong. Baginya, pelukan singkat itu adalah janji bahwa ia bukan sekadar rekan kerja atau penolong, melainkan seseorang yang mulai memiliki tempat di hati Ayu.

​"Jadi," Agung mencoba mencairkan suasana, "setelah paha Santi 'terbakar' oleh kopi, apa langkahmu selanjutnya untuk membuat mereka benar-benar terbakar oleh kenyataan?"

​Ayu mendongak, rona merah di pipinya memudar, digantikan oleh sorot mata tajam yang penuh perhitungan.

"Santi sangat bangga dengan kecantikannya. Sekarang paha itu udah cacat. Sekarang, saatnya aku menyentuh sesuatu yang paling dicintai Andika. Bisnis dan reputasinya."

BERSAMBUNG

1
Sunaryati
Ayu tidak akan oleh ulash licik dan balas dendam kamu Santi
Anonymous
semoga kejahatan Santi segera terbongkar dan kembali mendekam di penjara untuk selama-lamanya
Anonymous
makin kesini makin seru, salah satu novel yg seru di nt 😍
Anonymous
hahaha rasakan kamu santi
Anonymous
Santi ketar ketir
Anonymous
kurang ajar kamu Santi dasar penjahat. semoga kamu segera mendapatkan pembalasan yg setimpal
Anonymous
sialan kamu Santi dasar iblis jahat
Anonymous
rasakan kamu Santi, gak semudah itu kamu bisa mencelakai si cantik ayu
Anonymous
ayu kamu harus lebih waspada ya cantik
Annida Annida
lanjut
Sunaryati
Kau hanya mempercepat kematian kamu Santi, Andika bodoh mau saja diperdaya Santi, hanya akan ditinggalkan di hutan
Anonymous
hati-hati ayu
Sunaryati
Nikmatilah buah kekejaman kalian demi harta yang bukan miliknya
Nora Elvina
bagus
Sunaryati
Akhirnya semua orang yang menyakiti kamu memetik karmanya bahagialah Rahayu
Sunaryati
Keserakahan harta membuat Bu Citra hiang perikemanusiaan dan sekarang menghancurkan dirinya.
Anonymous
bagus ayu, akhirnya semua dendam kamu telah terbalaskan
Ma Em
Bagus Ayu beri hukuman yg sangat mengenaskan agar mereka mengingat waktu Ayu disiksa dan lecehkan begitu juga dgn Bu Citra sebagai otak kejahatan nya buat Bu Citra hukuman yg sangat mengerikan .
Anonymous
rasakan orang-orang jahat yg dulu jahat sama Ayu, kalian sedang menuai apa yg kalian lakukan
Ma Em
Semoga niat Santi untuk mencelakai Ayu berbalik pada Santi sendiri biar Santi jadi cacat dan hancur hidupnya seperti Santi menghancurkan Rahayu .
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!