NovelToon NovelToon
Perempuan Pilihan Mertua

Perempuan Pilihan Mertua

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Mertua Kejam / Penyesalan Suami
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Seroja 86

Adalah Mia, seorang perempuan yang cintanya dibenturkan pada restu, adat, dan pemikiran yang tak pernah benar-benar memberi ruang baginya.
Ia berdiri di persimpangan antara bertahan demi pernikahan yang ia perjuangkan, atau berbalik arah .
Di tengah perjalanan itu, tekanan tak lagi datang dalam bentuk pertanyaan. Sang mertua menghadirkan pihak ketiga, seolah menjadi jawaban atas ambisi yang selama ini dibungkus atas nama tradisi dan kelanjutan garis keluarga.
Mia dipaksa memilih mempertahankan cinta yang kian terhimpit, atau melepaskan semuanya sebelum ia benar-benar kehilangan dirinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seroja 86, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PPM 16

Malam itu, Mia berdiri di dapur dengan pikiran melayang entah ke mana. Sayur yang sejak tadi dipanaskannya sudah mendidih , tapi tubuhnya terasa kosong, seolah tenaga perlahan meninggalkannya. Saat ia hendak menuang sayur ke dalam mangkuk, tangannya tiba-tiba melemah.

Praaaang!

Suara benda pecah menggema memecah sunyi rumah. Mia tercekat. Wajahnya pucat pasi menatap pecahan mangkuk yang berserakan di lantai.

“Astagfirullah… ada apa ini?” gumamnya lirih. Ia berjongkok, memunguti pecahan satu per satu dengan tangan gemetar, terlalu larut dalam pikirannya hingga lupa berhati-hati.

“Aww…” rintihnya tertahan. Ujung jarinya tertusuk serpihan beling darah segera mengalir tipis, merah kontras di kulitnya yang pucat. Mia menatap jarinya sesaat, napasnya tercekat bukan karena perih semata, tapi karena perasaan asing yang menekan dadanya cemas tanpa nama, firasat yang sejak pagi ia abaikan kini terasa nyata. Ia menggenggam jarinya, menahan perih, sementara hatinya berbisik pelan ada sesuatu yang tidak baik-baik saja.

Pagi itu Mia tetap menyiapkan diri seperti biasa. Rambutnya terikat rapi, kemeja kerja sudah disetrika, tapi pikirannya tertinggal pada suara pecah semalam yang masih terngiang jelas. Saat sarapan, sendok di tangannya bergerak pelan, nyaris tanpa selera.

 Bayangan mangkuk yang terlepas dari genggamannya datang lagi, lengkap dengan rasa sesak yang tak sempat ia pahami saat itu.

Dorongan kecil muncul bukan panik, lebih seperti kebutuhan akan penjelasan. Mia mengambil ponselnya dan menggulir kontak hingga berhenti di nama ibunya.

“Assalamu’alaikum, Mi,” sapanya ketika sambungan terangkat.

“Wa’alaikumsalam, tumben nelpon pagi-pagi,” sahut sang ibu, suaranya hangat seperti biasa.

Mia menceritakan kejadian semalam, tentang mangkuk yang jatuh begitu saja, tentang perasaan aneh yang menyertainya. Di seberang, ibunya terdiam sesaat sebelum berkata lirih, “Innalillahi… kamu sudah telepon suamimu belum? ini firasat tidak baik Mia. "

Mia tidak langsung menjawab. Pandangannya kosong menatap meja makan. Ingatan tentang panggilan tak terjawab semalam kembali menyusup, membuat dadanya menghangat oleh cemas yang tertahan. Ia mengakhiri percakapan dengan alasan harus berangkat kerja, lalu duduk sejenak sebelum berdiri. Untuk pertama kalinya pagi itu, Mia berangkat ke kantor bukan hanya membawa tas dan berkas tapi juga rasa khawatir yang tak lagi bisa ia singkirkan begitu saja.

Sesampainya di kantor, kecemasan itu belum juga surut. Ingatan Mia terus berputar pada kejadian semalam mangkok yang jatuh tiba-tiba, jari yang terluka, dan ponsel Johan yang tak pernah terhubung. Ia mencoba memusatkan perhatian pada layar komputer, namun angka-angka di hadapannya seperti berbaur tanpa makna.

Beberapa kali ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri, tapi hatinya tetap terasa tidak utuh.

Kecemasan itu akhirnya berbuah kesalahan. Saat laporan yang ia susun dikembalikan, rekan kerjanya menatap dengan raut heran.

“Mia, kamu revisi ya. Ini salah datanya, nggak sinkron sama akunting,” ujarnya, nada suaranya lebih terkejut daripada menegur. Tidak biasanya Mia ceroboh, apalagi untuk hal sepenting itu.

Mia menoleh cepat, seolah baru tersadar dari lamunan panjang.

“Oh… iya, maaf. Aku revisi sekarang,” jawabnya singkat. Jemarinya kembali bergerak di atas keyboard, tapi kali ini lebih lambat. Bukan karena ia tak mampu, melainkan karena pikirannya masih tertahan di tempat lain pada firasat yang belum bisa ia jelaskan, namun semakin sulit ia abaikan.

Menjelang sore, ponsel Mia bergetar di atas meja kerjanya. Nama Johan muncul di layar. Ia menatapnya sejenak sebelum akhirnya mengangkat panggilan itu.

“Mia, aku pulang sore ini,” suara Johan terdengar datar, seperti biasa.

“Kamu apa kabar? Maaf ya semalam acaranya padat, jadi nggak sempat pegang HP.”

Mia mengeratkan genggaman jarinya pada ponsel. Nada itu terlalu rapi,

 “Baik, kamu berangkat jam berala” jawabnya pelan.

“Habis ini paling malam sudah sampai,” sahut Johan singkat, seolah tak ingin percakapan itu berlarut. Setelah basa-basi seadanya, sambungan pun terputus.

Mia menurunkan ponselnya perlahan. Tidak ada amarah yang meledak, tidak pula air mata. Hanya keheningan yang terasa berat di dadanya. Ia tahu, sejak detik itu, sesuatu telah bergeser.

Kepulangan Johan bukan lagi hal yang ia tunggu dengan rindu, melainkan sesuatu yang harus ia hadapi dengan kepala dingin. Malam ini, rumah mereka akan kembali terisi dan Mia bersiap menyambutnya, bukan sebagai istri yang bertanya, melainkan perempuan yang mengamati.

Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam ketika Mia mendengar deru mesin mobil memasuki pekarangan. Ia yang semula setengah terlelap langsung terjaga. Tanpa menyalakan lampu kamar, Mia melangkah keluar dan duduk di ruang tamu, menunggu dengan perasaan yang sulit ia definisikan antara lega dan waswas.

Tidak lama kemudian pintu depan terbuka. Johan masuk dengan langkah pelan, wajahnya tampak kuyu, bahunya sedikit turun seolah menahan lelah yang tidak hanya berasal dari perjalanan. Ia meletakkan tas kerjanya di lantai, lalu menoleh ketika menyadari Mia sudah duduk menunggunya.

“Kamu belum tidur?” tanyanya.

“Sudah,” jawab Mia singkat.

“Tapi dengar suara mobilmu, jadi kebangun.”

Johan mengangguk pelan. Ia membuka tasnya, mengeluarkan sebuah kotak mika berukuran sedang berisi strawberi merah segar yang menggoda

“Ini, aku bawakan dari lembang "ujarnya sambil menyodorkan kotak itu,

Mia mengernyitkan alis Ia tidak pernah benar-benar menyukai strawberi. Johan tahu itu— Namun ia tetap menerima kotak itu, menggenggamnya dengan dua tangan, lalu tersenyum tipis.

“Makasih,” ucapnya.

Johan membalas dengan senyum singkat, lalu mengalihkan pandangan. Di antara mereka, ada sesuatu yang tidak diucapkan menggantung di udara, tipis tapi terasa. Mia menatap punggung suaminya yang kemudian melangkah menuju kamar, sementara dirinya tetap duduk di ruang tamu, memandangi kotak stroberi di tangannya seolah benda itu menyimpan jawaban yang belum siap ia dengar.

Mia akhirnya menyusul ke kamar. Saat ia masuk, Johan masih berada di kamar mandi. Ia duduk di tepi ranjang, punggungnya tegak, kedua tangan bertaut di pangkuan. Detik terasa berjalan lebih lambat dari biasanya.

Tak lama, pintu kamar mandi terbuka. Johan keluar hanya berbalut handuk sebatas pinggang. Mia refleks menoleh dan seketika tubuhnya menegang.

 Di punggung Johan yang putih, tepat di bagian tengah, tampak beberapa goresan memanjang. Terlalu janggal untuk disebut bekas garukan biasa.

“Kenapa itu?” celetuk Mia tanpa sadar, jarinya terangkat menunjuk ke arah punggung Johan.

Johan yang semula membelakanginya tampak terkejut.

Gerakannya tersendat sesaat sebelum ia meraba punggungnya sendiri, seolah baru menyadari luka itu ada.

“Oh… ini,” katanya, nada suaranya terdengar dipaksakan santai.

 “Kemarin kan pas ada acara outdoor panas, keringetan jadi ku garuk.”

Mia berdiri, melangkah mendekat.

 “Coba aku lihat,” ujarnya pelan.

 “Kayaknya dalam, deh lukanya.”

Namun Johan lebih cepat. Ia meraih kaus oblong di kursi, mengenakannya tergesa hingga goresan itu tertutup sempurna.

“Udah, nggak apa-apa,” katanya sambil tersenyum tipis. Ia lalu menggenggam tangan Mia, membimbingnya ke ranjang.

 “Tidur yuk udah malam.”

1
Siti Amyati
orang tua yg terlalu mencampuri rumah tangga anaknya bisa bikin tidak nyaman pasangan
Pelangi senja: itu karena awalnya emaknya tidak suka samaemantunya jadi di cari cari kesalahannya
total 1 replies
Siti Amyati
kalau sdah ngga bisa di pertahanin mending di tinggal apalagi ibunya terlalu mencampuri yg bukan ranahnya lanjut kak
Pelangi senja: iya tapi mertua model begini ada dalam Dunia nyata
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!