Cerita ini mengikuti perjalanan Misca, seorang pemimpin wilayah Utara yang enggan namun sangat efisien. Di tengah perpecahan antarwilayah yang membuat mereka rentan terhadap serangan geng eksternal bernama "The Phantom", Misca mengambil keputusan radikal: menyatukan keempat wilayah di bawah satu komando melalui duel satu lawan satu melawan tiga pemimpin wilayah lainnya. Misca percaya bahwa hanya "kekerasan terstruktur" yang dapat menghentikan kekacauan dan memberikan ketentraman sejati.
Setelah berhasil menyatukan empat wilayah di bawah sistem Kuadran Presisi (KP) yang teratur, Misca harus membayar harga mahal atas kedamaian yang ia bangun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Egi Kharisma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Musuh Dalam Selimut
10 hari menuju duel
Di sebuah jalan setapak yang jarang dilalui orang, seorang anggota kepercayaan Nanda bernama Kala—pemuda pendiam yang selalu menganalisis situasi sebelum bertindak, sangat berbeda dari mayoritas anggota Selatan yang emosian—sedang berjalan sendirian melakukan patrol rutin.
Tiba-tiba, ia melihat sesuatu yang mencurigakan di semak-semak di pinggir jalan. Sesosok tubuh tergeletak dengan kondisi yang sangat memprihatinkan.
Kala segera mendekat dengan hati-hati, waspada terhadap kemungkinan jebakan. Tapi begitu ia melihat lebih jelas, ia tidak mengenali sosok itu—ini adalah begal yang pernah ditangkap Tino dan diinterogasi di wilayah mereka, begal yang sama yang Dian tinggalkan beberapa hari lalu.
Begal itu masih hidup, tapi dalam kondisi sekarat. Luka-luka di tubuhnya sudah mengering, tapi ia terlihat sangat dehidrasi dan kelaparan—mungkin sudah berhari-hari tidak makan atau minum.
Kala, meski dengan insting yang mengatakan ini bisa jadi jebakan, tidak bisa membiarkan seseorang mati begitu saja di depan matanya. Ia dengan cepat membuka botol air yang ia bawa dan memberikannya pada begal itu, membantu pria itu minum perlahan agar tidak tersedak.
"Siapa... siapa kamu?" tanya begal itu dengan suara yang sangat lemah dan parau.
"Aku dari Selatan. Tenang, aku tidak akan menyakitimu lagi," jawab Kala sambil memberikan pertolongan pertama seadanya—membersihkan luka yang terlihat terinfeksi dengan air bersih dan kain yang ia sobek dari bajunya sendiri.
Tidak lama kemudian, Nanda datang dengan langkah berat yang membuat tanah bergetar sedikit. Ia sudah mendengar laporan dari anggota lain bahwa Kala menemukan sesuatu yang mencurigakan di area patrol.
"Siapa lagi sampah ini?!" geramnya dengan nada kesal sambil menatap begal yang tergeletak itu.
"Apa orang Timur yang membuang masalah ke wilayah kita lagi?! Apa mereka pikir kita tempat sampah mereka?!"
Kala, yang sudah selesai memberikan pertolongan pertama, berdiri menghadap Nanda dengan ekspresi yang sangat serius—jauh lebih serius dari biasanya. Ia menatap langsung ke mata pemimpinnya dengan tatapan yang membuat Nanda sedikit terkejut.
"Bukan Timur, Nanda," ujarnya dengan nada yang sangat tenang tapi sangat firm. "Begal ini sudah diinterogasi sebelumnya. Lihat bekas lukanya dengan seksama—" ia menunjuk ke beberapa luka yang polanya sangat spesifik, "—ini bukan ulah Tino yang licik dan tidak mau tangannya kotor. Ini teknik interogasi yang sangat... rapi dan terstruktur. Sangat berbeda dengan cara Tino bekerja yang lebih mengandalkan manipulasi psikologis daripada kekerasan fisik."
Nanda mengerutkan kening, tidak terlalu mengerti ke mana arah pembicaraan ini. "Lalu maksudmu apa? Siapa yang melakukan ini?"
"Yang pasti," jawab Kala sambil berjongkok lagi di samping begal untuk mengecek sesuatu, "orang ini sudah memberikan informasi penting pada seseorang. Luka-lukanya menunjukkan bahwa ia diinterogasi dengan sangat sistematis—dimulai dari yang ringan untuk membangun tekanan psikologis, lalu semakin berat sampai akhirnya ia bicara. Dan setelah ia bicara, ia dibuang ke sini—di wilayah kita—dengan sengaja."
"Dibuang dengan sengaja?" Nanda mulai merasa ada yang tidak beres. "Maksudmu—"
"Maksudku," Kala berdiri dan menatap Nanda dengan sangat serius, "ada seseorang di Selatan—di wilayah kita sendiri, Nanda—yang sudah tahu orang ini lebih dulu. Yang sudah menginterogasinya dan mendapat informasi penting. Tapi orang itu memilih untuk tidak memberitahumu. Orang itu justru membuang begal ini di tempat yang kemungkinan besar akan kita temukan, agar kita yang menemukan mayatnya—atau setidaknya mengira dia sudah mati."
Nanda membelalakkan matanya, wajahnya langsung memerah karena amarah yang langsung memuncak. Otot-otot di lengannya mengencang, rahangnya mengeras.
"PENGKHIANAT?!" teriaknya dengan suara yang sangat keras hingga membuat beberapa burung di pohon terdekat terbang ketakutan. "ADA PENGKHIANAT DI WILAYAHKU SENDIRI?! SIAPA?! SIAPA YANG BERANI MENGKHIANATIKU?!"
"Aku tidak tahu pasti siapa orangnya," jawab Kala dengan nada yang tetap tenang meski ia bisa merasakan amarah yang mengancam dari Nanda. "Tapi aku yakin orang itu punya akses ke informasi internal kita dan cukup dipercaya untuk bisa bergerak bebas tanpa dicurigai. Dan yang paling penting—orang itu sangat pintar dan sangat hati-hati. Dia tahu persis bagaimana cara meninggalkan jejak yang minimal."
Nanda mengerang sangat keras seperti binatang yang terluka. Ia berbalik dan menendang tong sampah terdekat dengan kekuatan penuh, membuat tong itu terbang beberapa meter dan menabrak tembok dengan bunyi yang sangat keras.
BRAK!
"INI TIDAK BISA DIBIARKAN!" teriaknya lagi. "AKU AKAN CARI SIAPA DIA! AKU AKAN HANCURKAN DIA! TIDAK ADA YANG BOLEH MENGKHIANATIKU DAN MASIH BISA BERNAPAS DI WILAYAHKU!"
Kala membiarkan Nanda meluapkan amarahnya dulu—ia tahu tidak ada gunanya mencoba menenangkan pemimpinnya saat sedang dalam kondisi seperti ini. Nanda harus meluapkan emosi dulu sebelum bisa berpikir dengan lebih jernih.
Setelah beberapa menit Nanda menghancurkan berbagai barang di sekitar mereka dan berteriak-teriak, akhirnya amarahnya sedikit mereda meski masih sangat terasa. Ia berbalik menghadap Kala dengan napas yang masih memburu.
"Kita harus cari tahu siapa pengkhianat itu," ujar Nanda dengan suara yang masih bergetar karena amarah. "Sekarang. Aku tidak bisa fokus pada duel kalau ada musuh di dalam wilayahku sendiri. Kita mulai dari mana?"
Kala berpikir sejenak. "Kita mulai dengan mengecek siapa saja yang punya akses ke orang ini. Siapa yang tahu tentang penangkapannya. Siapa yang bisa bergerak bebas di area di mana orang ini ditemukan pertama kali. Tapi Nanda—" ia menatap serius, "—kita harus hati-hati. Kalau kita terlalu terang-terangan mencari, pengkhianat itu akan tahu dan bisa kabur atau bahkan menyerang balik."
"Aku tidak peduli!" bentak Nanda. "Aku akan—"
Tapi Kala mengangkat tangannya, memotong dengan sopan tapi tegas. "Nanda, dengar aku. Ini bukan soal kekuatan fisik. Ini soal kepintaran. Dan untuk sekali ini, kita harus bermain dengan kepala, bukan dengan tangan. Kita sedang dimanipulasi oleh seseorang—entah dari dalam atau dari luar. Kita harus tenang dan berpikir jernih."
Nanda ingin membantah, tapi sebagian dari dirinya tahu bahwa Kala benar. Ia membenci harus bermain dengan "kepala" seperti yang selalu dilakukan Misca, tapi situasinya memaksanya.
"Baik," ujarnya akhirnya dengan nada yang masih kesal. "Lakukan apapun yang harus kamu lakukan. Tapi aku mau hasilnya cepat. Duel tinggal 10 hari lagi, dan aku tidak bisa bertarung dengan baik kalau pikiranku penuh dengan pikiran tentang pengkhianat."
"Aku mengerti," jawab Kala sambil mengangguk. "Aku akan mulai investigasi secara diam-diam. Tapi sementara itu, Nanda, kamu harus tetap fokus pada latihan. Jangan biarkan ini mengganggu persiapanmu. Itu mungkin justru tujuan dari semua ini—untuk memecah fokusmu sebelum duel."
Nanda menggeram, tapi ia tahu Kala benar lagi.
Sementara itu, tidak jauh dari lokasi itu—di atas jembatan tua yang memberikan view sempurna ke area di mana Nanda dan Kala sedang berbicara—Gus berdiri santai bersama Pria A, keduanya mengamati situasi di bawah dengan sangat puas.
Gus menyeringai lebar sambil menurunkan teropong yang ia gunakan untuk mengamati. "Lihat, A," ujarnya sambil menepuk bahu rekannya—hati-hati agar tidak menyentuh bahu yang masih sakit. "Si besar itu mulai panik. Mulai kehilangan fokus. Mulai sibuk dengan masalah internalnya."
Pria A, yang masih agak trauma dengan Misca tapi mulai merasa lebih baik, tersenyum tipis. "Satu informasi yang dimanipulasi dengan tepat, dan dia langsung melupakan segalanya—lupa tentang duel, lupa tentang persiapan, lupa tentang ancaman yang sebenarnya. The Phantom berhasil memancing Nanda hanya dengan memanfaatkan temperamen dan ego yang tidak terkendali itu."
"Dan yang paling lucunya," tambah Gus sambil tertawa pelan, "si bodoh itu bahkan tidak sadar bahwa ia sedang dimanipulasi. "
Mereka berdua tertawa—tawa yang sangat licik dan jahat—sambil mengamati Nanda yang masih terlihat sangat marah dan frustrasi di bawah sana.
"Petinggi akan sangat senang dengan laporan ini," ujar Pria A. "Nanda sudah mulai runtuh dari dalam sebelum duel bahkan dimulai. 10 hari lagi, dia akan bertarung dengan kepala penuh dengan kecurigaan dan paranoia, bukan dengan fokus pada pertarungan. Dia sudah kalah sebelum bertarung."
"Tepat sekali," Gus mengangguk sambil menyalakan rokok. "Dan saat dia jatuh—entah dibunuh oleh Misca atau oleh dirinya sendiri karena terlalu emosional—kita tinggal ambil Selatan tanpa perlawanan berarti. Rencana Sempurna."
Mereka berdua berbalik dan berjalan menjauh dari jembatan, menghilang di antara bayangan—seperti hantu yang tidak pernah ada.