Ongoing
Feng Niu dan Ji Chen menikah dalam pernikahan tanpa cinta. Di balik kemewahan dan senyum palsu, mereka menghadapi konflik, pengkhianatan, dan luka yang tak terucapkan. Kehadiran anak mereka, Xiao Fan, semakin memperumit hubungan yang penuh ketegangan.
Saat Feng Niu tergoda oleh pria lain dan Ji Chen diam-diam menanggung sakit hatinya, dunia mereka mulai runtuh oleh perselingkuhan, kebohongan, dan skandal yang mengancam reputasi keluarga. Namun waktu memberi kesempatan kedua: sebuah kesadaran, perubahan, dan perlahan muncul cinta yang hangat di antara mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon frj_nyt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33
Perubahan itu tidak datang dengan ledakan.
Tidak ada pengakuan besar. Tidak ada keputusan dramatis.
Ia datang perlahan—seperti udara yang kembali masuk ke paru-paru setelah lama tenggelam.
Beberapa minggu berlalu sejak Feng Niu mulai sering bertemu Hao Yiran. Waktunya tidak teratur. Kadang hanya sekali dalam seminggu, kadang dua kali berturut-turut, lalu menghilang beberapa hari. Hubungan itu tidak memiliki nama, dan justru karena itulah ia terasa aman.
Tidak ada tuntutan.
Tidak ada peran yang harus ia mainkan.
Feng Niu mulai bangun pagi tanpa rasa berat di dada. Ia masih mengantar Xiao Fan—kadang hanya sampai gerbang, kadang hanya memastikan pengasuh datang tepat waktu. Anak itu tetap dingin padanya, tetap menjauh, tapi Feng Niu tidak lagi marah. Ia tidak tahu kapan terakhir kali ia berhenti berharap anak itu akan memeluknya.
Dan anehnya… hal itu membuatnya lebih tenang.
Ia mulai memperhatikan hal-hal kecil. Cahaya pagi yang jatuh di lantai marmer. Aroma sabun di kamar mandi. Rambutnya sendiri di cermin—tidak lagi kusam, tidak lagi jatuh sembarangan. Ia tidak berdandan untuk siapa pun, katanya pada diri sendiri. Ia hanya… ingin terlihat rapi.
Di kantor, Feng Niu kembali menjadi sosok yang dulu. Tegas, cepat, tidak mudah tersulut emosi. Beberapa rekan kerja bahkan memujinya.
“Kamu kelihatan beda,” ujar salah satu staf, suatu sore. “Lebih… ringan.”
Feng Niu hanya tersenyum.
Ia tidak tahu harus menjelaskan apa. Bahwa selama ini ia hidup seperti berjalan di air setinggi dada, dan kini air itu mulai surut. Bahwa ada seseorang yang melihatnya bukan sebagai istri Ji Chen atau ibu Xiao Fan—melainkan Feng Niu.
Nama yang hampir ia lupakan.
Hao Yiran tidak selalu ada. Tapi ketika ada, ia hadir penuh. Ia mengingat hal-hal kecil yang bahkan Feng Niu sendiri tidak anggap penting—cara ia mengaduk minuman, nada suaranya saat lelah, kebiasaannya menggigit bibir bawah ketika berpikir.
Dan yang paling berbahaya: ia tidak pernah menyuruh Feng Niu berubah.
“Kalau kamu ingin diam, tidak apa-apa,” katanya suatu kali, ketika mereka duduk di mobil tanpa tujuan jelas. “Aku tidak butuh kamu menghiburku.”
Kalimat itu menempel lama di kepala Feng Niu.
Ji Chen tidak pernah mengatakan itu. Ji Chen selalu menunggu—tanpa sadar—agar Feng Niu memenuhi ekspektasi yang tidak pernah ia ucapkan, tapi selalu ada.
Di rumah, Ji Chen mulai menyadari ada jarak baru yang tumbuh di antara mereka. Feng Niu tidak lagi memancing pertengkaran. Tidak lagi memotong kalimatnya dengan sarkasme. Ia bicara seperlunya, lalu pergi.
Dan entah kenapa, itu lebih menyakitkan.
Suatu malam, setelah Xiao Fan tertidur, Ji Chen berdiri di dapur, melihat Feng Niu menuang air minum. Gerakannya tenang. Rambutnya terikat sederhana. Tidak ada kemarahan di wajah itu.
“Kamu tidak marah lagi?” tanya Ji Chen tiba-tiba.
Pertanyaan itu meluncur tanpa rencana.
Feng Niu menoleh. Wajahnya datar, tapi tidak dingin. “Marah soal apa?”
Ji Chen terdiam. Ia sendiri tidak tahu.
Tentang pengabaian?
Tentang anak?
Tentang pernikahan yang mati pelan-pelan?
“Apa pun,” jawabnya akhirnya.
Feng Niu menatapnya beberapa detik, lalu tersenyum kecil—senyum yang tidak menyentuh mata. “Aku capek marah.”
Jawaban itu membuat Ji Chen kehilangan kata-kata.
Malam itu, Feng Niu tidur lebih cepat. Bukan karena lelah fisik, melainkan karena pikirannya penuh. Pesan Hao Yiran masuk sebelum ia memejamkan mata.
Aku harap harimu tidak terlalu berat.
Kalau berat, tidak apa-apa juga.
Kalimat sederhana itu terasa seperti tangan yang menopang punggungnya agar tidak jatuh.
Hari-hari terus bergerak.
Xiao Fan tumbuh—perlahan, hampir tidak terlihat. Ulang tahunnya yang berikutnya dilewati tanpa perayaan besar. Ji Chen membelikannya mainan. Feng Niu hanya berdiri agak jauh, melihat anak itu tersenyum kecil—senyum yang tidak ia tujukan padanya.
Ada rasa perih. Tapi tidak lagi meledak.
Di luar rumah, Feng Niu semakin sering tersenyum. Ia tertawa—benar-benar tertawa—saat Hao Yiran menceritakan hal-hal sepele. Ia merasa muda, meski usia tidak berubah. Ia merasa hidup.
Dan itulah yang membuatnya takut.
Suatu sore, saat hujan turun deras, Hao Yiran mengajaknya berteduh di sebuah galeri seni kecil. Mereka berdiri di depan lukisan abstrak—warna-warna gelap bercampur terang, tidak jelas bentuknya.
“Apa yang kamu lihat?” tanya Hao Yiran.
Feng Niu menatap lama. “Seseorang yang berusaha keluar dari sesuatu… tapi tidak tahu apa.”
Hao Yiran tersenyum tipis. “Aku melihat seseorang yang bertahan.”
Tatapan mereka bertemu. Tidak ada sentuhan. Tidak ada jarak yang dilanggar. Tapi jantung Feng Niu berdetak terlalu cepat.
Di rumah, malam itu, ia berdiri lama di depan kamar Xiao Fan. Anak itu tidur menyamping, memeluk selimut. Wajahnya damai—jauh lebih damai daripada saat terjaga.
Feng Niu ingin masuk. Ingin duduk di tepi ranjang. Ingin menyentuh rambut itu.
Tapi kakinya tidak bergerak.
Ia sadar—dengan kejelasan yang menyakitkan—bahwa perasaan hidup yang ia rasakan sekarang… tidak datang dari rumah ini.
Dan kesadaran itu membuat dadanya sesak.
Beberapa hari kemudian, Qin Mo datang berkunjung. Mereka minum bersama di sebuah bar kecil, jauh dari rumah.
“Kamu kelihatan bahagia,” kata Qin Mo sambil tersenyum menggoda. “Akhirnya.”
Feng Niu tidak menyangkal. “Aku hanya… tidak ingin mati pelan-pelan.”
Qin Mo tertawa ringan. “Kamu berhak. Hidup itu cuma sekali. Jangan terjebak peran yang membuatmu layu.”
Kata-kata itu terdengar masuk akal. Terlalu masuk akal.
Dan Feng Niu, yang sudah lama merasa layu, memegangnya erat.
Namun di sisi lain kota, Ji Chen duduk sendirian di ruang kerjanya. Chen Li berdiri di depannya, ragu-ragu.
“Ada yang ingin saya laporkan,” katanya hati-hati.
Ji Chen mengangkat kepala. “Katakan.”
Chen Li menelan ludah. “Nyonya… belakangan sering terlihat bersama seseorang.”
Nama itu belum disebut.
Tapi Ji Chen sudah tahu.
Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, dadanya terasa benar-benar kosong.
Sementara itu, Feng Niu berdiri di depan cermin, melepas antingnya perlahan. Ia menyentuh wajahnya sendiri—wajah yang terasa asing sekaligus akrab.
“Aku hidup,” bisiknya pelan.
Ia tidak tahu berapa lama perasaan itu akan bertahan.
Ia hanya tahu—ia tidak ingin kembali mati.