NovelToon NovelToon
Second Wife

Second Wife

Status: sedang berlangsung
Genre:Poligami / CEO / Janda / Selingkuh / Aliansi Pernikahan / Ibu Mertua Kejam
Popularitas:314
Nilai: 5
Nama Author: yulia puspitaningrum

Pernikahan yang bahagia selalu menjadi dambaan bagi setiap wanita didunia ini, namun terkadang takdir tidak berjalan sesuai apa yang kita harapkan.

Begitupun dengan apa yang dialami Alyssa, wanita cantik berusia 26 tahun itu harus menerima kenyataan pahit. Bahwa pernikahan yang selalu ia jaga hancur oleh penghianatan sang suami.

Rasa kecewa dan sakit yang ia rasakan membuat ia trauma dan berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak menjadi duri dalam rumah tangga orang lain. ia menutup dirinya rapat rapat namun semua itu tidak lantas mengubah prasangka buruk orang orang karena statusnya sebagai seorang janda.

Namun bagaimana jadinya jika takdir memintanya untuk menjadi istri kedua... akankah ia menolaknya mengingat janjinya. atau ia akan menerimanya karena keadaan yang begitu memaksa dirinya...
lalu sanggupkah ia menjalani kehidupannya.

penasaran intip kisahnya disini jangan lupa berikan kritik dan saran yang membangun...
terimakasih

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yulia puspitaningrum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

15. Menikahlah dengan anakku

“Makanlah, isi tenagamu. Kalau kamu terus seperti ini, kamu tidak akan kuat menemui ibumu saat ia sadar nanti.”

Suara Lita terdengar lembut, tapi menyimpan ketegasan. Ia duduk di samping Alyssa, menyodorkan kotak makanan yang sejak tadi tak tersentuh.

Alyssa menatap wanita itu nanar. Matanya sembab, pipinya pucat seperti kertas.

“Siapa… ibu? Kenapa ibu mau membantu saya?” suaranya lirih, nyaris tak terdengar.

“Dia ibuku, Kak.” Bela tersenyum kecil.

“Maaf aku belum sempat mengenalkannya. Kakak pasti kaget, ya?”

“Begitu…” Alyssa menelan ludah ia bingung harus bersikap bagaimana.

 “Terima kasih, Tante. Saya berjanji akan melunasi semua biaya operasi hari ini, seberapapun itu.”

Lita menggeleng pelan. Tatapannya bukan tatapan orang yang mengharapkan uang.

“Aku tidak butuh uangmu, Alyssa. Aku hanya ingin kamu menjadi menantuku.”

Seperti disambar petir, Alyssa membeku. Keningnya berkerut dalam sementara matanya menatap Lita dengan pandangan penuh tanya.

“Ma… maksud Tante?”

“Tante tahu kamu bingung,” ujar Lita tenang.

 “Tapi tidak ada yang gratis di dunia ini. Tante sudah menolong mu, sekarang Tante juga ingin sesuatu darimu.”

Bela langsung menatap ibunya tak percaya. Namun Lita tak menggubris protes putrinya, ia menunggu jawaban Alyssa.

“Jadi… Tante ingin imbalan?” suara Alyssa bergetar.

“Tentu saja.”

Senyum pahit terlukis di bibir Alyssa. Betapa naif dirinya, mengira dunia masih menyisakan ketulusan. Jelas jelas ia sudah tau manusia didunia ini seperti apa tapi ia masih saja berbaik sangka.

“Maaf, Tante, tapi saya tidak bisa menikah dengan anak Tante. Saya bahkan belum mengenalnya…”

“Kamu tidak perlu khawatir.”

Lita menyodorkan sebuah map tipis.

“Bacalah ini biodatanya.”

Dengan tangan gemetar Alyssa membuka map itu. Matanya langsung tertuju pada sebuah foto laki laki yang amat tampan, hidung mancung dan bulu bulu halus disekitar rahang membuat ia terpana untuk sesaat.

"Tampan sekali..." lirih Alyssa tanpa sadar mengagumi laki laki didalam foto itu.

"Tentu saja, anak Tante memang tampan, kamu tidak akan menyesal menikah dengannya." ucap Lita dengan penuh percaya diri.

Tapi menikah bukan soal ketampanan, Alyssa pernah menikah dengan orang tampan, Arya misalnya namun apa yang ia dapatkan.

Hanya kepahitan dan luka yang tak kunjung mengering sampai sekarang.

 Alyssa menggelengkan kepalanya perlahan berusaha menghilangkan pikiran itu darinya dan kembali membaca kertas ditangannya.

Rasa iba masuk kedalam hatinya kala mengetahui kondisi fisik laki laki yang ia nikahi..laki laki itu lumpuh, ia tidak bisa berjalan.

"ini...." lirih Alyssa terlihat ragu untuk menanyakan hal itu pada Lita, ia tidak ingin mengungkit luka yang mungkin sudah berusaha wanita itu lupakan.

Lita yang mengerti dengan apa yang ingin Alyssa tanyakan pun tersenyum tipis, ia menepuk pundak Alyssa dengan perlahan sebelum menjelaskan semuanya kepada wanita itu.

"Tante tidak ingin menutupi kondisi Brayen, di memang tidak bisa berjalan sejak kecelakaan yang dialaminya. "

 Hening lita menghela nafasnya dalam berusaha untuk mengendalikan dirinya agar tidak menangis, setiap mengingat anaknya ia selalu saja merasa sedih.

"Karena kecelakaan itu, Brayen kehilangan segalanya. Kepercayaan dirinya, senyumnya bahkan istrinya pergi meninggalkan nya tanpa kabar."

Seketika matanya Alyssa melebar. Bukan karena kondisi pria itu, melainkan satu baris kalimat yang Lita katakan

“Istri....anak Tante sudah menikah?” tanyanya pelan, nyaris berharap itu hanya bualan Lita namun Harapan itu kandas kala lita mengangguk.

“Memang,” jawab Lita jujur.

"Tapi kamu tidak perlu khawatir, Tante yakin dia tidak akan kembali."

Alyssa tidak bergeming di tempatnya, hatinya mulai bimbang.

“Mereka belum resmi bercerai, Tante. Saya tidak mau menjadi orang ketiga. Rumah tangga saya hancur karena hal yang sama. Saya sudah berjanji pada diri sendiri… tidak akan mengulang luka itu kepada orang lain.”

Ia menunduk, merasa tidak enak atas penolakan yang ia berikan.

“Tolong… biarkan saya mencicil semua biaya ini meskipun entah kapan saya bisa melunasinya.”

“Tante tidak butuh uangmu,” sahut Lita cepat.

 “Tante hanya ingin kamu menjadi bagian dari keluarga Tante.”

Bela menggigit bibirnya. Diliriknya wajah sang ibu dan Alyssa secara bergantian ia takut terjadi ketegangan diantara mereka.

“Ma… jangan paksa Kak Alyssa.”

“Diam, Bela.”

Sunyi jatuh di antara mereka, tebal dan menyesakkan.

“Alyssa,” Lita mendekat, suaranya kini melembut seperti jerat.

“Kalau kamu setuju, Tante akan menanggung semua biaya ibumu. Rumah sakit, perawatan, kebutuhan di rumah. Tante bahkan akan menyiapkan perawat. Kamu tidak perlu lagi hidup dalam ketakutan soal uang.”

Alyssa terdiam. Dadanya seperti diremas, penawaran Lita sungguh mengiurkan bagi orang yang tidak punya seperti dirinya.

"Apa yang harus aku lakukan, haruskah aku menerimanya. Jika aku menolak Tante lita pasti akan kecewa dan dari mana aku mendapatkan uang untuk melunasi uangnya, ayah sudah tidak peduli lagi padaku dan ibu... hanya ini satu satunya jalan yang aku punya dengan begitu ibu tidak akan menderita lagi dan aku bisa membahagiakannya meskipun dengan melawan prinsip yang sudah aku tanam." batin Alyssa dalam hatinya.

“Kenapa harus saya, Tante? Masih banyak wanita lain yang lebih pantas. Saya ini janda…” ucap Alyssa tidak langsung menyetujui keinginan Lita.

 ia ingin tau alasan wanita itu memilih dirinya padahal ia tidak memiliki kelebihan apapun dan hanya kekurangan yang ia punya.

“Karena Tante tahu kamu baik,” potong Lita lembut.

“Kecantikan bisa pudar, tapi ketulusan tidak. Dan soal janda… itu bukan aib di keluarga Tante.”

Pandangan Alyssa beralih ke arah ruang operasi. Lampu merah masih menyala.

Di sanalah ibunya berjuang antara hidup dan mati.

Akhirnya, dengan air mata yang jatuh , Alyssa mengangguk perlahan.

“Baik, Tante… saya setuju.”

Lita tersenyum puas lalu memeluk Alyssa erat.

“Terima kasih. Tante tahu kamu anak yang baik.”

Mata Alyssa terpejam, air mata terus keluar dari kelopaknya. Ia sedih karena akhirnya ia tidak bisa memegang janjinya... Ia harus mempersiapkan dirinya nanti jika istri Brayen kembali dan mencemoohnya.

Ia harus siap menerima konsekuensinya karena ia tidak punya pilihan, demi ibunya, ia baru saja mengorbankan dirinya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!