Lampu jalan di depan rumah dinas Cakra berkedip, menyisakan bayangan panjang dan dingin di teras. Alisa berdiri di ambang pintu, menatap punggung Sancaka Naratama. Sanca mengenakan kaus gelap, dan bahunya tampak tegang. Mereka baru saja berdebat hebat tentang penugasan luar pulau mendadak yang diterima Cakra.
“Ayah pergi lagi, Sanca. Apa kau pikir aku tidak mengerti apa arti seragam itu?” Suara Alisa tercekat, ia berusaha keras menahan isaknya.
Sanca berbalik, tatapan matanya yang biasanya hangat kini terasa lelah. “Aku mengerti, Lis. Seragam itu artinya pengabdian. Ada risiko, ada jarak. Tapi ada kehormatan juga, yang dulu diajarkan Ayahmu padaku.”
“Kehormatan?” Alisa melangkah maju, napasnya memburu. “Honorku adalah ditinggalkan! Ibuku hilang. Satria memilih pergi demi nama keluarga. Dan sekarang, Ayah juga pergi lagi ke tempat berbahaya. Aku lelah mencintai orang yang selalu siap menghilang!”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kaka_21, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33: Sanca
Setiap kali aku kembali ke barak, bau minyak senjata dan pelitur bot yang menyengat selalu menyentakku kembali ke realitas. Di sini, aku bukan Sanca si pemilik kafe yang puitis atau rekan duet menulis Alisa yang santai. Di sini, aku hanyalah Prada Sanca. Prajurit Dua. Pangkat paling rendah di kasta militer, yang tugas utamanya kalau tidak jaga piket ya lari siang bolong di bawah terik matahari. Pangkatku jauh sekali di bawah Lettu Satria, apalagi Mayor Cakra. Kalau mereka adalah menara pemancar yang tinggi dan megah, aku mungkin cuma kabel bawah tanah yang tidak kelihatan tapi tetap berusaha mengalirkan sinyal.
Aku beruntung karena komandan batalyonku melihat bakat lain di balik seragam dorengku. Aku dapat izin dinas untuk kuliah jurusan sastra, sebuah anomali di tengah satuan tempur. Setelah itu, aku ditarik ke divisi Penerangan Angkatan Darat. Itulah alasan kenapa aku lebih sering memakai kemeja flanel atau kaos kasual daripada baju dinas. Tugas harian aku lebih banyak berkutat dengan kamera, naskah rilis berita, dan mengelola citra satuan. Di mata Alisa, aku hanyalah Sanca si anak sastra yang hobi ngopi. Aku sengaja merahasiakan identitas ini rapat-rapat. Setelah melihat bagaimana hancurnya dia karena seorang Lettu, aku tidak mau menambah traumanya dengan menunjukkan bahwa aku juga bagian dari instansi yang sama. Aku ingin dia melihatku sebagai manusia, bukan sebagai pangkat.
Pagi ini, aku sedang membersihkan bot-ku yang berdebu di belakang barak saat pikiranku kembali melayang pada wajah Alisa kemarin sore di kafe. Dia masih saja seperti itu, sering menyendiri dan menatap kosong ke arah jendela. Sebagai prajurit, aku dilatih untuk disiplin dan tegas, tapi menghadapi kehancuran hati Alisa, aku merasa semua latihan tempurku tidak berguna. "San, dicari Kapten di ruang Pen," teriak salah satu teman seangkatanku. Aku segera memakai sepatu, merapikan seragam dorengku yang jarang terpakai ini, dan memberikan hormat saat melintasi lapangan apel. Di sini, duniaku adalah aturan dan perintah. Tapi di luar sana, saat aku bersama Alisa, duniaku adalah kata-kata dan empati. Perbedaan ini kadang bikin kepalaku pusing.
Sering kali aku merasa jengah sendiri melihat betapa egoisnya Satria. Sebagai sesama prajurit, aku tahu kode etik dan kehormatan adalah segalanya. Tapi apa yang dia lakukan pada Alisa adalah penghinaan terhadap kehormatan itu sendiri. Aku sering ingin berteriak di depan wajah Alisa bahwa tidak semua tentara itu dingin dan pengecut seperti dia. Tapi aku menahan diri. Aku tidak mau Alisa merasa "dijaga" lagi oleh seorang tentara. Aku ingin dia merasa aman karena dirinya sendiri, atau setidaknya karena kehadiranku sebagai teman yang setara. Maka dari itu, kemeja-kemeja flanelku adalah perisai sekaligus penyamaran terbaikku. Aku harus memastikan dia tidak mencium aroma minyak senjata dari pakaianku setiap kali kami rapat naskah.
Siang harinya, setelah urusan di markas selesai, aku buru-buru ganti baju di kosan kecil dekat kampus sebelum meluncur ke Kopi Aksara. Aku melihat Alisa sudah duduk di sana, menyendiri lagi di pojokan. Dia terlihat seperti naskah yang belum selesai, banyak bagian yang hilang dan penuh coretan rasa sakit. Aku duduk di depannya, mencoba bersikap sesantai mungkin seolah aku baru saja pulang dari kelas kuliah yang membosankan, padahal otot kakiku masih terasa pegal habis lari pagi lima kilometer tadi. "Gimana, Lis? Sudah ada ide baru buat bab selanjutnya?" tanyaku sambil meletakkan tas berisi buku sastra tebal yang sebenarnya di dalamnya ada dokumen dinas yang lupa aku simpan.
Alisa menatapku sebentar, ada sedikit warna di matanya, tidak sepucat minggu lalu. "Aku lagi mikirin soal tokoh utamaku, San. Dia kehilangan arah karena mercusuarnya mati. Tapi dia nggak mau cari mercusuar baru. Dia mau belajar navigasi pakai bintang saja," ucapnya pelan. Aku tersenyum, diam-diam bangga dengan metaforanya. Di dalam hati aku bicara, "Itu bagus, Lis. Jadilah navigasi buat dirimu sendiri. Kamu nggak butuh perwira yang cuma bisa kasih perintah, kamu butuh dirimu yang berani." Aku terus menyembunyikan identitasku, membiarkan dia percaya bahwa aku hanyalah warga sipil biasa yang peduli padanya. Karena bagiku, menjadi Prada Sanca yang menjaga dia dari kejauhan dengan cara yang paling halus adalah misi paling penting yang pernah aku emban sepanjang karir militerku yang masih seumur jagung ini.
Tanggung jawabku di divisi Penerangan menuntutku untuk selalu peka pada narasi, dan narasi hidup Alisa saat ini adalah tentang pemulihan. Aku sengaja tidak pernah membicarakan soal dunia militer di depannya. Bahkan kalau ada berita tentang kenaikan pangkat atau mutasi perwira di koran yang ada di kafe, aku segera menyingkirkannya sebelum dia melihat. Aku tahu risiko rahasia ini. Kalau suatu saat dia tahu aku adalah prajurit, dia mungkin akan merasa dibohongi lagi. Tapi untuk sekarang, melihatnya pelan-pelan mulai mau bicara lagi sudah lebih dari cukup bagiku. Aku akan tetap menjadi Sanca yang "sipil", yang siap mendengarkan setiap keluh kesahnya, sambil tetap menjaga disiplin prajurit di dalam dadaku yang tertutup kemeja flanel biru favoritnya itu.
"Kamu kok kalau jalan tegak banget sih, San? Terus rambutmu kok selalu rapi begini?" tanya Alisa tiba-tiba, matanya menatapku dengan rasa ingin tahu yang sudah lama tidak aku lihat. Jantungku sempat berdesir, rasanya seperti sedang tertangkap basah saat melakukan infiltrasi ke wilayah musuh. Aku hanya tertawa kecil, mencoba menutupi kegugupanku. "Oh, ini? Kan aku kuliah sastra, Lis. Penampilan itu bagian dari estetika. Lagian Ayahku dulu orangnya disiplin banget, jadi nurun ke aku," bohongku dengan lancar. Alisa hanya mengangguk-angguk kecil, untungnya dia tidak bertanya lebih lanjut. Aku menghela napas lega dalam hati. Ternyata menjadi mata-mata di hati wanita jauh lebih mendebarkan daripada latihan perang hutan di batalyon.
Ke depannya, aku tidak tahu sampai kapan aku bisa menyimpan rahasia ini. Apalagi Mayor Cakra, ayahnya, mulai sering memperhatikanku dengan tatapan yang sangat tajam, khas seorang komandan senior yang sedang memindai ancaman. Kadang aku takut dia akan mengenaliku saat aku sedang bertugas di Mabes atau saat ada acara dinas lainnya. Tapi demi Alisa, demi melihatnya kembali ceria, aku rela berjalan di atas tali tipis ini. Biarlah dia melihatku sebagai Sanca si penulis, sampai suatu saat nanti dia cukup kuat untuk tahu bahwa ksatria yang sebenarnya tidak selalu datang dengan seragam mewah dan pangkat tinggi, tapi bisa saja dia adalah seorang Prada yang setia menunggunya di sudut kafe dengan segelas teh hangat dan sejuta pengertian.