Penasaran dengan ceritanya yuk langsung aja kita baca
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25: AMNESIA DAN DUSTA YANG BARU
BAB 25: AMNESIA DAN DUSTA YANG BARU
Asap putih dari sistem pemadam otomatis masih memenuhi koridor Bangsal No. 7 saat tim penjinak bom dan petugas keamanan menyerbu masuk. Tara telah lenyap, sekali lagi meninggalkan jejak darah dan kekacauan. Aarohi ditemukan pingsan di depan ruang oksigen, tubuhnya penuh jelaga namun nyawanya selamat.
Dua jam kemudian, Aarohi terbangun di ranjang perawatan dengan kepala berdenyut hebat. Namun, perhatiannya langsung teralih saat seorang dokter masuk dengan tergesa-gesa.
"Nona Anjali, Tuan Deep sudah sadar. Ini sebuah keajaiban medis mengingat trauma kepala yang ia alami di biara dan guncangan ledakan barusan," ucap sang dokter.
Aarohi segera bangkit, mengabaikan rasa pusingnya. Ia melangkah menuju kamar Deep. Jantungnya berdebar tidak karuan. Apakah Deep akan marah? Apakah ia akan mengusirnya karena pengkhianatannya telah terbongkar?
Saat pintu geser otomatis terbuka, Aarohi melihat Deep sedang duduk bersandar pada tumpukan bantal. Wajahnya yang terluka masih dibalut perban, namun matanya yang tajam menatap langsung ke arah Aarohi. Ada sesuatu yang berbeda di sana. Tidak ada kebencian, tidak ada amarah yang membara.
"Aarohi?" suara Deep terdengar serak, namun lembut.
Aarohi membeku. "Kau... kau memanggilku apa?"
"Aarohi," ulang Deep sambil mencoba meraih tangan Aarohi. "Kenapa kau menangis? Dan kenapa rambutmu pendek sekali? Bukankah kita baru saja merayakan ulang tahun pernikahan kita yang pertama kemarin?"
Dunia seolah berhenti berputar bagi Aarohi. Ia menoleh ke arah dokter yang berdiri di belakangnya dengan raut wajah prihatin.
"Tuan Deep mengalami Retrograde Amnesia akibat trauma tumpul pada lobus frontal," bisik dokter itu setelah membawa Aarohi keluar ruangan sejenak. "Ia kehilangan ingatan selama empat tahun terakhir. Baginya, saat ini adalah tahun 2022. Ia tidak ingat tentang Tara yang kembali, ia tidak ingat tentang penjara, dan ia sama sekali tidak tahu tentang identitas Anda sebagai Anjali Khanna."
Aarohi bersandar pada dinding rumah sakit yang dingin. Ini adalah kesempatan yang tidak pernah ia bayangkan. Deep kembali menjadi pria yang mencintainya—atau setidaknya pria yang berpura-pura mencintainya sebelum pengkhianatan besar itu terjadi.
"Lalu apa yang harus kulakukan?" tanya Aarohi, suaranya bergetar.
"Jika Anda memberitahunya kebenaran secara paksa, tekanan mentalnya bisa menyebabkan pendarahan otak permanen," jawab dokter. "Untuk saat ini, ikuti saja alurnya. Jangan biarkan dia stres."
Aarohi masuk kembali ke kamar Deep. Deep tersenyum, senyum tulus yang dulu pernah membuat Aarohi jatuh cinta sedalam-dalamnya.
"Maafkan aku, Deep. Aku... aku hanya terkejut melihatmu bangun," dusta Aarohi. Ia duduk di tepi ranjang dan membiarkan Deep menggenggam tangannya.
"Kenapa tempat ini sangat modern? Dan kenapa ada pengawal bersenjata di depan pintu?" tanya Deep bingung, matanya menjelajahi peralatan medis tahun 2026 yang canggih.
"Kau kecelakaan, Deep. Cukup parah. Kita di rumah sakit terbaik sekarang," Aarohi mencoba menenangkan.
Di dalam benaknya, Aarohi sedang berperang. Separuh dirinya ingin berteriak dan mengingatkan Deep tentang betapa jahatnya pria itu padanya. Namun, separuh lainnya melihat ini sebagai peluang emas. Dengan Deep yang amnesia, ia bisa mendapatkan akses ke semua kode sandi perusahaan dan lokasi harta tersembunyi yang bahkan belum sempat ia temukan. Ia bisa menghancurkan Deep sepenuhnya tanpa perlu mengangkat senjata.
Tiba-tiba, ponsel Aarohi bergetar. Sebuah pesan video masuk dari nomor tak dikenal. Saat ia membukanya secara sembunyi-sembunyi, wajah Tara muncul di layar. Tara sedang berada di sebuah tempat gelap, tertawa tanpa suara sambil memegang foto Deep dan Aarohi yang sudah disobek.
"Nikmati waktumu dengan 'suami' kita, Aarohi. Karena saat dia ingat siapa aku, dia akan mencekikmu dalam tidurmu," tulis pesan di bawah video itu.
Aarohi menutup ponselnya dengan tangan gemetar. Ia menatap Deep yang kini tertidur kembali karena pengaruh obat penenang.
"Kau mencintaiku dalam ingatanmu, Deep," bisik Aarohi, air mata tulus—namun penuh racun—jatuh ke pipinya. "Tapi aku membencimu di kenyataanku. Dan aku akan menggunakan amnesiamu ini untuk memastikan kau tidak akan pernah memiliki masa depan lagi."
Dendam paras kembar kini memasuki babak yang paling manipulatif. Di tahun 2026 yang penuh dengan teknologi canggih, Aarohi menyadari bahwa senjata paling mematikan bukanlah pistol atau peretas siber, melainkan sebuah dusta yang dibungkus dengan cinta masa lalu.