NovelToon NovelToon
MASALALU YANG MENGANTAR KEBAHAGIAAN

MASALALU YANG MENGANTAR KEBAHAGIAAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Mertua Kejam / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Penyesalan Suami
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: zanita nuraini

Naya percaya cinta cukup untuk mempertahankan pernikahan.

Namun tekanan dari ibu mertua yang terus menuntut keturunan, ditambah kemunculan masa lalu suaminya dengan sebuah kenyataan pahit, membuat hidup Naya perlahan runtuh.
Ini bukan kisah perempuan yang kalah, melainkan tentang Naya—yang pergi, bangkit, dan menemukan bahagia yang benar-benar ia pilih.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zanita nuraini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12. Diam Yang Menyimpan Luka

Pagi itu berjalan seperti pagi-pagi sebelumnya. Naya bangun lebih awal, menunaikan salat, lalu menuju dapur kecil di rumah yang kini menjadi tempat ia menambatkan hidup bersama Adit. Udara masih dingin, cahaya matahari baru menyelinap tipis dari sela jendela. Ia menata piring, menyiapkan air panas, dan membersihkan meja dapur dengan gerakan yang teratur.

Ada ketenangan di sana. Bukan karena hidupnya tanpa masalah, melainkan karena Naya terbiasa merapikan segalanya dalam diam.

Ketukan pintu terdengar tiba-tiba. Keras. Tidak seperti ketukan tetangga yang biasanya pelan dan disertai sapaan. Naya terhenti. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat. Ia mengeringkan tangan dengan kain lap, lalu melangkah menuju pintu.

Begitu pintu terbuka, tubuhnya seolah kehilangan kekuatan.

Ratna berdiri di ambang pintu. Wajahnya rapi, sorot matanya dingin dan tajam, seperti datang bukan untuk bersilaturahmi, melainkan menilai. Tidak ada senyum. Tidak ada basa-basi.

“Jadi ini tempat tinggalmu sekarang?” ucap Ratna datar, namun sarat merendahkan.

Naya menunduk refleks. “Iya, Bu.”

Tanpa menunggu dipersilakan, Ratna melangkah masuk. Sepatunya berhenti di tengah ruang tamu kecil itu. Matanya bergerak cepat, menyapu dinding polos, sofa sederhana, meja makan kecil yang hanya cukup untuk dua orang.

Ratna menghela napas pendek, lalu tersenyum miring.

“Pantas saja,” katanya. “Rumah sekecil ini, tapi kamu kelihatan betah.”

Naya berdiri kaku di dekat dapur. Tangannya saling menggenggam, jemarinya dingin. Ia tahu, sejak langkah pertama Ratna masuk, tidak ada kata yang akan terasa ramah.

“Orang kampung memang beda,” lanjut Ratna. “Standarnya rendah. Tinggal di tempat seperti ini saja sudah merasa cukup.”

Kalimat itu jatuh satu per satu, menghantam tanpa jeda. Naya menelan ludah. Dadanya terasa sesak, napasnya sedikit tertahan. Namun ia tetap menunduk, tidak membalas.

Ratna melangkah mendekat, berhenti tepat di hadapan Naya. Jarak mereka begitu dekat hingga Naya bisa mencium aroma parfum tajam yang asing di hidungnya.

“Kamu harus tahu diri,” ucap Ratna dengan suara lebih rendah, namun justru lebih menusuk. “Jangan bermimpi terlalu tinggi. Hidup seperti ini saja sudah lebih dari pantas buatmu.”

Ada getar kecil di dada Naya. Ia ingin bicara. Ingin mengatakan bahwa ia tidak pernah bermimpi tinggi, tidak pernah menginginkan apa pun selain hidup tenang bersama suaminya. Namun kata-kata itu hanya berputar di kepalanya, tidak pernah sampai ke bibir.

Ratna menatap Naya sejenak, seolah menikmati diam itu.

“Diam saja?” katanya sambil tersenyum tipis. “Memang cocok.”

Naya menunduk lebih dalam. Diamnya bukan karena ia tidak punya suara, melainkan karena ia tahu—suara itu tidak akan pernah didengar.

Ratna menyilang kan tangan di dada. Tatapannya menajam, seolah ingin memastikan setiap kata yang keluar benar-benar menancap di hati perempuan di hadapannya.

“Kamu tahu akibatnya apa sejak kamu masuk ke hidup Adit?” ucapnya dingin.

Naya tidak mengangkat wajah. Ia sudah tahu, kalimat itu tidak membutuhkan jawaban.

“Adit berubah,” lanjut Ratna. “Anak yang dulu menurut, sekarang berani melawan orang tuanya. Demi kamu.”

Nada suaranya meninggi. Bukan sekadar marah, melainkan tersinggung—harga dirinya sebagai ibu merasa diinjak.

Naya menggigit bibir bagian dalam. Ada rasa perih yang menjalar ke dadanya. Ia ingin mengatakan bahwa Adit memilih dengan kesadarannya sendiri. Bahwa ia tidak pernah meminta Adit meninggalkan apa pun. Namun sekali lagi, semua itu ia simpan.

Ratna melangkah satu langkah lebih dekat.

“Kamu pikir kamu siapa sampai Adit mau hidup seperti ini?” katanya tajam. “Kehilangan masa depan yang sudah kami siapkan hanya karena perempuan tanpa apa-apa.”

Kata tanpa apa-apa terasa seperti pisau.

Naya menutup mata sejenak. Di kepalanya berkelebat semua yang pernah ia lakukan—menjaga kebun, menghidupi diri sendiri, menjaga martabatnya. Semua itu seolah tidak ada artinya di mata Ratna.

“Kamu tidak punya pendidikan tinggi,” Ratna melanjutkan tanpa ampun.

“Tidak punya harta.”

“Tidak punya nama.”

Setiap kalimat dijeda, seolah sengaja memberi waktu agar luka itu meresap.

“Dan sekarang,” Ratna tersenyum sinis, “kamu merasa pantas jadi istri anakku.”

Dada Naya naik turun. Tangannya bergetar halus. Namun ia tetap berdiri di tempatnya, tidak membantah, tidak menangis. Diamnya semakin membuat Ratna merasa menang.

“Kamu ini benar-benar perempuan yang tahu caranya merusak hidup orang,” ujar Ratna sebelum berbalik.

“Kalau Adit menderita nanti, ingat—semua itu karena kamu.”

Ratna melangkah menuju pintu. Sebelum keluar, ia berhenti sejenak dan menoleh.

“Jangan pernah merasa aman,” katanya pelan. “Aku tidak akan diam.”

Pintu tertutup dengan bunyi yang cukup keras.

Rumah kembali sunyi.

Naya berdiri membeku di tempatnya. Udara terasa berat, seolah menekan dadanya. Ia tidak langsung menangis. Tidak ada air mata yang jatuh. Hanya napas yang tertahan dan tangan yang masih gemetar.

Ia berjalan perlahan ke kursi terdekat, lalu duduk. Pandangannya kosong. Kata-kata Ratna masih berputar di kepalanya, saling tumpang tindih, menyisakan rasa perih yang sulit dijelaskan.

Namun di tengah sesaknya, Naya membuat satu keputusan.

Ia tidak akan menceritakan ini pada Adit.

Bukan karena ia tidak percaya pada suaminya, melainkan karena ia tahu—Adit akan marah. Dan kemarahan itu hanya akan memperlebar jurang yang sudah ada.

Naya menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan.

“Tidak apa-apa,” bisiknya pada diri sendiri.

“Selama rumah tangga ini tetap utuh.”

Sejak hari itu, Naya tetap menjalani harinya seperti biasa. Ia bangun lebih pagi, membersihkan rumah, memasak, dan menyambut Adit sepulang kerja dengan senyum yang sama. Tidak ada perubahan yang mencolok. Setidaknya, begitu yang terlihat.

Namun ada sesuatu yang berbeda.

Naya menjadi lebih pendiam. Bukan murung, bukan dingin—hanya lebih sering tenggelam dalam pikirannya sendiri. Ia masih mendengarkan Adit bercerita, masih tertawa kecil di saat yang tepat, tetapi ada jeda-jeda hening yang tidak biasa.

Adit merasakannya, meski tidak bisa menunjuk dengan pasti.

“Kamu capek?” tanyanya suatu malam.

“Tidak,” jawab Naya cepat, terlalu cepat. “Aku baik-baik saja.”

Jawaban itu membuat Adit terdiam. Ia tidak memaksa. Ia percaya pada istrinya.

Di luar rumah, Naya mulai lebih sering berinteraksi dengan lingkungan. Ia mengikuti kegiatan kecil warga, membantu jika ada yang membutuhkan, dan menjaga sikapnya tetap ramah. Namun pertanyaan tentang anak tetap datang, seperti tamu tak diundang.

“Belum ada kabar baik?”

“Sudah periksa belum?”

“Sekarang kan zamannya pengobatan maju.”

Naya selalu menjawab dengan kalimat yang sama, tenang dan singkat.

“Masih menunggu waktu Allah.”

Tak ada yang tahu, setiap kali kalimat itu terucap, ada rasa nyeri kecil yang tertinggal di dadanya.

Malam hari menjadi waktu paling sepi bagi Naya. Saat Adit terlelap karena kelelahan, ia sering terjaga lebih lama. Menatap langit-langit kamar, mendengar napas suaminya yang teratur, lalu bertanya dalam hati—apa aku cukup?

Ia teringat kata-kata Ratna. Tentang dirinya yang dianggap tidak punya apa-apa. Tentang dirinya yang dinilai tidak pantas. Naya berusaha menepis semuanya dengan doa, tetapi luka tidak selalu bisa sembuh hanya dengan diam.

Di tempat lain, Adit semakin larut dalam pekerjaannya. Tanggung jawabnya bertambah, kepercayaan dari atasan membuatnya sering pulang lebih larut. Ia melakukan semua itu dengan satu niat—memberi kehidupan yang layak bagi Naya.

Ia tidak tahu bahwa justru jarak kecil itu mulai terasa.

Bukan jarak fisik, melainkan jarak yang terbentuk dari hal-hal yang tidak diucapkan.

Naya tidak mengeluh. Ia tidak bercerita. Ia memilih memikul semuanya sendiri, dengan keyakinan bahwa diam adalah cara terbaik menjaga rumah tangganya tetap utuh.

Namun diam juga menyimpan luka.

Dan luka yang disimpan terlalu lama, suatu hari akan mencari jalan keluar.

Di sudut kota yang sama, Ratna tidak benar-benar pergi. Ia hanya menahan diri. Mengamati dari jauh. Menunggu saat yang tepat.

Sementara itu, Naya masih berdiri di tempat yang sama—berusaha kuat, berusaha tenang, berusaha menjadi istri yang tidak menyusahkan siapa pun.

Padahal di dalam dirinya, ada perasaan yang perlahan retak.

Selamat pagi readers selamat membaca..

Like komennya dong terimakasih..

1
sherapine
bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!