Sejak kelas satu SMA, Raviel Althaire hanya mengamati satu perempuan dari kejauhan. Tidak mendekat, tidak memiliki, hanya menyimpan rasa yang perlahan berubah menjadi obsesi.
Satu malam yang seharusnya dilupakan justru menghancurkan segalanya. Pagi datang bersama tangis dan kepergian tanpa penjelasan.
Saat identitas gadis itu terungkap, Raviel sadar satu hal—perempuan yang terluka adalah orang yang selama ini menguasai pikirannya.
Sejak saat itu, ia tidak lagi mengagumi.
Ia mengikat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon his wife jay, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
awal mula
Lampu kristal menggantung megah di langit-langit ruang itu, memantulkan kilau dingin yang terasa asing bagi Raviel Althaire. Cahaya berpendar di antara jas mahal, gaun berkilau, dan senyum-senyum profesional yang dipoles rapi. Suara gelas beradu, tawa diplomatis, serta pembahasan bisnis yang penuh kepentingan mengisi udara tanpa makna. Raviel berdiri di tengah semuanya—tenang, rapi, dan sepenuhnya terkendali.
Setidaknya, itulah yang terlihat oleh mata orang lain.
Di sudut ruangan, seorang wanita mengamati Raviel dengan sorot mata yang sulit diartikan. Ia memberi isyarat halus kepada salah satu pelayan yang melintas.
“Tolong berikan minuman ini kepada pria yang duduk di sana,” ucapnya lirih sambil menyerahkan gelas berisi cairan bening.
“Baik, Nona,” jawab pelayan itu singkat, lalu melangkah menuju Raviel.
Tanpa curiga, Raviel menerima gelas tersebut. Cairan di dalamnya tampak biasa—jernih, tanpa aroma menyengat, tanpa tanda mencurigakan. Ia meneguknya perlahan sambil tetap menyimak pembahasan kontrak yang terasa membosankan dan berulang.
Beberapa menit berlalu sebelum tubuhnya memberi sinyal bahaya.
Kepalanya terasa berat, seolah ditekan dari dalam. Pandangannya mengabur, lampu-lampu kristal di atas tampak berputar tidak wajar. Napasnya memendek, sementara panas asing menjalar perlahan melalui pembuluh darahnya. Raviel mengerutkan kening, berusaha mempertahankan kendali, namun kesadarannya mulai retak.
“Saya pamit dulu,” ucap Raviel kepada rekan-rekan bisnisnya.
“Kenapa buru-buru sekali, Pak Raviel?” tanya salah satu dari mereka, Pak Subianto, dengan nada heran.
“Ada urusan,” jawab Raviel singkat sambil memegang pelipisnya yang semakin nyeri.
Pak Subianto mengangguk meski raut wajahnya tampak tak sepenuhnya yakin. Raviel tidak menunggu lagi. Ia melangkah menjauh dari keramaian, berusaha mencari udara dan ketenangan, namun tubuhnya justru terasa semakin sulit dikendalikan.
Lorong hotel terasa terlalu sunyi. jantungnya berdetak keras, beradu dengan logika yang kian melemah.
“Halo, Pak Raviel. Mau saya bantu?”
Suara itu membuat langkahnya terhenti. Wanita yang sama kini berdiri di hadapannya, senyum tipis menghiasi wajahnya.
“Tidak,” jawab Raviel datar.
“Ayolah, Pak. Saya bisa memberi layanan yang istimewa." ucap wanita itu sambil mendekat, tangannya mencoba menyentuh dada Raviel.
Dengan sisa kesadaran yang ia miliki, Raviel menepis tangan itu kasar. “Saya bilang, tidak. Pergi. Atau saya pastikan perusahaan ayahmu bangkrut.”
Nada suaranya dingin, penuh ancaman. Ia mengenali wanita itu—putri dari Pak Subianto. Senyum di wajah wanita tersebut perlahan memudar, digantikan ekspresi kesal sebelum akhirnya ia mundur.
Namun kondisi Raviel sudah terlalu jauh. Kepalanya semakin pusing, tubuhnya terasa panas dan berat, seolah tidak lagi sepenuhnya miliknya.
Di ujung koridor, pandangannya menangkap sosok seorang gadis yang baru saja keluar dari area dapur hotel. Elinara evelyn menggenggam amplop berisi uang hasil pesanan kue yang ia antar hari itu.
“Alhamdulillah… uangnya cukup,” gumam Nara sambil tersenyum kecil. “Bisa buat bantu Bunda.”
Langkahnya terhenti saat melihat seorang pria bersandar di dinding, wajahnya pucat, napasnya tidak teratur.
“Apa dia butuh bantuan?” batin Nara. Tanpa pikir panjang, ia mendekat.
Tatapan mereka bertemu.
Tangan raviel terulur, menarik Elinara ke salah satu kamar terdekat, menjauh dari siapa pun yang bisa melihat. Nara terkejut. Napasnya tercekat. Tubuhnya menegang oleh ketakutan yang tidak ia pahami.
“Lepas…” suaranya bergetar, dipenuhi kepanikan.
Niat baiknya runtuh seketika. Ia tidak mengerti bagaimana membantu berubah menjadi terperangkap. Air mata mengalir tanpa bisa ia tahan. Dunia terasa asing, langkah terasa goyah, dan pikirannya dipenuhi ketakutan tanpa nama. Elinara tidak mampu melawan kondisi yang perlahan merenggut seluruh kekuatannya.
Malam itu menjadi kabur—terpotong, terhapus oleh kesadaran yang tidak utuh.
Ketika pagi menjelang, hanya satu kenyataan pahit yang tertinggal.
Elinara Evelyn telah dilecehkan oleh pria yang bahkan tidak ia kenal.
Dan mahkota yang selama ini ia jaga… telah direnggut secara paksa.
★★★
Cahaya pagi menyelinap melalui celah tirai, mengganggu dua manusia yang terbaring dalam ruang asing tanpa hubungan yang pasti. Udara terasa berat, seolah malam kacau itu masih menggantung di sekeliling mereka. Keheningan justru menekan lebih kuat daripada suara apa pun.
Elinara yang lebih sering dipanggil Nara—perlahan membuka mata. Kepalanya berdenyut, tubuhnya terasa remuk, dan dadanya sesak oleh perasaan yang belum sepenuhnya ia pahami. Ia menoleh pelan ke samping, lalu membeku.
Ingatan menghantam tanpa ampun.
Potongan kejadian malam sebelumnya datang bersamaan dengan rasa mual yang naik ke tenggorokan. Tangannya gemetar saat menyadari satu kenyataan pahit—kehormatan yang selama ini ia jaga telah direnggut oleh pria asing yang kini terbaring di sisinya. Sosok itu tampak tenang, seolah tidak terjadi apa-apa, membuat amarah Nara semakin membara.
Air mata mengalir tanpa bisa ia tahan.
Jika Bundanya tahu, amarah pasti akan meledak. Nara sudah bisa membayangkan tatapan kecewa, kata-kata tajam, serta cap hina yang akan dilemparkan kepadanya. Ia merasa kotor, merasa bodoh, merasa telah menjatuhkan dirinya sendiri hanya karena berniat membantu orang lain.
Penyesalan menyelimuti pikirannya.
Mengapa ia harus peduli?
Mengapa niat baik selalu berakhir menyakitkan?
Nara menggigit bibir, menahan isak yang hampir pecah menjadi suara. Tubuhnya terasa lemah, namun ia memaksakan diri bangkit. Setiap gerakan terasa berat, seolah luka yang tidak terlihat ikut menariknya kembali ke malam itu.
Ia meraih pakaiannya yang tergeletak sembarangan, mengenakannya dengan tangan gemetar. Tidak ada keberanian untuk menoleh lagi. Tidak ada keinginan untuk melihat wajah pria yang telah mengubah hidupnya dalam satu malam kacau.
Amarah dan kekecewaan bercampur menjadi satu, membakar dadanya dari dalam.
Nara melangkah pergi dengan langkah tertatih, meninggalkan ruangan itu tanpa sepatah kata.