Sekar Wening hidup sebagai gadis desa terbuang yang kelaparan di gubuk bocor dilereng bukit Menoreh. Ia dianggap pembawa sial, tak berguna, tak diinginkan.
Tak ada yang tahu, jiwanya adalah seorang profesor biohayati jenius yang mati dalam ledakan laboratorium.
Saat tanda lahir di jari manisnya bersinar, sebuah ruang ajaib terbuka. Tanah surga, air kehidupan, dan takdir baru menantinya. Dari gadis hina menjadi wanita yang mengguncang desa hingga Keraton, Sekar bersiap membalikkan nasib, dan tanpa ia sadari, di tengah kebangkitannya, hati seorang Pangeran Yogyakarta mulai terpikat padanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Intruder Barbar
Suara gesekan daun kacang panjang yang tertiup angin panas terdengar seperti musik di telinga Sekar.
Di tengah hamparan bukit kapur yang memutih karena kekeringan, lahan seluas lima ratus meter persegi itu tampak seperti oase hijau yang tidak masuk akal.
Aroma tanah basah dan getah sayuran segar menguar, kontras dengan bau debu jalanan yang menyengat.
Sekar baru saja hendak memotong ikatan tali rafia pada panen buncis sore itu ketika telinganya menangkap suara asing.
Bukan suara angin.
Bukan suara cangkul Pak Man.
Brummm... Brummm...
Raungan mesin diesel tua yang kasar memecah keheningan lereng Menoreh.
Sebuah mobil Hardtop kanvas terbuka berwarna hijau lumut, penuh dengan tempelan stiker ormas dan lumpur kering, mendaki jalanan berbatu menuju lahannya dengan agresif.
Di belakangnya, tiga sepeda motor rx-king dengan knalpot blombongan yang memekakkan telinga mengikuti seperti lalat yang mengerubungi bangkai.
"Siapa itu, Non?" Pak Man berhenti mencangkul, wajah tuanya memucat seketika.
Sekar menyipitkan mata, menghalau silau matahari sore.
Firasat buruk yang dirasakannya kemarin kini terwujud dalam bentuk fisik.
Mobil itu berhenti tepat di depan gubuk bambu, melindas bedengan bayam yang baru saja disemai Pak Man pagi tadi.
Krek.
Suara batang bambu pagar yang patah terdengar nyaring.
Debu tebal beterbangan, menutupi daun-daun selada yang hijau segar dengan lapisan abu-abu kotor.
Sekar mengepalkan tangannya.
Bukan karena takut. Tapi karena marah melihat kerja keras dan keteraturan biologis tanamannya dirusak oleh intruder barbar.
Dari dalam mobil, turun seorang pria paruh baya bertubuh tambun dengan kemeja batik sutra yang kancing perutnya hampir lepas. Wajahnya licin berminyak, dengan cincin batu akik besar di hampir setiap jari tangannya.
Di belakangnya, lima orang pria berbadan tegap dengan kulit terbakar matahari dan tato di lengan turun dari motor.
Wajah mereka garang, tipikal preman pasar yang biasa memalak pedagang kecil.
"Mana yang namanya Rudi?" teriak pria berbatu akik itu.
Suaranya serak dan berat.
Pak Man gemetar di belakang Sekar. "I-itu Pak Karsa, Non. Rentenir dari pasar Godean..."
Pak Karsa. Lintah darat legendaris yang terkenal tak segan membakar kios pedagang yang telat bayar bunga.
Sekar melangkah maju dengan tenang. Dia meletakkan pisau panennya ke dalam keranjang, lalu menatap rombongan itu tanpa kedipan takut sedikitpun.
"Paman Rudi tidak ada di sini. Ini lahan pribadi saya.
Silakan pindahkan mobil Anda dari tanaman saya," ucap Sekar datar.
Keheningan melanda sesaat.
Para preman itu saling pandang, lalu tertawa terbahak-bahak.
Tawa yang meremehkan.
"Lahan pribadi? Hahaha!" Pak Karsa tertawa hingga lemak di lehernya berguncang.
Dia meludah ke tanah, tepat di sepatu boots karet Sekar.
"Nduk, kamu jangan ngelindur. Tanah ini..."
Pak Karsa menunjuk hamparan hijau itu dengan tongkat komando kecil di tangannya.
"...sudah jadi jaminan utang pamanmu!"
Jantung Sekar berdegup kencang, namun otaknya tetap dingin.
Adrenalin surge.
Respons fight or flight aktif.
Tapi Profesor Sekar memilih fight dengan logika.
"Tanah ini atas nama saya. Sertifikatnya ada di notaris.
Bagaimana bisa dijaminkan?" tanya Sekar tajam.
Pak Karsa menyeringai.
Dia menjentikkan jari.
Dua orang preman menyeret seseorang dari kursi belakang mobil Hardtop itu.
Sosok itu dilempar ke tanah berdebu seperti karung beras.
Paman Rudi.
Wajahnya lebam-lebam, bibirnya pecah. Dia meringkuk ketakutan, tidak berani menatap Sekar.
"Rudi! Bilang sama keponakanmu yang sok galak ini! Tanah ini punya siapa?" bentak Pak Karsa sambil menendang pinggang Rudi pelan.
Rudi merintih, lalu mendongak sedikit. Matanya liar mencari perlindungan.
"S-Sekar... tolong Paman, Nduk... Paman khilaf..." rengek Rudi dengan suara gemetar.
"Paman bilang sertifikatnya hilang, lalu minta duplikat...
Paman gadaikan ke Pak Karsa..."
Sekar menatap pamannya dengan tatapan jijik yang tak terlukiskan.
Jadi, Paman Rudi memalsukan laporan kehilangan sertifikat, membuat duplikat, dan memalsukan tanda tangan Sekar?
"Lihat ini!"
Pak Karsa mengeluarkan selembar kertas lusuh dari tas kulitnya. Surat Kuasa Jual dan Surat Pengakuan Hutang.
Di sana tertera tanda tangan 'Sekar Wening' di atas meterai enam ribu.
Mata Sekar memindai kertas itu secepat scanner laboratorium.
Tarikan garis pada tanda tangan itu ragu-ragu di bagian akhir. Tekanan pena tidak konsisten.
Secara Graphological analysis sederhana, jelas ini adalah penipuan amatir.
Pelakunya mencoba meniru tanda tangannya tapi gagal meniru ritme motorik halusnya. "Itu palsu," tegas Sekar. "Saya tidak pernah tanda tangan. Secara hukum, akad ini batal demi hukum."
Pak Karsa mendengus kasar.
Dia melangkah mendekati Sekar, menguarkan bau rokok kretek dan parfum murah yang menyengat.
"Heh, Bocah Ingusan. Saya tidak peduli hukum-hukuman!"
"Pamanmu utang seratus lima puluh juta. Bunganya sudah berbunga lagi.
Total dua ratus juta!"
"Kalau tidak bayar hari ini, tanah dan semua isinya ini...
SITA!"
Pak Karsa memberi isyarat tangan. Para preman itu langsung bergerak. Mereka tidak menyerang orang, tapi menyerang tanaman.
Satu orang mencabut tiang bambu penyangga kacang panjang dengan kasar.
Krak!
Tanaman yang merambat indah itu roboh ke tanah.
Satu orang lagi menendang keranjang berisi terong hasil panen hingga isinya menggelinding kotor di tanah berdebu.
"JANGAN!" teriak Pak Man.
Orang tua itu nekat maju, mencoba melindungi hasil panen.
"Minggir, Tua Bangka!"
Salah satu preman mendorong Pak Man dengan keras hingga terjengkang ke tumpukan batu kapur.
"Pak Man!" Sekar berteriak.
Darahnya mendidih.
Rasionalitasnya mulai tergerus oleh emosi murni.
Mereka menyakiti orang-orangnya. Mereka merusak eksperimennya.
Sekar menyambar arit kecil yang tergeletak di meja bambu. Gerakannya begitu cepat dan presisi, sisa refleks dari kehidupan sebelumnya.
Dia mengacungkan arit itu ke arah preman yang mendekati tandon air.
"Satu langkah lagi kalian sentuh instalasi air itu..." suara Sekar rendah, tapi menggetarkan udara di sekitarnya.
"...saya pastikan kalian butuh jahitan di arteri femoralis."
Preman itu berhenti.
Dia tidak tahu apa itu arteri femoralis, tapi dia tahu sorot mata Sekar.
Itu bukan sorot mata gadis desa yang ketakutan.
Itu sorot mata pembunuh dingin. Atau orang gila.
"Waduh... Galak bener," cibir Pak Karsa, meski dia mundur selangkah.
"Habisi gubuknya! Ambil semua yang bisa dijual!" perintah Pak Karsa makin beringas karena merasa ditantang.
Situasi menjadi kacau balau.
Rudi hanya menangis meringkuk di tanah, menutup telinga.
"Ampun... Ampun..."
Dua preman maju mengepung Sekar.
Tubuh kecil Sekar yang baru 18 tahun, melawan lima laki-laki dewasa bersenjata otot dan kekerasan.
Secara kalkulasi fisika, peluang Sekar menang adalah nol koma sekian persen.
Tapi Sekar tidak mundur.
Dia berdiri tegak di depan tandon air "Formula Rahasia"-nya.
Gadis itu mencengkeram gagang arit erat-erat hingga buku jarinya memutih.
Keringat dingin menetes di pelipisnya.
Matahari sore yang merah menyinari wajahnya, menciptakan siluet perlawanan yang dramatis di atas bukit kematian itu.
"Maju," desis Sekar.
"Kalau kalian pikir nyawa kalian lebih murah dari harga sayuran ini."
Salah satu preman, yang paling besar dan bertato naga di leher, menyeringai sambil mengeluarkan pisau lipat dari sakunya.
Dia melangkah maju dengan niat membunuh di matanya.
Jarak mereka tinggal dua meter. Satu meter.
Sekar menahan napas, bersiap mengayunkan aritnya untuk pertahanan terakhir yang putus asa.