NovelToon NovelToon
Dia Lagi Dia Lagi

Dia Lagi Dia Lagi

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat / Pelakor jahat / Nikahmuda / CEO / Dijodohkan Orang Tua / Nikah Kontrak
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Siti Khodijah Lubis

Gawat, ini benar-benar gawat. Oke perkenalkan, aku Ravindra Arvana, dari keluarga terpandang Arvana. Aku KUALAT!
Karena aku ketahuan menyelingkuhi istri kontrakku dengan cinta pertamaku masa SMP. Tapi kan... dia cuma istri kontrak.
Anyway, setelah kepergok, semesta seperti tidak membiarkan aku dan Yunika, selingkuhanku, bersama.
Ada aja halangan. Apalagi sejak itu, hasratku ke dia kok hilang?!?
Aku memohon maaf pada Tafana, istriku, agar kutukan ini berakhir.
Dia setuju memaafkan dengan syarat:
1. Aku menceraikannya
2. Aku mencarikan PENGGANTIKU yang lebih baik dariku
Masalahnya pria muda, lajang, baik hati dan tidak sombong dengan status kekayaan menyaingiku SANGAT JARANG...
Begitu ketemu kandidatnya... kok kejadiannya begini?
Pokoknya kalian baca aja lah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Khodijah Lubis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perayaan di Bibir Pantai

Venue pernikahan keluarga Arvana berdiri anggun di tepi pantai, setengah terbuka, setengah terlindung. Rangkaian bunga putih dan krem mengikuti angin laut, kain tipis bergoyang pelan di antara tiang kayu, o ombak berdebur lembut di kejauhan.

Ravindra menyukai tempat itu sejak langkah pertama. Tidak ada rapat, target, atau keputusan besar, hanya waktu yang mengalir. Keluarganya menyediakan kamar untuk menginap, Ravindra menerima tanpa banyak pikir. Menghargai undangan, sekaligus alasan yang sah untuk beristirahat.

Di dalam luxury suite, Ravindra berdiri di depan cermin lebih tegak dari yang ia sadari. Menunggu Tafana keluar dari closet. Terdengar bunyi halus, gesekan kain, kerincing kecil perhiasan. Pintu closet terbuka.

Tafana melangkah keluar, dan untuk sesaat Ravindra lupa bernapas. Gaun ombre biru ke ungu itu jatuh sempurna, berkilau lembut mengikuti cahaya sore yang masuk dari jendela besar. Potongannya menegaskan lekuk tubuhnya tanpa berlebihan; anggun, tenang, dan—tak terbantahkan—memikat.

Rambutnya disanggul rapi, makeup-nya tepat, menonjolkan mata yang tampak lebih hidup.

“Gimana?” tanya Tafana, sedikit ragu.

Ravindra menelan ludah. Ada jeda yang tidak ia rencanakan. “Kita berangkat,” katanya akhirnya, suara terkendali. Lalu lebih pelan, seolah untuk dirinya sendiri, “Gaunnya… pilihan yang tepat.”

Tafana tersenyum. Ravindra meraih jasnya, merasa pemandangan pantai tiba-tiba kalah menarik.

-oOo-

Menuju venue, tangan Ravindra sudah bertengger mantap di pinggul Tafana. Cukup untuk memberi sinyal. Tafana menarik napas pelan.

Oke. Mode pengantin baru, pikirnya.

Ia menyesuaikan langkah dengan Ravindra, merasakan sentuhan itu seperti jangkar. Anehnya, ia tidak ingin melepaskannya terlalu cepat.

Begitu memasuki area resepsi, suara percakapan dan denting gelas menyambut. Lampu-lampu hangat menggantung di antara kain putih yang berkibar, laut berkilau di kejauhan.

"Eh, pengantin baru udah sampai!" Mama Riska menyambut kami. Dalam gaunnya yang berwarna burgundy ia tampak lebih memukau dari biasanya.

Ravindra menyalimnya, Tafana mencium pipinya kanan-kiri.

"Papa dimana, Ma?" tanyanya sambil matanya mencari-cari.

"Tuh di depan. Lagi kumpul sama Om-Om kamu." Mama Riska menunjuk. "Kalian makan dulu sana. Nanti aja temui pengantinnya."

Ravindra mengangguk, meninggalkan Tafana sejenak.

Beberapa wajah menoleh, lalu tersenyum saat mengenali Ravindra. Sapa-menyapa terjadi cepat.

Tiga perempuan muda bergaun mencolok mendekati Tafana. Tatapan mereka tidak ramah, lebih mirip inspeksi.

“Kamu dari keluarga mana?” tanya yang bergaun emas, senyumnya tipis. “Aku nggak pernah lihat kamu di acara Arvana.”

Yang bergaun tembaga menimpali, setengah berbisik tapi sengaja terdengar. “Emang boleh orang luar masuk ke area keluarga?”

Tafana menahan napas. Senyum sosial terpasang, tapi dadanya memanas.

Wanita ketiga terkekeh. “Kak, kayaknya ada yang ketinggalan deh.”

“Apa?” Tafana menoleh.

“Perhiasannya. Masih di toko, ya?” Ia tertawa kecil. “Nggak apa-apa sih. Gaunnya juga bagus kok buat ukuran sewaan. Sewa murah di mana?”

Ada jeda pendek. Tafana mengepalkan jari di balik clutch.

Sabar. Jangan bereaksi. Jangan beri mereka panggung.

Ia mengangkat dagu, lalu berkata tenang, dalam bahasa Rusia, ”Scheznite, merzkiye!"

Tiga perempuan itu membeku.

“Dia ngomong apa?”

Suara langkah mendekat dari belakang.

“Ada masalah?”

Suara Ravindra rendah, datar. Tangannya langsung bertengger di pinggang Tafana—protektif, tanpa ragu.

Mama Riska berdiri di sisinya, menatap tajam ketiga perempuan itu.

“Kenalkan,” lanjut Ravindra tenang, tapi nadanya mengeras, “istri saya. Tafana Alegrisa Arvana.”

Mama Riska tersenyum tipis, senyum yang tidak hangat. “Kalau kalian belum tahu,” katanya, “dia tamu utama keluarga kami.”

Sunyi.

Wajah tiga perempuan itu pias. Senyum mereka runtuh.

“Kami… kami tidak tahu—”

“Sekarang tahu kan,” potong Mama Riska singkat.

Ravindra menunduk sedikit ke Tafana. “Kamu nggak apa-apa?”

Tafana mengangguk pelan. Baru sekarang napasnya kembali utuh. "Baru lihat terompet tahun baru bisa jalan."

Ravindra terkekeh dan merangkulnya lebih dekat. Bukan untuk pamer, untuk menenangkan.

“Kalau ada yang bikin kamu nggak nyaman,” bisiknya pada Tafana, “itu berarti mereka yang salah tempat.”

Ketiga perempuan itu pergi tanpa pamit.

Tafana tersenyum lega.

Ravindra menepuk kepalanya pelan.

“Bahasa Rusiamu keren,” katanya.

“Padahal aku cuma tahu itu aja loh," Tafana cengengesan.

Ravindra menepuk kepalanya pelan, tatapannya menyiratkan bangga yang enggan diucap.

Keramaian semakin padat. Saat harus melintas di sela tamu, Ravindra beralih memegang tangan Tafana dengan erat, protektif. Ia berjalan setengah langkah di depan, menoleh sebentar memastikan Tafana ada.

Kayaknya takut aku hilang, pikir Tafana, geli. Tapi rasanya aman melihatnya memastikan terus.

Mereka sampai di meja keluarga. Ravindra menarikkan kursi untuk Tafana. “Duduk dulu,” katanya. “Aku ambilkan makanan.” Tafana ingin menolak—refleks lamanya muncul—namun Ravindra sudah melangkah pergi.

Wanita itu duduk, meluruskan gaun, memerhatikan orang-orang di sekitar.

Ravindra kembali dengan piring hidangan yang disusunnya rapi. Wagyu steak, zuppa soup, lasagna, creme brulee. Ia meletakkan semua di depan Tafana, memastikan sendok-garpunya tersedia.

“Coba yang ini,” katanya singkat sambil menyodorkan, lalu kembali berbincang dengan kerabat di sebelahnya.

Tafana mulai makan, perlahan. Ia mendengar potongan percakapan tentang kabar kerabat lain, tentang lokasi pantainya, tentang acara ini. Ravindra bicara sambil sesekali meliriknya, seolah mengecek apakah ia baik-baik saja.

Iseng, Tafana menyendok makanan dan—tanpa banyak pikir—menyodorkannya ke mulut Ravindra yang sedang bicara. Ravindra berhenti setengah detik, raut mukanya heran. Lalu membuka mulut dan menerimanya, mengunyah sambil mengangguk ke lawan bicaranya. Tidak ada protes.

Tafana tersenyum kecil, kemenangan sepele yang membuatnya mengulum senyum.

Dia nggak menolak, pikirnya.

Malam itu mengalir ringan. Tawa singgah. Sapaan datang dan pergi. Tafana merasa dilibatkan. Ia menatap Ravindra di sampingnya: tangan yang sigap, suara yang tenang, kebiasaan kecil mencondongkan badan ke arahnya saat ramai. Aku disambut, pikirnya, bahagia.

Namun di sudut hati, ia tetap merapikan jarak. Sadar diri, katanya pelan pada dirinya sendiri. Ini bisa berakhir kapan saja.

Ia hanya istri kontrak, sampai suatu hari Ravindra menemukan tambatan hatinya. Tafana menghela napas, lalu tersenyum lagi. Untuk malam ini, ia memilih hadir sepenuhnya—menikmati rasa diterima, tanpa meminjam masa depan.

-oOo-

Keramaian akhirnya benar-benar usai saat pintu kamar hotel tertutup di belakang mereka. Suara ombak masih terdengar samar dari balkon, tapi kelelahan menempel di bahu Tafana dan Ravindra seperti mantel basah. Sepatu dilepas, jas disampirkan, gaun digantung hati-hati. Rutinitas kecil yang terasa kikuk—karena baru sekarang mereka menyadari satu hal yang luput diperhitungkan.

Mereka di satu kamar, dengan satu kasur.

Ravindra berhenti di tengah ruangan.

Kalau mengambil kamar tambahan, keluarga bisa curiga. Lagipula siapa yang jamin kamar tersedia. Ini weekend, banyak tamu undangan, pikirannya mengkalkulasi langkah selanjutnya.

Ia menatap kasur king size yang rapi, lalu menoleh ke Tafana dengan ekspresi yang jarang terlihat—putus asa yang ditahan gengsi. Ia menghela napas, menggaruk pipinya.

“Maaf,” katanya. “Sepertinya kali ini kita terpaksa tidur sekamar.” Ia menunjuk sofa. “Kamu di kasur. Aku di sofa.”

Ia beranjak, seolah keputusan itu final. Namun sebelum sempat melangkah jauh, tangan Tafana menahan lengannya. Bahkan wanita itu terkejut sendiri dengan gerakannya.

“Jangan,” kata Tafana cepat, nyaris refleks. Ia menunjuk kasur. “Kasurnya cukup besar buat berdua.”

Ravindra terdiam. Tafana segera bergerak, mengambil bantal sofa dan meletakkannya di tengah kasur, membentuk garis demarkasi yang rapi. “Kamu di sana, aku di sini.”

Itu masuk akal, terdengar profesional. Ravindra mengerti itu—kepalanya paham. Tapi hatinya belum siap. Jaraknya terlalu dekat dengan godaan yang terlalu nyata.

“Kita harus terbiasa seperti ini, kan?” Tafana menambahkan pelan. “Mainkan peran.”

Ravindra menimbang sebentar, lalu mengangguk. “Baik.” Entah karena latihan ini berguna, atau sekadar alasan agar tak mundur.

Lampu diredupkan. Tafana tertidur cepat, kelelahan merapikan napasnya. Di sisi lain, Ravindra berbaring kaku, menatap langit-langit. Ia gelisah, tak bisa tidur—namun anehnya, tak mau beranjak.

-oOo-

Fajar menyapa luxury suite lembut. Pintu balkon sedikit terbuka, suara ombak masuk sebagai musik latar alami. Langit masih biru gelap, tapi di ufuk timur semburat jingga merambat perlahan, seperti cat air yang ditumpahkan dengan hati-hati. Burung camar melintas, suaranya bersahut-sahutan, menandai pagi yang hidup.

Ravindra terbangun dengan napas tertahan. Tangannya melingkar di pinggang Tafana.

Posisinya terlalu akrab—tanpa sadar—seolah tubuh perempuan itu guling yang biasa ia peluk tanpa berikir. Ia langsung menarik tangannya perlahan, sangat hati-hati agar Tafana tak terbangun. Wajahnya memanas, malu pada dirinya sendiri. Ia duduk, mengusap wajah, lalu beranjak ke kamar mandi.

Air dingin membantu menenangkan kepalanya. Setelah berpakaian, tanpa banyak pikir, ia keluar kamar.

Pantai masih lengang. Angin pagi membelai rambutnya, ombak bergulung tenang. Ravindra duduk di pasir, mengamati kepiting kecil berlarian dan anak penyu yang kembali ke laut. Dadanya pelan-pelan terasa ringan.

Hampir satu jam berlalu saat ia melihat sosok yang ia kenal berlari kecil ke arahnya.

Tafana.

Kausnya tipis melambai, celana pendeknya—terlalu pendek. Ravindra menelan ludah.

“Kamu lagi apa di sini?” tanya Tafana ceria.

“Menikmati pemandangan pagi,” jawab Ravindra, lalu melirik selendang pantai di tangan wanita itu. Ia mengambilnya, mengikatkan di pinggang Tafana. Gestur posesif karena rasa tidak rela.

Tafana terkekeh. “Ayolah, ini kan pantai!"

Ravindra tertegun sekejap, tawa itu berkilau di bawah matahari pagi. Ia berdeham. “Aku tetap nggak suka.”

Tidak melarang. Tapi cukup memberikan pemahaman. Ia menepuk kepala Tafana pelan, mencairkan suasana.

Catatan Harian Tafana Alegrisa Myltom

Hari ini aku baru merasa resmi jadi istri orang. Di hotel pinggir pantai, dengan pemandangan yang terlalu indah untuk sebuah keputusan hidup yang diambil lewat diskusi rasional dan PowerPoint tak terlihat.

Berangkat ke hotel rasanya seperti check-in ke hidup orang lain. Kamar estetik, closet sebesar harapan orang tua, dan gaun pesta yang—sejujurnya—membuatku tampak seperti versi diriku yang lulus seleksi kerajaan.

Aku merasa tidak enak hati sudah membuat Ravindra lama menungguku bersiap. Tapi ketika aku keluar dari closet, Ravindra sempat terdiam. Kukira dia marah. Tapi kemudian ia menawarkan tangannya untuk kupegang. Seperti tahu sepatu baruku akan sedikit menyulitkan langkah.

Acara pernikahan kerabatnya cukup mengesankan. Tangannya otomatis di pinggangku, gestur ala pengantin baru, versi profesional. Anehnya, aku nyaman.

Anggota keluarga besar Arvana hangat. Aku merasa diterima, disayang oleh mereka. Padahal statusku masih kontrak. Istri tiruan.

Malamnya aku sempat panik karena harus tidur sekamar. Tapi aman, kuberi bantal sebagai garis demarkasi. Ravindra sebenarnya bisa tidur di sofa, tapi aku tak tega. Pada akhirnya kami tidur lelap, tidak ada yang terjadi.

Pagi di pantai cantik sekali. Aku mencari Ravindra ke bibir pantai. Dia mengikatkan selendang ke pinggangku seperti suami yang khawatir istrinya masuk angin dari paha. Bilangnya nggak suka. Tapi caranya perhatian.

Kesimpulan hari ini: pernikahan kontrak ini terlalu berkualitas untuk disebut palsu. Mengkhawatirkan.

1
Arin
Ternyata kenalan Tafana gak kaleng-kaleng, direktur tempat Yunika bekerja. Jika nanti perselingkuhan terkuak, habislah dia. Semoga di pecat dari tempat kerjanya
amilia amel
yessss...
ini baru permulaan, pembalasan untuk pelakor harus lebih sadis😀😀
kalea rizuky
lama ketauan cpet donk
kalea rizuky
moga cpet cerai males uda selingkuh tidur bareng jalang ogah klo. balik
nuraeinieni
bagus tuh tafana,kasi pelajaran sama pelakor biar merasa bersalah dan ketakutan.
Ni nyoman Sukarti
lanjut thor.... penasaran nih...😄🤭
nuraeinieni
bagus tuh tafana,bila perlu hampiri mereka dan ucapkan selamat atas selingkuhan mereka.
amilia amel
Alhamdulillah.... Tafana sudah tau dengan mata kepala sendiri
amilia amel
dahlah lepaskan Tafana saja
daripada menambah sakit hati dalam diri tafana meskipun tertutupi
hukum tabur tuai menunggumu, yang lebih bersenang-senang dengan kendaraan plat kuning
Arin
Kalau memang gak bisa tumbuhin rasa cinta sama Tafana..... udah ceraikan saja. Bersatulah situ sama selingkuhan mu. Biar tau kelakuan cintamu yang suka celap celup sama orang lain juga. Gedeg lihat laki model gini. Bikin naik darah....
nuraeinieni
ayo sierra bantu tafana selidiki hubungan yunika dgn ravind buar mereka terciduk sama tafana.
amilia amel
lepaskan salah satunya, jangan serakah
kalo serakah malah nggak dapat dua-duanya 😅😅
nuraeinieni
dasar buaya buntung,obral janji,pembohong,bodoh,mau saja di kadalin sama pelakor.
Arin
Suami model gini boleh di getok pake palu gak sih kepalanya. Pura-pura lupa apa memang lupa ada istri dirumah. Kalau memang pilih Yunika, ya harus lepas salah satunya. Jangan main di belakang kayak gini. Perhatian dan semua tindakan sayang dibesarin buat selingkuhan....
amilia amel
jangan sampai Darren jatuh cinta sama yunika.... 🙏🏻🙏🏻🙏🏻
Arin
Wanita manipulatif gini di perjuangin hadeuh🤦‍♀️🤦‍♀️🤦‍♀️🤦‍♀️Ya udahlah namanya juga cinta keblinger. Udah punya istri, masih saja jalan dengan cinta pertama belum kelar
nuraeinieni
semoga saja nih yunika mencerita kan kebohonganya pada darren.
nuraeinieni
bodoh sekali ravindra,terlalu cepat percaya tanpa menyelidikinya,yunika berhasil membodohi ravindra,tp ingat yunika,sepandai pandainya kamu menyimpan rahasia,suatu saay akan terbongkar.
amilia amel
hemmmmm
nuraeinieni
modus ya darren,,,😃menyuruh yunika nginap di tempatmu,,,😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!