Setelah tujuh tahun nikah, Aris itu tetap saja sedingin es. Kinanti cuma bisa senyum, berusaha sabar. Dia cinta banget, dan dia yakin suatu hari nanti, es di hati suaminya itu bakal luntur.
Tapi, bukannya luntur, Aris malah jatuh hati sama cewek lain, cuma gara-gara pandangan pertama.
Kinanti tetap bertahan, mati-matian jaga rumah tangganya. Puncaknya? Pas ulang tahun Putri, anak semata wayang mereka yang baru pulang dari luar negeri, Aris malah bawa Putri buat nemenin cewek barunya itu. Kinanti ditinggal sendirian di rumah kosong.
Saat itulah, harapan Kinanti benar-benar habis.
Melihat anak yang dia besarkan sendiri sebentar lagi bakal jadi anak cewek lain, Kinanti sudah nggak sedih lagi. Dia cuma menyiapkan surat cerai, menyerahkan hak asuh anak, dan pergi dengan kepala tegak. Dia nggak pernah lagi nanyain kabar Aris atau Putri, cuma nunggu proses cerai ini kelar.
Dia menyerah. Kinanti kembali ke dunia bisnis dan, nggak disangka-sangka, dirinya yang dulu diremehin semua orang...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rara Jiwa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gaun dan Kejutan di Balik Pintu
Keesokan harinya.
Setelah demam Raisa benar benar reda, barulah Kinanti pulang. Gaun untuk menghadiri jamuan makan besok malam masih belum dia siapkan. Sore harinya, dia menyempatkan keluar rumah.
Sesampainya di butik mewah, terlihat beberapa pegawai butik, termasuk manajer butik sedang sibuk mengurus sebuah gaun. Sampai sampai saat Kinanti melangkah masuk untuk mendekat, barulah mereka menyadari kedatangan Kinanti.
"Permisi, Kak. Ada yang bisa kami bantu?" tanya pegawai butik.
"Aku mau lihat lihat dulu."
"Baik, silakan, Kak."
Meski menjadi menantu Keluarga Anggasta, Kinanti selama ini sangat jarang menghadiri jamuan mewah. Bagaimanapun, setiap kali menghadiri acara formal seperti itu, Aris dan Sinta tidak pernah mengajaknya. Sementara nenek Keluarga Anggasta, setelah bertahun tahun pensiun, nenek tak lagi peduli pada lingkaran sosial semacam itu.
Kinanti tidak terlalu paham soal gaun mewah. Hanya saja, sahabat dekatnya, Raisa, adalah seorang desainer busana kelas atas. Karena sering bersama, dia pun memiliki selera yang cukup baik. Namun, gaun cantik di butik terlalu banyak. Hal itu membuatnya sedikit kewalahan.
Dia tak berencana terlalu selektif, asal terlihat pantas, sudah cukup untuknya. Saat sedang memikirkannya, pandangannya tiba tiba tertuju pada gaun yang tadi menjadi pusat perhatian para pegawai butik.
Kinanti tampak tertegun.
Gaun itu berwarna ungu muda, terbuat dari kain tulle transparan dengan potongan khas pinggang yang anggun. Bordiran bunga di bagian pinggang tampak begitu indah dan detail, dipadukan dengan kalung mewah yang dikenakan manekin. Perpaduan sempurna antara kelembutan dan kemewahan.
Tanpa sadar, Kinanti melangkah mendekat. Saat hendak mengulurkan tangan untuk merasakan tekstur kainnya, manajer butik tiba tiba memegang tangannya dengan kuat. Padahal dia bahkan belum menyentuh gaunnya.
Kinanti merasa kesakitan sampai mengerutkan keningnya.
Manajer butik buru buru melepas genggaman tangannya, lalu berkata, "Maaf, Kak. Aku nggak sengaja. Tapi, gaun ini pesanan khusus pelanggan VIP kami. Satu satunya di dunia, harganya juga mahal. Kalau terjadi sesuatu pada gaun ini, kami nggak bisa menanggung kerugiannya."
"Nggak apa apa."
Ah, ternyata pesanan orang. Kinanti pun sedikit merasa kecewa.
Gaun gaun yang dijual di butik ini harganya berkisar dari puluhan hingga ratusan juta. Sedangkan yang paling mahal bisa mencapai miliaran. Hanya saja, jika dibandingkan dengan gaun tadi, semua yang dipajang di sini terlihat biasa saja.
Pada akhirnya, Kinanti memilih gaun panjang berwarna putih gading dengan motif bordir bunga yang tampak sederhana namun berkelas. Selesai membayar gaun itu dan meminta untuk dibungkus dengan baik, Kinanti mendengar obrolan dua pegawai yang sedang berbisik.
"Dengar dengar, kalung dan gaun itu harganya lebih dari enam puluh miliar. Rasanya seperti pakai vila mewah di badan ini. Orang kaya sungguh royal ya," ucap pegawai butik.
"Iya tuh. Tapi lebih gila lagi, gaun itu mungkin cuma dipakai sekali aja."
Enam puluh miliar... Ternyata harganya semahal itu. Meski belum dipesan orang, Kinanti tetap tidak mampu membelinya. Kinanti menggelengkan kepalanya, lalu pergi meninggalkan butik.
Sesampainya di rumah, Raisa meneleponnya dengan maksud ingin mentraktirnya makan malam besok. Namun, saat tahu besok Kinanti hendak menghadiri jamuan malam, dia langsung bergegas datang pada keesokan sorenya untuk membantu sahabatnya itu bersiap siap.
Kinanti memiliki selera yang bagus. Gaun pilihannya sungguh menawan. Apalagi dipadukan dengan sentuhan riasan tangan Raisa, kecantikan alami Kinanti semakin terpancar. Dia tampak anggun, lembut dan juga elegan.
Saat Dylan menjemputnya malam itu, pria itu sampai tertegun melihat kecantikan Kinanti. "Cantik banget, cocok banget kamu pakai itu," ucap Dylan terpesona.
"Makasih."
Mereka pun naik ke dalam mobil. "Jadi, besok kamu mulai kembali ke perusahaan?" tanya Dylan.
"Ya."
"Kebetulan, Dinda juga..." Teringat kalau Kinanti tidak mengenal siapa Dinda, Dylan berusaha untuk menjelaskan, "Oh iya, Dinda itu jenius dalam algoritma yang pernah aku ceritakan sebelumnya. Besok dia juga mulai masuk kerja. Aku akan kenalin kalian berdua."
Kinanti tersenyum tipis, tanpa menyadari kalau sosok "jenius" yang dimaksud Dylan adalah wanita yang sama yang telah menjungkirbalikkan rumah tangganya.